
Aku memejamkan kedua mataku ketika Gibran bergerak semakin mendekat.
"Mandilah, sayang... atau aku akan membuatmu semakin berkeringat," bisik Gibran yang sontak membuatku langsung beranjak bangun dan berlari memasuki kamar mandi.
Aku mengunci pintu kamar mandi rapat-rapat agar Gibran tidak bisa menyusup seperti sebelumnya walaupun aku yang dengan bodohnya memberikan kesempatan itu.
Setelah mengatur nafasku, perlahan aku melangkah menuju wastafel dan melihat pantulan ku di cermin.
Aku memang bodoh!
Sambil menundukkan wajahku, aku mencuci wajah ku dengan air dingin dan melihat pantulan ku kembali di cermin.
Rambutku yang sudah setengah kering terlihat kusut, untunglah aku hanya memakai make-up tipis jadi sapuan air hujan tidak membuat wajahku terlihat aneh, tapi meskipun begitu aku masih terlihat sangat kacau dengan gaun yang hampir melorot dan bra yang pengaitnya sudah terbuka.
Penampilanku seperti wanita yang baru saja selesai bercinta!
Oh, pikiranku....
Bagaimana caranya menjernihkan pikiranku di saat aku menemukan bercak kemerahan karena ulah Gibran di leherku? Tidak hanya itu tapi aku juga menemukan jejak itu di celak tengkuk ku dan juga di bahuku dan bibir bawahku juga memerah akibat gigitan nakal Gibran dalam ciumannya tadi.
Sungguh gila, aku tidak bisa berpikir jernih sekarang.
...
Cukup lama aku mengurung diri di dalam kamar mandi sebelum akhirnya keluar dari sana dengan menggunakan jubah mandi.
Terlihat hujan masih turun dengan deras dari jendela yang tidak tertutup tirai sampai akhirnya pandanganku bertemu pada wajah tampan Gibran yang saat ini sedang bersandar di atas tempat tidur sambil melipat kedua tangannya di dadanya, dia terlihat terlelap.
Dengan hati-hati aku melangkah mendekat, menarik tirai untuk menutupi jendela karena kilat terlihat mengerikan di luar sana barulah setelah itu aku duduk di tepi tempat tidur, tepat di sebelah Gibran.
"Gibran...." panggil ku pelan, tapi Gibran tidak menjawab.
"Gibran...." Aku memanggil sekali lagi, tapi kali ini aku memberanikan diri menyentuh punggung tangannya.
Sayup-sayup Gibran membuka kedua matanya, dia langsung tersenyum begitu kedua mata kami bertemu.
"Udah mandinya?" tanya Gibran dengan lembut.
Aku menjawab dengan anggukkan kepala. Gibran lantas tersenyum sekali lagi, tangannya terulur menyentuh ujung rambutku yang masih basah. "Kamu bisa masuk angin kalau rambut kamu basa begini,"
__ADS_1
"Gak apa-apa nanti juga kering sendiri. Kamu kalau mau tidur jangan duduk, nanti pinggang kamu sakit."
"Kalau aku sakit pinggang, kamu yang repot ya?"
"Ya?"
Aku tidak sepenuhnya mengerti dengan ucapan Gibran hingga aku tidak ragu menunjukkan ekspresi kebingungan di hadapannya sampai aku mengerti tidak lama setelah itu, tapi Gibran sudah lebih dulu menertawakan ku.
"Jangan ketawa! Udah tidur aja yang bener nanti kalau hujannya reda aku bangunin." Aku segera beranjak bangun, berniat duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari jendela dengan begitu aku bisa mengintip ke luar dari balik celah tirai jendela dan memastikan keadaan di luar, tapi Gibran menahan langkahku dengan mencekal pergelangan tangan ku.
"Kenapa?" tanya ku gugup.
"Mau kemana?" Gibran balik bertanya dengan lembut.
"Aku mau duduk di situ sekalian ngeringin rambut," jawab ku, tapi kemudian Gibran menarik ku hingga aku bergerak semakin dekat lalu tanpa melepaskan tanganku, Gibran kembali bertanya.
"Ayo tidur bareng....."
"Ya?"
"Kamu dan aku, ayo kita tidur bareng."
"..."
Dia lantas mengambil sebuah handuk kecil yang berada di atas nakas dan mulai membantuku mengeringkannya rambutku.
"Inget gak dulu aku pernah bantuin kamu ngeringin rambut?" Gibran memulai pembicaraan lagi, kali ini lebih tenang dan lebih lembut tanpa adanya gairah yang tersirat.
Seperti waktu damai, tanpa rayuan, tindakan serta ucapan Gibran menarik ku pada masa lalu.
Aku tersenyum tipis ketika ingatan itu terlintas. "Saat itu, aku berpikir mungkin kalau kita menikah maka kita akan akan menjadi pasangan yang harmonis," gumam ku pelan.
"...tapi kenyataannya kita selalu bertemu pada pertengkaran." lanjutku yang sontak membuat Gibran terdiam.
"Kenapa kamu menyebutku egois saat itu?" tanya ku sambil menatapnya.
Gibran tidak lantas menjawab, ia kemudian meletakkan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut ku dan mulai menyisir rambutku dengan hati-hati.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya mengambil perhatianmu lagi selain dengan cara menyakitimu," jawab Gibran setelah selesai menyisir rambutku.
__ADS_1
"Caramu sungguh tidak biasa...."
Gibran terlihat menyesal, aku tidak pernah ingin merusak situasi ini, tapi memaafkan bukan berarti melupakan.
Meskipun begitu aku tetap naik ke atas tempat tidur, berbaring tepat di sebelahnya hingga Gibran juga ikut berbaring. Kami saling berhadapan, Gibran lantas mendekat dan mengecup keningku hangat.
"Aku tahu begitu banyak luka yang aku masukkan ke dalam hati mu, tapi aku pasti menyembuhkannya...."
Satu janji itu terasa hangat menerobos ke dalam hatiku, menenangkan kegelisahan ku hingga aku terlelap tanpa rasa khawatir sedikitpun.
***
Kami pulang saat hari telah larut malam, Gibran mengantarku hanya sampai teras rumah karena dia masih harus berkemas sebelum keberangkatannya besok.
"Makasih banyak buat kencannya hari ini, seenggaknya aku bisa bertahan kalau aku merindukanmu setelah kepergian ku besok."
Aku hanya tersenyum menanggapinya, sejujurnya meskipun enggan mengakui jika waktu yang kami lewati bersama sekarang adalah sebuah kencan, tapi aku cukup bahagia.
Cukup untuk membuatku merindukannya sebelum kepergiannya.
"Pulang gih, jangan sampai ketinggalan pesawat besok!"
"Kamu nganterin aku kan?"
"Iya."
Senyuman lembut kembali menghiasi wajah tampannya, Gibran kemudian mengusap puncak kepalaku. "Maaf karena hari ini aku gak bisa temenin kamu beli baju buat Rora lagi."
"Gak apa-apa, kamu bisa pesan online kok!"
Gibran tertawa mendengar gurauanku, tapi setelah itu dia memelukku erat-erat.
"Aku pulang."
"Ya, hati-hati."
"Gak ditawarin nginep nih?"
"Gak! Udah sana cepet pulang."
__ADS_1
Kini giliran ku yang menertawakannya karena ekspresinya, tapi Gibran mencuri kecupan di pipi ku sebelum pergi meninggalkan ku yang mematung karena ulahnya.
...****************...