Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Terkait


__ADS_3

"Jasmine..."


Gibran dan Jasmine menoleh secara bersamaan ketika seseorang terdengar memanggil, tepat ketika mereka nyaris berciuman.


"Kak Juna..." Jasmine begitu terkejut dengan kedatangan Juna padahal ini masih begitu pagi sekaligus membuatnya tersadar jika ia nyaris saja terbuai oleh kelembutan Gibran.


Terlihat ekspresi Juna yang dengan jelas menahan amarah sekaligus kesedihan setelah melihat pemandangan yang mengejutkannya dan juga menyakiti hatinya.


"Rora udah tidur lagi." Jasmine berbisik pelan, meskipun enggan akhirnya Gibran melepaskan pelukannya dan mengambil Aurora dari gendongan Jasmine lalu membawanya ke ranjang rawatnya sementara Jasmine melangkah dengan ragu-ragu menghampiri Juna.


Situasi ini terasa canggung karena tidak ada satupun dari mereka yang terlihat baik-baik saja.


"Aku dateng bawa sarapan buat kamu," ujar Juna sambil meletakkan barang bawaannya ke atas meja.


"Gak perlu repot-repot kak," Jasmine tersenyum kikuk menerimanya. Setelah sekian lama ia memutus hubungan dengan Juna tapi begitu bertemu lagi, Juna masih saja sama. Dia selalu baik, terlalu baik sampai-sampai Jasmine merasa tidak enak hati.


"Aku suka direpotin kamu kayak dulu. Kamu belum makan kan?"


"Masih belum,"


"Yuk makan, aku masak sendiri."


Rasanya seperti terhimpit ketika Juna tanpa ragu membuka barang bawaannya dan mempersiapkan masakan yang ia bawa agar Jasmine makan dengan mudah sementara Gibran tidak bisa berhenti menatap Juna dengan amarah yang tertahan hingga rahangnya mengeras.


"Yuk makan, kamu emang belum makan kan dari semalam," ajak Gibran yang tiba-tiba saja menuntun Jasmine agar duduk di sofa, mengabaikan kemarahannya agar istrinya itu makan dengan baik.


"Aku masak cuma buat Jasmine," dan Juna langsung mengingatkan sebelum Gibran duduk di sofa tepat di sebelah Jasmine duduk sekarang.


"Siapa yang bilang saya mau makan masakan kamu?" Gibran membalas dengan sengit sambil membuka kotak nasi goreng yang ada di atas meja sejak semalam.


"Gibran..." dengan refleks, mungkin sudah menjadi kebiasaan bagi Jasmine memperhatikan Gibran hingga ia langsung menutup mulut Gibran dengan tangannya sebelum pria itu menyantap nasi goreng yang kemungkinan sudah basi itu.


Meskipun bibirnya tertutup, tapi Juna dapat melihat Gibran tersenyum melalui sorot matanya seolah menegaskan kalau ia akan selalu memenangkan hati Jasmine.


"Kamu makan aja ini, aku bisa beli sarapan lain sama kak Juna. Gak masalah kan kak kalau masakan kakak aku kasih Gibran?"


Juna tidak lantas menjawab, sejujurnya ia merasa kecewa karena Jasmine malah memberikan masakan yang sudah sudah payah ia buat pada Gibran tapi sorot mata Jasmine yang terlihat tertekan membuat Juna akhirnya menjawab. "Gak, asalkan kita beli makan setelah ini."

__ADS_1


Jasmine menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis lalu perlahan beranjak bangun.


"Mau kemana?" Tanya Gibran sambil mencekal pergelangan tangan Jasmine sebelum wanitanya ini beranjak menjauh.


Rasa sesak yang memenuhi relung dada Jasmine terasa semakin mencekik ketika Gibran menunjukkan tatapan mata sendu seakan sedang memohon tapi berada lebih lama di dekat Gibran hanya akan membuatnya mencair sementara Jasmine tidak ingin lagi menyerahkan hatinya pada pria yang sejak semalam mengatakan banyak pernyataan cinta yang terdengar meragukan.


Seolah itu hanyalah bujukan...


"Aku titip Rora bentar."


Dengan dingin, ia melepaskan tangan Gibran, Jasmine kemudian melangkah keluar dari ruangan di ikuti dengan Juna yang dengan sengaja menyeringai ke arah Gibran tepat sebelum ia keluar dari ruangan.


Gibran seketika menyandarkan tubuhnya pada sofa dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sungguh frustasi dengan sikap Jasmine sekarang yang ia pikir akhirnya akan luluh tapi Jasmine hanya menunggu momen agar bisa membalasnya lebih banyak dan menyakitkan.


