
Entah sudah berapa lama aku terlelap, ketika terbangun wajah Gibran langsung menyambut ku.
Ia terlelap di sebelahku sambil merengkuh tubuhku, terasa begitu hangat dan juga damai. Sambil terus memandangi wajahnya, aku tersenyum lalu tersipu malu saat mengingat kembali apa yang kami lakukan sebelumnya.
Dengan berani aku memeluknya lebih erat lagi tentunya sebelum dia terbangun karena jika ia sampai terbangun mungkin aku sama sekali tidak bisa beranjak dari tempat tidur ini.
Dia mengunciku semalaman di kamar ini, untunglah Aurora sudah mulai di training waktu tidurnya begitu ia sudah mulai makan hingga ia sudah sangat jarang terbangun di tengah malam dan sepertinya ia mengerti karena di monitor sama sekali tidak ada suara rengekan dari dalam kamarnya.
Aku melihat ke arah jam, ini masih jam tiga pagi, rasa lapar ku membangunkan ku hanya saja tubuhku terlalu lemas untuk langsung beranjak meninggalkan kamar ini dan mencari sesuatu yang bisa aku makan di dapur jadi aku memilih berlama-lama sebentar, memandangi wajahnya, menikmati dekapan suami ku yang terasa nyaman.
Sekarang aku sudah boleh mengakuinya kan?
Kalau kami berdua ini suami istri yang sesungguhnya...
Memikirkannya saja membuat hatiku menghangat, sepertinya hati ku akan pelan-pelan pulih.
Tanganku kembali bergerak, aku membelai wajahnya yang sedikit terasa kasar karena sepertinya Gibran masih belum mencukur jenggotnya tapi justru ia terlihat lebih maskulin dengan jenggot tipis menghiasi wajah tampannya.
Saat menulis novel aku pernah membayangkan plot sepasang suami istri yang sehabis bercinta mereka mandi bersama, ini membuatku tidak sabar untuk segera pagi agar aku dan Gibran bisa kembali bermesraan. Mandi bersama atau mungkin aku bisa membantunya mencukur jenggotnya.
Oh Tuhan, memikirkannya saja sudah membuat hatiku berdesir tidak karuan.
Apa yang kami lakukan sebelumnya sungguh lah gila, aku masih bisa merasakan nyeri di pangkal pahaku karena desakan Gibran sepanjang malam yang bahkan masih terasa berdenyut-denyut hingga saat ini, menyisakan kenikmatan yang khas sisa permainan panas kami.
Tidak mau pikiranku kembali melayang jauh, aku kemudian memberanikan diri mencium bibir Gibran sebelum bergegas pergi ke dapur.
"Ruby..."
__ADS_1
Tubuhku seketika mematung, tepat setelah aku memberikan kecupan itu dan Gibran menyentuh tangan ku seraya membuka kedua matanya.
Bukan Jasmine, tapi Ruby...
Seperti mendapatkan pukulan keras yang menghantam ku ketika nama Ruby keluar dari bibirnya.
Kedua mata kami masih saling terkunci terdiam seakan bukan hanya aku yang terkejut tapi juga Gibran.
Aku berpikir kami akhirnya berada di jalan yang sama tapi aku salah, sejak awal kami memang melangkah jauh berbeda.
Dengan cepat aku menarik tangan ku, bergerak turun dari atas tempat tidurnya dan pergi meninggalkan kamarnya.
Hatiku sakit, setelah apa yang sudah kami lewati sepanjang malam, aku berpikir hubungan kami akan memiliki akhir yang bahagia tapi ini bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Air mataku menetes...
Kondisi dapur ini langsung mengingatkanku tentang betapa panas dan bergairahnya kami semalam. Gibran yang menyentuhku tanpa ragu, merengkuh tubuhku, mencium ku dan menjadikan ku miliknya seutuhnya, disini, di tempat ini...
Di tempat yang aku kira adalah awal kemajuan hubungan kami tapi ternyata aku salah, dia bahkan mungkin tidak memikirkan ku ketika kami melakukannya, dia mungkin membayangkan aku sebagai Ruby ketika melakukannya.
Hancur, hati dan tubuhku terasa hancur...
Tangisan ku terisak-isak, tubuhku merosot, aku tidak sanggup lagi berdiri tegar menghadapi semua ini. Sambil duduk bersandar di meja dapur, aku menangis dan terus menangis.
"Jasmine..." Ku dengar suara Gibran memanggil ku, tanpa menyeka air mataku, tanpa menyembunyikan tangisan ku, aku mengangkat pandangan ku dan menatapnya yang saat ini berdiri tidak jauh dari tempat ku berada.
"Kamu berhasil, Gibran... Kamu berhasil menyakitiku lagi..."
__ADS_1
"Jasmine..." Gibran mendekat, ia berlutut di hadapanku, kedua matanya memerah, dia terlihat menahan air matanya agar tidak menetes.
Aku membencinya, dia membuat harga diriku terasa terinjak-injak, melihatnya sekarang dihadapan ku hanya dengan bertelanjang dada memperlihatkan banyak jejak ku di tubuhnya sementara aku memakai bajunya dengan aroma tubuh kami yang telah tercampur, semua ini membuatku merasa semakin menyedihkannya.
Betapa menyedihkannya aku...
Betapa bodohnya aku...
"Jasmine, aku..."
"Jangan sentuh aku!"
Aku berteriak marah padanya saat tangannya menyentuh ku, tubuhku semakin gemetaran, aku menutup kedua telinga ku karena tidak ingin mendengarkan apapun alasannya, aku tidak ingin mendengarkan permintaan maafnya, aku tidak ingin mendapatkannya lagi, harapan palsu yang sebenarnya hanyalah pil pahit yang seolah-olah sedang membunuhku secara berlebihan karena ini terlalu menyakitkan.
"Kenapa Gibran? Kenapa kamu begitu kejam kepadaku? Kenapa kamu terus menyeret ku ke titik terendah dalam hidupku? Kenapa? Aku benci kamu, Gibran! Aku benci... Aku benci perasaan ini... Aku benci!"
Aku mengurung diriku di kamarku setelah itu, melepaskan baju Gibran yang membungkus tubuhku lalu mengguyur tubuhku dibawah shower dan menangis seperti gadis gila yang putus asa. Aku berusaha menghilangkan jejaknya di tubuhku tapi bagaimana caranya jika dia menandai semuanya?
Rasanya aku ingin menghancurkan tubuhku sekarang!
Aku bertanya-tanya apa yang kurang dalam diriku, aku bertanya-tanya apa yang masih belum aku lakukan untuknya agar dia membalas perasaan ku? Aku terus berpikir tapi aku hanya terus bertemu pada kekecewaan yang menghancurkan ku lagi.
Katakan padaku, cinta itu seperti apa?
Karena yang aku tahu cinta itu menyiksa...
Perasaan ini menyiksaku sejak awal hingga detik ini, apa yang harus aku lakukan sekarang?
__ADS_1
...