
Aku menyentuh wajahku yang terasa panas, melihatnya berlari pelan menuju mobilnya lalu melambaikan tangannya ketika sudah sampai disana membuat jantungku berdebar semakin kencang.
Gibran tersenyum lembut sebelum kepergiannya, ada perasaan sedih yang menyusup setelah itu.
Faktanya mungkin aku sudah mulai merindukannya sebelum kepergiannya.
Faktanya hatiku yang terluka sedikit terobati karenanya.
Aku masih bisa merasakan hangatnya pelukannya ketika aku terbangun dari tidurku saat kami berada di penginapan.
Dia merengkuh tubuhku begitu erat, memilikiku sepenuhnya.
"I love you...." Pernyataan cinta yang terucap darinya membuat hatiku berdesir saat itu. Aku sudah terbangun tapi aku membiarkannya tetap merengkuhku, mendengarnya mengucapkan banyak pernyataan cinta sambil memberikanku kecupan mesra, momen hangat yang tidak pernah aku dapatkan saat kami masih menikah dulu.
Penyesalan itu hadir begitu besar bukan karena aku melepaskannya, tapi karena kami tidak melakukannya sejak awal. Berdamai dengan luka dan terus menggenggamnya hingga luka itu bernanah.
Keegoisan yang tidak bisa kami redam, kemarahan yang terus menerus tersulut dan kecemburuan yang tidak ada habisnya.
Hidup begitu melelahkan menggenggam luka itu selama ini, meskipun begitu setidaknya sekarang luka itu perlahan-lahan terobati.
Cinta itu masih ada, aku rasa akan selalu ada....
Katanya waktu mengobati segalanya, aku menjalankan banyak waktu tanpanya, banyak waktu merindukannya dan banyak waktu terluka karenanya, tapi tidak kunjung sembuh.
Kepedihan ku berangsur-angsur memburuk, semakin buruk saat harapan mulai hadir, saat cinta menjadi serakah, saat aku meninggalkan luka itu begitu saja tanpa pernah berusaha mengobatinya dan akhirnya aku terluka semakin parah.
Aku harap kali ini berakhir lain, aku harap kali ini aku akan benar-benar sembuh.
Hatiku, aku harap aku berhasil mengikhlaskan semua luka itu kali ini dan aku harap kamu pun begitu.
Gibran, aku mengharapkan banyak hal darimu, tapi harapanku yang terbesar adalah kebahagiaan untuk mu.
...
Malam berlalu begitu cepat, aku mengharapkan waktu bergerak lambat seperti biasanya dengan begitu kepergiannya juga akan melambat.
Mengingat apa yang disampaikan oleh Ruby dalam buku diary miliknya membuatku ingin menghentikan Gibran sama halnya seperti dia mencoba menghentikan kepergian ku dulu.
"Aku benci ketika kamu berlari seperti orang yang akan kehilangan hidupmu, berteriak memanggil namanya dengan putus asa dan mengucapkan cinta yang sudah jelas-jelas adalah sia-sia. Gibran, Jasmine sudah melepaskan mu maka seharusnya kamu lihatlah aku sekarang, tapi di matamu hanya ada Jasmine... Tempat yang sudah susah payah berusaha aku singkirkan dengan memberikan retakan besar dalam hubungan kalian, tapi nyatanya retakan itu menelanku."
Aku menghela nafas dalam, kesalahpahaman yang tidak berujung antara aku dan Gibran membuahkan luka yang dalam yang tidak hanya kami yang merasakan karena Ruby juga ikut tenggelam, terseok-seok dalam rasa sakit yang tidak bisa hilang.
Maaf itu sudah kuberikan, tapi aku belum bisa melupakan kepedihan yang aku rasakan ketika aku mendapatkan semua luka yang kalian berikan, ini semua membuatku gelisah, semakin gelisah karena aku merindukan kalian sebanyak luka itu.
"Aku gak bisa tidur, kayaknya tadi aku kelamaan tidur siangnya." Tulis Gibran dalam pesan singkat yang ia kirimkan.
Aku yang saat ini masih duduk di meja belajarku seketika menoleh ke arah jam pada dinding. Begitu bodoh karena aku bisa melihat jam langsung di layar ponselku, tapi pesan ini membuatku gugup. Sudah lewat tengah malam, biasanya setelah itu tanpa terasa pagi akan menjelang.
Entah kenapa aku merasa sedih....
Butuh beberapa saat bagiku untuk membalas pesan darinya sampai aku menemukan kata-kata yang tepat.
__ADS_1
"Udah kangen?" Aku membalasnya dengan godaan yang membuatku tersenyum sendiri saat mengetiknya.
"Oh damn! Kamu melihat isi hatiku hingga ke intinya."
"Mungkin...."
