
"Terus kalau dia tulus, kamu berencana berpaling ke dia saat aku gak ada di sisi kamu?"
Aku tidak bisa menjawabnya saat luka itu kembali muncul di raut wajahnya yang tampan.
Gibran menahan nafasnya, sorot matanya memancarkan amarah yang bercampur dengan kesedihan tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk menenangkannya.
Untuk sesaat suasana menjadi hening, baik aku maupun Gibran, kami berdua tidak lagi saling bicara.
Ini masih cukup pagi dan suasana jalan sedikit macet, aku memalingkan wajahku ke arah jendela karena ekspresi sendu Gibran cukup menggangguku, membuatku ingin mengusap bahunya dan tersenyum hangat padanya dan mengatakan, "jika saja aku bisa berpaling maka aku akan melakukannya sejak lama."
Dengan begitu kamu tidak akan terluka lagi, kan?
Begitu sepi, atmosfer yang merengkuh kami begitu mudah berubah menjadi pekat hingga sulit rasanya untuk bernafas.
"Jasmine, kamu harus tau alasan aku menikahi Ruby...." Gibran akhirnya berbicara, dia memecah keheningan yang menyiksa ini.
Aku lantas menoleh menatapnya yang kini memegang erat-erat setir dan menatap lurus ke depan.
Dia terlihat tersiksa untuk melanjutkan ucapannya, sampai akhir dia kembali bicara.
"Hari disaat aku harusnya menyusul mu, tapi aku malah melakukan kesalahan itu. Aku menghancurkan hidup Ruby."
...----------------...
...Flashback on...
Author POV
....
"Nek, tolong kasih aku alamat Jasmine, aku mohon ijinin aku memperbaiki kesalahan aku," Gibran memohon sambil terus mengikuti kemanapun Nenek Jasmine melangkah.
"Udah hampir empat tahun, mas Gibran. Kemana aja kamu selama ini?" sahut Nenek Jasmine sambil lalu. Saat ini ia masih sibuk membuat kue pesanan yang harus dikirimkan malam ini juga sementara ini sudah jam tiga sore dan Gibran terus mengganggunya.
"Iya, aku emang pecundang. Butuh waktu lama buat aku ngumpulin keberanian. Kesalahan yang aku perbuat ke Jasmine itu terlalu besar, aku takut dia gak pernah mau maafin aku tapi rasanya aku sekarat setiap harinya karena dia gak di sini," jelas Gibran yang dengan sengaja menghalangi langkah Nenek Jasmine.
Nenek Jasmine terdiam sejenak, ia menatap wajah lusuh Gibran yang terlihat lebih kurus dan kacau. Remaja tampan yang setiap hari selalu menghabiskan waktu di rumahnya dan berhasil memikat hati cucunya itu kini berubah menjadi seorang pria muda yang berantakan seolah ia telah kehilangan semangat hidupnya.
__ADS_1
"Gimana kalau Jasmine udah punya pacar? Selama ini yang nenek tau dia selalu sama Juna," jelas Nenek Jasmine yang terlihat tidak tega mengatakannya.
Wajah Gibran langsung terlihat lebih pucat dari sebelumnya, sorot matanya semakin hilang arah dan air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya setelah mendengar semua itu.
"Aku gak akan memaksa Jasmine kalau dia emang udah jatuh cinta sama orang lain... Aku cuma mau minta maaf ke dia, aku mau jelasin semuanya kalau aku bukannya sengaja pura-pura gak tau kalau ayah Jasmine sebenernya ayahnya Ruby."
Nenek Jasmine masih tidak memberikan jawaban bahkan setelah Gibran mulai menangis, wanita tua itu malah melangkah masuk ke dalam kamarnya meninggal Gibran sendirian di dapur.
Tubuh Gibran terjatuh lemas, ia duduk di sudut dapur sambil menangis menahan kerinduannya yang seperti sel kanker yang merusak seluruh tubuhnya karena terlalu menyakitkan.
"Ini...."
Gibran mengangkat pandangannya, air matanya masih membasahi wajahnya ketika ia menatap wajah Nenek Jasmine yang saat ini memberikan secarik kertas kepadanya.
"Tapi kamu harus janji jangan paksa Jasmine kalau memang dia sudah gak cinta sama kamu,"
Walaupun terasa berat, walaupun begitu mencekik, tapi Gibran tetap menganggukkan kepalanya sambil mengambil secarik kertas bertuliskan alamat Jasmine, lalu dengan cepat ia menyeka air matanya dan memeluk nenek Jasmine singkat.
