Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Egois


__ADS_3

"Misal cinta dan cemburu?"


Aku terdiam, aku takut untuk mempercayai ucapannya. Selama ini yang aku tahu Gibran tidak pernah memiliki perasaan itu untuk ku, perasaan yang dia sebut sebagai cinta yang sejak awal bukanlah milikku.


"Gibran..." Aku melangkah satu langkah lebih dekat, dia sama sekali tidak gentar walaupun sorot matanya menunjukkan kegelisahan.


Dengan sedikit keraguan, aku menarik baju Gibran sambil memicingkan mataku dan menatapnya tajam, "jika mendapatkan hatiku adalah caramu untuk menghancurkan ku... Kamu salah Gibran, cara itu gak akan pernah berhasil karena sejak awal hatiku udah gak utuh. Ayahku mematahkannya dan sisanya telah lama kamu hancurkan!"


Tanpa berteriak, aku berterima kasih pada hujan ini yang telah membantuku menutupi air mataku yang kembali menetes, yang telah menjadi alasan dari suaraku yang bergetar karena dingin yang menusuk tubuh ku dengan begitu Gibran tidak akan menertawakan kesedihan ku lagi.


Aku lantas melangkah meninggalkannya, kami tidak bicara lagi setelah itu bahkan ketika kami tiba di rumah kedua orangtua Gibran.


"Kamu gak bawa baju ganti?" tanya Gibran ketika ia memasuki kamarnya lagi dan membuatku cukup terkejut karena sekarang aku hanya menggunakan jubah mandi dengan rambut yang masih basah.


"Gak..." jawabku singkat.


Aku mengira jika Gibran akan tidur di kamar tamu karena dia tidak masuk ke dalam kamarnya begitu kami tiba tapi pria itu datang lagi, muncul menggunakan jubah mandi juga.


Kecanggungan itu tidak bisa terhindarkan, apalagi saat Gibran melangkah menuju lemari pakaiannya, dia terlihat sibuk mencari pakaiannya sementara aku seperti gadis bodoh yang tidak tahu harus melakukan apa.


"Nih!" aku cukup terkejut ketika Gibran tiba-tiba saja memberikan bajunya padaku.


"Pakai baju terus keringin rambut kamu, jangan sampai sakit soalnya aku gak mau repot ngurusin kamu!" tukas Gibran dengan nada dingin, ia memberikan bajunya padaku dan setelah itu ia melangkah menuju kamar mandi.


Dia berdiri di ambang pintu kamar mandi dan menatapku yang saat ini masih kebingungan setelah menerima kaos berwarna hitam miliknya lengkap dengan celana olahraganya.


"Kamu harus udah ganti baju pas aku keluar dari kamar mandi atau kamu bisa dalam bahaya!" Gibran memperingatkan ku dengan tegas bahkan ia memberikan sorot mata yang membuatku bergidik ngeri.


Dengan cepat setelah Gibran masuk ke dalam kamar mandi, aku langsung mengganti jubah mandi yang aku pakai dengan baju pemberian Gibran yang untungnya kebesaran di badanku jadi meskipun aku tidak memakai pakaian dalam, tidak akan membuat lekuk tubuhku terlihat jelas. Oh tapi celana ini terus melorot!


Aku takut Gibran segera keluar dari dalam kamar mandi, jadi dengan sedikit asal aku menggulung celana olahraga ini di pinggangku hingga penampilan ku terlihat aneh di cermin, tapi masa bodoh, asalkan aku selamat!


Tunggu dulu...

__ADS_1


Betapa bodohnya aku yang dengan mudah terpengaruhi oleh ancaman Gibran, pria itu tidak akan melakukan apapun padaku. Pernikahan ini tidak akan pernah berjalan dengan normal, kami bukanlah pasangan yang bisa tersulut gairah.


Dengan malas aku membetulkan posisi celana berwarna abu-abu ini lalu memungut handuk yang sebelumnya terjatuh karena aku terlalu tergesa-gesa mengganti pakaian ku. Aku lantas mengeringkan rambutku dengan handuk itu sambil mencari-cari keberadaan ponsel ku.


Sialnya celana ini membuatku kesal karena terus meluncur melewati pinggul ku setiap aku melangkah hingga aku harus memeganginya atau celana ini akan melorot.


"Ngapain?"


