Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Sebelum garis takdir terputus


__ADS_3

>>>Author POV<<<


Malam begitu panjang, waktu seolah berhenti di tempat, menyiksa batin mereka yang terjebak perasaan yang mengikat tapi terlalu sakit untuk dilepaskan.


Nasi goreng yang Gibran beli sudah menjadi dingin, suara hujan yang turun di luar terdengar samar-samar memecah keheningan malam yang semakin larut.


Masih di ruangan yang sama, di sebuah kamar tempat Aurora di rawat, masih tanpa suara setelah perdebatan batin yang menyiksa, tapi mereka tetap terjaga, berharap putri kecil mereka segera tersadar.


Gibran yang saat ini duduk di sofa, tersenyum tipis ketika tanpa sengaja kedua matanya bertemu dengan Jasmine, walaupun Jasmine segera memalingkan wajahnya tapi itu cukup membuat hati Gibran sedikit menghangat. Setidaknya Jasmine masih melihat ke arahnya.


"Kamu tidur disini, aku yang jagain Rora," ucap Gibran seraya melangkah menghampiri Jasmine dan meminta agar Jasmine tidur di sofa.


"Gak perlu." Jasmine menjawab dengan dingin.


Tidak ingin berdebat lagi, Gibran tidak akan memaksa, tapi ia menarik kursi dan meletakkannya di sebelah Jasmine lalu duduk di sebelahnya.


Jasmine segera menggeser posisi duduknya dengan cepat setelah itu dan Gibran membiarkannya tapi hanya sebentar karena pria itu langsung menarik kursinya hingga tubuh Jasmine ikut terseret dan jarak diantara mereka nyaris tidak ada.


"Jaga-jaga supaya kamu gak jatuh kalau ketiduran," ucap Gibran sambil menunjukkan senyuman khawatirnya. Jasmine lantas melirik Gibran sinis, ia berusaha menggeser posisi duduknya menjauh tapi kali ini tidak semudah sebelumnya hingga membuatnya kesal dan akhirnya ia sadar jika Gibran memegangi kursinya.


Sialnya hanya ada dua kursi di ruangan ini dan Jasmine tidak ingin beranjak jauh dari Aurora karena posisi sofa cukup jauh dari ranjang rawat jadi Jasmine hanya bisa pasrah dan dengan terpaksa duduk berdekatan dengan Gibran sementara Gibran diam-diam tersenyum, meskipun hubungannya dengan Jasmine masih belum membaik tapi bisa duduk bersebelahan dengan wanita yang semalam membuatnya hilang kendali ini cukup untuk memberikan sedikit kehangatan dalam hatinya.


"Sshhhh..." Gibran mendesis ketika bibirnya tiba-tiba saja terasa perih yang berhasil membuat Jasmine menoleh ke arahnya.


Mungkin karena tadi ia begitu emosional hingga Gibran tidak menyadari rasa nyeri di bibirnya karena luka gigitan Jasmine semalam tapi sekarang rasanya cukup perih hingga ia menyentuh permukaan luka itu untuk memastikan kalau lukanya sudah kering dan tidak akan berdarah lagi.


Jasmine tahu luka itu di dapatkan Gibran karena ulahnya, siapa suruh pria ini tidak memberikannya celah untuk bernafas semalam!


Memikirkannya membuat tubuh Jasmine bereaksi tapi hanya sebentar karena ia kembali teringat akan rasa sakitnya setelah itu, tubuhnya bahkan masih terasa nyeri dan pinggangnya terasa pegal sejak pagi tadi, semua itu karena Gibran dan permainannya.


Tanpa sadar Jasmine menyentuh pinggangnya dan memijatnya pelan karena rasa pegalnya mulai mengganggu.


Jasmine menghela nafas kesal, ia tidak bisa memijat pinggangnya dengan leluasa karena Gibran duduk sangat dekat dengannya sementara memijat dengan satu tangan hanya berefek kecil, justru membuat tangannya ikut kram.

__ADS_1


Ia lantas menyerah, Jasmine bersandar berharap rasa pegal di pinggangnya bisa sedikit reda tapi bersandar di kursi tidak memberikannya kenyamanan yang lama sampai akhir Jasmine merasakan tangan Gibran mulai merayap di pinggangnya dan memijatnya pelan, terasa nyaman hingga membuat Jasmine nyaris terbuai.


"Jangan sentuh aku sembarangan!" Jasmine segera protes dengan tegas tapi Gibran tetap melakukanya. Telapak tangannya yang besar itu hampir memenuhi pinggang mungilnya.


"Aku gak akan macem-macem, Jasmine." Gibran menjawab dengan lembut seraya menghentikan pijatannya sejenak.


