
...----------------...
...Gibran POV...
...----------------...
Pertemuan kali ini sama sekali tidak mengobati rasa rinduku, justru aku jadi semakin merindukannya.
Jasmine masih sama, dia masih menggenggam rasa sakit itu, dia masih sangat menderita, itu membuatku malu menatapnya.
Aku malu karena aku lah yang membuatnya jadi seperti itu tapi aku masih ingin memilikinya, aku tidak ingin kehilangannya.
Keegoisan ku kembali tumbuh, aku takut...
Takut aku akan menyakitinya lagi, menambahkan luka kedalam hatinya.
Aku menyeka air mataku, kehidupan ku menjadi kacau karena perceraian ini.
Aku tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja jadi aku memutuskan berhenti bekerja, aku tidak bisa makan dengan benar bahkan jika aku kelaparan sepanjang malam.
Yang aku lakukan hanyalah berbaring di atas tempat tidurnya di dalam kamar Aurora, merasakan aroma tubuhnya yang tertinggal disana.
Aku mungkin akan segera gila...
Cinta itu menyiksa, penyesalan itu menghukum ku dengan begitu keji, tanpa akhir aku terus menderita.
Dering ponsel ku memecah keheningan, aku tidak ingin mengangkatnya tapi itu terus berdering tapi kemudian bel rumah ku berdentang.
Seseorang datang berkunjung padahal hari telah larut malam, dengan terpaksa aku beranjak bangun, melangkah keluar dari dalam kamar Aurora lalu membuka pintu.
Secara tidak terduga Juna datang bertamu. Rahang ku langsung mengeras melihatnya.
"Jasmine menelepon ku, dia memintaku untuk berbagai makanan dengan mu karena katanya kamu terlalu kurus di persidangan tadi."
"Aku bisa urus hidupku sendiri!"
"Oh, ok. Aku akan sampai kan itu pada Jasmine!"
Juna lantas melangkah pergi, membawa serta barang bawaannya tapi kalimat terakhir yang dia ucapkan sungguh mengganggu ku hingga dengan terpaksa aku mengejar langkahnya.
"Sini!" Tanpa tahu malu, aku merebut kotak di tangan Juna lalu dengan cepat aku melangkah meninggalkannya.
"Kamu sengaja ya?" ucapan Juna berhasil membuat langkah kaki ku terhenti.
"Kamu setuju bercerai dengannya tapi kamu masih tetap menjeratnya dengan picik." ucap Juna lagi yang langsung membuat hatiku terbakar amarah hingga aku langsung menghampirinya.
"Jaga bicaramu!" Aku memperingatkan Juna dengan tegas tapi Juna melangkah maju, dia menepuk bahu ku lalu berkata, "apa lagi sebutan yang tepat untuk pria seperti mu?"
__ADS_1
"Kamu menghancurkan Jasmine, melepaskannya dengan alih-alih agar dia bisa kembali memulai hidupnya tapi kamu menunjukkan kehancuran mu padanya. Apa yang kamu inginkan? Simpatiknya? Kamu ingin dia berubah pikiran setelah melihatmu terpuruk? Memanipulasinya dengan rasa bersalah?"
Rasanya seperti Juna baru saja menghantam ku dengan sangat kuat dengan kata-katanya yang dia sematkan untuk ku.
"Simpan luka mu sendiri! Lepasin Jasmine sepenuhnya kalau kamu emang bener-bener cinta sama dia!" tukas Juna sambil mendorong bahu ku kuat-kuat hingga tubuhku mundur kebelakang dan setelah itu dia pergi meninggalkan ku.
Sekali lagi...
Aku menyakitimu sekali lagi, Jasmine...
Tidak ada yang lebih buruk daripada aku, Jasmine....
Maaf...
...---...
...Jasmine POV ...
...-------------...
Langkah kaki ku terasa berat ketika turun dari mobil, melangkah menuju gedung pengadilan tempat sidang perceraian ku dengan Gibran setelah mediasi sebelumnya di nyatakan tidak berhasil karena aku menolak berbaikan dengan Gibran.
Aku berpikir banyak selama ini, hidup dengan kehancuran tapi Rora membutuhkanku, dia jadi sering rewel karena aku terlalu sering menangis, mungkin karena sudah cukup lama aku tidak tersenyum padanya karena menatapnya membuatku selalu ingin menangis karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk memberikannya kebahagiaan yang utuh.