Aku menoleh ketika mendengar suara Gibran, pria itu telah sepenuhnya mengganti pakaiannya, dia memakai baju lengan panjang dengan celana piyama. Sungguh jahat, aku yakin celana piyama itu tidak akan melorot di pinggangku jika aku yang memakainya. Oh, dia membuatku seketika merasa kesal.


"Liat apa?" tanya Gibran yang membuat ku akhirnya tersadar jika aku terus melihat ke arah celananya.


"Gak!" jawabku singkat, aku tidak ingin bicara dengannya jadi aku kembali mencari keberadaan ponselku, tapi meskipun aku mengeluarkan semua isi tas ku, ponselku tidak ada disana.


"Kamu liat..." aku belum sempat bicara, tapi suaraku langsung tertahan ketika aku berbalik dan Gibran sudah berada di belakang tubuhku.


Pria itu lantas duduk di tepi tempat tidur lalu menarik ku mendekat dan bodohnya aku hanya menurut.


Kini aku sudah berdiri di hadapan Gibran, pria itu lantas menatapku, tatapan yang seketika membuatku gugup sekaligus tegang terlebih ketika Gibran menarik ku semakin mendekat hingga aku berdiri diantara kakinya yang sedikit terbuka lebih lebar.


"Ya?"


Gibran tidak sabar menunggu jawabanku, ia mengangkat bajuku dan memintaku memegangnya dan membuat pinggangku sedikit mengintip barulah setelah itu ia mengikat tali celana olahraga yang aku pakai.


Dia membuatku gugup sekaligus merasa bodoh karena aku tidak sadar jika ada tali di celana olahraga ini dan aku malah dengan bodohnya membiarkan celana ini terus-menerus melorot di pinggangku.


"Makasih..." ucapku ketika Gibran selesai mengikatkan celana ku, dia tidak menjawab ucapan terima kasihku tapi dia menatapku sesaat, tatapan yang terasa lembut yang membuatku teringat akan masa-masa indah kami dulu sebelum cinta menginterupsi hubungan kami.


Untuk sesaat kami hanyut dalam pikiran masing-masing saat kedua mata kami saling mengunci, berbagi tatapan yang membawa kami tenggelam dalam ingatan masa lalu.


"Kruukk..." bunyi suara perut ku yang keroncongan memecah keheningan diantara kami.


"Laper kamu?" tanya Gibran yang menertawakan ku tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


"Iya soalnya seharian tadi aku cuma makan sepotong roti yang di buatin Juna aja."


Wajah Gibran kembali menggelap ketika aku membahas Juna, dia membuatku merasa seolah Gibran sedang benar-benar merasa cemburu.


"Seberapa bergantungnya kamu sama dia?"


Posisi kami, cara bicaranya serta tatapan matanya. Gibran membuatku ingin salah paham jika dia memang sedang cemburu sekarang.


"Aku gak tau, Jasmine... Tapi kenapa kamu selalu sulit menjawab pertanyaan ku?!" Gibran terdengar marah sekarang, ia bahkan menyandarkan kepalanya di atas perut ku.


"..."


"Gibran, jangan cemburu!"


Gibran seketika tersentak mendengar ucapanku hingga ia langsung beranjak bangun dan melangkah menjauh. "Jangan GeEr kamu! Aku sama sekali gak sedang cemburu!" elak Gibran dengan tegas.


"Jadi, aku boleh bergantung pada Juna terus?!" aku sengaja menantang. Gibran lantas kembali ke hadapanku.


Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras sementara matanya memicing tajam.


"Sepertinya peringatan ku pagi ini sama sekali gak membuat kamu takut!"


"Takut?"


Gibran semakin mengeras, seolah tidak ada lagi kelembutan yang tersisa untuk ku.


"Jangan lupa, Gibran... Seumur hidupku, aku berteman dengan rasa sakit."


Mendengar perkataan ku, Gibran seketika mencengkram lenganku hingga terasa nyeri. Ia menatapku seolah ia ingin menelanku bulat-bulat saat ini juga.


"Sepertinya kamu lupa satu hal, Jasmine.."


Aku menahan nafasku, saat Gibran menarik ku mendekat hingga jarak diantara kami nyaris tidak ada.

__ADS_1


"Seumur hidupmu, kamu selalu egois!"


...


__ADS_2