Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Bukan ibu pengganti


__ADS_3

Pada akhirnya aku pulang bersama dengan mamanya Ruby. Pulang ke rumah orangtua Gibran, nenek ku sudah berada di sana bersama dengan kedua orangtua Gibran serta ayahku. Ia terlihat terkejut melihatku datang bersama dengan mamanya Ruby yang terus menggandeng lenganku.


Aku tidak tahu bagaimana perasan nenek ku melihat cucunya bersama dengan wanita yang menghancurkan kehidupan putrinya tapi aku tidak bisa melepaskan mamanya Ruby, aku tidak tega.


Nenek ku kemudian melangkah mendekat, dia tidak mengatakan apapun tapi di luar dugaan ku, nenek ku menyentuh wajah mamanya Ruby dan mulai menangis.


"Kemari lah..." ucap nenek ku sambil memeluknya.


"Bu..." suara mama Ruby terdengar lirih, ia menangis dan memeluk nenek ku dengan begitu erat. Bagaimanapun nenek ku pernah kehilangan putrinya, ia pasti sangat tahu bagaimana perasaan mamanya Ruby sekarang.


"Ini semua salah ku, Bu... Ini karma ku..."


"Jangan bicara begitu, Ruby sama sekali tidak menanggung kesalahan apapun. Ini memang sudah takdirnya, mungkin Tuhan terlalu menyayanginya lebih dari kita. Dia sudah bahagia sekarang."


Ruby, lihatlah... Keluarga kita kembali menjadi utuh, tapi aku tidak bisa bahagia karena kamu tidak berada diantara kami...


...


Beberapa hari setelah kematian Ruby, putri Ruby akhirnya di bolehkan pulang dari rumah sakit hari ini.


Semua orang sudah menunggu di ruangan khusus sementara perawat membawa putri Ruby dari ruang observasi.


Tangisannya langsung terdengar begitu perawat membawanya masuk.


"Cobalah gendong, dia putri mu sekarang..." Mama Ruby langsung memintaku menggendong cucunya, dan perkataannya membuat hati ku tersentuh sekaligus mengingatkan ku akan status baru ku sekarang meskipun aku dan Gibran masih belum bicara sampai hari ini.

__ADS_1


Dengan hati-hati aku menggendongnya, putri kecil Ruby yang sangat cantik. Dia menangis dalam gendonganku, mungkin karena ia sedang merindukan ibunya. Hatiku langsung luruh, aku ingin menangis lagi tapi aku segera menahannya. Aku tidak ingin semua orang yang sudah berusaha untuk tetap kuat menjadi hancur lagi.


"Nak..." panggil ku dengan suara lirih dan tanpa terduga bayi mungil ini berhenti menangis, ia bahkan tertawa ketika tangan mungilnya menangkap ibu jariku.


"Dia mengenali ibunya..."


Masih ada rasa sakit ketika mama Ruby terus mengatakan hal seperti itu seolah mereka melupakan pengorbanan Ruby.


"Ruby akan selalu jadi ibunya tapi aku akan menyayanginya sama besarnya." ucapku pelan dan ketika aku mengangkat pandanganku, kedua mata Gibran langsung menyambut pandanganku.


Sorot matanya masih sama, seolah ia memendam kemarahannya padaku, dia membuat ku ingin melupakan fakta jika aku adalah istrinya sekarang.


Tapi itu adalah kenyataan yang harus aku hadapi, bahkan aku harus pulang ke rumahnya, rumah tempat ia dan Ruby tinggal selama ini.


Suasana rumah yang gelap dan sepi langsung menyambut kedatangan kami. Putri Ruby masih berada dalam gendongan ku sementara Gibran membawa perlengkapannya.


"Kamar bayinya ada di sana, kamar ku ada di sebelahnya. Kamu boleh tidur di manapun." ucap Gibran sambil menunjukkan letak kamar yang ia maksud tapi nada suaranya terdengar dingin namun aku tidak akan mempermasalahkannya karena dia baru saja kehilangan Ruby dan aku juga tidak ingin menggantikan posisi itu.


"Ok..." ucap singkat lalu membawa putri Ruby ke kamarnya, meletakkannya dengan hati-hati ke atas ranjang berwarna merah muda ini.


Aku lantas duduk di kursi yang sepertinya Ruby siapkan untuk menyusui putrinya itu. Kamar ini begitu indah, bernuansa merah muda yang lembut dengan ornamen bintang-bintang berwarna emas di dinding serta langit-langit kamar yang di cara seperti berawan cerah.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan ku, aku lantas melangkah membuka pintu dan Gibran telah berdiri di sana. Dia terlihat baru selesai mandi karena rambutnya masih basah.


"Udah tidur baby-nya?" tanya Gibran sedikit mengintip.

__ADS_1


"Dari perjalanan tadi masih tidur." jawabku sambil membuka pintu lebar-lebar. "Mau liat?" tanya ku karena sejak tadi Gibran sama sekali tidak mendekati putrinya itu.


"Gak..." jawabnya singkat, ada perasaan jengkel yang aku rasakan pada Gibran karena pria itu terlihat tidak peduli dengan putrinya.


"Mau kamu kasih nama siapa?"


"Terserah kamu!"


Sikap Gibran sungguh membuatku geram terlebih dia langsung pergi begitu saja setelah itu.


"Dia udah kehilangan ibunya, kamu mau buat dia kehilangan sosok ayah dengan bersikap gak perduli ke dia juga?" ucapku sambil mengejar langkah Gibran.


"Kan ada kamu, kamu ibunya sekarang kan?!" jawab Gibran yang saat ini berada di dapur sambil meneguk air putih dengan tidak sabaran.


Aku tertegun, nada suara Gibran yang tinggi serta kemarahan yang tidak segan-segan ia tunjukkan padaku membuatku tidak percaya jika pria ini adalah pria yang sama yang selama ini aku cintai.


"Kamu gila ya!"


"Kamu masih berharap aku masih waras dengan situasi ini? Dengan kematian Ruby? Dengan kehadiran kamu yang mendadak menggantikan posisi dia? KAMU BERPIKIR AKU MASIH BISA WARAS?"


"Terus kamu pikir aku mau situasi ini terjadi? Kamu pikir aku mau kehilangan Ruby, begitu?!"


Gibran meletakkan gelas di tangannya dengan kencang di atas meja dapur hingga membuatku terperanjat. Ia lantas melangkah mendekati ku lalu berbisik. "Ini kan yang selalu kamu harapkan? Menikah dengan ku? Selamat, kamu mendapatkannya sekarang tapi jangan harapkan apapun dariku!" sorot mata Gibran memancar kebencian yang dalam, ia menantang ku dengan amarahnya, bicara seolah kematian Ruby adalah bagian dari doa ku hingga air mataku langsung menetes karena ucapannya terlalu menyakitkan.


"Jangan kira perasaanku masih sama, Gibran... Jangan lupa aku juga punya kehidupan ku yang harus aku korbankan termasuk rencana pernikahan aku dengan kak Juna yang batal karena kamu!"

__ADS_1


Walaupun hatiku hancur, aku tidak akan hancur dihadapannya lagi seperti dulu.


...


__ADS_2