Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Nostalgia


__ADS_3

"Sekali ini aja dengerin aku, Melati..."


Hanya satu orang yang akan memanggilku dengan panggilan 'Melati' saat sedang marah.


Dia adalah Gibran...


Pria itu selalu membuat perasaanku naik turun, aku sungguh frustasi menghadapinya, menghadapi perasaan yang tidak ada habisnya padanya terlebih dengan perhatiannya yang selalu terasa hangat menyentuh dinginnya hatiku meskipun setelah itu ia akan berbalik dengan cepat dan melontarkan banyak kata menyakitkan padaku.


Aku merasakan Gibran duduk di sebelahku, ia lantas menyentuh kening ku lalu ku dengar suara hembusan nafas berat darinya.


"Tunggu bentar..." ucapnya ketika Aurora kembali menangis kencang, aku merasakan ia beranjak dari atas tempat tidurku.


Ku dengar pintu kembali terbuka, sepertinya Gibran sedang pergi membuat susu lalu tidak lama setelah itu langkah kakinya terdengar lagi memasuki kamar, setelah itu Aurora berhenti menangis.


Aku ingin melihatnya, pemandangan yang tidak pernah ku lihat sejak Aurora lahir jadi aku memaksakan kedua mataku untuk terbuka meskipun kepalaku terasa berayun-ayun.


Meskipun samar, aku dapat melihat Gibran memangku Aurora sambil memberikannya susu lalu setelah itu ia berdiri dengan hati-hati sambil menepuk-nepuk punggung Aurora dan menimang-nimangnya.


Hatiku tersentuh, melihat Gibran perduli pada Aurora setelah sebelumnya terus mengabaikannya membuatku merasa bahagia, tanpa sadar bibirku tersenyum tepat ketika Gibran tiba-tiba saja berbalik dan melihatku.


Gibran langsung terlihat canggung setelah itu karena dia juga sedang tersenyum tepat ketika kedua mata kami tidak sengaja bertemu setelah itu ia kembali berpaling dan kemudian meletakkan Aurora di atas tempat tidurnya dengan hati-hati barulah ia melangkah ke arah ku.


"Kamu udah makan?" tanya Gibran yang saat ini sudah duduk di tepi tempat tidurku.


"Belum..." jawabku pelan nyaris tidak bersuara hingga Gibran harus mendekatkan telinganya dan bertanya sekali lagi. "Udah makan belum?" tanyanya lagi dengan pelan.


Oh Tuhan...


"Aku belum makan." jawab ku sedikit gugup terlebih saat Gibran tidak lantas menjauh setelah itu, ia menoleh dan menatapku sesaat sebelum akhirnya kembali duduk dengan tegak. Dia terlihat tegang tapi aku tidak berani menggodanya, jika saja hubungan kami tidak seburuk ini maka aku sudah meledek kegugupannya.


"Mau makan apa?" tanya Gibran tanpa melihatku.


"Apa aja." jawab ku sambil memalingkan wajahku, melihatnya hanya akan membuatku sulit untuk menerima kenyataan jika keperdulian Gibran bukan karena dasar cinta.


"Bubur mau?"

__ADS_1


"Boleh..."


"Ya udah tunggu." Gibran masih sama, nada suaranya masih terdengar seperti marah bahkan sikapnya terasa dingin tapi melihat penampilannya yang memakai setelan kemeja dengan rapih membuatku sedikit tahu jika ia sebenarnya sedang bekerja.


Apa dia pulang karena khawatir padaku yang sedang sakit? Bagaimanapun CCTV di kamar ini bisa dipantau olehnya, atau khayalanku sudah terlampau jauh karena Gibran mungkin hanya khawatir dengan keadaan Aurora. Aku tidak masalah jika alasannya karena Aurora tapi aku akan lebih senang jika saja Gibran pulang ingin merawatku.


Gibran masih duduk di tepi tempat tidurku sambil memainkan ponselnya lalu kemudian ia menoleh, "Beneran bubur bukan nasi Padang?" tanya Gibran membuatku seketika terkejut.


"Aku lagi sakit, Gibran!" Oh sungguh, jika saja tubuhku tidak sedang lemas maka aku sudah memarahinya, bagaimana bisa ia menawarkan ku nasi Padang padahal sejak awal ia menawarkan bubur yang sudah sangat cocok untuk kondisiku yang sedang sakit sekarang.


"Dulu kan kalau sakit kamu suka banget diam-diam minta aku beliin nasi Padang terus bubur yang dibuatin nenek akhirnya aku yang makan."