"Atau kamu yang sebenernya kangen, tapi kegengsian kamu memutar fakta itu? Jujur aja Jasmine, aku bisa membatalkan kepergian aku kalau kamu meminta."
Aku tersenyum membaca balasan pesan darinya. Dia masih berusaha dengan keras dan aku menyukai usahanya dan dia mengejutkanku sekali lagi dengan panggilan videonya, tapi aku sengaja tidak mengangkatnya.
"Oh ayolah, Jasmine...."
"Iya, aku kangen sama kamu ... Kangen banget, kamu puas?"
"Angkat!!! Oh Tuhan!"
"Kalau kamu masih gak mau angkat, aku datengin kamu sekarang!"
"Jasmine, please...."
"Gezzz, Jasmine, aku serius!"
"Aku pergi sekarang!"
"Jasmine ku sayang, cantik ku, calon istriku, kesayangan ku, cintaku, hidupku... Angkat dong telepon aku."
"Tok... Tok... Kamu tidur?"
"Aku yakin kamu gak bisa tidur, kita tidur seharian tadi...."
"Diluar masih hujan, kayaknya kamu lagi kedinginan ya, aku dateng ya... Kali ini aku beneran menghangatkan kamu!"
"Dia gila!" aku bergumam pelan.
Aku tidak bisa berhenti tertawa membaca deretan pesan masuk darinya. Sangat menyenangkan menggodanya, oh, jika saja dia ada di hadapanku sekarang pasti dia sudah merajuk.
Rasanya sudah lama aku tidak tertawa lepas seperti ini.
Aku kemudian menoleh ke arah Aurora terlelap sekarang, dia tidur dengan begitu pulas dan berat badannya semakin bertambah hingga dia terlihat begitu menggemaskan.
Melihatnya menggeliat, aku segera beranjak bangun dan berbaring di sebelahnya. Sambil membelai rambutnya dengan lembut, aku tidak bisa memalingkan wajahku darinya.
Malaikat kecilku, aku berharap kamu selalu bahagia...
Aku baru memejamkan kedua matanya ketika jendela kamarku terketuk beberapa kali hingga aku harus mengecek suara apa itu dan ketika aku membuka tirai, betapa terkejutnya aku melihat Gibran berdiri di sana.
Dengan cepat aku membuka jendela kamarku, melihat penampilannya yang menggunakan jas hujan berwarna merah muda, wajahnya basah sepenuhnya begitu juga dengan ujung-ujung rambutnya yang berantakan.
"Kamu ngapain?" tanyaku separuh berbisik padanya.
"Nyamperin kamu, tadi kan aku udah chat!" jawab Gibran seolah tidak berdosa.
__ADS_1
"Oh, Tuhan... Tunggu bentar!"
Aku segera melangkah menuju lemari pakaianku, mengambil handuk kecil dari dalam sana dan kembali menghampiri Gibran.
"Nih lap muka kamu." Ujarku sambil memberikan handuk itu padanya, tapi Gibran tidak menanggapinya hingga harus aku sendiri yang menyeka wajah basahnya dan juga rambutnya yang hampir basah sepenuhnya karena penutup kepalanya terlihat kekecilan.
"Kamu pakai baju hujan siapa?" Tanyaku sambil terus menyeka rambutnya dengan handuk.
"Punya mama," jawabnya singkat.
Aku hanya bisa menahan tawaku, sejujurnya Gibran sangat cocok dengan baju hujan ini karena dia terlihat manis.
"Ketawa aja gak usah ditahan!" gerutunya terdengar kesal.
"Emang boleh?"
"Emang aku bisa ngelarang?"
Dia sudah mengijinkan hingga aku tidak sungkan lagi menertawakannya.
"Bisa-bisanya kamu pakai baju ujan mama...."
"Siapa suruh kamu gak bales chat aku!"
"Ya mau ngapain kan?"
"Bilang kangen lah!"
"Aku?"
"Iyalah, siapa lagi?"
"Kangen sama siapa?"
"Sama aku dong, Jasmine!"
"Dih, ogah!"
Gibran menyipitkan kedua matanya setelah melihat reaksiku, sejujurnya itu membuatku gugup karena takut dia akan marah tapi sorot matanya mulai berubah ketika dia menghela nafas dalam.
"Ya udah, aku yang kangen jadi kamu."
Dia mengakuinya sekali lagi, ungkapan rindu yang membuat hatiku berdesir.
"Jadi, kamu harus tanggung jawab!" sambungnya yang sontak membuatku kebingungan.
"Tanggung jawab apa?"
Perasaan ku mulai tidak enak setelah itu dan benar saja Gibran tanpa ragu menarik ku dan mengecup pipiku singkat.
"Gibran!" Aku menjerit karena begitu terkejut seraya berniat memarahinya, tapi Gibran menutup mulutku dengan jadi telunjuknya.
__ADS_1
"Shhht~ Nanti anak kita bangun, sayang...."
***