Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Menyuapiku dengan rasa sakit


__ADS_3

"Terutama dari Ruby..."


Aku sudah tahu akan hancur tapi aku tidak tahu jika rasa sakitnya akan seburuk ini. Aku tidak bisa menjawabnya kali ini karena aku langsung menarik tanganku dengan kasar sebelum aku kembali menangis di hadapannya.


"Udah malem loe lebih baik pulang." tukas ku yang langsung melangkah memasuki kamarku.


Air mataku kembali menetes, lebih deras dari sebelum karena kekecewaan yang begitu dalam.


Aku menyelimuti tubuhku hingga menutupi kepalaku dan terus menangis ketika aku mendengar suara pintu kamar ku terbuka.


"Gue nginep malam ini..." suara Gibran terdengar pelan.


Pintu kamarku kembali terdengar tertutup rapat, setelah itu aku mendengar suara langkah kaki yang melangkah mendekat. Aku dapat merasakan Gibran duduk di lantai dan bersandar pada tempat tidurku.


"Jasmine..." Gibran memangil seiring dengan getaran ponselnya yang juga terdengar tapi pria itu mengabaikan ponselnya dan membiarkannya terus bergetar.


Aku ingin tahu, aku ingin tahu siapa yang menelepon Gibran semalam ini tapi aku tidak memiliki hak apapun untuk bertanya dan itu membuatku hanya bisa terus menangis.


Kalau di hatimu ada wanita lain, kenapa kamu ada disini?


Kalau di hatimu ada wanita lain, kenapa kamu menemaniku yang terluka disini?


Kalau di hatimu ada wanita lain, kenapa kamu membuatku terus berharap?


Kenapa kamu membuatku sangat menyedihkan?


Gibran, apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi perasaan ini?


Aku tidak bisa berhenti mencintaimu meskipun aku tahu kamu sedang menyuapiku dengan rasa sakit yang terbungkus dengan harapan palsu.


***


Aku membuka kedua mataku, kepalaku terasa pusing hingga berdenyut-denyut.


Aku kemudian beranjak duduk selagi mengumpulkan kesadaran ku yang akhirnya malah membawaku pada ingatan saat aku dan Gibran berciuman semalam.


Mungkin aku sudah gila karena aku malah mengigit bibir bawahku dan berharap masih dapat merasakan sisa ciuman semalam.


"Loe udah bangun?"


Aku menoleh ketika mendengar suara Gibran. Pria itu masih duduk di lantai sambil bersandar pada tepi tempat tidurku sementara kepalanya sedikit mendongak melihatku.


"Loe gak pulang?" tanya ku yang seketika panik.


"Kan gue bilang gue nginep semalem." jawab Gibran sambil menggeser posisinya agar ia bisa berpegangan pada tepi tempat tidur ku dan menyandarkan wajahnya diatas lengannya. Gibran terlihat tampan dengan wajah baru bangun tidurnya yang langsung membuat jantung ku berdebar-debar kencang.

__ADS_1


"Nenek bisa marah kalau tau loe tidur disini!"


"Emangnya kenapa? Kita dulu sering tidur bareng kan setiap kali nginep di rumah masing-masing."


"Astaga, itu kan dulu waktu kita masih kecil. Sekarang kita udah gede, Gibran. Semalam kita bahkan ciuman!" Aku langsung menutup mulutku rapat-rapat dengan kedua tanganku.


Gibran hanya tersenyum dan meletakkan jarinya di atas bibirnya, memberikan isyarat agar aku tidak lagi membahas tentang ciuman yang terjadi semalam.


"Mandi gih, gue tungguin di depan." ucap Gibran beranjak bangun dan meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah itu Gibran mengusap puncak kepalaku sebelum akhirnya melangkah keluar dari dalam kamarku dengan begitu tenang tanpa takut nenek ku mungkin akan salah paham.


Pintu kamarku sudah tertutup rapat, aku segera melompat dari atas tempat tidur ku dan menempelkan telingaku pada pintu kamarku karena mendengar suara percakapan di luar.


"Loh mas Gibran pagi-pagi banget udah dateng?"


"Iya nek, soalnya aku mau sarapan disini."


"Jasmine mana? Udah bangun?"


"Udah, barusan aku bangunin."


"Oh ya udah, nenek buatin sarapan dulu buat kalian. Mau sarapan apa mas Gibran?"


"Nasi goreng sama telur dadar nek."


Aku menghela nafas lega karena sepertinya nenek ku percaya dengan kebohongan Gibran. Pria itu bicara dengan begitu percaya diri tadi tapi ia ternyata masih punya sisa kewarasan karena tidak mengaku jika ia menginap dan tidur di kamar ku semalam.


Setidaknya nenek ku tidak akan terkena serangan jantung mendapati cucu gadisnya tidur sekamar dengan seorang pria meskipun itu adalah Gibran.


