Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Situasi yang salah


__ADS_3

Aku berusaha keras menyembunyikan kesedihan ku, rasanya seperti menyaksikan kekasihku terang-terangan menggoda sahabatku sendiri, tapi aku dan Gibran bahkan bukan sepasang kekasih! Lalu kenapa dia menciumku semalam? Kenapa dia membuatku begitu kebingungan?


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Kepulangan Gustin, papanya Adam menghentikan canda tawa Gibran dan Ruby. Papanya Gibran memang memiliki paras bule mengingat ia adalah pria yang berasal dari Amerika latin tapi ia lahir dan menetap disini, itulah kenapa Gibran memiliki mata hazel yang kecoklatan, ia mendapatkannya dari ayahnya.


"Papa udah pulang, tumben cepet banget." Mama Gibran langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.


"Iya soalnya putri papa mau makan malam di sini jadi papa cepet-cepet pulang deh." jawabnya sambil melambaikan tangannya padaku. Entah kenapa aku ingin melirik ke arah Ruby dan melihat ekspresinya dan gadis itu terlihat tidak nyaman.


"Nih papa bawain cake red velvet kesukaan kamu." ucap papa Gibran sambil memberikan sekotak kue berukuran sedang padaku dan dengan senang hati aku menerimanya, "makasih pah..."


"Aku kok gak di beliin?" Protes Gibran.


"Biasannya juga makan berdua kan."


"Tuh denger papa!"


Aku langsung melirik sinis, biasanya jika sudah seperti itu aku hanya kebagian sedikit karena Gibran makan dengan cepat dan banyak.


"Halo om..." Ruby melangkah maju, ia menyapa lebih dulu karena tidak ada satupun dari kami yang memperkenalkannya tapi reaksi papanya Gibran hanya tersenyum tipis seolah tidak senang padahal setahu ku dia adalah pria yang paling ramah.


"Om masih inget aku kan?" Ruby kembali bicara, matanya terlihat berbinar-binar. Aku yakin setelah ini papanya Gibran juga akan jatuh karena pesonanya.


"Papa sama Ruby udah pernah ketemu?" Gibran bertanya heran.


"Ya, dia anak temen lama papa." jawab papanya Gibran tapi itupun sambil lalu seolah ia tidak terlalu peduli.


Terlihat mamanya Gibran mengusap punggung Ruby sebagai bentuk rasa maaf karena sikap dingin yang di tunjukkan suaminya.


"Yuk makan... Makanannya udah siap." ajak mama Gibran.


Aku, Gibran dan juga Ruby akhirnya melangkah menuju meja makan.


Setelah tiba, Gibran langsung menarik kursi tempat aku biasa duduk, perhatiannya membuatku bahagia sekali lagi.


"Ayo duduk, Ruby..."

__ADS_1


Dan dia juga membuatku hancur juga sekali lagi karena kursi itu bukan untuk ku melainkan untuk Ruby. Gadis itu kemudian tersenyum dan duduk di kursi itu, tepat di sebelah tempat Gibran. "Makasih." ucapnya lembut dan Gibran menjawab tidak kalah lembut, "sama-sama."


"Duduk disini, Jasmine..." mama Gibran langsung menepuk kursi tepat di sebelahnya. Meja makan yang berbentuk persegi panjang itu akan membuatku duduk berhadapan dengan Ruby. Dadaku terasa sesak tapi aku masih berusaha untuk tersenyum.


Tidak lama setelah itu papanya Gibran datang, ia sudah selesai mengganti pakaiannya lalu duduk di kursi tempat kepala keluarga seharusnya berada.


"Loh, Jasmine kenapa gak duduk di sebelah Gibran? Biasanya kan itu tempat duduk kamu!" pertanyaan papanya Gibran berhasil membuat suasana semakin canggung terutama pada Ruby yang langsung terlihat tidak nyaman.


"Aku lagi kepingin duduk di sebelah mama aja." Jawabku sambil menyandarkan kepalaku di bahu mamanya Gibran dan aku mendapatkan usapan kasih sayang darinya setelah itu. Terlihat jelas jika Ruby tidak begitu menyukai kedekatan ku dengan orangtua Gibran.


Kami kemudian mulai makan bersama, terlihat jelas jika kedua orangtua Gibran lebih menyukaiku, mereka terus memperhatikanku seolah aku memanglah putri mereka tapi Gibran... Pria itu sibuk memperhatikan Ruby yang sejak tadi terus murung.


Selesai makan kami kemudian memakan cake yang dibelikan papanya Gibran untuk ku.


Gibran dan Ruby sudah lebih dulu duduk di halaman belakang sementara aku menyiapkan cake ini untuk kami bagi tiga. Dengan sengaja aku memotong satu potongan yang lebih besar yang akan aku berikan pada Gibran karena dia memang selalu makan banyak meskipun tubuhnya tidak pernah menggemuk.