"Apa begini yang kamu rasa saat aku dulu perduli pada Ruby?! Jasmine... Maaf!" gumam Gibran sambil memegangi dadanya yang seketika terasa sesak dan membuatnya merasa ingin menangis.


***


>>> Jasmine POV<<<


Aku melangkah cepat meninggalkan Juna di belakangku, merasa marah pada diriku sendiri karena aku nyaris saja kembali terjebak pada situasi yang sama, tertarik pada pesona Gibran yang menakutkan.


Tapi itu mungkin tidak bisa di sebut bercinta karena Gibran bahkan tidak benar-benar mencintai ku.


Aku harus bagaimana?


Aku ingin menangis tapi air mata ini rasanya kering hingga dadaku terus menerus terasa mengganjal. Sakit dan tidak nyaman, jika bisa aku ingin membelahnya dan membuangnya.


Perasaan itu membuatku takut...


Aku takut, aku tidak bisa berhenti mencintainya.


"Jasmine... Jasmine..." Entah sudah yang ke berapa kalinya Juna memanggilku, aku tidak menyadarinya sampai ia menyentuh bahu ku dan menghentikan langkahku.


Kedua mataku dengan gelisah menatap wajahnya, melihat Juna yang memandangku kasihan memperburuk perasanku.


"Aku berusaha kak, aku berusaha... Tapi dia mulai bertingkah seolah dia mencintaiku, aku harus gimana?" Dengan air mata yang tertahan di pelupuk mataku, aku bertanya padanya, pada pria yang selalu datang seperti pahlawan disaat aku hancur. Pada pria yang tidak pernah bisa aku balas perasannya.

__ADS_1


Pada Juna.


Juna tidak mengatakan apapun, dia hanya menarik ku ke dalam pelukannya dan menenangkan ku.


"Aku takut kak, perasaan ini tumbuh begitu mengerikan hingga aku rasanya gak sanggup untuk membunuhnya."


...


Katanya patah hati bisa membuat seseorang mati, apa aku akan mengalami itu?


Aku melihat darah menetes pada telapak tangan ku ketika aku duduk di bangku taman rumah sakit bersebelahan dengan Juna setelah cukup lama aku menangis.


Hidung ku mimisan, bahkan tubuhku juga sudah terlalu lelah menghadapi semua ini, tapi kenapa hatiku yang bodoh ini masih terus saja menerima suapan harapan palsu yang Gibran berikan padaku?


"Astaga Jasmine!"


Juna yang sejak tadi hanya diam tanpa mengatakan apapun dan menungguku terdiam tenang, langsung memekik saat melihat aku sedang menadahkan darah yang keluar dari lubang hidungku.


"Kak," Aku menoleh dan menunjukkan wajahku padanya seperti wanita bodoh yang putus asa.


"Astaga, kamu mimisan!" Dengan sigap Juna berjongkok di hadapanku dan melihat keadaan ku dengan lebih jelas. Ia kemudian mengeluarkan sapu tangannya lalu memberikannya padaku setelah itu dengan sigap ia memanggil perawat yang kebetulan lewat lalu segera membawa ku ke ruang dokter untuk di periksa.


"Bergadang juga bisa jadi salah satu alasan yang menyebabkan mimisan. Kondisi tubuh yang kurang fit serta asupan nutrisi yang kurang terjaga bisa juga jadi alasannya, sebaiknya anda istirahat yang cukup dan hindari stres berlebihan."


Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan dari dokter, bagaimana aku bisa menghindari stress di saat semua hal membuatku tersiksa?


Juna masih menemaniku, ia kemudian membantuku keluar dari dalam ruangan dokter tersebut agar bisa kembali ke ruangan dimana Aurora di rawat meskipun sampai detik ini kami belum membeli makanan apapun sesuai niat awal kami, atau aku memang hanya ingin kabur dari Gibran sejak awal dan menjadikan Juna sebagai alasannya.


Aku benci ini, aku benci ketika Gibran selalu terkait pada apapun yang aku lakukan seolah memang hanya dia lah dunia ku selama ini.


Sambil memijat pelipis mataku yang terasa pegal, aku terus melangkah sampai Juna menghentikan langkahku.


"Jangan menunggu mati baru kamu menyesali segalanya. Jasmine, masih ada aku. Jangan goyah, lepasin Gibran. Dia bukan yang terbaik buat kamu!"


Juna selalu jelas dengan apapun yang ada dalam hati dan pikirannya, ia selalu dengan tegas mengungkapkan meskipun terkadang ucapannya selalu bisa membuatku terpukul kenyataan pahit atas kebodohan ku sendiri.


"Jangan mempengaruhinya. Aku mungkin menyakiti Jasmine sebelumnya tapi aku gak akan mengulanginya lagi, jadi jangan coba rebut istriku."

__ADS_1


***


__ADS_2