Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Nakal


__ADS_3

"Sepertinya aku memang harus menandai mu sekali lagi."


Gibran dan kenakalannya, atau sepertinya ini bisa dibilang kenakalan kami?


"Kamu sungguh frustasi, Gibran...." aku bergumam ketika Gibran hampir menjangkau bibirku.


Hembusan nafasnya yang hangat menerpa wajahku dan membakar seluruh tubuhku.


"Bukannya ini masih terlalu dini untuk salam perpisahan?" sekali lagi aku berkata sambil membalas tatapannya yang menggoda.


Gairah terpancar jelas dari sorot matanya yang sayu redup karena berkali-kali melirik ke arah bibirku.


"Ya, tapi aku rasa lain kali tidak akan semudah ini...."


Semakin kami bicara, semakin rendah nada suara kami, semakin intim suasana ini.


"Aku sudah bilang padamu jika rumah ini memiliki magis yang berbeda kan?" Gibran bicara lagi sambil membelai bibirku dengan tidak sabaran.


"Magis?"


"Sesuatu yang membuat kita sulit untuk menepis keinginan ini."


"Aku gak menginginkannya, Gibran...."


"Aku bertaruh demi perasanku, kamu sama frustasinya dengan ku, Jasmine."


"Oh ya?"


Gibran tidak menyahut lagi, bukan karena dia kehilangan kata-katanya tapi karena bibirnya sudah sibuk menjelajahi bibirku.


Dia menekan tengkuk ku, memperdalam ciuman penuh dosa ini, menggigit bibirku dengan sengaja hingga aku meringis dan mengambil celah itu untuk menutup masuk lebih dalam lagi.


"Ng...."


Ku pastikan itu bukan *******, itu hanya reaksiku ketika tangan Gibran yang lain marik daguku ke bawah hingga bibirku terbuka dan dia semakin leluasa.


Lidahnya bertegur sapa dengan lidahku serta barisan gigiku, meneguk salivaku seperti haus sementara aku membiarkannya bermain tanpa membalasnya meskipun aku menikmati ciuman yang ia berikan padaku setelah berhasil membuatku terbuai.


"Balas aku, Jasmine... Aku sungguh frustasi, kamu harus tanggung jawab!" pinta Gibran setelah melepaskan bibirku sejenak.


"Kenapa harus?"


"Oh please, Jasmine ...."


"Memohon lah ...."


"Sialan!"


Aku cukup terkejut ketika Gibran mengumpat, tapi itu justru memperjelas jika dia sangat menginginkan ciumanku lebih dalam lagi hingga aku dengan sengaja mempermainkannya.


"Keberatan?"


"Aku mohon, beri aku satu ciuman ...."


"Hah... Sepertinya aku memang sedang sial!" tutur ku sebelum membiarkan Gibran menciumku lagi tapi kali ini aku membalasnya.

__ADS_1


Sejujurnya aku sedikit menyesal membalas ciumannya karena aku mulai mabuk sekarang.


Gibran mulai tidak sabaran, dia seperti tersiksa dengan ciuman kami karena aku mencegah tangannya bergerak menyentuh lekuk tubuhku hingga ia melampiaskan semua gairahnya pada ciuman kami yang semakin liar ini.


"Jasmine...."


Terdengar suara nenek ku memanggil dari luar dan itu adalah akhir dari ciuman panas kami.


Aku kembali duduk di tempatku seolah tidak terjadi apapun sementara Gibran menyeka sisa saliva di bibirnya dan menatapku dengan tidak rela tapi aku dengan sengaja mengacuhkannya.


Tidak lama setelah itu nenek ku masuk ke dalam rumah, sambil mendorong troli dimana Aurora terlihat tertidur pulas.


"Loh kenapa diem-dieman? Kalian berantem lagi?" tanya nenek ku tepat setelah melihat ekspresi Gibran yang jelas menahan jengkel karena nenek ku datang disaat aku baru saja membebaskan tangannya tapi dia belum sempat menjelajah.


"Iya, kita habis adu mulut," jawab Gibran yang sontak membuatku tersedak yang kebetulan baru saja meneguk jus ku.


"Minum pelan-pelan, Jasmine...." Nenek ku mengingatkan sambil menepuk-nepuk bahu ku.


"Minum pelan-pelan dong mantan istri, adu mulut tadi bikin Kamu haus banget ya?"


Gibran sialan!


Lihatlah bagaimana dia tersenyum puas sekarang, setelah dua kali menyinggung tentang adu mulut yang membuat perutku tergelitik malu.


"Diem deh mantan suami, mending kamu cepet pulang gih!"


