Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Lelah


__ADS_3

Malam itu terasa berat, lebih berat dari malam-malam sebelumnya. Aku berpikir rasa sakitnya mungkin akan sedikit berkurang karena aku menangis sepanjang malam tapi bahkan hari telah berlalu, aku masih tidak baik-baik saja.


Aku merasa tersesat, tersesat oleh rasa sakit ini dan tidak bisa mencari jalan keluar.


Aku terjebak...


Aku tidak menemukan cara untuk melepaskan rasa sakit yang menusuk-nusuk dadaku ini dengan sangat kuat.


"Jasmine..."


Aku tetap melangkah tanpa memperdulikan panggilan itu, aku hanya tidak ingin terluka semakin banyak.


"Jasmine!" Gibran muncul dihadapan ku setelah berhasil menyalip langkahku.


"Loe mau kemana?" tanya Gibran sambil memegangi kedua bahu ku. Ia menatapku dengan tatapan khawatir, dari penampilannya ia terlihat sedang lari pagi dengan hanya menggunakan kaos oblong berwarna hitam yang senada dengan celana Jogger serta sweater berwarna putih, dia terlihat tampan tapi ketampanannya sama sekali tidak mengurangi kesedihanku.


Justru... Melihatnya membuat dadaku semakin sesak.


"Sekolah." jawabku sambil melepaskan tangannya dari bahu ku lalu kembali melanjutkan langkah ku melewatinya begitu saja.


"Ini kan hari Minggu lagian ini masih jam lima pagi!" Gibran kembali menyusul langkahku dan menghentikan ku sekali lagi.


"Loe marah gara-gara gue kemarin nganterin Ruby pulang?" tanya Gibran sambil memegangi kedua tanganku, ia menatapku dengan tatapan sedikit kesal, "jangan begitu dong, Jasmine. Loe sendiri kan yang gak mau pulang bareng!"


"Kehidupan gue gak selalu berputar di elo, Gibran..." ucapku sambil melepaskan tangan Gibran dan meninggalkannya, Gibran terlihat terkejut mendengar ucapanku tapi Gibran tidak menyerah, ia terus mengejar ku.


"Terus kenapa loe begini? Kayak orang depresi tau gak loe?!"


Langkah kaki ku akhirnya terhenti, ucapannya terlalu menyakitkan dan aku terlalu lelah untuk menjelaskan semuanya padanya. Aku tidak ingin menambahkan rasa sakit di dalam hatiku yang sudah tidak mampu lagi menampungnya.


Aku tidak mengatakan apapun selain menatap Gibran. Bahkan sekarang aku sudah tidak bisa lagi menangis walaupun hatiku pedih.

__ADS_1


Menatapnya, aku terus menatapnya sampai ia melepaskan ku dan aku kembali melanjutkan langkahku yang sebenarnya tidak tahu kemana tujuan ku. Aku hanya ingin melangkahkan, berharap rasa sakit di dalam hatiku akan tertinggal di setiap jejak ku.


"Gue gak ngerti lagi gimana caranya menghadapi elo, Jasmine!" teriak Gibran frustrasi tapi aku mengabaikannya.


"Jasmine maaf!" Gibran menarik pergelangan tanganku kali ini dia langsung membawaku kedalam dekapannya. "Maaf... Kemarin harusnya gue anter loe pulang."


Selalu begitu, kamu menjadi orang yang sangat memperdulikan ku seolah-olah aku bisa bersandar padamu kapan saja tapi kamu juga bisa mengabaikan ku dalam sekejap.


Aku sungguh takut, berada di dekatmu membuatku takut Gibran.


Aku melepaskannya, pelukan yang selalu membuatku melupakan kesedihanku tapi tidak untuk kali ini karena sepertinya pelukannya hanyalah obat penenang yang membuatku kecanduan tapi juga bisa menyakitiku lebih buruk lagi. Sayangnya sudah terlalu terlambat untuk menyadarinya sekarang...


"Jasmine..." Suara Gibran terdengar lirih tapi aku tetap pergi.


Aku melangkah menyusuri jalan setapak, melewati jalanan yang basah sisa hujan semalam dan melihat payung yang ayahku gunakan untuk memayungi ku semalam masih berada di tempat yang sama.