"Jangan lama-lama mandinya!" suara Gibran terdengar dari balik pintu kamarku seolah ia tahu kalau aku sedang menguping jadi aku segera berlari menuju kamar mandi tapi sebelum memasuki kamar mandi aku melihat ponsel Gibran yang terletak di meja belajarku bergetar.


Aku kemudian mengintip ke layar ponsel Gibran dan nama Ruby tertera di layar. Hatiku kembali sakit tapi aku menahannya dan mengabaikannya meskipun sulit.


Padahal aku memiliki kesempatan itu, kesempatan untuk membuat Ruby menjauh dari Gibran jika saja aku berani bersikap lancang dengan mengangkat panggilan telepon itu mungkin hubungan mereka akan menjauh seperti hubungan ku dengan Gibran sebelumnya.


Hah~ Aku menghela nafas sekali lagi, merasa buruk karena perasaan ku untuk Gibran hampir membuatku menjadi jahat tapi menjadi baik tidak bisa membuat sesak di dalam dadaku hilang.


Hatiku sakit...


...


"Lama banget!"


Aku terkejut setengah mati ketika keluar dari dalam kamar mandi dan Gibran sudah berdiri di depan meja belajar ku, ia terlihat berkutat dengan ponselnya dan langsung membuatku kesal. Dia pasti sedang mengecek pesan dari Ruby.


Oh Tuhan, perasaan ini sungguh mengganggu ku!

__ADS_1


"Loe gak bisa sembarangan masuk ke kamar perawan!" tegur ku yang untungnya aku sudah memakai seragam sekolahku di dalam kamar mandi jadi Gibran tidak perlu melihatku hanya memakai handuk yang mungkin akan membuatnya khilaf.


"Maaf, hp gue ketinggalan disini."


"Ya udah sana keluar!"


Mungkin karena aku sedang kesal hingga aku tidak bisa mengontrol nada suaraku dan membuatku berteriak mengusir Gibran. Pria itu bahkan langsung menoleh dan mengantongi ponselnya di saku celananya lalu melangkah mendekat ke arahku.


Sontak pergerakannya membuatku gugup hingga aku secara refleks melangkah mundur tapi langkahku terhenti dan tubuhku terjatuh duduk di atas tempat tidurku.


Gibran kemudian menghela nafas, ia bergerak mendekat dan membungkuk hingga aku harus menarik tubuhku kebelakang untuk menghindarinya.


Nafasku sudah tercekat, bahu bidang Gibran sudah berada di hadapanku hingga aku tidak kuasa menelan Saliva ku.


Aku berpikir Gibran akan kembali mencium ku seperti yang ia lakukan semalam tapi Gibran ternyata hanya mengambil handuk yang terletak di belakang tubuhku lalu menggunakannya untuk mengeringkan rambut ku.


"Gue tau loe sekarang lagi dateng bulan jadi gue maafin loe meskipun loe udah teriakin gue, tapi kalau lain kali loe marah-marah sambil teriak-teriak ke gue, maka siap-siap gue cium sebagai hukumannya."


Suara Gibran terdengar serius bahkan sorot matanya terlihat mengerikan hingga aku tidak bisa berlama-lama menatapnya dan membiarkannya terus mengeringkan rambutku tanpa mengatakan apapun, bukan karena takut tapi karena aku gugup.


Ancaman itu membuatku ingin melanggarnya...


Aku mencengkram sprei untuk mengendalikan ketegangan ini sambil berharap semoga Gibran tidak menyadari jika aku setengah mati menahan gejolak ini.


Gibran masih tidak mengatakan apapun setelah itu, ia hanya melangkah mengambil hair dryer dan mengeringkan rambutku yang sudah setengah kering.


Sentuhannya terasa lembut, begitu nyaman hingga aku ingin menikmati setiap detik waktu yang aku habiskan bersamanya.


Setiap perhatian kecil yang Gibran berikan padaku seperti memupuk rasa cintaku padanya.


Sepertinya aku memang sudah tidak akan bisa melepaskan perasaan ini.


Tangan Gibran dengan lembut masuk ke sela-sela rambut ku, ia mengusapkan vitamin rambut ke setiap helai rambutku dan memastikan tidak ada yang terlewat dan setelah itu barulah ia menyisir rambutku.


"Udah cantik sekarang, yuk sarapan..." Gibran tersenyum hangat saat memuji ku, ia kemudian mengulurkan tangannya agar aku menyambutnya.


"Makasih..." ucap ku setelah menyambut uluran tangannya.


"Sama-sama..." sahut Gibran sambil menuntunku keluar dari dalam kamar ku.


Dia membuatku berkhayal jika kelak dia menjadi suamiku, apa mungkin pernikahan kami akan membahagiakan? Mengingat Gibran selalu memperlakukan ku dengan lembut dan hangat, pernikahan kami pasti akan sangat membahagiakan.


Semoga kelak Gibran bisa mencintaiku...


***

__ADS_1


__ADS_2