Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Kehilangan


__ADS_3

Juna tidak juga pergi bahkan setelah anak Gibran dan Ruby lahir dan suara tangisannya memecah keheningan yang penuh ketegangan sejak tadi.


Tidak lama setelah itu dokter keluar, aku melihat mereka semua berkumpul mengerumuni dokter sementara aku sama sekali tidak berani mendekat.


"Kamu gak mau liat keponakan kamu?" tanya Juna, suaranya terdengar pelan. Aku tahu dia sedang terluka bahkan tangannya yang saat ini menggenggam tanganku masih terasa gemetaran. Sungguh aku tidak mengerti, Juna menunjukkan cinta yang terlalu banyak untuk ku tapi aku masih tidak juga bisa membalasnya dan statusku sekarang membuatku semakin sulit untuk menerimanya.


"Aku akan menunggu, meskipun itu satu tahun, dua tahun atau berapa lama pun waktu yang kamu butuhkan untuk melepaskan segalanya dan kembali padaku, aku dan perasaanku akan tetap sama jadi jangan lupakan aku..." tukas Juna sebelum melepaskan tangan ku dan melangkah pergi meninggalkan ku.


Akan jauh lebih baik jika Juna melepaskan ku, tapi dia tetap mengikatku, begitu kuat dan membuatku terus-menerus merasa bersalah.


Aku kembali menangis, aku tidak bisa berhenti menangis hingga aku harus menutupi wajahku dengan kedua tanganku dan berharap semoga semua ini hanyalah mimpi buruk.


"Jasmine..." Mama Gibran memanggilku, aku dapat merasakan ia duduk di sebelahku lalu tangannya terulur merengkuh tubuhku yang semakin lunglai.


"Katakan padaku, mah... Katakan kalau semua ini hanyalah mimpi..." pintaku dengan lirih, aku menoleh menatap wajah yang selalu aku rindukan itu. Dia menangis, tangisan pilu yang menegaskan segalanya kalau kenyataan ini sangat menyakitkan.


Pintu ruang operasi terbuka, jenazah Ruby di dorong keluar oleh perawat, tangisanku semakin kencang melihat kain yang menutupi wajahnya tersibak dan memperlihatkan wajahnya yang pucat.


"Ruby..." Aku menangis tidak kuat melihatnya, rasa bersalahku rasanya mencekik ku.


***


Pemakaman Ruby di adakan esok harinya, saat hari masih begitu pagi bahkan embun juga belum mengering. Angin berhembus kencang saat batu nisan bertuliskan nama Ruby tertancap di pelataran terakhirnya.


Ruby pergi meninggalkan luka yang begitu dalam, adik ku yang manis yang terkadang membuatku kesal tapi aku tidak pernah bisa benar-benar membencinya.

__ADS_1


Aku menyayanginya sejak awal, sejak pertama kali ia menyapa ku lebih dulu dan bertanya apa aku mau menjadi temannya. Dia yang saat ini meninggalkan kami semua dalam kepedihan dan kehilangan yang tidak akan pernah bisa kami lupakan.


Satu persatu orang-orang pergi meninggalkan pemakaman ini dan hanya tersisa aku serta Gibran.


"Pulanglah..." Suara Gibran terdengar serak, dia hanya menangis sejak kemarin, kantung matanya bahkan sudah menghitam karena ia tidak tidur semalaman, kami semua tidak bisa tidur karena kepergian Ruby sungguh mendadak.


Sejujurnya aku masih ingin disini, aku ingin mengungkapkan banyak penyesalan ku pada Ruby tapi aku tidak ingin mengganggu Gibran yang mungkin juga ingin mengungkapkan isi hatinya pada mendiang istrinya.


"Ruby, aku pulang..." ucap ku sambil mengecup batu nisan Ruby dan melangkah pergi meninggalkan area pemakaman dengan berat hati.


Aku tidak tahu harus pulang kemana sekarang, rasanya seperti hilang arah. Semua ini terlalu menyakitkan sekaligus membingungkan jadi aku memilih untuk duduk di kursi kosong yang masih berada di area pemakaman.


Menatap kosong lurus ke arah langit yang mulai mendung. Sepertinya musim hujan kali ini akan menjadi sama buruknya seperti musim hujan lima tahun yang lalu.


Air mataku menetes seiring dengan hujan gerimis yang turun. Sambil memukul-mukul dadaku, aku berharap rasa sesak di dadaku akan menghilang tapi sedikitpun tidak berkurang. Takdir ini terasa mengerikan...


"Bagaimana aku harus menjalani semua ini, Ruby? Aku harus bagaimana?" Aku menangis dan terus menangis, rasa sakit karena kehilangannya terasa menyiksaku.


"Aku harus bagaimana..."


Aku harap aku bisa melihatmu lagi, aku harap aku bisa memutar waktu dan kembali ke saat semuanya masih baik-baik saja dan mengukir banyak kenangan indah bersamamu... Membuang keegoisan ku, menjadi kakak mu yang baik mungkin kamu tidak akan mengalami semua ini...


"Andai kamu tahu, bahkan sebelum aku tahu kalau kamu adalah adik ku... Aku sudah menyayangimu..."


"Terima kasih..."

__ADS_1


Aku menoleh dan mendapati mamanya Ruby duduk di sebelahku. Ia terlihat sangat berduka hingga wajahnya juga terlihat pucat.


"Terima kasih karena kamu sudah menyayangi Ruby ku dan maaf, mungkin Tuhan mengambil putri ku karena kesalahan ku yang sudah menyakiti ibu mu dulu... Ini adalah karma ku yang harus di tanggung oleh putri ku sendiri..."


Dia terus menangis, mengungkapkan penyesalannya. Begitu hancur, kehidupan ini menghancurkan kami...


"Mungkin Ruby sudah memiliki firasat, dia menitipkan ini padaku dua hari yang lalu. Katanya aku harus memberikannya padamu saat dia melahirkan nanti, dia memintaku untuk meminta maaf padamu dan mengakui kesalahanku... Dia yang begitu baik, pergi dengan begitu cepat meninggalkan ibu yang kejam ini..." ucap mama Ruby sambil memberikan buku diary milik Ruby. Sebuah buku tebal yang sedikit usang dengan fotonya sebagai covernya.


"Ruby sangat cantik..." komentar ku sambil membelai cover buku itu.


"Ya, dia sangat cantik... Putriku begitu cantik..."


"Adik ku memang cantik..."


"Bolehkah aku memeluk mu?"


Suaranya yang bergetar karena menahan kepedihannya membuat hatiku sakit dan melupakan segala kebencian ku padanya hingga aku mengangguk meskipun air mata ini tidak juga bisa berhenti.


"Jasmine... Ruby kita... Ruby kita sudah tidak ada... Dia telah pergi, aku harus bagaimana?" Mama Ruby menangis pilu dalam pelukan ku dengan tubuh yang gemetaran, kami menangis seolah permusuhan itu tidak pernah ada.


Sungguh, Ruby...


Aku menyayangimu...


***

__ADS_1


__ADS_2