
Gibran tidak langsung pergi dari rumah nenek ku, dia menunggu nenek ku kembali bersama Aurora sementara aku mulai sibuk menyiapkan sarapan.
"Kalau sempet seenggaknya pulang sebulan sekali buat ketemu sama Rora. Dia masih kecil banget takut Rora nanti malah asing sama kamu," ucapku memulai pembicaraan ketika meletakan nasi goreng yang selesai aku buat di meja makan.
"Iya," jawab Gibran pelan. "Bukan karena kamu takut gak bisa nahan kangen ke aku?" lanjut Gibran yang langsung membuatku mengurungkan niatku yang baru akan meletakkan nasi goreng ke atas piringnya.
"Jangan ngelantur, Gibran!" ucapku memperingatkan.
"Udah habis banget ya?"
"Ya?"
"Perasaan kamu buat aku...."
Aku tidak menjawab dan memilih menjauh dengan alasan membuat jus padahal aku hanya tidak ingin Gibran menyadari jika perasanku padanya juga masih sama.
"Kalau aku kangen sama kamu gimana ya?" tanya Gibran yang tiba-tiba saja berdiri di sampingku.
Aku hanya mengangkat kedua bahuku seraya menggeser posisiku agar tidak terlalu dekat dengannya tapi Gibran kembali mendekat padaku.
"Jasmine..." panggil Gibran sambil mengikuti langkahku ku pelan, dia terlihat seperti pria besar yang sedang merengek sekarang.
"Apa sih?" tanyaku yang mulai tidak sabaran menghadapinya serta kegugupanku sendiri.
"Gimana?"
"Apanya?"
"Kalau aku kangen?"
"Ya itu urusan kamu!"
"Tapi kan kangennya sama kamu..."
Aku seketika memejamkan kedua mataku ketika Gibran menarik bajuku dari belakang dan menghentikan langkahku.
"Aku boleh gak dateng temuin kamu kalau aku kangen sama kamu?" tanya Gibran ketika aku menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan jengah sementara dia memasang ekspresi malu-malu.
"Boleh gak?" ulangnya bertanya sekali lagi.
"Terserah!" sahutku sambil melepaskan tangannya dari bajuku dengan kasar lalu berjalan meninggalkannya menuju meja makan.
__ADS_1
"Aku berangkat besok pagi, kamu mau gak anterin aku ke bandara?"
"Liat gimana besok aja...."
"Harus, kalau gak, aku gak jadi pergi. Disini aja gangguin kamu sampai kamu luluh..."
Oh, astaga!
Sebelumnya aku merasa sedih karena dia tiba-tiba memutuskan untuk bekerja di luar negeri, dan sekarang dia membuatku sakit kepala karena semua ocehannya yang terdengar seperti rengekan seolah kami bukanlah pasangan yang baru saja bercerai justru sekarang sikapnya seperti seorang suami yang manja pada istrinya dan anehnya hatiku terasa menghangat.
"Nenek kok lama ya?" Aku menjadikan nenek ku sebagai alasan agar bisa kabur dari situasi ini tapi Gibran sekali lagi menahan ku dengan tatapannya yang tiba-tiba berubah.
Sorot matanya membuatku terkunci, senyumannya membuatku sulit untuk berpaling. Dia membuat jantungku sekali lagi berdebar-debar dengan cepat, mungkin terlalu cepat hingga aku sulit untuk mengendalikan tubuhku sesuai keinginanku dan malah hanya duduk diam di hadapannya yang saat ini menatapku dalam-dalam.
"Belum juga ada setengah jam nenek pergi," sahut Gibran dengan tenang berbeda dengan ku yang mulai merasa gelisah.
"Negara mana?" tanya ku, berharap berbincang akan mampu meredam kegugupanku.
Rasanya aneh, aku mencari dimana aku menyimpan amarahku untuk Gibran di sudut hatiku tapi aku tidak menemukan satupun seolah perceraian kami membayar segala kesalahannya dan sekarang Gibran sedang meniti harapan baru padaku yang sama sekali tidak tahu kenapa aku tidak keberatan atas semua sikap yang dia tunjukkan sekarang.
