Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Melati


__ADS_3

"Astaga, Melati!"


Diam-diam aku tersenyum, sudah lama aku tidak mendengar panggilan itu. Dulu akan akan selalu protes, tapi entah kenapa 'Melati' menjadi terdengar manis seolah itu adalah panggilan sayang Gibran khusus untukku.


Angin berhembus semakin kencang dan langit terlihat semakin gelap sampai akhirnya hujan turun dengan lebat saat aku sedang memilih beberapa pernah pernik untuk Rora.


Dengan menggunakan jaketnya, Gibran menutupi kepalaku sementara dia mulai kebasahan.


Tidak banyak tempat yang bisa di gunakan untuk berteduh karena ada banyak pengunjung yang datang berkunjung ke pulau ini mengingat ini adalah akhir pekan.


Gibran melindungi ku dari desakan pengunjung yang berteduh di tenda pedagang yang sama dengan kami hingga punggung Gibran terkena guyuran hujan.


Posisi ini membuatku gugup tapi aku tidak bisa membiarkannya terus-menerus kehujanan. "Mendekat lah...." bisik ku pelan.


Aku ingin menghindari sorot matanya hingga aku terus menundukkan kepalaku tapi ketika Gibran melangkah lebih dekat dan tubuh besarnya nyaris mendorongku kebelakang, secara refleks tangan Gibran merengkuh pinggangku begitu juga denganku yang langsung berpegangan pada pinggangnya dan akhirnya aku hanya bisa diam ketika Gibran memeluk ku.


"Apa dingin?" tanya Gibran dengan nada suara rendah, bibirnya menyentuh ujung telingaku dan sekujur tubuhku langsung memanas.


"Sedikit," jawab ku berbohong, aku hanya bisa berharap semoga Gibran tidak menyadari suhu tubuhku yang meningkat karena posisi ini, tapi jawaban ku justru membuat Gibran mempererat pelukannya.


"Kamu Kedinginan?" tanya ku tidak kalah pelan dengan nada suaranya sebelumnya.


Gibran tidak lantas menjawab hingga aku memberanikan diri mendongak untuk memastikan keadaannya.


"Aku terbakar...." bisik Gibran, disaat itulah aku sadar jika Gibran memanfaatkan momen ini dengan sangat baik dan aku terbuai.


"Sekarang aku udah gak bodoh lagi, Jasmine... Aku gak akan ragu."


Aku menahan nafasku saat Gibran menarik pinggangku hingga tubuhku hampir terangkat, tapi bibirku diam seribu bahasa membiarkannya memeluk ku sesukanya.


Dia menyulut percikan gairah ditengah hujan yang sangat deras ini karena angin yang berhembus kencang membawa air hujan ke dalam tenda hingga baju kami hampir basah kuyup.


Penanggung jawab penumpang kapal yang membawa kami ke pulau ini lalu mendatangi kami setelah dia mendatangi beberapa pengunjung lain di tenda berbeda, orang itu mengatakan jika di cuaca ini tidak mungkin untuk berlayar dan mereka menyarankan untuk menginap di penginapan yang ada di pulau ini.


Sebenarnya itu bukanlah ide yang buruk karena angin semakin kencang dan hujan begitu deras hingga tenda tempat kami berteduh terus bergoyang-goyang seolah akan segera roboh.


Kami akhirnya setuju, sambil menembus hujan, Gibran menggandeng tanganku mengikuti penanggung jawab penumpang kapal yang sudah melangkah lebih dulu.

__ADS_1


Ada banyak orang bersama kami, beberapa pasangan dan keluarga, mereka semua sudah menggigil kedinginan begitu juga dengan ku dan Gibran sampai akhirnya kami sampai di penginapan itu.


Penginapan yang cukup besar, ada dua puluh kamar tapi karena penumpang kapal yang cukup banyak maka aku dan Gibran harus mengambil kamar yang sama.


Kecanggungan besar langsung tercipta diantara kami berdua begitu kami memasuki kamar dan Gibran melepaskan tanganku.


"Kamu sebaiknya mandi duluan," ucap Gibran tanpa bisa memandangku secara langsung, mungkin karena gaunku basah hingga gaun ini menempel mengikuti lekuk tubuhku, semakin terlihat jelas setelah aku melepaskan jaket Gibran.


"Ok...."


Aku lantas melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Gibran yang masih berdiri di depan pintu. Aku menoleh ke arahnya ketika berada diambang pintu untuk memastikan keadaannya, tapi siapa yang menduga jika Gibran saat itu juga sedang melihat ke arahku.


