
"Ruby..." Gibran melangkah mendekat, aku ingin mencegahnya pergi ke arah Ruby berada tapi aku menahan diriku.
"Kalian pacaran sekarang?" tanya Ruby saat Gibran sudah berada didekatnya.
"Kamu kok malem-malem ada disini?"
Aku cukup terkejut mendengar pertanyaan Gibran karena pria itu dengan sengaja mengabaikan pertanyaan Ruby sebelumnya.
"Aku lagi temenin papa beli sesuatu. Kalian kok malam-malam ada disini?" jawab Ruby balik bertanya, ia melihat ke arahku dan tersenyum tapi aku dapat melihat jelas raut wajahnya tidak menunjukkan kesenangan.
"Gue lagi cari bahan buat kue, kebetulan Gibran nemenin." jawab ku yang juga berusaha untuk menunjukkan senyumanku walaupun kehadiran Ruby membuat dadaku sesak.
Aku takut, aku takut jarak antara aku dan Gibran akan muncul lagi karena kehadirannya.
"Oh begitu..."
"Papa loe mana?" tanya ku lagi karena Gibran masih tidak mengatakan sesuatu.
"Ada tuh di bagian perkakas." sekarang Ruby tidak lagi tersenyum, dia bahkan terkesan malas menjawab pertanyaan ku.
"Aku ganggu kalian ya?"
"Ya gak lah." Gibran akhirnya kembali angkat suara tapi nada suaranya terdengar tidak ramah hingga aku harus menarik jaketnya pelan agar Gibran sadar jika ucapannya pada Ruby sedikit dingin tapi itu justru membuatku mendapatkan tatapan dingin dari Ruby.
"Ya maksud aku ini kan tempat umum, lagian aku sama Jasmine gak ngapa-ngapain kok."
"Terus kenapa minta cium?"
Rasanya seperti mendengar seorang kekasih yang mengintrogasi kekasihnya yang ketahuan berselingkuh.
Hatiku sakit...
"Itu cuma lagi bercanda aja." jelas Gibran dengan gugup.
"Oh..."
"Ya udah kalau kamu lagi temenin papa kamu, silahkan... Nanti papa kamu nyariin."
Padahal aku sudah menduga jika Gibran mungkin akan mengajak Ruby berbelanja bersama kami tapi ini di luar dugaanku karena Gibran sama sekali tidak mengundangnya.
"Yuk, masih banyak nih bahan yang mau di beli. Duluan ya..."
Gibran tidak menunggu lagi, ia menuntunku sambil mendorong troli belanja kami dengan tangan yang satunya dan melangkah pergi meninggalkan Ruby yang masih berdiri di tempatnya.
Aku menoleh kearah Ruby sebelum langkah kaki ku dan Gibran benar-benar menjauh, terlihat Ruby masih menatap kami tanpa sedikitpun senyuman terukir di wajahnya lalu kemudian aku menatap Gibran yang juga menunjukkan ekspresi dingin yang sama.
__ADS_1
"Loe kenapa sama Ruby?" tanya ku penasaran karena selama ini yang aku tahu Gibran selalu bersikap baik pada Ruby.
"Gak kenapa-kenapa kok." jawab Gibran dengan santai sambil meletakkan beberapa kotak susu ke dalam troli belanja.
Aku tidak lagi bertanya setelah itu, sejujurnya aku merasa senang karena sikap Gibran yang tidak lantas mengabaikan ku ketika bertemu dengan Ruby tapi di satu sisi lainnya aku merasa sedih melihat Ruby yang terlihat murung tadi.
Ada apa dengan ku? Rasa sesak di dadaku muncul lagi terasa mencekik.
Mereka membuatku merasa kalau mereka sedang bertengkar dan Gibran menjadikanku sebagai pelariannya.
"Udah semua nih kayaknya..." ucap Gibran sambil membaca list yang di tuliskan oleh nenek ku.
"Ya udah yuk bayar!"
Kami kemudian pergi membayar ke kasir, menghitung satu persatu belanjaan kami dengan sabar. Setelah selesai membayar, Gibran dengan sigap membawa barang belanjaan kami yang berat sementara aku membawa kantung belanjaan yang isinya ringan.
"Sini gue bantuin kalau berat." ucapku pada Gibran karena takut ia keberatan membawa dua kantung belanjaan sekaligus di tangannya.
"Gak usah, loe bawa aja yang bener telornya jangan sampai pecah."
"Iya..."
Tiba di tempat parkir, Gibran langsung membuka bagasi mobilnya dan meletakkan semua barang belanjaannya kami disana.
