Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Permintaan terakhir


__ADS_3

Tuhan, apa yang terjadi padaku? Aku terus berada disini, diantara mereka bahkan aku tidak bisa menolak ketika Ruby memaksaku untuk makan dengannya.


Aku menghela nafas, sialnya Gibran juga menghela nafas di waktu yang sama denganku dan membuat suasana menjadi canggung apalagi Ruby sedang berada di toilet sekarang dan sebelum itu ia mengancam ku untuk tidak pergi kemanapun, ia bahkan membawa kunci mobilku sebagai jaminannya agar aku tidak kabur.


Duduk berdua dengan Gibran adalah hal yang tidak pernah aku pikirkan akan terjadi lagi dalam hidup ku meskipun kami tidak saling bicara.


"Gimana kabar nenek?"


"Ya?"


Aku sedikit terkejut ketika Gibran tiba-tiba menanyakan tentang kabar nenek ku. Aku tahu hubungan mereka ikut menjauh setelah pertengkaran kami dulu meskipun begitu, sama seperti perasaanku kepada orangtuanya, aku yakin Gibran tulus menyayangi nenek ku.


"Baik..." jawabku singkat tanpa balik bertanya.


Suasana menjadi semakin hening setelah percakapan singkat ini, aku melihat arloji ku dan Ruby sudah cukup lama pergi ke toilet hingga aku mulai khawatir.


"Pergi cari Ruby, aku harus pulang." ucapku dengan dingin tanpa menunjukkan sedikitpun rasa khawatir ku pada Ruby.


Gibran kemudian beranjak bangun, tapi Ruby sudah terlihat melangkah menghampiri kami jadi Gibran kembali duduk.


"Hamilnya udah sebesar itu, kamu harusnya gak biarin dia ke toilet sendiri!""


"Harusnya kamu ikut dengannya!" Dia mengembalikan ucapanku padaku.


"Kamu kan suaminya!"


"Kamu kan kakaknya!"


"Tapi kamu kan yang menghamili dia!"


"Iya!" Gibran menjawab, kali ini ia kalah tapi aku tidak merasa senang.


"Ngomongin apa sih, kayaknya seru banget aku liat dari jauh." tanya Ruby saat ia sampai dan langsung duduk di sebelah Gibran.


"Gak ngomongin apa-apa kok..." jawab Gibran pelan.


"Gak berantem lagi kan?" Ruby kembali bertanya.


"Gak!" jawabku dan Gibran kompak, entah sudah yang ke berapa kalinya. Sungguh menyebalkan!


"Kakak jangan galak-galak dong sama adik ipar. Kamu juga jangan sinis sama kakak ipar!"


"Hem..." Sekali lagi kami bergumam kompak.


Aku segera melirik untuk memastikan ekspresi Ruby karena mungkin kekompakan ku dengan Gibran akan membuatnya jengkel tapi ia malah tertawa setelah itu.


"Kalian lucu banget! Aduh perutku..."


"Kenapa?"


Aku dan Gibran langsung panik saat Ruby meringis sambil memegangi perutnya.


"Tenang-tenang cuma kontraksi ringan soalnya aku kebanyakan ketawa."


"Ya udah, aku pulang duluan kalau gitu!"


"Ih masa langsung pulang, kan belum malem kak!"


"Ya aku gak mungkin pulang bareng kalian kan!"


"Kenapa gak, kalau perlu sih nginep!"

__ADS_1


"Jangan konyol!"


"Ih, kakak jangan galak-galak ke aku dong!" Protes Ruby merengek. "Kak Gibran, belain aku dong!" lanjut Ruby yang juga protes pada suaminya.


"Jangan galak!" ucap Gibran padaku dengan ekspresi malas.


"Hem..."


"Gitu dong, jadi mau kan nginep di rumah kita?"


"Gak, Ruby!"


"Kakak, please... Aku ngidam!"


"Tadi beli baju ngidam, makan juga ngidam, ini masih ngidam juga? Berapa kali kamu ngidam dalam sehari? Gak bisa, aku harus pulang nanti kak Juna nyariin!"


"Kamu tinggal bareng dia?" tanpa terduga Gibran tiba-tiba bertanya, dan dia terlihat tidak senang.


"Ya gak lah, kita tetangga..."


"Kalian bener-bener jadi tetangga..."


Cibiran Gibran membuatku kembali teringat ketika hari kelulusan ku dan aku melakukan panggilan video dengan Juna tepat di sebelah Gibran dan percakapan kami saat itu tentang rencana Juna menjadi tetanggaku. Waktu itu sudah lama berlalu dan Gibran masih mengingatnya, entah kenapa hatiku tersentuh.


"Gak cuma tetangga, kami udah tunangan."


"Tunangan?"


Kini reaksi Ruby yang membuatku heran karena dia terlihat sedih mendengar statusku sekarang.


Aku tidak ingin ada pertengkaran lagi setelah ini jadi aku segera beranjak bangun dan bergegas pergi. "Aku pulang!"


"Kak!" Ruby mencekal pergelangan tanganku, ia mengangkat wajahnya dan menatapku.


"Ruby!"


Aku langsung memegangi Ruby yang saat ini meringis kesakitan. "Kak, sakit..." rintihan sambil terus berpegangan pada lenganku dengan begitu kuat hingga kukunya tertancap di lenganku tapi aku sama sekali tidak merasakan sakit karena rasa khawatir pada Ruby jauh lebih besar dari rasa perih yang aku rasakan.


Gibran dengan sigap menghubungi ambulans, ia lantas menggendong tubuh Ruby tapi Ruby sama sekali tidak melepaskan tanganku.