"Makasih banyak, Nek...." ucap Gibran senang sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan rumah Jasmine dimana neneknya hanya bisa melihat dari kejauhan, ekspresi senang yang sudah lama tidak terlihat di wajah tampan Gibran yang membuatnya tanpa sadar menyunggingkan senyumannya.
...
"Loh kak Gibran mau kemana? Ini masih jam kerja, kan?" tanya Ruby yang juga bekerja di perusahaan yang sama dengannya, bedanya Ruby menjadi seorang sekretaris.
Ia cukup heran karena tadi Gibran melangkah keluar dari dalam ruangan bosnya dengan wajah yang sumringah berbeda dengan biasanya karena semenjak kepergian Jasmine, Gibran berubah menjadi pria dingin yang pemurung bahkan tidak jarang Gibran terang-terangan mengabaikannya.
"Aku ambil cuti," jawab Gibran dengan nada dingin seperti biasanya seolah mereka tidak pernah akrab sebelumnya.
"Kenapa cuti? Kakak sakit?" tanya Ruby sekali lagi yang masih betah berlama-lama berada di dalam ruangan Gibran.
"Aku mau nyusul Jasmine." jawab Gibran, tapi kali ini ia menatap Ruby setelah sebelumnya terus mengabaikannya.
"Nyusul Jasmine?" Ruby tidak lagi bisa mengatur ekspresinya, sambil berusaha menahan air matanya agar tidak menetes, Ruby kembali bertanya, "Aku boleh ikut gak kak? Aku juga kangen banget sama Jasmine...."
Gibran lantas meletakkan barang-barangnya di atas meja lalu melangkah menghampiri Ruby yang saat ini berdiri di depan meja kerjanya.
"Kamu tahu kesalahan terbesar aku itu apa?" tanya Gibran sambil mendesak Ruby hingga gadis itu seketika melangkah mundur karena takut.
__ADS_1
"Kamu... Kamu adalah kesalahan terbesar aku, Ruby!"
Kini Ruby tidak lagi mampu membendung air matanya, hatinya hancur ketika Gibran mengatakan semua itu tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Hubungan ku dengan Jasmine jadi berantakan semua karena kamu! Kamu sengaja hasut aku, manipulasi aku seakan-akan perasaan aku ke Jasmine itu gak nyata... mengenal kamu itu kesalahan terbesar kami, Ruby!"
Ruby tidak bisa bernafas, ia tidak lagi mampu menatap kedua mata Gibran yang menyorot penuh amarah dan sebelum akhirnya melangkah pergi setelah membawa semua barang-barangnya.
...
Tiket pesawat sudah berada di tangannya lengkap dengan paspornya. Gibran semakin tidak sabar untuk kembali bertemu dengan Jasmine meskipun Jasmine akan menolak kedatangannya nanti, yang terpenting Gibran bisa melihatnya lagi.
Menghirup udara yang sama dengannya, dan mengatakan padanya "aku mencintaimu, satu-satunya dan selamanya"
Gibran tersenyum sekali lagi, ia semakin tidak sabaran menantikan keberangkatannya ketika ponselnya tiba-tiba berdering.
"Kak Gibran! Kak Gibran tolong aku!"
"Ruby?!" Gibran langsung tersentak mendengar suara Ruby yang terdengar ketakutan.
"Kak, aku takut banget, tolong aku.... Aaaaaaa!!!"
"Sial!" Gibran mengumpat, ia segera berlari keluar dari dalam bandara, mencari taksi secepat mungkin hingga menerobos taksi pesanan orang lain.
Melalui lokasi yang dikirimkan oleh Ruby, Gibran melacak keberadaannya sambil terus berusaha menghubunginya tapi Ruby tidak lagi mengangkat teleponnya.
Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya Gibran tiba di sebuah hotel. Ia langsung berlari menuju bar yang ada dalam hotel itu.
"Kak Gibran!"
Gibran menoleh ke arah suara itu, terlihat Ruby berjalan sambil merambat pada dinding. Dia terlihat sempoyongan, tapi ketika Gibran baru akan menghampirinya ada dua orang pria datang dan menarik Ruby.
"Lepasin! Aku gak mau... lepasin!" Ruby meronta, dia berusaha melepaskan diri dari kedua orang itu yang ingin menyeretnya.
Tidak perlu menunggu lama bagi Gibran untuk segera menghajar kedua orang itu hingga mereka seketika kabur.
"Ruby, kamu gak apa-apa?" tanya Gibran khawatir sambil memegangi tubuhku Ruby yang hampir tidak bisa berdiri dengan tegak.
__ADS_1
"Kak, aku takut banget...." jawab Ruby sambil menangis lirih, ia menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Gibran dan perlahan-lahan Gibran mulai membalas pelukannya dan mendekap tubuh Ruby yang gemetaran.
....