Aku menganggukkan kepalaku tanda setuju lalu Gibran mulai menuntunku menuju bagian depan mobil. Tangannya menggenggam tanganku dengan hangat dan erat, dia membawa kehangatan itu juga sampai ke hatiku.
Sebenernya aku sedikit bingung dengan sikap Gibran yang menggandeng ku sejak tadi di dalam supermarket, biasanya dia hanya menggandeng ku di tengah keramaian agar kami tidak berpisah jalan tapi sekarang Gibran selalu menggandeng ku di setiap kesempatan.
"Kenapa di pegangin terus sih? Gue kan gak mungkin ilang." tanya ku sambil melihat ke arah tangan kami yang masih bertautan.
"Kenapa? Gak suka?"
"Ya enggak sih, aneh aja."
"Ya gimana dong, gue masih kangen. Kalau bisa sih gue mau peluk elo sepanjang malam."
"Ih jangan modus!"
Gibran tertawa dan mengusap puncak kepalaku dengan lembut.
"Yuk naik..." ajak Gibran sambil membukakan pintu mobilnya untuk ku.
"Gibran!"
Langkah ku terhenti saat baru akan memasuki mobil karena Ruby terlihat berlari ke arah kami.
__ADS_1
"Aku nebeng ya, papa masih lama." ucap Ruby setelah mendekat.
Gibran tidak lantas menjawab, ia malah menatap ku dan membuatku sontak kebingungan mencari arti maksud dari tatapannya.
"Boleh gak?" tanya Ruby sekali lagi dengan memasang wajah memelas.
"Ya udah..." jawab Gibran dan Ruby langsung melangkah masuki ke dalam mobil, duduk di kursi depan tepat Gibran membukakan pintunya untuk ku.
"Yuk..." ajak Ruby, wajahnya terlihat cerah sekarang.
Gibran kemudian menutup pintu itu, ia menatapku sesaat yang hanya diam menahan rasa kecewa ku.
"Yuk masuk." ucap Gibran setelah membukakan pintu di kursi belakang.
Aku mencoba tersenyum dan bergegas masuk, tapi mendadak aku merasa malas melihat Ruby duduk di dalam sana.
"Kalian duluan aja, gue mendadak sakit perut." ucap ku yang langsung berlari meninggalkan tempat parkir dan mengabaikan panggilan Gibran.
Sakit perut bukanlah alasan bohong karena sepertinya aku akan segera datang bulan dan karena ada Gibran, aku jadi tidak bisa membeli pembalut jadi aku kembali ke dalam supermarket dan membeli pembalut di sana dengan terburu-buru.
Dengan sedikit kebingungan mencari merek pembalut yang biasa aku pakai di tengah-tengah banyaknya barisan merek pembalut, tanpa sengaja aku menabrak seseorang.
"Maaf..." ucapku refleks saat berbalik tapi kemudian aku tertegun melihat orang yang aku tabrak itu.
Pria paruh baya itu hanya tersenyum menanggapi permintaan maafku lalu melanjutkan langkahnya meninggalkanku yang masih membeku di tempatku.
Pria itu terlihat mirip dengan ayahku yang sudah lama menghilang meskipun terlihat lebih tua tapi getaran itu sangat kuat apalagi wajahnya tidak banyak berubah dari foto yang selalu aku tatap diam-diam saat merindukannya kecuali kerutan di wajahnya bertambah jelas.
Tubuhku mendadak lemas, aku nyaris terjatuh tapi seseorang menyanggah tubuhku.
"Loe kenapa?"
Aku menoleh, air mataku sudah tidak lagi terbendung saat melihat Gibran yang terengah-engah sedang memegangi tubuhku agar tidak terjatuh.
"Kenapa nangis? Loe dateng bulan?" tanya Gibran sekali lagi tapi aku tidak bisa menjawabnya dan hanya terus menangis hingga pria itu segera memeluk ku. Gibran memeluk ku dan mengusap puncak kepalaku untuk menenangkan ku.
"Gue liat ayah, Gibran... Ada ayah gue disini tapi dia gak ngenalin gue." Tangisan ku semakin pecah, tubuhku gemetaran hebat. Rasa rindu yang aku genggam sepanjang hidupku bercampur dengan rasa sakit yang memilukan.
Faktanya pria itu tidak mengenaliku, faktanya aku terlihat asing dimatanya, padahal aku merindukannya.
Aku sangat merindukannya hingga aku tidak memikirkan dendam ataupun luka yang ayahku torehkan ke dalam hatiku semenjak ia tidak pernah lagi datang menemui ku.
"Dia udah sepenuhnya lupa sama gue..."
***
__ADS_1