Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Titik terburuk


__ADS_3

"Loe udah punya rencana buat deket sama cowok lain disana?"


Apa dia cemburu?


Apa ekspresi marah yang ditunjukkannya sekarang karena ia sedang merasa cemburu?


Aku terus bertanya-tanya dalam hatiku, sulit untuk mengartikan maksud dari pertanyaan Gibran karena yang aku inginkan sekarang ia merasa cemburu.


Kedua mata Gibran mengunciku, dia masih mendesak ku. Kemarahannya terlihat dengan begitu jelas, hampir-hampir membuatku kembali berharap.


"Kalau iya loe mau apa?" tanya ku, nada suaraku yang tenang langsung menantangnya. Gibran lantas menundukkan kepalanya, tapi ia sama sekali tidak menjauh.


Gibran tertawa pelan, aku sungguh tidak mengerti tapi kemudian ia beranjak turun dari dalam mobil, membanting pintu dengan sangat kuat dan melangkah pergi menjauh meninggalkan ku yang masih duduk membeku di dalam mobilnya.


Setiap hal yang terjadi diantara kami selalu membuatku ingin menangis. Hubungan kami sampai pada titik terburuk.


Kupikir hanya sampai disana saja tapi aku salah karena saat melangkah melintasi lorong sekolah menuju aula tempat berkumpul siswa serta keluarga mereka yang merayakan kelulusan, aku melihatnya dan hatiku hancur tidak terselamatkan.


Aku melihat Ruby melangkah bersama dengan Gibran sambil menggandeng lengannya. Ruby terlihat tersenyum bahagia, ia melangkah menuju seorang wanita yang berusia menjelang empat puluhan, ku tebak itu adalah ibunya Ruby yang menanti di ujung jalan, tapi langkahku seketika terhenti saat aku melihat orang itu disana.


Orang yang aku minta untuk menghilang dari hidupku, orang yang sudah menorehkan luka terbesar dalam hatiku.


Ayahku...


Dia ada bersama dengan Ruby dan ibunya serta Gibran.


Tubuhku gemetaran tapi aku tetap melangkah mendekati mereka sementara air mataku sudah tertahan di pelupuk mataku. Rasa sesak ini mencekik ku, rasa sakit ini seperti akan membunuhku.


"Jasmine..." ayahku memanggil saat aku sudah hampir sampai, dia terlihat terkejut begitu juga dengan Gibran dan Ruby yang seketika menoleh.


Gibran seketika terkejut melihatku, ia langsung melepaskan tangan Ruby dan lengannya lalu melangkah menghampiri ku.


"Jasmine..." Gibran memanggilku dengan suara tertahan.


"..." aku membuka mulutku tapi tidak ada satupun kata yang bisa aku ucapkan, rasa sakit ini sudah berada diambang batas ku.

__ADS_1


"loe boleh gak cinta sama gue, tapi Gibran... Apa salah gue sampai loe mempermainkan gue seperti ini?" air mataku sudah tidak lagi terbendung, aku sudah tidak bisa lagi menahan tangisanku.


"Jasmine, aku bisa jelasin!" kini giliran Ruby yang mendekat, ia menyentuh tanganku tapi aku segera menepisnya.


Aku menatapnya, aku tidak bisa menahan kebencian yang langsung tersulut karena kebohongan mereka. Sosok papa yang selalu Ruby ceritakan padaku, sosok papa yang selalu ia banggakan, sosok papa yang katanya sangat menyayanginya hingga rela melakukan apapun demi drinya, sosok yang membuatku iri karena aku tidak punya papa sepertinya.


"Itu papa kamu?" tanya ku dengan suara yang bergetar.


"Maaf Jasmine, aku gak bermaksud nutupin semuanya..."


Tidak ada yang tersisa dalam diriku kecuali rasa sakit, patah hati, pengkhianatan serta rasa kecewa memenuhi relung hatiku. Mereka begitu kejam menyakitiku, mereka membunuh jiwaku. Mereka bekerjasama mempermainkan ku...


Padahal aku mengira Gibran yang paling mengerti penderitaan ku, tapi ternyata aku salah besar. Setiap rasa sakit yang aku tunjukkan padanya sama sekali tidak ada artinya. "Sejak kapan loe tau kalau papa Ruby itu ayah gue?" tanya ku yang hampir tercekik rasa sakit.


"Maaf, Jasmine..."


Aku tertawa, aku mungkin memang sudah gila sekarang hingga ketika Ruby menyentuhku, aku langsung mendorongnya hingga membuatnya terjatuh.


"JASMINE!" Gibran berteriak, ia membentak ku. Sepertinya ia tidak memiliki penyesalan karena telah menyakitiku.


"RUBY JUGA KORBAN DISINI!" Gibran masih membelanya sambil membantu Ruby untuk bangun. Gadis itu menangis sekarang dan ia langsung berlari ke arah ayahku dan memeluknya.


Bahkan sampai detik ini mereka masih menambahkan luka itu.


"Ini salah ayah, nak... Semua ini salah ayah..." ayahku bicara sambil mengusap-usap rambut Ruby, ia mempertontonkan kelembutan kasih sayangnya ke Ruby padaku yang sekarat.


