
>>> Author POV<<<
Gibran berlari mengejar Jasmine, ia tidak mau kehilangan jejak istrinya itu jadi meskipun orang-orang memperhatikannya yang berlari di tengah ramainya orang yang lalu-lalang di rumah sakit ini, Gibran sama sekali tidak perduli asalkan ia bisa menyusul Jasmine yang telah pergi lebih dulu.
Akhirnya usahanya tidak sia-sia, Gibran melihat Jasmine melangkah tidak jauh dari tempatnya berada jadi harapan itu semakin besar semakin ia berlari mendekat tapi langkah kaki Gibran perlahan melambat ketika di ujung jalan sana ia melihat Jasmine bertemu dengan Juna.
Oh Tuhan, kenapa pria itu masih belum juga pergi dari rumah sakit ini?
Gibran ingin mengeluh dan menarik Juna menjauh dari sisi Jasmine seperti sebelumnya hingga Gibran mempercepat langkahnya tapi Jasmine dan Juna telah pergi keluar dari lobby rumah sakit menuju tempat parkir dan di sanalah ia berhasil mengejar langkah Jasmine.
"Mau kemana?" Dengan nafas yang masih terengah-engah, Gibran menahan pintu yang baru akan Juna bukakan untuk Jasmine, tentunya kedatangannya berhasil membuat ekspresi Juna menggelap sementara Jasmine terlihat terkejut.
"Aku kan udah bilang mau anter kamu." Mengabaikan kemarahan yang berbalut dengan kecemburuan, Gibran berusaha untuk tetap bicara dengan lembut pada Jasmine.
"Aku pikir gak jadi." Jasmine menjawab dengan enggan.
"Jadi dong, sayang. Ayo..." Gibran lantas menyentuh pergelangan tangan Jasmine dan berniat membawanya pergi menjauh dari Juna tapi Juna menahan Jasmine dengan mencekal lengan Jasmine agar tidak beranjak pergi darinya.
Oh sungguh, situasi ini terasa Dejavu bagi Gibran yang kembali teringat pada situasi di depan perpustakaan dulu. Setelah setengah mati ia mencari Jasmine lalu menemukan Jasmine bersama dengan Juna dan pada akhirnya Jasmine memilih pulang dengan Juna dan Gibran ingat dengan betul betapa marahnya ia saat itu dan sekarang situasinya seolah kembali terulang.
Rasa gelisah langsung menyusup ke dalam hati Gibran, ia takut Jasmine akan menolak ajakannya seperti dulu, ia takut tapi ia tidak mau memaksa jadi dia menunggu tanpa melepaskan tangan Jasmine.
"Aku sama kak Juna, sekalian dia mau balik."
Sama seperti dulu, Jasmine menolak ikut dengannya padahal sudah susah payah Gibran menahan amarahnya agar tidak meledak-ledak seperti dulu tapi Jasmine tetap tidak memilihnya.
Mungkin sebenarnya wanitanya ini telah memalingkan hatinya pada pria yang dengan tegas ingin merebutnya.
"Ya udah aku ikut."
__ADS_1
Menelan bulat-bulat ego serta amarahnya, Gibran tanpa tahu malu mengatakannya. "Kamu duduk di belakang sama aku ya," dia membujuk sekali lagi membuat Juna tertawa jengkel melihat aksinya. Pria itu lantas membuka pintu depan tanpa perduli meskipun Gibran sudah membukakan pintu belakang untuk Jasmine.
"Ayo naik, Jasmine..." Juna mempersilahkan dengan sopan.
"Ayo, Jasmine..." Dan Gibran masih juga tidak mau kalah.
Jasmine lantas menatap Gibran sesaat, membuat Gibran berpikir jika Jasmine akan duduk di belakang bersama dengannya tapi Jasmine malah duduk di kursi depan lalu Juna menutup pintunya dengan cepat sebelum Gibran menarik Jasmine keluar.
Juna menyeringai, ia terlihat senang karena baik dulu maupun sekarang Jasmine selalu memilihnya. Ia kemudian melangkah menuju kursi kemudi sementara Gibran masuk paling belakang, di kursi belakang sendirian dan terasa sepi.
"Rasanya menyakitkan melihat Gibran harus menggeser posisinya." Mama Gibran bergumam saat melihat Anak dan menantunya pergi bersama dengan pria yang terang-terangan ingin merebut menantunya.