"Aku gak perlu bantuan kamu! Emangnya gara-gara siapa pinggang aku sampai sakit begini?!" Sekali lagi Jasmine protes dan menolak dengan galak.


"Gara-gara aku, makanya aku tanggung jawab."


"Gak perlu! Jangan pura-pura, aku tahu kamu mikirin Ruby bukan aku saat ngelakuin itu!"


"Jasmine, mungkin meskipun di surga, Ruby akan tetap cemburu padamu."


Jasmine terdiam, ia tidak mengerti mengapa Gibran mengatakan hal seperti itu yang pasti setelah itu ia tidak bisa lagi menghentikan Gibran memijit pinggangnya.


"Lain kali aku akan lebih pelan."


Gibran menghela nafas berat tapi ia tetap tersenyum meskipun sorot matanya memancarkan kesedihan. "Sampai waktunya tiba, aku akan berusaha supaya garis takdir kita gak akan pernah terputus lagi."


Begitu tenang, Gibran mengatakannya seolah ia yakin akan mendapatkan kembali hati Jasmine hingga membuat Jasmine seketika gelisah.


Pijitan itu perlahan-lahan berubah menjadi usapan lembut di punggungnya hingga perlahan membuat Jasmine terlelap.


Dengan hati-hati Gibran menyandarkan kepala Jasmine di bahunya, ia kemudian mulai membelai kepala Jasmine dan sesekali memberikan kecupan di puncak kepalanya.


"I love you as always, Jaamine..." bisik Gibran pelan.


...


Jasmine terbangun ketika suara tangisan Aurora terdengar, ia langsung mendapatkan kesadarannya meskipun ia masih berbaring di atas sofa dengan tangan yang menempel selang infus yang terhubung pada kantung infus yang hampir habis, kondisi ini membuatnya cukup terkejut lalu ia melihat ke arah Gibran yang saat ini sedang menggendong Aurora dan menenangkannya dalam pelukannya.


"Sakit ya, nak? Sabar ya, sebentar lagi kamu pasti sembuh..." Dengan lembut dan hangat, Gibran menimang-nimang tubuh Aurora dan memastikan selang infusnya tidak terlepas.

__ADS_1


Melihat itu semua, Jasmine segera melepaskan jarum infus yang menusuk di tangannya lalu melangkah menghampiri Gibran.


"Kenapa gak bangunin aku?" Tanya Jasmine begitu mendekat sambil mengusap-usap tangan Aurora yang saat ini di pasangi selang infusan, ia yakin jika putri kecilnya ini sangat kesakitan hingga ia terus menangis.


"Aku takut kamu kelelahan."


Jasmine hanya menghela nafas, ia tidak ingin berdebat di hadapan Aurora meskipun Aurora masih baru berusia enam bulan tapi Jasmine meyakini kalau Aurora sangatlah cerdas karena dia selalu merespon setiap kali diajak bicara.


"Sini aku gendong." Jasmine mengulurkan tangannya agar lebih mudah menggendong Aurora yang saat ini ada dalam gendongan Gibran.


"Kenapa infusan nya di buka?" tanya Gibran tanpa membiarkan Jasmine menggendong Aurora.


"Aku gak sakit, Gibran!"


"Kamu kekurangan cairan, Jasmine. Kamu gak makan sama minum seharian ini. Kamu tidur kayak orang pingsan."


"Itu karena aku kebanyakan nangis jadi mataku berat."


"Ya makanya jangan nangis lagi..."


"Ya makanya jangan sakitin aku lagi!"


"Gak akan, gak akan lagi!"


Jasmine menutup mulutnya rapat-rapat setelah itu, tidak tahu kenapa percakapan ini sampai terjadi seolah ia sudah tidak marah lagi pada Gibran padahal kemarahan itu masih sama.


"Udah sini, aku mau gendong Rora..." Jasmine lantas mengalihkan pembicaraan, ia kembali mengulurkan tangannya dan kali ini Gibran memberikan Aurora padanya dengan hati-hati.


"Anak ibu yang cantik, cepet sembuh ya nak. Nanti ibu masakin bubur salmon kesukaan kamu," ucap Jasmine sambil menepuk-nepuk punggung Aurora dan dengan cepat berhasil menenangkannya seolah ia mengenali aroma tubuh ibunya hingga Gibran kembali menyesali kebodohannya yang dengan sengaja menjauh dari mereka hingga kehilangan banyak momen melihat Jasmine dan Aurora yang hangat seperti ini.


"Ayah gak di masakin juga, Bu?" tanya Gibran sambil menahan air matanya, ia tersenyum dan mengusap puncak kepala Jasmine dengan lembut.


***

__ADS_1


__ADS_2