"Singapore." jawab Gibran singkat.
"Loh deket dong ... Ngapain kamu pamit kalau gitu?"
"Ya ampun ...." aku bergumam pelan, sedetik sebelumnya aku masih menata hatiku agar merelakan kepergiannya tanpa membuatku merasa kehilangan dan sekarang sepertinya dia mulai terang-terangan mempermainkan ku dengan sikap menyebalkan yang sudah lama tidak ia perlihatkan.
Aku merasa baru saja ditipu olehnya, Sialan!
Melihat Gibran yang masih menatapku dengan senyuman penuh arti yang menyebalkan membuatku seketika semakin merasa gugup jadi aku mulai bertanya dengan galak untuk menutupinya, "apa?!" seru ku dengan nada sedikit tinggi.
"Kamu cantik hari ini," sahutnya tersenyum menggoda.
Demi Tuhan, aku yakin dia sengaja merayuku agar aku tersipu, dan frustasinya lagi aku tersipu sekarang hingga aku harus menatap ke arah lain sebelum dia berhasil menangkap ku.
"Udah cepet makan, habis itu pulang."
"Di usir nih aku?"
"Iya lah, ngapain juga kamu lama-lama disini? Kita kan udah cerai!" aku melirik ke arahnya setelah mengatakan semua itu, takut-takut dia akan terluka karena ucapanku dan benar saja ekspresinya langsung berubah murung.
"Aku belum pergi tapi aku udah kangen sama kamu jadi aku mau disini lebih lama, tapi kalau kamu gak nyaman ada aku disini, aku akan pulang."
__ADS_1
Ughh ... Aku ingin sekali mencengkram bajunya dan memperingatkannya jika dia sengaja menggunakan ekspresi itu untuk mempermainkan ku seperti sebelumnya tapi sorot matanya terlihat terluka hingga kini aku diliputi rasa bersalah lagi.
"Ma- mau jus?" tanya ku dengan ragu-ragu sambil melirik ke arah gelas berisikan jus strawberry di tangan ku.
"Boleh?"
"Boleh tapi jangan di abisin!"
Senyumannya muncul lagi, dia lantas meraih gelas di tanganku dan mulai meminum jus itu sambil melirik ke arah ku sampai akhirnya aku sadar jika dia minum di sisi yang tepat di bekas bibirku.
Aku seketika memalingkan wajahku saat dia melirik ku penuh arti. Oh, pikiranku sudah tidak murni lagi setelah Gibran mengajarkan banyak hal di atas ranjang waktu itu yang efeknya masih tersisa hingga sekarang.
"Ini, makasih ... Jus nya manis."
Oh ayolah, aku tidak menambahkan gula di jus itu dan saat aku mencicipinya tadi, rasanya sangatlah asam.
Itu jelas kalimat sarkas dan aku langsung menangkap maksudnya.
"Iya manis karena kamu sengaja minum di bekas bibir aku kan?" ejek ku terang-terangan dan senyumannya menjelaskan segalanya.
"Kamu yang kasih kan?"
"Iya aku yang bodoh!"
"Orang kalau mulai jatuh cinta itu emang agak bodoh sih ...."
"Ish, Gibran!"
"Ya sayang?"
"Minta dihajar ya?"
"Pakai apa? Bibir kamu?"
Oh Tuhan, ada apa dengan situasi ini? Kenapa dengan mudah aku gugup dihadapannya yang terus merayu ku tanpa ragu sedikitpun.
"Mimpi aja sana!"
Gibran tersenyum lagi, ia lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku dan sedetik kemudian dia mendaratkan ibu jarinya di bibirku dan menyekanya dengan lembut tapi juga sedikit menekan.
"Di dalam mimpi, aku gak sekedar minta ciuman," gumamnya menyeringai yang sontak membuat wajahku seketika memanas.
__ADS_1
***