Aku tidak mengerti, di tengah kekhawatiran ku, semua ini membuatku teringat pada momen dimana Gibran menggendongku yang saat itu sakit perut dan Ruby melangkah bersama kami, bedanya sekarang Ruby yang ada di gendongan Gibran dan aku yang mendampinginya.


Mobil ambulans tidak segera datang sementara Ruby terus meringis kesakitan hingga akhirnya Gibran memutuskan membawa Ruby langsung dengan mobilnya.


Gibran menurunkan tubuh Ruby di kursi belakang, aku segera masuk di sebelahnya dan meletakkan semua barang belanjaannya mereka di kursi yang paling belakang.


"Makasih udah gak di tinggal bajunya."


Sungguh aku ingin tertawa, bahkan di saat kesakitan seperti ini, Ruby tidak melupakan barang belanjaannya karena ia juga yang mengingatkan ku untuk membawa barang belanjaannya tadi.


Gibran segera menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari pusat perbelanjaan menuju rumah sakit terdekat.


"Sakit banget kak..." rintih Ruby menangis.


"Sabar ya..." ucapku sambil menyeka keringat Ruby dan mengusap-usap perutnya. "Nak, sabar ya... Tunggu mama kamu sampai di rumah sakit." ucap ku sambil mengelus perut Ruby.


"Ok mama..." sahut Ruby pelan dengan suara anak-anak.


Sungguh, aku ingin menjitak kepalanya yang masih bisa bercanda di saat aku khawatir setengah mati.


"Cepetan dong, Gibran! Kamu mau Ruby berojol disini?" teriakku pada Gibran agar ia melajukan mobilnya lebih cepat lagi.

__ADS_1


"Iya, ini udah ngebut!" Sahutnya yang terdengar panik.


"Awas kalau sampai nabrak!"


"Iya bawel!"


"Ya makanya cepetan!"


Dengan sedikit pertengkaran, akhirnya kami tiba di rumah sakit. Petugas rumah sakit dengan begitu sigap memindahkan Ruby ke ranjang dorong dan segera membawanya ke ruang persalinan.


"Kamu temenin Ruby, aku urus administrasi!" ucapku pada Gibran.


"Gak! Aku mau di temenin sama kakak!" Ruby menolak dengan tegas, ia masih tidak mau melepaskan tanganku dan juga tangan Gibran di sisi lainnya.


"Tapi, Ruby..."


"Please, kak..."


"Ya udah, aku yang urus administrasinya!"


"Gak, aku mau di temenin kak Gibran juga."


Aku dan Gibran saling berbagi pandangan bingung, Ruby masih bersikukuh tidak mau melepaskan salah satu dari kami dan akhirnya dokter mengijinkan kami masuk bersama ke ruang persalinan.


Sungguh, bila bisa memutar waktu...


Aku ingin melupakan semua kemarahan ku dulu pada Ruby. Melihatnya yang kesakitan seperti ini membuatku sungguh menyesali kemarahan ku padanya. Aku tidak bisa berhenti menangis sekarang sambil berdoa semoga persalinan Ruby berjalan lancar tapi Tuhan tidak mengabulkan doa ku...


Dokter bilang plasenta bayi yang di kandung Ruby menempel di rahimnya hingga membuatnya mengalami pendarahan hebat.


Disisa kesadarannya, Ruby menarik ku mendekat.


"Kak, maafin aku..." ucap Ruby berbisik lirih dengan sisa tenaganya.


"Iya, aku udah maafin kamu..."


Ruby kembali menangis, aku langsung memeluknya dan ikut menangis. "Kamu pasti kuat, kamu pasti bisa melakukan persalinan ini dengan lancar..."


Ruby menarik nafas dalam, nafas yang seolah tersendat di tenggorokannya. "Janji sama aku kak, rawat putri aku seperti anak kakak sendiri, jadi ibu dia."


"Ngomong apa sih Ruby?! Aku bakalan sayang sama dia tapi kamu tetep ibunya! Jangan ngelantur, please..."


"Aku gak kuat..."


"Gak Ruby, kamu pasti kuat, sayang..." Kini giliran Gibran yang menguatkannya sambil menangis ia mengusap-usap puncak kepala Ruby.


"Menikah lah dengan Jasmine, kak... Aku mau anak kita punya ibu..."


"Gak... Ruby please! Please jangan ngomong gitu!" Tangisanku semakin kencang, ketakutan ku semakin parah.


Ruby kembali menarik nafas dalam. "Aku tahu waktuku udah hampir habis..."


"Ruby please..." Gibran dan aku menangis pilu. Kami memegangi tangan Ruby dengan sangat erat, tidak mau kehilangannya.


"Aku mohon, permintaan terakhir ini jangan di tolak..."


"Gak!!!" Aku masih menolak dengan tegas sambil terus menangis, "Ruby kamu pasti bertahan..."


"Maaf aku gak bisa ..." Aku memilih pergi tapi Ruby masih memegangi ku. "Kak, aku tahu kakak yang paling tahu gimana sulitnya hidup tanpa ibu. Aku gak mau anak aku gak punya ibu. Aku mohon..."


Aku tidak bisa menatapnya, ketika Ruby terus memohon padaku, ia kemudian menoleh pada Gibran dan menatapnya sendu. "Please, kak Gibran... Tolong bujuk kak Jasmine. Tolong nikahin dia, sekarang. Aku mau lihat kalian menikah sebelum kematian ku..."

__ADS_1


***


__ADS_2