Aku masih di dapur ketika samar-samar aku mendengar percakapan kedua orangtua Gibran di kamar mereka.


"Sikap kamu kenapa sih dingin banget ke Ruby. Dia kan temennya Gibran sama Jasmine. Kasian banget tadi dia keliatan gak nyaman pas makan."


"Aku cuma gak suka..."


"Kamu mungkin akan bersikap sama kalau tau gadis itu anak siapa."


"Anak siapa emang?"


"Aku akan cerita kalau mereka semua udah pulang."


Sejujurnya aku sangat penasaran, apa yang membuat papa Gibran bersikap seperti itu kepada Ruby hingga ia harus bertengkar dengan istrinya tapi aku bukanlah putri mereka, aku tidak bisa bertanya untuk meminta kejelasan meskipun aku juga merasa kasihan kepada Ruby.


Aku kemudian membawa tiga potong kue itu ke halaman belakang, langkahku semakin berat saat mendekati mereka tapi aku tetap menghampiri mereka yang saat ini sedang mengobrol entah membicarakan apa yang pasti Ruby terlihat lebih ceria dibandingkan sebelumnya.


"Makan cake habis makan gak masalah kan?" tanya ku saat tiba di hadapan mereka.


"Gak kok, kebetulan aku gak makan banyak tadi." jawab Ruby tertawa pelan.


"Masakannya gak cocok ya?" tanya ku lagi sambil meletakkan cake dengan potongan yang paling besar dihadapan Gibran.


"Gak kok..." Senyuman Ruby terlihat seperti menyembunyikan kesedihan.

__ADS_1


Aku baru akan menyentuh punggung tangannya dan menyemangatinya tapi Gibran sudah lebih dulu melakukannya dan ia juga memberikan potongan kue di hadapannya ke pada Ruby.


Tindakan Gibran membuatku kecewa tapi aku juga tidak bisa menutup mata melihat Ruby yang terlihat sedih. "Makan cake-nya, ini enak banget loh." ucap ku tersenyum meskipun hatiku pedih.


Aku kemudian duduk tepat di sebelah Ruby setelah memberikan cake lain kepada Gibran.


"Enak cake nya..." Ruby berseru girang setelah mencicipi cake-nya.


"Nanti kapan-kapan kita beli cake ini ya, kamu tau kan tempatnya?" ucap Ruby pada Gibran dan langsung di jawab dengan anggukan setuju.


Sekali lagi mereka membangun tembok yang memisahkan mereka dariku dan aku tidak bisa melakukan apapun selain diam sendirian dan merasa sepi.


***


Akhirnya Ruby memilih untuk pulang, Gibran mengantarnya sementara aku pulang sendirian berjalan kaki. Itu karena sebelumnya aku menolak ikut dengan Gibran sekalian mengantar Ruby pulang karena berada diantara mereka membuat hatiku terus-terusan merasa sesak hingga aku lelah.


Aku lelah dengan perasaan ini.


Jika Gibran menyukai Ruby lalu kenapa dia memberikanku harapan semalam?


Hari sudah malam dan jalan menuju ke rumah ku cukup sepi, mungkin karena tidak terbiasa kemanapun bersama dengan Gibran jadi jalanan perumahan yang hanya berbeda satu blok sedikit membuatku takut.


"Harusnya gue gak nolak pas di ajak Gibran bareng." gumam ku sambil sesekali menoleh ke belakang dan memastikan tidak ada yang mengikuti ku namun semakin aku gelisah, perasaan takut itu semakin besar hingga aku mulai berlari.


Aku berlari di tengah gerimis yang mulai turun. Musim hujan sepertinya akan segera tiba.


Oh Tuhan, tapi aku makan banyak tadi hingga perut ku terasa kram karena berlari. Aku kemudian memutuskan untuk duduk di bangku taman yang terletak tidak jauh dari rumah ku, hanya perlu melewati empat rumah lagi dan aku akan sampai di rumah ku tapi perutku sakit hingga aku tidak sanggup lagi berjalan.


Aku mendongakkan wajahku dan memejamkan kedua, merasakan tetesan air hujan mulai membasahi wajahku. Jika begini aku akan kebasahan, tapi bila hujan ini bisa menghapus lelah ku maka aku ingin tetap disini.


Kembali aku mengingat kejadian di supermarket kemarin malam, pria yang aku yakini adalah ayahku. Aku merindukannya...


Aku membuka kedua mataku ketika merasakan air hujan tidak lagi menetes di wajahku meskipun aku masih bisa merasakan baju ku mulai basah karena tetesan air hujan dan sebuah payung berada di atas kepalaku.


Seseorang memayungi ku, sontak aku menoleh ke arah orang itu, orang yang dengan sedia kebasahan hanya agar payungnya bisa melindungi ku dari hujan.


"Kamu bisa sakit kalau main hujan-hujanan..."


***

__ADS_1


__ADS_2