
Rasa bersalah ku pada Ruby membuatku hanya bisa terus diam di sepanjang perjalanan pulang.
"Loe beneran gak lagi sakit?"
Aku hanya melirik malas ke arah kaca mobil yang memperlihatkan pantulan kedua mata Gibran yang tertuju padaku yang duduk di kursi belakang seperti biasa dalam perjalanan pulang.
"Jasmine ..." panggil Gibran lagi yang terdengar khawatir.
"Jasmine cuma lagi pusing aja kok, kak." sahut Ruby yang menjawab pertanyaan yang seharusnya aku jawab tapi dia bicara lebih cepat, secepat tangannya yang dengan mudah menyentuh bahu Gibran.
"Pusing kenapa?" tanya Gibran lagi, kali ini ia sampai menghentikan laju mobilnya hanya untuk menoleh kebelakang melihat ku.
Sikapnya membuat senyuman kembali muncul di wajah ku, inilah Gibran yang aku kenal selama ini, Gibran yang beberapa saat belakang menghilang, Gibran yang paling memperdulikan ku dari siapapun.
"A ..."
"Persiapan ujian beasiswa, kak ... iya kan, Jasmine?"
Sekali lagi Ruby menyerobot, dia menjawab pertanyaan yang seharusnya tidak ia jawab tapi aku sudah terlalu malas untuk mengatakan apapun selain hanya tersenyum enggan.
"Kayaknya gue turun di sini aja deh, soalnya ada sesuatu yang mau gue beli." ucap ku yang langsung mengambil tas ku dan turun dari mobil Gibran tanpa mendengar pendapatnya terlebih dahulu.
Aku muak!
Aku merasa Ruby tidak hanya mengalihkan perhatian Gibran tapi juga sengaja merebutnya dari ku. Rasanya seperti ia memang sedang memanipulasi Gibran dari ku.
"Jasmine!"
Aku begitu terkejut saat seseorang menarik tubuhku berbarengan dengan mobil yang melaju kencang di hadapan ku.
Seketika aku merasa terkejut karena sepertinya aku nyaris tertabrak mobil karena pikiranku yang kacau hingga aku tidak memperhatikan sekitarku jika aku sedang berada di jalan raya.
__ADS_1
"Loe gila ya?" suara itu langsung menyadarkan ku dari syok ku.
Wajah Gibran sudah memerah, dia memegangi tubuhku dengan erat seolah tidak akan melepaskan ku.
"Kalau mau mati jangan di hadapan gue!" ucapnya lagi, hatiku sakit. Kenapa harus kata-kata kasar seperti itu yang terlontar dari mulutnya yang tidak pernah berani aku sentuh karena begitu indah. Alih-alih menanyakan kondisiku, dia lebih memilih untuk menghardik ku.
Tanpa terasa, air mataku menetes. Lolos begitu saja melewati sudut mataku tanpa pernah aku setujui.
"Maaf, gue gak akan muncul lagi di hadapan loe!"
Aku langsung mendorong tubuh Gibran dan berlari pergi meninggalkannya.
"Jasmine!" aku mendengar Gibran memanggil ku, tapi aku tidak bisa menoleh, aku tidak mau menoleh.
Aku takut salah paham lagi, aku takut kalau aku mengira jika Gibran menyesali perkataannya padaku padahal sebenarnya ia hanya ingin terus memarahiku.
Pada akhirnya aku sudah kehilangannya, kehilangan Gibran yang dulu aku kenal.
***
Gibran tidak langsung menemui ku setelah kejadian sore itu dan aku juga tidak pernah lagi menunggunya menjemput ku. Mengabaikan Ruby yang bertanya kenapa aku tidak lagi berangkat bersama dengan mereka seolah Ruby memang sudah ada di tempat itu sejak awal padahal sebelumnya hanya ada aku dan Gibran.
"Ayo pulang bareng, kak Gibran udah nungguin tuh. Masa kamu masih harus ke perpustakaan padahal udah belajar seharian, emangnya gak jenuh ketemu buku terus?" bujuk Ruby sambil menarik tangan ku agar aku pulang bersama dengannya dan juga Gibran.
Ada sebuah pertanyaan yang muncul di sudut hatiku setiap kali Gibran datang menjemput, apa dia mau menjemput ku pulang atau dia justru datang hanya untuk Ruby?
Rasanya situasinya berbalik dengan mudah, sikap Ruby membuat Gibran seolah datang untuk menjemputnya bukan untuk ku.
"Maaf gue gak bisa."
"Ya ampun, Jasmine! Perpustakaan sekolah itu serem tau, kalau mau belajar di perpustakaan luar aja, nanti aku sama kak Gibran temenin."
__ADS_1
Dan ngebuat aku semakin merasa tersingkirkan?
"Gak perlu, ada yang lain juga kok di perpustakaan sekolah. Lagian ada beberapa buku yang cuma ada di perpustakaan sekolah."
Ruby terlihat menghela nafas kesal, ia melepaskan tangan ku dan memasang wajah cemberut.
"Ya udah tunggu disini sebentar." ucap Ruby membuatku bingung. "Aku mau bilang ke kak Gibran buat jemputnya nanti aja kalau kamu selesai dari perpustakaan." lanjut Ruby sambil mencari-cari ponselnya di dalam tasnya.
"Gak perlu, loe pulang aja sama Gibran. Dia udah nungguin kan dari tadi."
"Iya sih, kasian juga kalau di suruh pulang gitu aja."
Ruby akhirnya berhenti memaksa ku untuk pulang bersama dengannya dan Gibran, tapi aku tidak merasa senang sama sekali.
Sambil berjalan bersama keluar dari kelas, aku melangkah dengan perasaan gundah terlebih saat Ruby melepaskan tangan ku dan berjalan menjauh menghampiri Gibran.
Aku berhenti dan memperhatikan mereka mengobrol sebentar sebelum akhirnya Gibran membukakan pintu untuk Ruby.
Mereka memang serasi, sayangnya hatiku merasa tidak ikhlas untuk mengakuinya. Hatiku semakin pilu saat tanpa sengaja kedua mataku dan Gibran bertemu.
Dia terlihat sendu, tapi mungkin aku salah lihat mengingat jarak diantara kami cukup jauh dan aku memilih untuk melanjutkan langkah ku menuju perpustakaan bersama beberapa murid yang lain yang memiliki tujuan yang sama dengan ku.
Bersikap seolah aku tidak menyadari jika Gibran terus melihat ke arah ku.
Apa dia merindukan ku seperti aku merindukannya?
Tapi dia adalah orang yang tidak sudi melihat ku mati di hadapannya, secara tidak langsung aku mengartikan kalau aku bisa mati dan terluka dimanapun asalkan tidak sedang bersamanya, mungkin dia takut akan merepotkannya.
Bukan karena perduli, tapi karena dia takut direpotkan.
***
__ADS_1