Membayangkan jika ayahku berdiri di tengah derasnya hujan yang turun sambil menangisi ku, tapi dia bahkan meninggalkan ku selama belasan tahun. Apa rasa sayang itu masih ada? Atau dia hanya merasa bersalah padaku?


Langkah kakiku terus membawaku melangkah jauh, samar-samar aku mendengar suara langkah kaki yang mengikuti ku tapi aku enggan menoleh.


Aku tidak ingin melihat wajahnya, aku tidak ingin memperlihatkan kehancuran ku pada Gibran tapi Gibran terus mengikuti ku. Dia mengikuti jejak ku tanpa mengatakan apapun, bahkan ketika aku menyebrang jalan dan duduk di halte bus, ia tetap mengikuti ku. Dengan setia duduk tepat di sebelah ku meskipun jarak diantara kami cukup jauh. Dia bersikap seolah ia akan terus berada di sisiku dan menemaniku tanpa pernah berpaling.


Hatiku semakin terluka karenanya...


Bus pertama telah datang dan aku langsung naik ke dalam bus itu meskipun aku tidak tahu kemana tujuanku dan Gibran masih tetap mengikuti ku.


Dia menatapku sesaat ketika kedua mata kami tidak sengaja bertemu saat ia baru saja masuk dan aku adalah orang satu-satunya di dalam bus tapi Gibran tidak duduk di sebelah ku kali ini, ia duduk di kursi barisan ke tiga di sisi kanan sementara aku duduk di barisan paling belakang.


Suasana yang hening ini masih tidak bisa memberikan ketenangan bagiku jadi aku segera turun di pemberhentian bus selanjutnya dan Gibran langsung turun mengikuti ku.


"Loe gak lelah?" tanya Gibran yang masih mengikuti ku dari belakang.

__ADS_1


"Ayo pulang kalau lelah." ajak Gibran.


Aku memang lelah, tapi bukan tubuhku melainkan jiwaku, mental ku... Aku sungguh lelah menghadapi kehidupan ini. Menghadapi kalian yang memberikanku harapan palsu...


Setelah cukup jauh berjalan kaki akhirnya langkah kakiku terhenti di tempat pemakaman. Sejujurnya aku merasa ragu memasuki kompleks pemakaman ini, aku tidak mengerti mengapa langkah ku yang tidak punya arah malah berhenti disini.


Aku berdiri di depan tukang penjual bunga yang baru saja buka, tapi aku tidak mengatakan apapun hingga penjual itu terlihat kebingungan.


"Bunga lily-nya satu ikat pak."


Aku hanya melirik tipis ketika Gibran memesan bunga yang biasa aku beli saat mengunjungi makam ibu ku. Penjual bunga itu kemudian memberikan seikat bunga Lily segar kepadaku dan tanpa menunggu Gibran yang sedang membayar, aku melangkah lebih dulu memasuki kompleks pemakaman dan Gibran menyusul dibelakang ku.


Kulihat makam ibu ku dan ku pandangi untuk beberapa saat. Sosok yang tidak pernah hadir dalam hidup ku tapi aku selalu merindukannya hanya saja kerinduan yang aku rasakan untuk ibuku berbeda dengan kerinduan yang aku rasakan untuk ayahku.


"Mah..." Aku menundukkan kepalaku dan mulai menangis, aku ingin menumpahkan semua rasa sakit ku di tempat ini tapi sebanyak apapun air mata yang menetes, rasa sakit itu tidak juga berkurang.


"Maaf mah, aku buat Jasmine nangis. Tolong bawa semua kesedihan yang Jasmine rasakan. Aku kangen Jasmine yang cerewet." ucap Gibran sambil meletakkan seikat bunga mawar putih di depan batu nisan makam ibuku.


Gibran kemudian merangkulku, ia memegangi tubuhku yang gemetaran agar aku bisa meletakkan seikat bunga Lily di tangan ku ke atas batu nisannya tanpa terjatuh.


"Mama..." Tangisanku semakin menjadi saat tubuhku bergerak memeluk batu nisan ibuku yang terasa dingin dan juga basah. "Mah..." panggil ku sekali lagi.


Aku sungguh lelah...


Aku lelah menanggung semua rasa sakit ini...


"Mama..."


Gibran perlahan berjongkok, ia mengusap-usap punggung ku dan menenangkan ku meskipun aku terus menangis dan hanya menangis.


***

__ADS_1


__ADS_2