Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Terjerumus perasaan


__ADS_3

>>> Jasmine POV <<<


Aku melihat jam, entah sudah berapa kali aku melirik ke arah jam yang tertempel pada dinding.


Rasanya waktu sudah lama berlalu, mungkin sudah terlalu lama tapi Gibran masih tidak juga keluar dari dalam kamar mandi. Aku ingin mengabaikannya, tapi hatiku tidak henti-hentinya merasa khawatir.


Mungkin ia pingsan karena kelelahan atau jatuh karena terpeleset atau mungkin...


Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku, membuang pikiran kotorku dengan cepat. Gibran tidak akan se-putus asa itu kan?


Hah! Aku menghela nafas berat, entah kenapa aku tidak bisa tenang hingga aku beranjak turun dari atas tempat tidur dan melangkah menuju pintu kamar mandi.


"Gibran..." Aku memanggilnya dengan sedikit keraguan, aku mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi beberapa kali tapi tidak terdengar jawaban dari dalam.


"Gibran." Aku memanggilnya sekali lagi tapi masih juga tidak ada respon. Kamar mandi ku tidaklah luas jadi Gibran pasti dengan mudah mendengar panggilan ku meskipun aku tidak berteriak, bagaimanapun aku takut akan membangunkan Aurora.


"Gibran!" Nada suaraku cukup kencang kali ini, aku berjanji akan kembali naik ke atas tempat tidur dan mengabaikannya sepenuhnya jika ia tidak juga menjawab dan masih sama... Tidak ada jawaban dan sialnya aku langsung ingkar janji karena aku langsung menerobos memasuki kamar mandi.


Aku tidak bisa mengabaikan kekhawatiran ku padanya seberapapun marahnya aku padanya.


Tidak ada tanda-tanda Gibran menggunakan wastafel jadi aku melangkah lebih jauh menuju shower karena terdengar suara gemericik air.


"Gibran..." Aku memanggil pelan tapi kemudian tubuhku tertarik hingga bajuku langsung basah terkena air shower yang masih mengucur deras.


"Kamu gila ya?!" Aku langsung menjerit karena air ini terasa sangat dingin sampai akhirnya aku sadar bagaimana kondisi Gibran sekarang.


Wajahnya pucat pasih, tubuhnya menggigil hingga kedua matanya memerah. Dia berdiri di hadapanku dan menatapku dengan putus asa.


"Aku udah gila. Gimana ini, Jasmine? Aku takut nyakitin kamu karena aku gak bisa menahan diri untuk gak menyentuh kamu," ungkap Gibran sambil mengulurkan tangannya yang terasa sedingin es, ia membelai wajahku bahkan ibu jarinya menekan bibir ku ke dalam hingga aku bisa menyicipi ujung jarinya di ujung lidahku.


Aku tertegun untuk sesaat apalagi saat Gibran terus mendesak ibu jarinya memasuki rongga mulutku semakin dalam dan menekannya hingga rahang ku terbuka.


Deru nafas Gibran terdengar berat saat dia bergerak mendekat, dia terlihat ragu-ragu mendekatkan wajahku. Aku tahu dengan jelas apa tujuannya tapi aku sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menahannya agar tidak terlalu dekat denganku, hingga akhirnya dia mulai menyusupkan lidahnya langsung memasuki rongga mulutku dan menciumku dengan penuh gairah setelah itu.

__ADS_1


Dia memegangi wajahku dengan kedua tangannya hingga aku hanya bisa pasrah menerima permainan bibirnya sementara tubuhnya mulai mendorong tubuhku hingga punggung ku menyentuh dinding yang dingin.


Aku tahu Gibran bisa saja menyentuhku lebih tapi tangannya hanya bergerak lembut memegangi wajahku dan sesekali menekan tengkuk ku.


Ciuman ini memabukkan ku, terasa manis hingga aku mulai membalas ciumannya, meladeni permainannya yang lihai sampai Gibran melepaskan bibirku ketika aku nyaris kehabisan nafas.


"Kamu belajar banyak..." Dia tersenyum dengan bangga, memang benar aku hanya berciuman dengannya tapi apa harus dia menjadi tidak tahu malu dengan berkata seperti ini?


Sialnya aku tidak bisa marah karena aku menikmati ciuman itu setelah itu aku melangkah melewatinya, lalu mematikan shower yang airnya masih membasahi punggung Gibran sejak tadi setelah itu aku mengambil handuk di laci penyimpanan dan meletakkan handuk itu di atas bahu tegap Gibran yang menggigil.


