Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Akhir bahagia


__ADS_3

Terima kasih atas semua rasa sakit ini. Rasa sakit yang tidak akan pernah bisa aku lupakan.


Aku melangkah turun dari atas panggung dan membuang piagam yang aku dapatkan begitu saja seolah benda itu tidak ada artinya lalu aku menggandeng tangan nenek ku pergi dari sekolah ini.


Nenek ku sama sekali tidak protes atas aksiku, justru ia setia sisiku, melangkah bersamaku melewati orang-orang yang menjadikanku tontonan mereka sekarang.


Kekecewaan ini sudah terlalu dalam. Hampa, itulah yang aku rasakan ketika berhasil keluar dari ruangan itu. Bernafas di ruangan yang sama dengan mereka membuatku nyaris mati karena aku terus menerus merasa tercekik.


Aku lelah, aku sungguh lelah...


Keadaan ini sangat menakutkan, sekarang satu-satunya orang yang aku miliki hanyalah nenek ku. Dia duduk dengan setia menemaniku di dalam mobil bus dan terus menggenggam tanganku erat seolah sedang memberikanku kekuatan tambahan padahal aku yakin ia sama hancurnya dengan ku.


"Kehidupan ini begitu tidak adil kepada kita..." ucapku sambil melihat keluar jendela yang berembun karena hujan kembali turun.


Padahal aku selalu menyukai musim hujan, tapi musim hujan kali ini sungguh tidak pernah aku harapkan.


"Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk terus berada di pihak kita." Nenek ku menjawab dengan suara yang tidak kalah pelan.


"Tapi kita bahkan gak berbuat salah apapun, tapi mereka dengan berani melukai kita." aku menyeka air mataku yang menetes lagi dengan cepat sebelum nenek ku ikut menangis bersamaku.


"Ya, kehidupan ini memang terkadang tidak adil." akhirnya nenek ku mengakuinya, tubuhnya yang renta akhirnya bersandar padaku.


"Nenek selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu karena kamu adalah kehidupan bagi nenek."


"Aku juga... Aku juga, bagiku nenek adalah dunia ku."

__ADS_1


Aku mendengar nenek ku menarik nafas dalam. "Jasmine, hiduplah dengan bahagia setelah ini. Pergilah sejauh yang kamu inginkan, tinggalkan luka itu disini. Nenek akan tetap hidup, nenek gak akan pergi sebelum kamu mendapatkan kebahagiaan yang hilang dari hidup kamu."


"Harus... Nenek gak boleh ninggalin aku karena nenek satu-satunya kebahagiaan yang tersisa dalam hidupku."


Begitulah, kisah cintaku berakhir.


Cinta pertamaku pupus, kehidupanku sepenuhnya hancur.


Perjodohan ku dan Gibran batal begitu saja, tidak ada lagi pembicaraan antara dua keluarga kami.


Semenjak hari itu nenek ku menutup pintu rumah kami rapat-rapat dan tidak mengijinkan orang luar memasuki kehidupan kami.


Aku akan pergi meninggalkan semua ini, seperti apa yang nenek ku katakan, aku akan meninggalkan luka itu disini.


***


"Nenek harus tetap sehat sampai aku kembali..."


Sejujurnya aku tidak ingin kembali. Aku akan memboyong nenek ku pergi bersamaku jika kelak aku berhasil dah sepenuhnya meninggalkan mereka.


Meninggalkan orang-orang yang sudah menyakiti kami...


Aku menatap kedua orangtua Gibran yang ikut mengantarku karena tepat ketika taksi yang aku pesan datang, mereka juga datang dan akhirnya mereka memaksa untuk tetap ikut mengantarkan kepergian ku walaupun aku sudah menolaknya dengan dingin sebelumnya.


"Jasmine..." mama Gibran menangis sambil menyentuh wajahku dan sedetik kemudian ia memeluk tubuhku, begitu erat seolah ia enggan melepaskannya.

__ADS_1


"Kamu boleh marah sama Gibran, tapi mama akan selalu menyayangi kamu sama seperti sebelumnya..."


"Iya Jasmine, jangan sungkan untuk menghubungi papa dan mama jika kamu memerlukan sesuatu." papa Gibran menambahkan sambil menyentuh bahuku.


Akhirnya mama Gibran melepaskan ku setelah beberapa saat memelukku. Aku menatap mereka yang menangis pilu di hadapanku, tapi hatiku sudah tidak lagi sama. Caraku memandang mereka sudah sepenuhnya berubah dan semua itu buah dari kekecewaan ku kepada Gibran.


"Aku titip nenek ku..." ucap ku dengan ekspresi datar, "Om.. Tante..."


Aku langsung berbalik badan dan melangkah pergi memasuki ruang pemeriksaan, meninggalkan mereka sebelum aku kembali menunjukkan kehancuran ku. Rasanya begitu sakit, melepaskan kasih sayang yang sudah mereka berikan padaku selama ini, tapi menggenggam mereka hanya akan terus melukaiku.


Menerima kasih sayang dari mereka hanya akan menghantam ku pada kenyataan pahit jika cintaku pada Gibran bertepuk sebelah tangan, jika Gibran telah sepenuhnya membuang ku.


Aku melangkah dengan cepat, naik ke lantai atas meninggalkan mereka, memasuki lorong berkaca yang membuatku dapat melihat mereka yang masih menatapku di bawah sana. Nenek ku tersenyum walaupun ia terus menyeka air matanya hingga aku harus menggelengkan kepalaku tanda agar nenek ku tidak lagi menangis tapi langkahku terhenti ketika melihat Gibran tiba dengan nafas yang terengah-engah. Ia menatapku dan menggelengkan kepalanya seolah ia ingin aku mengurungkan niatku untuk pergi tapi kemudian Ruby tiba bersama dengan ayahku.


Aku langsung memalingkan wajahku, melanjutkan langkahku dan mengabaikan Gibran yang mencoba menyamakan langkah kami meskipun ia berada di lantai bawah.


Suaranya tidak terdengar sampai di telingaku tapi aku melihat ia jatuh berlutut di bawah sana. Mungkin ia sedang menangis, tapi apa yang bisa aku harapkan dari pria yang tidak mencintaiku, pria yang tanpa ragu mempermainkan ku?


Aku tidak akan goyah lagi kali ini, rasa sakit ini sudah sampai ke batang leherku dan mencekik ku. Sakit sekali, Gibran...


Sekali saja, aku tidak akan memikirkan perasaan mu kali ini, seperti kamu yang tidak memikirkan perasaanku selama ini.


Selamat tinggal...


Kelak bila kita bertemu lagi, aku harap perasaanku padamu telah sepenuhnya menghilang meskipun mungkin tidak akan secepat ketika aku jatuh hati.

__ADS_1


***


__ADS_2