Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Saling menyakiti


__ADS_3

Aku memandangi wajah mungil tidak berdosa Rora, Aurora... Nama yang aku berikan pada putri kecil Gibran dan juga Ruby, putri kecil yang sekarang juga adalah putriku.


Dia menyusu dengan lahap meskipun bukan asi melainkan susu formula. Sekarang masih jam dua pagi, dia terbangun dan menangis karena lapar tapi untunglah aku tidak bisa tidur hingga aku langsung sigap menggendongnya setelah membuatkannya susu. Sambil menatapnya, aku merasa kasihan. Melihatnya seolah melihatku yang kehilangan ibuku sejak bayi dan di abaikan oleh ayahku setelah itu.


"Ibu gak akan biarin kamu ngerasa kekurangan kasih sayang apapun, jadi nak... Kamu harus tumbuh dan hidup bahagia." ucapku dengan lembut sambil mengecup pipi gembul-nya yang memiliki semburat merah alami setelah ia kembali terlelap.


"Kenapa dia nangis tadi?"


Aku terperanjat saat mendengar suara Gibran yang tiba-tiba, pria itu datang tanpa suara dan langsung bertanya dengan nada sinis.


"Rora bangun pengen nyusu." jawabku tidak kalah sinis. Untungnya aku sudah meletakkan Aurora di atas ranjangnya kembali jadi ia tidak ikut terkejut saat ayahnya mengejutkanku.


"Rora?" Gibran menatapku bingung.


"Aurora... Namanya, kamu kan gak mau kasih nama." jawabku yang masih tetap sinis.


"Oh..."


"Ya udah sana jangan berisik!"


"Kamu ngusir!"


"Iya!"


Aku tidak perduli, bahkan jika Gibran semakin marah padaku. Tidak ada gunanya menjaga sikap pada pria yang menyalahkan takdirnya padaku.


Gibran lantas melangkah mendekat, ia membuatku harus bergerak mundur tapi ranjang penjaga Aurora menahan langkahku sementara Gibran masih mendekat. Kini kedua tangannya ada diantara tubuhku, membentang berpegangan pada tepi penjaga ranjang itu dan mengekang pergerakan ku.


"Kamu tidur dimana?" tanya Gibran tanpa terduga.


"Disini!" jawabku sambil menahan rasa gugup karena Gibran bertanya dengan jarak yang sangat dekat.


"Kamu gak bakalan muat tidur di ranjang Rora!"


Gibran sungguh minta di jambak! Tapi setidaknya aku bisa mengusir kegugupan ini karena sikapnya.


"Ya gak mungkin juga aku tidur di ranjang Rora, aku tidur di sofa..."

__ADS_1


Gibran kemudian melirik sofa yang aku sebut sebagai tempat tidurku, sofa dengan desain khusus untuk bersandar hingga aku tidak bisa berbaring di sana.


"Jangan tidur disini, tidur di kamar utama. Kamar ini bisa di monitor dari sana."


"Kamar mana? Kamar kamu sama Ruby maksudnya? Gak, aku disini cuma jadi ibu Aurora bukan istri pengganti kamu!"


"Aku tidur di sofa, tenang aja aku juga gak anggap kamu sebagai istri pengganti Ruby!"


Percakapan ini mungkin terdengar tenang, tapi kami saling menyakiti diam-diam. Aku menarik nafas dalam dengan sedikit tertahan. Mengeraskan hati serta ekspresi ku agar tidak terlihat mudah di mata Gibran yang menatapku tajam.


***


Pada akhirnya kami sama-sama keras, tidak ada satupun dari kami yang mengalah jadi aku tetap ada di kamar Aurora sampai pagi sementara Gibran duduk di ruang tamu tanpa tidur, aku dapat tahu karena suara televisinya sungguh mengganggu, untung saja Aurora sangat pengertian dan dia tidur dengan lelap hingga pagi tapi sekarang aku sangat mengantuk.


Aku tidak tahu, tapi sifat keibuan ini muncul sejak pertama kali aku menyentuh Aurora hingga aku bahkan sudah bisa memandikannya sendiri hanya dengan sekali melihat instruksi perawat yang mencontohkannya kemarin.


"Rora udah mandi, udah cantik juga... Sekarang waktunya Rora nyusu ya..." ucap ku pada Aurora yang terus tersenyum, wajahnya yang bulat, kulitnya yang bersih serta mata bersinar lengkap dengan bulu mata yang lentik dan garis alis yang indah serta hidung mancung dan bibir yang mungil, dia terlihat tidak nyata, hampir mirip seperti boneka apalagi rambutnya sedikit keriting.


"Kok bisa sih kamu cantik banget, nak..." aku sungguh gemas sambil menciumi tangannya dan terus memegangi botol susunya. "Abis ini kita ke rumah nenek ya, ibu masih harus ambil baju ibu di apartemen. Nanti kalau kamu udah agak besar baru ibu ajak main ke sana..."