"Kamu harus tau dulu Gibran selalu menempatkan Jasmine dibelakang ketika ada Ruby." Nenek Jasmine menyahut sambil melangkah menjauh dari jendela, meninggalkan mama Gibran yang mulai menangis sementara suaminya hanya bisa menepuk-nepuk bahunya seraya menenangkannya.
...
Di jalanan Juna selalu mengajak Jasmine bicara, mencekal setiap pertanyaan yang di lontarkan Gibran pada Jasmine dan membuat Gibran merasa semakin kesepian.
***
"Jadi begini rasanya? Aku berpikir posisi tempat duduk tidak lah penting tapi aku salah besar karena aku mulai merasa tersingkirkan sekarang."
Jasmine hanya diam saat Gibran terus bicara sambil mengikuti langkahnya yang sedang membawa satu persatu kopernya ke ruang tengah agar tidak ada yang tertinggal, saat telah selesai Gibran menahan langkahnya dengan menariknya ke sisinya, mengunci pergerakannya dengan merengkuh pinggangnya karena tidak tahan Jasmine terus menghindarinya.
"Jasmine, kenapa kamu gak bilang waktu dulu kalau aku seharusnya gak menempatkan kamu di belakang? Harusnya kamu marah padaku, kamu terbiasa protes jika aku melakukan kesalahan padamu tapi kamu hanya diam pada saat itu jadi aku berpikir, aku gak menyakiti kamu."
"Terus gimana sama kamu yang asik bicara sama Ruby dan mengabaikan aku? Apa itu juga karena kamu gak tau kalau kamu mendorong aku menjauh? Karena kamu gak tau kalau aku tersingkirkan dan terluka?"
"Maaf, waktu itu aku baru sadar kalau aku cinta sama kamu. Terlalu gugup setiap kali aku menatap kamu jadi aku lebih banyak bicara sama Ruby."
__ADS_1
Jasmine hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan Gibran, "Dongeng yang bagus. Udah selesai? Tolong lepasin aku karena aku gak bisa berlama-lama ngedengerin omong kosong kamu."
Gibran tertegun, kata-kata yang di lontarkan Jasmine terdengar pedas tapi bukan itu yang menyakitinya tapi karena Jasmine tidak percaya sedikitpun padanya.
Perlahan, meskipun enggan, Gibran akhirnya melepaskan pinggang Jasmine dan membiarkannya menjauh dan sibuk dengan ponselnya karena dia harus memesan taksi online.
Jasmine akhirnya bisa bernafas lega ketika Gibran akhirnya memasuki kamarnya. Meskipun berat dan sulit terlebih Gibran terus saja menariknya mendekat seenaknya tanpa permisi seakan mempertegas kepemilikannya, Jasmine merasa senang ia berhasil bersikap dingin pada Gibran dan semoga setelah ini pria itu tidak akan mendesaknya lagi dengan begitu akan lebih mudah baginya untuk melepaskan perasannya.
Tapi Jasmine salah besar karena Gibran malah datang lagi menghampirinya dengan tas besarnya lalu meletakkannya ke atas koper miliknya.
"Mau ngapain kamu bawa-bawa tas besar?"
"Mau ikut pindah sama kamu..."
"Gak boleh!"
"Boleh dong, kita kan masih suami istri."
"Bentar lagi udah gak!"
Jasmine langsung mendengus mendengar jawaban Gibran, tanpa ragu ia mengambil tas Gibran dan melemparkannya jauh.
"Sayang tunggu, kemanapun kamu pergi aku ikutttt!!!"
"Hey!!!" Jasmine nyaris hilang sabar, ia memekik sambil menunjuk ke arah Gibran yang masih tidak menyerah dan tetap mengikuti langkahnya dan bukannya marah, pria itu malah menangkap jarinya dan tersenyum bodoh.
"7/24 jam, 12 bulan dalam setahun, berapapun lamanya aku pasti akan terus mengejar cinta kamu secara brutal, ugal-ugalan gak perduli siang-pagi, sore-malem, atau subuh sekalipun, aku pasti akan mendapatkan hati kamu balik! Pasti, Jasmine jadi siap-siap jatuh cinta lagi sama aku!"
"Gibran, kamu gila ya?!"
__ADS_1
"Iya, aku gila, aku frustasi karena cinta kamu! Aku cinta kamu Jasmine, please percaya..."
***