Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Mati rasa


__ADS_3

>>> Jasmine POV <<<


Kepalaku berdenyut-denyut, mungkin karena aku nyaris tidak tidur sejak semalam dan aku masih belum makan apapun tapi bagaimana aku bisa makan jika belum ada tanda-tanda Aurora tersadar meskipun kondisinya sudah stabil.


Nenek ku sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu begitu juga dengan kedua orangtua Gibran dan sekarang hanya ada aku dan Aurora, seperti hari-hari kami sebelumnya.


Aku menarik nafas dalam, teringat bagaimana ayahku ingin membawa Aurora membuatku takut apalagi aku sudah membulatkan tekad untuk bercerai dengan Gibran.


Sejujurnya aku sangat takut, aku takut kehilangan Aurora jika aku bercerai dengan Gibran tapi aku sudah tidak mampu lagi mempertahankan pernikahan kami yang sejak awal tidak pernah baik-baik saja.


Di hari pertama aku memasuki rumah itu, hari ketika aku kembali bertengkar dengan Gibran, harusnya aku sadar jika pernikahan ini tidak akan berhasil tapi dengan bodohnya aku terus berharap, aku berharap jika Gibran suatu saat akan berubah dan menerima ku dan juga Aurora hingga membuatku bermimpi jika setiap malam Gibran datang dan tidur sambil merengkuhku.


Betapa putus asanya aku, betapa menyedihkannya aku...


Mempertahankan perasaan ini dan berharap akan terbalaskan, kini aku kembali bertemu dengan rasa sakit yang membuatku mati rasa.


Aku harap aku bisa sepenuhnya mati rasa, dengan begitu aku tidak perlu goyah jika Gibran memohon sambil berlutut seperti tadi.


Melihatnya memohon maaf padaku sambil menangis seolah ia benar-benar menyesal dengan menyebut-nyebut kata cinta seolah ia memang pernah mencintaiku bahkan membuatku nyaris percaya jika cinta itu memang ada hingga detik ini, tapi Gibran selalu begitu...


Dia selalu membuatku melayang tinggi lalu menghempaskan ku dengan keji.


Suara pintu yang terbuka membuatku langsung menyeka air mataku. Terlihat Gibran begitu hati-hati melangkah mendekatiku dengan membawa sesuatu di tangannya.

__ADS_1


"Aku beli nasi goreng, kamu makan ya..."


"..."


"Jasmine, jangan sampai sakit... Kalau kamu sakit nanti Aurora sedih."


"..."


"Sayang..."


Aku tidak tahan lagi, dia seolah mengabaikan kemarahan ku, seakan amarahku tidaklah berarti. Gibran terus bertingkah seolah rasa sakit yang ia berikan padaku bukanlah hal besar.


Panggilan sayang itu sama sekali tidak menyentuh hatiku, mengingat ia memanggil Ruby di saat sedang bersamaku membuatku merasa panggilan sayang itu hanyalah bujukan, hanyalah alasan agar ia tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dan aku yang bodoh ini akan menerimanya kembali, tapi terima kasih atas rasa sakit berlebihan yang menghantam ku karena sekarang aku bisa berpikir sedikit benar untuk tidak terbuai begitu saja.


"Aku suapin ya..." Dia berkata dengan lembut sekali lagi, aku kemudian tersenyum. Terlihat secercah harapan tersirat di wajahnya yang semula putus asa.


"Apa aku terlihat begitu bodoh di mata kamu?"


Gibran tertegun mendengar pertanyaan ku. Ia lantas meletakkan nasi goreng di tangannya ke atas meja dan menyentuh tanganku. Sampai detik ini ia masih belum juga menyerah membujuk ku, "aku yang bodoh, Jasmine... Aku yang selama ini bodoh."


"Jasmine, semalam itu aku mimpi ketemu Ruby bukan karena aku melihat dia di kamu... Aku selalu memandang kamu sebagai Jasmine-ku, gak pernah sekalipun aku anggap kamu sebagai penggantinya Ruby. Tolong percaya aku kali ini aja... Aku bener-bener ingin memperbaiki hubungan kita."


"Selama enam bulan kamu mengabaikan aku sebagai istri kamu bahkan sebelum aku pergi keluar negeri lima tahun yang lalu, Gibran..." Aku mulai emosional, dengan suara yang bergetar aku kembali berkata meskipun air mataku akhirnya menetes. "Bahkan saat kamu mulai mengenal Ruby, kamu udah mengabaikan aku, Gibran..." sekarang aku benar-benar menangis.

__ADS_1


"Dan kamu mau aku percaya sama alibi kamu yang aku sendiri gak bisa pastiin kebenarannya? Cukup... Aku udah sampai di batas aku memaklumi kamu dengan sikap kamu yang selama ini selalu memperlakukan ku seperti aku ini gak ada, dengan kamu yang selalu memandang mudah kemarahan ku, dengan kamu yang terus-menerus menyakiti aku. I'm done with you, Gibran! Sudah berakhir, perasanku padamu... Aku sudah mengakhirinya."


Sekarang bukan hanya aku yang menangis tapi Gibran juga menangis. Ia menundukkan kepalanya, bahunya yang lebar itu terlihat gemetaran, aku memilih untuk menarik tanganku dan beranjak menjauh sebelum aku terpengaruh oleh perasaan bodoh ini.


Ku rasakan Gibran memeluk ku dari belakang, tangisannya membuat bahu ku basah, kepedihannya tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan selama ini karenanya.


"Aku cinta kamu, jasmine... Aku selalu mencintai kamu. Tolong beri aku kesempatan terakhir. Kesempatan untuk aku mengungkapkan perasaan ku padamu. Aku janji, bila aku menyakitimu sekali lagi maka tanpa perlu di pinta aku akan menghilang!"


Aku kembali tertawa, sepertinya aku akan segera menjadi gila. Aku kemudian melepaskan pelukan Gibran dan berbalik menatapnya. "Memberikan kemungkinan kamu kembali menyakitiku? Gibran, semakin kamu memohon semakin aku ingin menyakiti kamu."


"Aku akan terima, sebanyak apapun rasa sakit yang kamu berikan padaku, aku akan menerimanya!" Gibran terlihat menggebu-gebu saat menjawabnya.


Aku lantas menyeka air mataku yang masih terus menetes, lalu melangkah satu langkah lebih dekat. "Termasuk kalau aku kembali pada kak Juna?"


Air mata Gibran lolos dari pelupuk matanya tepat setelah mendengarnya, dia terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan.


"Seperti kamu menikah dengan Ruby, bukannya kamu juga harus tahu gimana rasanya melihat orang yang kamu cintai menikah dengan orang lain?" ucapku sambil menunjuk-nunjuk dada Gibran, mendesaknya dan membuatnya semakin membisu.


"Cinta seperti apa yang kamu bicarakan padaku kalau sejak awal kamu sudah membuang ku, Gibran? Membuang ku ke jurang rasa sakit yang hampir mirip seperti neraka!"


"Maaf... Maaf..."


"Selama ini aku bahkan masih berdoa semoga kamu gak pernah merasakan rasa sakit yang aku rasakan karena mu, tapi cinta yang sudah bertemu dengan kekecewaan layaknya gelas yang sudah retak, sebanyak apapun kamu mengisinya, gak akan pernah bisa penuh lagi, Gibran. Doa ku untukmu mungkin tidak akan lagi sama."

__ADS_1


***


__ADS_2