"Nanti kalau aku pulang kamu kangen, urusan kita kan masih belum selesai...."


"Ha... Ha... Ha... Urusan apa yang masih belum kelar?" aku tertawa keki menghadapi Gibran yang sedang dalam mode menyebalkan ini.


"Bener itu, jangan ada masalah lagi diantara kalian. Meskipun udah pisah kalian kan masih punya Aurora." jawab nenek ku sambil menggendong Aurora lalu membawanya ke kamarnya.


Kini hanya ada aku dan Gibran di meja makan ini, pria itu masih menatapku dengan kilatan yang sama.


"Ke halaman belakang yuk," ajaknya, aku tahu apa tujuannya.


"Gak, aku laper mau makan," tolak ku dengan tegas.


"Bentar aja...."


"Gak! Tadi udah ya Gibran, jangan ngelunjak!"


"Peluknya belum kan?"


"Ish... Minta dihajar ya?"


"Pake apa?"


"Maunya?"


"Bener boleh milih?"


Hah Jasmine.... Ini masih terlalu pagi untuk jadi gila dan hilang kendali!


Menyesal karena aku baru menyadari kebodohan ku sekarang karena Gibran terlihat semakin di awang-awang.

__ADS_1


Aku memilih untuk diam setelah itu, merasa malu karena aku tahu persis kami berbagi pikiran yang sama sekarang dan Gibran menikmati semua momen ini hingga ia tertawa pelan.


"Baju Rora kayaknya udah banyak yang kecil deh, Jasmine...." ucap nenek ku ketika ia kembali dari dalam kamarnya dan menghampiri kami yang langsung membuat Gibran menghentikan tawanya.


Lihatlah bagaimana dia bermain peran menjadi lelaki tertindas dengan sangat mudah di hadapan nenek ku.


"Jasmine, udah dong marahnya sama Gibran."


Demi Tuhan, aku ingin membuang Gibran ke planet Neptunus sekarang juga.


"Aku gak marah kok!" jawabku dengan nada semanis mungkin tapi aku tahu kalau aku tidak pernah bisa berpura-pura.


"Gak apa-apa kok nek, benci sama cinta itu beda-beda tipis." sahut Gibran dengan nada sesopan mungkin, begitu tenang dan bersahaja seolah dia adalah pria yang bijaksana, dasar muka dua!


"Jasmine...." Nenek ku menegur ku sekali lagi.


"Iya, aku udah baik sama dia. Maunya nenek, aku mesti baik kayak gimana lagi? Manja-manja sama dia atau mesra-mesraan sama dia?"


"Ide bagus tuh, biar kita cepet rujuk!"


"Diem loe!"


"Mantan istri, jangan kasar .... Mantan suami sedih nih." protes Gibran dengan nada teraniaya, sepertinya Gibran baru saja selesai nonton sinetron sampai tamat. Dia sungguh dramatis!


Oh, Tuhan! Kenapa aku bisa jatuh cinta pada pria seperti dia?


"Nek! Usir dia, please!" rengek ku tidak tahan lagi.


"Gini aja, biar kalian gak berantem terus disini dan bikin kepala nenek sakit, mendingan kalian pergi beli baju Rora. Baju Rora udah banyak yang kekecilan." usul nenek ku, sudah lama ia tidak menunjukkan ekspresi seperti ini. Ekspresi sakit kepala karena tingkahku dan Gibran.


Mungkin ini juga yang membuatku merasa familiar dengan semua situasi ini, karena rasanya kami seperti kembali ke masa lalu disaat semua hal masih baik-baik saja.


"Setuju! Ayo mantan istri, kita beli baju buat putri kesayangan kita!" sahut Gibran dengan penuh semangat ia beranjak bangun dari tempat duduknya dan menarik pergelangan tanganku.


"Nek!!!"


"Pergi sana, pergi... Jangan berisik disini!" ucap nenek ku yang terang-terangan mengusir kami.


"Nek, aku di culik nih!"


"Jangan lupa beli baju Rora!"


"Ahhh nenek....." aku sungguh frustasi, nenek ku terang-terangan berpihak pada Gibran hingga Gibran terus menyeret ku bersamanya.


"Ayo mantan istri, nanti anak kita bangun...."


"Lepasin gak?!"


"Gak!"


"Nek, please... selamatkan cucumu ini....."


"Byeee!"


Dang! Sepertinya aku harus melarat pikiranku sebelumnya karena dulu Gibran masih belum seberbahaya ini dan sepertinya keselamatan ku akan terancam di tangannya!

__ADS_1


Oh Tuhan, lindungi hamba mu yang baru saja khilaf ini....


__ADS_2