Itu benar...


Aku tersenyum malu mengingat kenangan itu, bagaimana bisa Gibran masih mengingatnya? Dia membuatku terkesan.


"Ya udah nasi Padang!" jawabku yang tiba-tiba saja jadi ingin makan nasi Padang, mungkin dengan begitu tubuhku tidak akan lemas lagi.


"Nah, pasti langsung sembuh abis makan nasi Padang lagian tenggorokan kamu gak sakit kan?" Suara Gibran langsung terdengar senang, ia bahkan kembali menoleh dan menantikan jawaban ku. Binar matanya yang terlihat ceria terasa hangat menyentuh hatiku.


"Ya udah berati boleh makan nasi Padang. Porsi double?"


"Satu aja!"


"Aku juga mau, Jasmine... Aku juga belum makan dari kemarin!"


Aku ingat akan kata nenek ku jika aku dan Gibran selalu menunjukkan sisi kekanak-kanakan kami jika kami sedang bersama bahkan protes yang di utarakan Gibran terdengar menggemaskan, hampir mirip seperti sebuah rengekan manja meskipun ia langsung berdehem demi meredam kegugupannya.


"Siapa suruh gak mau makan dari kemarin?" Aku menjawab tidak mau kalah dan pria yang sekarang telah menyandang status sebagai suami ku ini terlihat menyipitkan kedua matanya, tangannya kini berada diantara tubuhku, dia terlihat gemas menghadapi ku.


"Kamu sendiri juga gak makan kan dari kemarin? Akhirnya sakit, aku harus ijin kerja lagi kan, ngerepotin dasar!" oceh Gibran terdengar kesal dan langsung membuatku tersulut lalu menjawabnya dengan nada suara yang sama kesalnya, "Siapa suruh kamu ngajakin berantem kemarin?"


"Siapa suruh kamu bahas pria lain kemarin?"


"..."

__ADS_1


Suasana menjadi hening setelah itu, rasanya seperti Gibran baru saja mengakui kecemburuannya.


Gibran kemudian berdehem, ia beranjak bangun dari tempat tidurku dan pergi setelah itu tanpa mengatakan apapun lagi.


Selagi menunggu, aku kembali ketiduran tapi aku kembali terbangun ketika merasakan belaian lembut di wajahku.


Aku membuka kedua mataku, samar-samar aku melihat wajah Gibran yang perlahan menjadi jelas.


"Ayo makan, baru aku mau bangunin kamu..." Gibran terlihat gugup tapi ia juga masih seperti seorang pemarah yang galak karena ia berkata dengan nada yang ketus dan setelah itu ia melangkah lebih dulu keluar kamar meninggalkan ku.


Aku tidak bisa bergerak gesit, tubuhku masih lemas tapi aku menyempatkan diri melihat Aurora yang masih tertidur, sambil tersenyum aku menatapnya dengan hangat. Dia tidur dengan nyenyak dan sesekali tersenyum, aku berdoa semoga dalam mimpinya ia bisa bertemu dengan Ruby.


"Ayo, nanti keburu dingin gak enak!" Gibran memanggil lagi, pria itu sudah berdiri diambang pintu dengan tidak sabaran jadi aku segera melangkah menghampirinya tapi Gibran malah menghela nafas kesal dan setelah itu ia menggendong tubuhku.


"Gibran, kamu ngapain? Turunin aku!" tubuhku meronta agar Gibran menurunkan ku tapi Gibran malah mendesis dan melirik ku sinis, "kamu mau buat Rora bangun? Lagian kamu jalan pelan banget, aku udah gak sabar mau makan!"


Aku tidak bisa lagi protes setelah itu dan membiarkan Gibran menggendongku hingga kami tiba di meja makan.


"Kok cuma satu?" tanya ku ketika melihat satu bungkus nasi Padang berukuran besar di hadapan ku.


"Porsi jumbo kan?"


"Iya, tapi kamu katanya mau makan?"


"Emangnya kamu habis makan ini sendirian?"


"Gak sih kayaknya..."


"Ya udah makan berdua!"


Ada sedikit ketakutan dibalik sikap yang ditunjukkan oleh Gibran padaku, tapi juga perasaan hangat yang menyusup bersamaan dengan Gibran yang mengambil posisi di sebelahku.


"Malah ngelamun? Ayo makan! Apa mau aku suapin?"


Gibran, kebaikan ini bukan bagian halusinasi ku kan?

__ADS_1


***


__ADS_2