Aku sama sekali tidak merasa aneh bicara dengannya walaupun ia hanya melirik ku saja dan sesekali tersenyum, senyuman yang selalu membuatku teringat pada Ruby. "Mama kamu di surga pasti seneng banget, kamu mirip sama dia loh, papa kamu gak kebagian miripnya... Hihihi..." ucapku lagi meskipun mata hazel Aurora menurun dari ayahnya tapi aku tidak ingin mengakuinya mengingat Gibran masih juga terus menjauh tanpa mau mendekati putrinya.


Ekspresi ku langsung berubah kesal saat Gibran tiba-tiba menyahut. Ughh sungguh, sepertinya Gibran mempunyai kebiasaan baru dengan datang secara tiba-tiba tanpa bersuara dan langsung masuk dalam percakapan tanpa di tanya.


Aku menoleh dan menatapnya tajam yang saat ini bersandar pada pintu yang terbuka lebar.


"Kamu boleh gak suka aku, tapi dia anak aku. Udah pasti dia mirip aku lah!" ucap Gibran tidak terima sambil melangkah mendekat.


"Nih ya dia itu mirip sama Ruby, udah gak bisa di ganggu gugat, dari rambut, mata, hidung, mulut, fotocopy mama nya ini."


"Masa aku gak kebagian?"


Gibran kini sudah benar-benar mendekat, ia bahkan menatap dalam-dalam wajah putrinya itu. Setidaknya dengan begini Aurora dapat melihat ayahnya dari dekat karena sejak kemarin dia terus menjauh.


Aku melihat tatapan mata penasaran itu berubah menjadi tatapan yang dalam, kasih sayang yang hangat, milik seorang ayah pada putrinya. Meskipun singkat, dulu ayahku menatapku seperti Gibran menatap Aurora sekarang, mungkin dia akan segera protes padaku karena mata Aurora sepenuhnya mirip dengan mata Gibran.


"Eh dia ketawa!" Aku terkejut saat melihat Aurora melepaskan botol susunya dan tertawa, tangannya bahkan bergerak naik seolah meminta isyarat ingin di gendong oleh ayahnya tapi Gibran malah berdehem dan menjauh tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Gibran yang saat ini sudah duduk di tepi jendela.


"Ke rumah mama, titip Rora bentar abis itu ke apartemen, ambil baju sama barang-barang aku." jawabku sambil menepuk-nepuk punggung Aurora agar ia bersendawa.


"Ya udah ayo aku anter." Gibran masih bersikap dingin tapi dia tidak sepenuhnya mengabaikan kami, setidaknya dia sudah mau mendekati putrinya dan aku dapat merasakan jika ia menyayangi Aurora hanya saja mungkin ia masih berduka karena kehilangan Ruby.


***


Kami akhirnya tiba di rumahnya Gibran, aku sudah menelepon lebih dulu jika kami akan datang menitipkan Aurora jadi begitu kami tiba mama Gibran langsung menyambut kedatangan kami.


Masih ada perasaan Dejavu yang tersisa, dulu saat aku main kesini, mama Gibran selalu menunggu di depan gerbang menyambut kedatangan ku dan sekarang pun dia masih melakukannya.


"Aku titip Rora ya mah, aku pulang bentar ke apartemen ku buat ambil barang-barang nanti balik lagi. Susunya udah aku tuang di botolnya masing-masing, mama tinggal masukin air hangat aja, sama ini baju gantinya, semua udah ada disini."


"Iya sayang, tenang aja mama pastiin Rora aman sama mama." jawab mama Gibran sambil mengambil Aurora dari gendongan ku.


"Namanya Aurora, cantik... Siapa yang kasih nama?" tanya papa Gibran yang baru selesai menyiapkan tempat tidur untuk cucunya istirahat nanti.


"Aku..." jawab ku yang langsung merasa kesal mengingat Gibran menolak memberikan nama pada Aurora.


"Aurora aja?" mama Gibran ikut bertanya.


"Aurora Talia Salim..." Sahut Gibran yang seketika membuatku menoleh menatap Gibran yang memberikan nama panjang bagi Aurora bahkan nama belakangnya.


***


Aku tidak bisa berhenti tersenyum, padahal Gibran hanya memberikan nama belakangnya pada putrinya sendiri tapi aku yang merasa senang.


Diam-diam Gibran melirik ke arahku lalu bertanya, "Aku anterin kamu bukan karena aku perduli sama kamu, jadi berhenti senyum-senyum."


Belajar dimana sebenarnya Gibran menemukan banyak kosakata menyakitkan untuk ia ucapkan kepadaku seakan semua hal yang aku lakukan adalah kesalahan di matanya.


Senyum ku langsung hilang, wajahku berubah menjadi kaku lagi lalu aku menjawab dengan malas. "Aku senyum mikirin Aurora bukan karena seneng membuang waktuku sama kamu."


"Dari awal aku gak minta di anterin sama kamu!" tukas ku, tepat setelah mobil Gibran berhenti di depan gedung apartemen tempatku tinggal sebelumnya, setelah itu aku langsung turun dari dalam mobil tanpa mengatakan apapun padanya.


Sepertinya kami memang tercipta untuk saling menyakiti...

__ADS_1


***


__ADS_2