"Jasmine..."
"Tante kenapa ada disini?" tanya ku dengan ragu-ragu.
"Boleh kita bicara sebentar?"
"Ya?"
......................
Aku menunggu mamanya Ruby bicara hingga kami hanya duduk bersebelahan di kursi taman yang masih berada di pelataran pengadilan tanpa bicara.
Dia menghela nafas dalam sebelum menyerahkan sebuah map padaku.
"Aku bercerai dengan ayahmu."
"Ya?"
"Harusnya aku melakukannya sejak lama, dengan begitu mungkin Ruby masih tetap ada bersamaku. Setidaknya dia tidak perlu haus akan kasih sayang ayahnya yang tidak pernah benar-benar memperdulikannya."
"..."
"Aku depresi, Jasmine... Memikirkan kesalahan ku pada ibumu, padamu, dan kehilangan Ruby, tapi dia bertindak seperti pria bodoh. Dia masih ingin menarik perhatianmu, dia lupa jika Ruby telah tiada, dia bahkan memintaku untuk mengambil Rora darimu dengan begitu kamu bisa mendatangi kami, kembali ke sisinya. Aku mencintai pria yang jahat selama ini..."
__ADS_1
Aku dapat melihat penyesalan itu dari kesedihan yang ditunjukkan oleh sorot matanya serta senyumannya.
"Itu akte kelahiran Rora, aku yang mengurusnya. Sejujurnya Ruby mungkin sudah memiliki firasat hingga dia mendatangiku sehari sebelum dia melahirkan dan meninggalkan kita semua. Dia berpesan padaku bilang dia meninggal saat melahirkan, dia ingin aku menulis namamu dalam akta kelahiran anaknya. Katanya itu adalah caranya menebus dosanya padamu," dia meneteskan air matanya di akhir kalimatnya.
Seperti tersayat, hatiku pilu mendengar semua ceritanya.
"Aku harap aku juga bisa menebus dosa ku pada ibumu, Jasmine. Maafkan aku." tukasnya sebelum melangkah pergi meninggalkan ku yang hanya bisa menangis sambil memeluk map berisikan akta kelahiran Aurora.
......................
Tok-tok
Palu telah di ketuk, aku dan Gibran akhirnya resmi bercerai.
Dengan bermodalkan akta kelahiran yang diberikan oleh mamanya Ruby, aku menenangkan hak asuh Aurora. Bahkan hukum sekarang hanya tahu jika Aurora adalah putriku.
Tidak ada yang bisa menggugatnya lagi.
Aku merasa ada kelegaan karena fakta itu walaupun perpisahan ini masih mencekik ku.
Aku masih menangis ketika Gibran melangkah menghampiriku setelah persidangan usai.
Dia terlihat berbeda dari sidang pertama kemarin, dia tidak lagi terlihat kacau meskipun kedua matanya masih sembab.
Gibran tersenyum padaku, ia lantas mengulurkan tangannya mengajakku berjabatan tangan.
Sambil terus menatapnya dengan dada yang penuh sesak, aku menjabat tangannya dan berusaha menunjukkan senyuman yang sama dengannya.
"Aku masih boleh ketemu Rora kan?" tanyanya pelan.
"Tentu aja, dia kangen kamu. Kamu gak pernah dateng temuin dia selama ini."
"Aku takut seperti waktu itu, aku takut gak bisa menahan perasaan ku dan memaksamu lagi."
Dia menahan tangisannya begitu kuat hingga wajahnya memerah.
"Berat bagi mu, berat juga bagiku tapi ini yang terbaik. Lanjutkan hidup kamu Gibran, aku akan melakukan hal yang sama."
"Asalkan kamu bahagia, aku akan melanjutkan hidupku bila kelak aku mempunyai kesempatan mendapatkan mu lagi..."
Dia menundukkan kepalanya, menyeka cepat-cepat air matanya yang menetes lalu menunjukkan senyumannya, cukup lama menjabat tanganku sebelum akhirnya melepaskannya.
"Entahlah..."
Bukan kesempatannya, tapi entahlah aku bisa atau tidak menemukan kebahagiaan ku karena hatiku berhenti di kamu, Gibran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1