"Kenapa? Mau mandi bareng?" tanya Gibran yang sontak membuatku langsung memasuki kamar mandi dan menguncinya rapat-rapat.


Nafasku berderu, aku memegangi dadaku yang berdebar-debar kencang, situasi menjebak ini membuat pikiranku melayang jauh hingga wajahku terasa panas padahal sebelumnya aku sudah menggigil.


Sambil menarik nafas dalam, aku berusaha menenangkan diriku. Tidak ingin berlama-lama, aku berusaha menyentuh ritsleting gaun ku, tapi posisinya yang terletak di belakang membuatku kesulitan untuk menggapainya.


Aku sudah melakukan berbagai cara tapi aku masih sulit membuka sepenuhnya ritsleting gaun ku karena tersangkut hingga kedua tanganku mulai pegal.


"Gibran...." panggil ku pelan sambil mengintip di balik pintu kamar mandi yang ku buka sedikit.


"Oh Tuhan...." aku mendengarnya bergumam sambil menyeka wajahnya sebelum dia menghampiriku.


"Kenapa? Kamu beneran mau mandi bareng aku?"


Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawabannya, "terus apa?" tanyanya lagi.


"Aku gak bisa buka ini...." jelas ku sambil membelakanginya dan menunjukkan ritsleting ku yang tersangkut.


Gibran menghela nafas berat, ia baru akan menyentuh gaunku ketika aku kembali menghadapnya.


"Jangan curi kesempatan ya!" aku memperingatkannya dengan tegas, "awas kalau kamu curi kesempatan, aku-"


"Aku apa?"


Tubuhku seketika melangkah mundur ketika Gibran memaksa masuk ke dalam kamar mandi dan dia menutup pintu kamar mandi dengan mudah, bahkan juga menguncinya.

__ADS_1


Ada yang berbeda dari sorot mata Gibran dan aku sangat tahu apa artinya itu.


Seperti berada dihadapan pemangsa, aku membeku.


Ketika dia melangkah semakin dekat, ketika dia mengunci ruang gerak ku, dan ketika dia mendekat hingga jarak diantara kami menghilang, dia mengintimidasi ku dengan mudah.


"Kamu di depan mataku, Jasmine... tapi aku merindukanmu sangat banyak, bahkan terlalu banyak hingga aku ingin menjadi serakah atas mu," ucap Gibran pelan sambil menyingkirkan rambutku ke samping, tubuh besarnya membuatku merasa kecil.


Aku berpikir jika waktu bergerak begitu lambat dan situasi ini membuatku tersiksa.


Aku tersiksa ketika tubuh Gibran mendekat lagi dan bibirku menyentuh permukaan dadanya, dan aroma tubuhnya yang bercampur dengan air hujan terasa memabukkan ku, membangkitkan gairah yang sejak tadi sudah memercik dan sekarang mulai tersulut.


Kedua mataku seketika terpejam saat tangan Gibran mulai menyentuh punggungku, saat deru nafasnya menerpa tengkuk ku, saat bibirnya menempel di ujung telingaku, saat aku merasakan ritsleting gaun ku bergerak turun, suaranya memecah keheningan, hingga sulit untukku bernafas.


Gibran berbahaya dan aku terperangkap...


Aku terjerat dalam pelukannya yang terasa hangat, dalam sentuhannya yang begitu lembut.


Kecupan ringan yang ia berikan di leherku membuat sekujur tubuhku merinding.


Satu kecupan lagi mendarat di bahu ku saat tangan kekarnya menarik lengan gaun ku dengan begitu lembut.


"Tubuhmu dingin, Jasmine...." bisiknya pelan.


"Ya... Aku kedinginan," jawabku dengan nafas yang tercekat ketika dia mengecup leherku sekali lagi.


"Boleh aku menghangatkan mu?"


"..."


Deru nafas Gibran semakin berat, aku bisa merasakan dadanya memompa dan perlahan dia berdiri tegak menatap ku yang terkunci oleh sorot matanya yang mendamba.


"Jawab aku...." Pinta Gibran sambil mengangkat daguku dengan jarinya, tapi satu katapun tidak lolos dari bibirku.


Aku tidak bisa mengatakan apapun disaat ibu jarinya terus menekan bibir bawahku.


"Aku bukanlah orang yang sabar, Melati...."

__ADS_1


Ibu jarinya terasa hangat, dia membuatku hilang akal.


...


__ADS_2