
"Jasmine, gimana kalau gue jatuh cinta sama Ruby..."
Deg! Dia menghantamnya dengan kuat, hatiku hancur setelahnya.
Aku sudah merasakannya sejak awal, getaran berbeda yang Gibran tunjukkan pada Ruby tapi rasa sakitnya separah ini kah?
Hampir mirip dengan sekarat...
Aku sulit bernafas, dadaku sesak, terasa nyeri...
Sakit, sakit sekali...
Aku tidak tahu patah hati akan terasa seburuk ini.
Hati ini sepertinya akan segera mati, atau mungkin sudah mati sekarang...
Angin yang berhembus terasa dingin, mendung datang lagi...
Aku menjadikan gerimis sebagai alasan untuk kabur dari situasi ini, melangkah meninggalkan Gibran yang masih duduk disana sendirian.
...
Aku mengunci diriku di kamar setelah itu dan bersembunyi di dalam kamar mandi lalu menangis sejadi-jadinya.
Tangisanku tidak bisa aku tahan, rasa sesak ini tidak juga pergi meskipun begitu banyak air mata yang menetes. Sambil memukul-mukul dadaku yang terasa nyeri, aku ingin melepaskan rasa sakit ini.
Rasa sakit yang datang secara bertubi-tubi menghancurkan ku.
Dari mereka, dua pria yang paling aku cintai seumur hidupku, mereka menghancurkan ku...
Ayahku dan juga cinta pertama ku...
Begitu dingin, mereka membuang ku!
Aku menangis dan terus menangis lalu tertawa seperti gadis yang hilang akal tapi rasa sakit itu tidak kunjung pergi.
Kekecewaan itu terlalu besar, terlalu kuat, terlalu menyakitkan dan aku tidak sanggup untuk menanggungnya.
Tubuhku merosot lemas, duduk bersandar pada pintu kamar mandi dan menangis dengan putus asa.
Jika aku tahu patah hati akan semenakutkan ini maka aku tidak akan pernah mau mencintai, aku tidak akan jatuh cinta, aku tidak akan menerima kebaikannya.
Sebaiknya aku tidak pernah mengenalnya, dengan begitu rasa sakit ini tidak akan menjadi milik ku.
Kenapa bukan kebahagiaan yang menjadi milik ku?
Kenapa bukan kamu yang menjadi milik ku?
Gibran, kenapa bukan aku yang kamu cintai?
Kenapa?
"Kenapa bukan aku yang ingin kamu miliki?"
__ADS_1
***
Aku patah hati, hatiku hancur tapi kehidupan yang kejam ini terus berjalan. Aku terus bertemu dengannya, aku terus berada pada situasi mencekik ini.
Duduk bersebelahan dengan Gibran di dalam mobilnya karena hari ini adalah hari kelulusan ku sementara nenek ku berada di dalam mobil orangtua Gibran yang juga akan menghadiri acara wisuda kelulusanku.
Sudah beberapa Minggu sejak Gibran mengatakan jika ia jatuh cinta pada Ruby, sejak itu juga kami berhenti saling bicara.
Perjalanan yang dekat ini terasa begitu lama, mungkin waktu bergerak lambat karena aku menantikan kami tiba lebih cepat dengan begitu aku bisa kembali menjauh dari Gibran.
Di tengah sepi yang menjebak kami, suara dering ponsel Gibran terdengar memecah keheningan. Gibran lantas melihat sejenak layar ponselnya dan aku seolah tahu siapa yang menghubunginya hingga aku memilih untuk menutup telingaku dengan earphone.
Gibran melirik ku sesaat sebelum mengangkat telepon itu.
"Halo..." Suara Gibran terdengar lembut, hatiku kembali meringis, suara lembut itu tidak pernah ditunjukkan padaku padahal seumur hidupnya ia bersama ku.
"Iya bentar lagi aku sampai."
Semakin jelas jika yang menghubungi Gibran itu adalah Ruby.
Aku ingin menangis, namun aku mencoba menyibukkan diri dengan memainkan ponselku, mencari seseorang yang bisa aku hubungi tapi hanya ada nomor Gibran, kedua orangtuanya serta nenek ku dan juga Ruby. Kontak ku tidak banyak, aku semakin sadar mungkin karena hidupku hanya berputar-putar di sekitar mereka, karena itulah aku begitu terluka sekarang tapi ibu jariku berhenti menarik deretan kontak yang sedikit itu ketika aku menemukan nomor Juna yang tersimpan.
Berbeda dengan janjiku, aku tidak pernah menghubunginya. Aku kemudian melirik ke arah Gibran yang masih sibuk berbincang dengan Ruby melalui teleponnya.
Aku hanya ingin kabur, mengalihkan rasa sesak di dalam dadaku jadi aku mengirim emoticon 'hi' kepada Juna dan tidak menunggu lama bagi Juna untuk segera menghubungi ku. Bukan sekedar telepon biasa tapi panggilan video.
