
Mereka bilang, waktu menyembuhkan segalanya tapi kenapa detik ini aku masih saja terluka?
Aku menghitung hari, detik demi detik, menit berlalu dan beberapa jam terlewati setiap harinya. Semuanya terasa bergerak lambat.
Bagiku waktu seolah berhenti di titik yang sama karena hatiku tidak juga terobati.
Nenek ku mengirim kabar setiap harinya, dia terlihat lebih ceria dari sebelumnya karena dia bilang dia sudah mengikhlaskan segalanya, mungkin itu juga yang menahan kepedihan ini di dalam hatiku yang telah rusak.
Aku tidak pernah ikhlas dengan segalanya yang terjadi dalam hidupku. Sulit untuk ku menerima jika Gibran mencintai Ruby, bahkan jika aku tidak pernah jatuh cinta padanya, bukankah kami tetap teman sejak kecil? Lalu kenapa Gibran dengan mudah mempermainkan ku? Kenyataan pahit itu membuatku sulit untuk melepaskan segala rasa sakit ini.
Aku mencari cara, mengalihkan pikiranku keberbagai hal, berteman dengan banyak orang, mencoba menikmati hidupku tapi setiap hal yang aku lakukan selalu membawaku kembali pada banyak kenangan yang aku miliki dengan Gibran.
Aku tidak bisa melupakannya, sedikitpun tidak pernah bisa walaupun Juna dengan setia menjadi teman terbaikku sejak hari pertamaku datang ke tempat ini tapi Juna sama sekali tidak bisa menggantikan posisi Gibran di hatiku.
Tapi hidup terus berjalan walaupun terkadang kesendirian ku seringkali mencekoki ku dengan luka-luka yang tidak pernah bisa sembuh yang membuatku kerap kali menangis pilu ditengah malam, sendirian.
Aku sendirian...
Dalam kesendirianku, hatiku terus tertutup rapat meskipun waktu sudah banyak berubah, terlewati begitu saja sebelum aku berhasil menemukan penyembuh luka ku.
Ini adalah tahun ke empat aku disini, aku sudah lulus dan Juna menawarkan ku untuk bekerja dengannya. Dia memulai bisnis startup, membuat platform aplikasi menulis novel, aku menjadi penulis sekaligus editor dan beberapa teman yang kami temui di kampus yang sama tempat kami mengenyam pendidikan. Beberapa dari mereka bahkan menjadi investor yang sangat membantu.
Setidaknya kesibukan ini membantuku sedikit melupakan rasa rinduku yang kerap kali datang menghantuiku. Mengalihkan ku dari rasa penasaranku ketika Gibran menangis saat kepergian ku.
Demi Tuhan aku sungguh membencinya tapi aku juga tidak pernah bisa benar-benar melepaskan perasaan ini.
"Apa yang kamu pikirkan?" Suara Juna yang lembut membuyarkan kenangan dalam ingatanku yang muncul ketika aku tanpa sengaja kembali memikirkan Gibran.
Juna lantas melangkah mendekat, ia duduk bersandar di tepi meja kerjaku, tepat di sebelahku dan tersenyum hangat seperti biasanya.
Saat kami bertemu dia masih belum berubah menjadi pria dewasa seperti saat ini, tapi penampilannya yang semula seperti anak motor dan sedikit memiliki kesan badboy kini telah berubah menjadi pria kantoran yang berkemeja rapih lengkap dengan dasinya. Siapapun akan sangat bersedia menjadi pendampingnya kecuali aku yang bodoh ini karena terus menerus menolak pernyataan cintanya dengan alasan hatiku masih belum sembuh.
Ya, Juna mengetahui segalanya, aku menceritakan semuanya begitu aku tiba disini dan Juna adalah pendengar yang baik meskipun terkadang aku sedikit kuwalahan dengan rayuannya.
__ADS_1
"Aku hanya sedang memikirkan alur apa yang harus aku buat agar kisah ini tidak monoton..." jawabku sambil memperlihatkan novel terbaruku yang sedang aku tulis pada Juna.