"Kalian semua lupa, aku yang paling menderita..." ucapku sambil berusaha menyeka air mataku yang tidak mau berhenti menetes dan terus melangkah mundur. Tubuhku gemetaran, aku sungguh tidak sanggup menghadapi kenyataan ini.


"Bukan begitu, Jasmine... Gue..." Gibran terlihat menyesali reaksinya sebelumnya. Ia melangkah mendekatiku dan menunjukkan rasa bersalahnya.


"Seumur hidup hal yang paling gue sesali adalah kenal dan jatuh cinta sama loe, Gibran."


Langkah Gibran seketika terhenti, ia tertegun mendengar ucapanku.


"Tapi sekarang gue sepenuhnya benci sama loe. Gue benci kalian..." tukas ku dan langsung berpaling dan saat itu juga aku melihat wajah nenek ku yang sama menderitanya denganku.

__ADS_1


Aku tidak sanggup lagi menghadapi penderitaan ini jadi aku memilih melangkah menjauh. Mengabaikan kedua orangtua Gibran yang juga mencoba untuk mencegah kepergian ku.


"Jasmine!"


Aku mendengar Gibran memanggilku tapi kemudian aku mendengar suara nenek ku. "Sudah cukup! Jangan sakiti cucuku lebih banyak lagi. Aku mohon... Aku mohon pada kalian semua..."


Tangisan pilu nenek ku terasa menyayat hatiku, nenek ku kemudian menghampiriku. "Ayo nak, kita ambil ijazah mu dan pergi dari sini. Orang-orang disini tidak menyadari betapa berharganya kamu." ajak nenek ku, dengan tubuh yang gemetaran ia menyeka air mataku lalu menuntunku memasuki aula dan duduk di barisan paling depan karena itulah tempatku sebagai murid yang berprestasi.


Acara kelulusan pun di mulai dengan gunjingan yang terdengar memenuhi ruangan, beberapa orang yang secara terang-terangan menatapku kasihan serta mencibirku di waktu yang sama.


"Jangan menangis lagi. Tinggikan kepalamu, kamu tidak melakukan kesalahan apapun, Jasmine." Nenek ku menyemangati ku walaupun aku tahu air matanya masih menetes membasahi wajahnya yang sudah keriput itu.


"Jasmine..." mama Gibran memanggilku dengan lembut, ia menyentuh tanganku tapi dengan dingin aku menarik tanganku dan tetap menatap lurus ke depan sampai akhir namaku di panggil menjadi murid dengan nilai kelulusan tertinggi.


Aku kemudian beranjak bangun, menoleh kebelakang dimana Ruby masih menangis dan ibunya menatap sinis ke arahku sementara ayahku terlihat malu untuk menatapku dan Gibran yang berada di barisan yang sama dengan mereka, dia menatapku dengan ekspresi yang sulit aku baca tapi aku sudah tidak ingin tahu lagi. Aku tidak ingin tahu apapun tentangnya.


Waktu yang seumur hidup kami habiskan bersama seperti kenangan kosong yang tidak ada artinya, hilang menjadi debu karena terbakar amarah dan kecewa.


Gibran menyakitiku tanpa belas kasih!


Dadaku masih sesak tapi aku tetap melangkah, naik ke atas panggung dan menerima penghargaan ku.


Mereka lantas mempersilahkan ku untuk memberi sedikit pidato. Mulutku sudah terbuka, tapi rasa sesak di dadaku menahan suaraku.


"Berapa?" Suaraku bergetar, air mataku menetes lagi.


"Berapa biaya yang sudah Anda keluarkan untuk menghidupi ku secara diam-diam selama ini?" ucapanku berhasil membuat kehebohan sekali lagi dan orang-orang langsung menatap ke arah ayahku, pria yang saat ini duduk di sebelah Ruby.


"Aku akan membayarnya tapi sampai disini saja, hubungan kita sampai di sini saja. Jangan datangi aku, jangan meminta maaf padaku dan memaksaku melupakan kesalahanmu yang sudah mengkhianati ibuku, kesalahan mu yang sudah meninggalkan ku demi keluarga baru mu."


Kini semua orang menatap Ruby dan ibunya dengan sinis. Aku membongkarnya, semua rahasia ini, tanpa sedikitpun merasa bersalah. Hatiku sudah mati rasa dan mereka yang telah membunuhnya.


"Jangan pernah anggap aku sebagai putri mu karena aku telah menganggap mu mati bersama dengan kematian ibuku. Hiduplah dengan rasa bersalah, aku akan melanjutkan sisa hidupku dengan hati yang sudah kalian hancurkan dengan keji. Untuk orang yang pernah aku anggap segalanya, untuk orang-orang yang mempermainkan ku padahal aku menyayanginya, untuk kalian yang menyuapiku dengan rasa sakit. Terima kasih atas luka ini. Kalian membawaku pada titik ini, titik terendah dalam hidupku. Semua penghargaan ini aku dapatkan karena belajar adalah tempat pelarian ku dari rasa sakit hingga kamus bahagia dalam hidupku musnah. Terima kasih, atas rasa sakit ini."


***

__ADS_1


__ADS_2