Gibran masih menelepon, aku tidak ingin mendengarkan mereka berbincang jadi begitu Gibran menoleh ke arahku seolah ia terganggu dengan dering ponsel ku barulah aku mengangkatnya.
"Kenapa?" tanya ku canggung, ini memang kali pertamanya bagiku merias diri apalagi sekarang aku memakai kebaya berwarna biru langit dan rambutku juga aku tata.
"Aku pikir, aku salah sambung soalnya bidadari yang menjawab." ucap Juna yang tidak sungkan merayuku, dia membuatku tersenyum tapi Gibran malah memberikanku tatapan sinis.
"Akhirnya kamu menghubungiku, jadi bagaimana? Apa aku udah bisa menjadi tetanggamu?" ucap Juna sedikit bergurau. Dia selalu berhasil membuat kecanggungan ku padanya hilang.
"Ya aku rasa seseorang mungkin memang ingin menjual rumahnya." jawabku sambil melirik ke arah Gibran yang baru saja mematikan sambungan teleponnya.
"Well, kapan? Katakan padanya untuk segera pindah, kamu tahu aku mulai tidak sabar untuk menjadi tetanggamu dengan begitu kamu bisa datang memasak di tempat ku ketika aku merasa lapar."
"Oh astaga, pikirmu aku asisten rumah tangga?"
"Jasmine, gak ada yang lebih baik dari tetangga sepertimu yang rela pergi berbelanja sendirian demi acara makan malam yang diadakan oleh tetanggamu."
Ini menyenangkan, percakapan yang menyindir Gibran terang-terangan di depan wajahnya. Dia harus tahu jika dia sudah memperlakukan ku salah.
"Hahah, atau haruskah aku yang pindah menjadi tetanggamu?" tanya ku tertawa pelan.
"Hey, itu bukan ide yang buruk!" sahutnya dengan penuh semangat bertepatan dengan sampainya aku di tempat parkir sekolah.
"Aku tahu..." jawabku sambil berusaha membuka sabuk pengaman ku tapi seperti biasa aku selalu kesulitan.
"Jadi kenapa kamu berdandan secantik ini?" tanya Juna yang kembali mengalihkan perhatianku.
"Ini hari kelulusan ku."
__ADS_1
"Oh serius?"
"Ya, aku akan jadi seorang mahasiswi setelah ini."
"Jadi unversitas mana?"
"Gak tau sih masih bingung, tapi aku berniat mengambil tawaran beasiswa ku di London."
"Hey, kayaknya kita jodoh deh?" Seru Juna yang sontak membuat Gibran melotot menatapku, ia berusaha mendekat dan melihat ke arah ponselku namun aku menahannya.
"Jodoh?" tanya ku dengan sedikit kelabakan karena Gibran terus berusaha mengintip.
"Tebak aku lagi dimana?"
"Dimana?"
Juna kemudian menunjukkan latar belakang tempat ia berada yang menunjukkan pemandangan kastil universitas yang megah.
"Oh, tempat itu..." aku terkejut nyaris tidak percaya dan Juna menunjukkan reaksi yang sama. "Jangan bilang kamu menerima beasiswa disini?"
"Ya!"
"Damn! Bagus kita bisa bertemu setiap hari kalau begitu. Aku sekarang sedang mengambil S2 ku disini."
"Jangan ngarang?!"
"Aku di tempat ini, gimana aku ngarang?"
"Tapi waktu itu..."
"Aku hanya liburan, sejujurnya jika kamu langsung menghubungi ku begitu kita menukar telepon maka mungkin aku gak akan mengambil program ini."
"Hey, jangan coba-coba ngerayu aku!"
"Gak Jasmine cantik, aku gak lagi ngerayu... Tapi serius, hubungin aku kalau kamu tiba disini."
"Ok... Aku rasa aku udah hampir telat. Udah larut disana, istirahatlah..."
"Ok, hubungi aku kapanpun kamu mau."
"Ok..."
Akhirnya panggilan telepon itu berakhir, Juna sedikit memberikanku celah untuk bernafas setidaknya sampai aku sadar bagaimana mengerikannya tatapan yang Gibran berikan padaku sekarang.
"Jadi loe udah punya rencana disana?"
"Ya?"
Aku seketika menahan nafasku ketika Gibran bergerak mendekat dan membantuku membuka sabuk pengaman ku. Sabuk itu sudah terbuka tapi Gibran masih ada di posisi itu, dengan tubuh yang condong padaku, wajah kami sangatlah dekat hingga deru nafasnya terasa hangat menerpa wajahku hanya saja sorot matanya sungguh membuatku tidak berkutik.
"Loe udah punya rencana buat deket sama cowok lain disana?"
***
__ADS_1