"Aku akan menganggap ciuman tadi gak terjadi karena kayaknya kamu mabuk air keran jadi jangan ulangi lagi dan cepet keluar dari kamar mandi ini kecuali kalau kamu emang mau tidur disini!" ucap ku yang kemudian cepat-cepat melangkah menjauh atau kebodohan ku akan datang lagi.


"Kenapa harus? Kamu menikmatinya juga kan?" tanya Gibran seraya mencekal pergelangan tangan ku.


"Sama seperti saat kamu mencuri ciuman pertama ku, aku juga berhak suruh kamu lupain kejadian malam ini."


"Terus kamu lupa sama ciuman pertama kita?"


"Ya gak lah! Gimana caranya?"


Dang! Aku terjebak permainan katanya lagi. Terjerumus oleh perasaan ini hingga membuat ku menjadi bodoh.


...


Aku sudah mengganti pakaian ku di kamar mandi karena ada Gibran di kamar ku. Saat ini ia berbaring di atas lantai hanya dengan beralaskan selimut tipis.


Dia meringkuk, dari keningnya meluncur keringat sementara tidurnya terlihat gelisah.


Aku menghela nafas, berkali-kali aku mengajarkan diriku yang bodoh ini sebuah keteguhan tapi berkali-kali juga aku melanggarnya sendiri.


Tangan ku terulur dengan hati-hati menyentuh kening Gibran dan dugaan ku benar jika dia sedang demam sekarang.


"Jasmine..." panggil Gibran sambil tersenyum, sayup-sayup kedua matanya terbuka seolah ia sangat senang aku perhatikan dan setelah itu kedua matanya terpejam lagi.

__ADS_1


"Tidur di atas, kamu demam," pintaku dengan nada dingin tapi dia menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Aku takut Rora ketularan, kamu tidur aja nanti aku sembuh sendiri kok," jawabnya dengan suara pelan sedikit serak.


"Ya udah kalau kamu gak mau di urusin!" dengus ku kesal.


Aku kembali ke tempat tidurku, berbaring sambil menatap langit-langit kamarku tapi aku tidak bisa berhenti gelisah.


Aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya...


Aku lantas mengambil baskom berisi air dan meletakkan handuk kecil di dalamnya, tidak lupa aku juga mengambil segelas air hangat dan obat demam di kotak penyimpanan obat.


"Aku ngerawat kamu bukan karena perduli tapi aku cuma gak mau Rora ketularan jadi sakit lagi," ucap ku saat mulai mengompresnya.


Kedua mata Gibran masih terpejam tapi bibirnya menyunggingkan senyuman, "makasih sayang..." ujarnya pelan sambil membelai lengan ku dengan tangannya yang terasa panas hingga membuatku semakin khawatir karena demamnya sangat tinggi.


Panas tubuh Gibran berangsur-angsur turun setelah beberapa saat ia meminum obat tapi aku tetap duduk di sebelahnya dengan tangan yang tidak sedikitpun Gibran lepaskan hingga akhirnya aku ketiduran karena saat terbangun aku sudah berada di atas tempat tidur dan Aurora sudah tidak ada di kamar ini.


Dengan cepat aku bergegas keluar dari kamar ku untuk mencari keberadaan Rora dan saat aku keluar, pemandangan yang tidak biasa langsung menyambut ku.


"Selamat pagi ibu..." Sapa Gibran sambil menirukan suara anak kecil ia membantu Aurora melambaikan tangannya lalu mereka kembali bercanda sementara nenek ku masih sibuk di dapur.


Aku kemudian memilih untuk cepat-cepat mandi agar bisa segera bermain dengan Aurora.


"Anak ibu udah mandi, udah wangi, di mandiin omah ya?" tanya ku dengan senyuman hangat sambil sesekali mengecup pipinya yang gembul.


"Aku gakk di kasih kecupan juga? Aku udah mandi, udah wangi juga loh..." ucap Gibran yang membuatku langsung memberikannya tatapan sinis.


"Bukan nenek yang mandiin Rora, dia udah wangi pas keluar kamar," sahut nenek ku dari dapur membuatku terkejut seolah tidak percaya karena Gibran yang telah memandikan Aurora dan lihatlah dia tersenyum bangga.


Tentunya aku tidak menanggapi senyumannya yang mempunyai makna lain itu apalagi dia terus menarik-narik baju ku dan menunjuk-nunjuk pipinya minta di cium dan untunglah suara ketukan pintu menyelamatkan ku darinya.


Dengan cepat aku berlari kabur dari Gibran yang mulai mendesak ku menggunakan Rora lalu membuka pintu dengan cepat.

__ADS_1


"Pagi Jasmine..."


***


__ADS_2