Juna kemudian melihatnya dan membacanya sesaat, "kupikir kamu sedang memikirkan ku..."
Dia mulai lagi! Aku tersenyum dan segera mengambil kembali laptop ku dari tangannya dan meletakkannya di atas meja lalu menutupnya agar aku bisa memfokuskan perhatianku padanya.
"Jadi apa yang membawamu ke ruanganku, pak boss?" tanya ku seraya bersandar dengan nyaman di kursiku.
Juna menyentuh ujung rambutku, lalu menatapku. "Kalau aku jawab rindu, kamu mau main gak ke tempat ku malam ini?"
Aku tersenyum dan menarik rambutku agar ia berhenti memainkannya. "Gak ..." jawab ku singkat.
"Kenapa?"
"Aku udah main kemarin malam kak Juna? Kamu sewa asisten aja, masa aku harus masak setiap hari di rumah kamu sih!"
"Gimana dong, kamu buat aku jatuh cinta sama masakan mu sih. Tanggung jawab dong, aku gak bisa makan masakan lain kalau bukan masakan kamu!"
Aku tertawa mendengar rengekannya dan mencubit lengan kekarnya itu. "Jangan drama, kamu makan banyak tadi siang!"
"Aku lagi banyak kerjaan ngejar target nih. Udah tau novel yang ada disini belum begitu banyak jadi aku sebagai salah satu author harus kerja ekstra tapi kamu malah mengeksploitasi aku dengan nyuruh aku masak juga di rumah kamu! Kejam dasar!"
"Duh cerewet, kan itung-itung latihan buat jadi istri aku nanti."
"Ih emangnya siapa yang mau nikah sama kamu?"
"Ya kamu lah siapa lagi?" tukas Juna yang akhirnya beranjak bangun dan melangkah pergi. Ini memang bukan yang pertama kalinya kami membicarakan hal ini dengan candaan ringan jadi itu sama sekali tidak membuatku canggung.
"Oh aku hampir lupa!" Juna datang lagi padahal ia baru meninggalkan ruanganku beberapa detik yang lalu.
Ia kemudian meletakkan sebuah surat padaku.
"Apa nih?" tanyaku bingung.
__ADS_1
"Gak tau, tapi kayaknya sih dari Indonesia."
Hah? Siapa yang mengirimiku surat? Nenek ku selalu melakukan panggilan video meskipun ia jarang mengirimkan ku email dan ini bahkan surat fisik. Di jaman yang modern ini mengirimkan surat langsung rasanya seperti mendapatkan surat cerai yang harus di tandatangani.
Oh sepertinya aku memang terlalu banyak menulis novel pernikahan yang membuat pikiranku melayang-layang dengan liar.
Setidaknya aku bisa menuliskan kisah cinta yang manis di novel yang aku buat karena kisah cintaku di dunia nyata sungguh pedih.
Aku lantas membuka surat itu, melirik sejenak ke arah Juna yang tidak juga pergi, dia terang-terangan mengintip surat yang baru saja aku terima.
"Dari siapa?" tanya Juna mendekat mungkin karena aku tidak mengatakan apapun setelah membuka amplop surat itu.
Juna lantas mengambil alih surat itu dari tanganku dan mengeluarkan isi surat itu.
"Undangan pernikahan?" Juna bergumam sambil membuka undangan itu dan nama yang tertera dalam undangan itu membuat Juna langsung menatapku.
"Mereka gila, sungguh gila..." komentar Juna marah terlebih di dalam undangan itu juga terselip foto.
"Mereka akhirnya menikah." ucapku mencoba tersenyum walaupun yang sebenarnya aku rasakan sekarang hanyalah rasa sakit.
Gibran dan Ruby, nama itu tertera dalam undangan itu serta foto mesra mereka berdua. Entah apa maksud mereka yang pasti mereka berhasil menyakitiku sekali lagi.
"Kamu akan datang?"
"Mereka mengundangku kan?"
"Jangan buang waktumu mengurusi mereka..."
Itu benar...
"Datanglah dengan ku..."
"Hanya jika kamu memperkenalkan ku sebagai calon suami mu..."
__ADS_1
***