Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Rindu yang menyiksa


__ADS_3

"Kamu bisa sakit kalau main hujan-hujanan..."


Air mataku seketika jatuh, perlahan aku beranjak bangun dan menatap wajah itu. Wajah seseorang yang baru saja sedang aku pikirkan.


"Siapa?" Hatiku menangis pedih saat menanyakan hal itu padanya. Pada seseorang yang seumur hidup aku rindukan. Pria yang telah meninggalkanku.


Pada ayahku...


"Jasmine, ayah..."


Aku menepisnya, tangan yang terasa dingin dan basah itu. Aku tidak bisa membiarkan dia menyentuhku dan membuatku langsung memaafkan semua kesalahannya yang telah meninggalkanku selama ini.


Dia yang kemarin berpura-pura tidak mengenalku...


Dia yang kini ada dihadapan ku seolah begitu merindukanku...


Dia muncul dengan wajah lelah yang membuatku ingin mengasihaninya seolah semua beban dan rasa sakit di dunia ini di topang olehnya.


Tapi bukankah aku korbannya? Aku yang dia tinggalkan tanpa belas kasih ia lupakan.


Aku yang menderita... Aku ...


"Maaf, ayah baru bisa datang... Ayah terlalu malu untuk bertemu kamu selama ini dan begitu kamu mengenali ayah kemarin, kerinduan ini sudah tidak bisa lagi ayah bendung."


Aku tertawa, seperti gadis gila aku tertawa tapi aku juga menangis. Aku menepis payungnya yang masih berusaha melindungi ku dari derasnya hujan yang turun.


Rasa sesak di dadaku seolah akan membunuhku, aku tidak bisa bernafas!


"Jasmine..." Ayahku mendekat, dia berusaha menyentuhku tapi aku melangkah mundur. Kehadirannya terlalu mendadak. Aku sungguh tidak siap.

__ADS_1


Entah aku harus marah atau justru senang tapi yang pasti hatiku sakit. Hal yang sudah lama aku nantikan dan hari ini akhirnya tiba juga. Hari ketika ayahku datang kembali menemui ku tapi yang aku rasakan sekarang hanyalah rasa sakit yang menghancurkan hatiku yang sudah tidak utuh sejak awal, karenanya...


"Aku gak punya ayah, maaf pak... Anda salah orang!"


Hanya kabur yang bisa aku lakukan. Perutku sakit tapi aku tetap berlari. Aku merasa sekarat karena tidak hanya tubuhku yang kesakitan tapi hatiku juga.


Kenapa tidak ada hal baik yang terjadi pada hidupku? Kenapa aku hanya terus bertemu pada kepedihan?


Aku pulang dengan keadaan basah kuyup dan menangis. Nenek ku yang sedang menyusun kue dagangannya sontak langsung terkejut melihatku membuka pintu dengan tubuh yang terhuyung-huyung.


"Ya Allah, Jasmine!! Kamu kenapa nak?" Nenek ku langsung berlari menghampiri ku, ia memegangi tubuhku yang tidak bisa berdiri dengan tegak karena terlalu syok.


"Nek..."


"Kenapa nak? Apa yang terjadi? Cerita sama nenek, ada yang gangguin kamu? Apa kamu berantem lagi sama mas Gibran?"


Aku tidak memiliki tenaga bahkan untuk membuka kedua mataku tapi samar-samar aku mendengar nenek ku menjerit.


...


Aku merasakan seseorang menggenggam tanganku dengan begitu erat ketika aku perlahan membuka kedua mataku.


"Jasmine, nak..." Suara lembut nenek ku langsung menyambut ku. Perlahan pandanganku mulai menjadi jelas.


Aku melihat wajah khawatir di raut wajah nenek ku yang terlihat lelah. Aku tidak pernah menyadarinya jika nenek ku sudah semakin tua.


Apa jadinya jika aku kehilangannya juga? Aku kembali menangis. Ketakutan itu memakanku.


"Nenek..." dengan sangat erat aku memeluk tubuh nenek ku dan menangis terisak-isak. "Jangan tinggalin aku nek, jangan tinggalin aku juga..."

__ADS_1


"Nenek gak akan kemana pun, nenek janji akan terus sama kamu sampai kamu bahagia."


"Aku gak mau sendirian..."


"Kamu gak akan sendirian." suara mamanya Gibran menyadarkan ku jika aku tidak hanya berdua dengan nenek ku di kamar ini.


Nenek ku perlahan melepaskan pelukannya, lalu mama Gibran melangkah mendekat, ia duduk di tepi tempat tidurku dan membelai rambutku dengan lembut. "Apa yang terjadi sayang?" tanya mama Gibran dengan lembut tapi aku tidak menjawabnya dan hanya terus menangis.


"Ada yang gangguin kamu di jalan, bilang sama papa biar papa hajar orang itu!" Kini papa Gibran menyahut, ia berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir bercampur marah.


Perhatian mereka membuat hatiku terenyuh walaupun tidak ada Gibran disini.


"Gak usah takut, mama sama papa pasti akan jagain kamu." Mama Gibran kembali meyakinkanku.


"A.. Ayah... Aku ketemu ayah..." Akhirnya aku mengatakannya dan ekspresi nenek ku serta kedua orangtua Gibran terlihat tidak terlalu terkejut seolah mereka memang sudah bertemu dengan ayahku sebelumnya. Padahal ayahku menghilang sejak lama dan setiap aku bertanya mereka selalu mengalihkan ku hingga aku lelah untuk bertanya lagi.


"Tapi kemarin dia pura-pura gak kenal aku terus tadi tiba-tiba dia datang samperin aku bilang kalau dia kangen sama aku. Aku gak tau harus gimana menghadapi dia? Aku gak tau harus gimana ..." tangisan ku mulai tidak bisa aku kendalikan.


"Sakit, aku hanya ngerasa sakit disini. Sakit banget... Ayah gak sayang sama aku kan? Dia udah pergi tinggalin aku kan? Harusnya dia gak usah kembali kan?"


Kini tidak hanya aku yang menangis tapi juga nenek ku dan juga mama Gibran.


"Sakit banget mah, hati aku sakit. Kenapa dia dateng lagi setelah ninggalin aku selama ini?" tanya ku sambil memukul-mukul dadaku yang terus terasa sesak.


Mama Gibran dengan sigap memeluk ku erat, ia tidak membiarkanku memukuli dada ku yang terasa pilu. "Kenapa? Kenapa dia ninggalin aku dulu? Kenapa dia datang lagi sekarang? Aku gak tau kenapa... Aku gak tau kenapa dia ninggalin aku... Aku gak tau, aku gak tau apapun... Kenapa dia ninggalin aku? Kenapa dia ninggalin aku selama ini? Kenapa aku gak bisa menerima kedatangannya? Kenapa aku ngerasa sakit ngeliat dia padahal aku kangen... Aku kangen banget sampai rasanya aku bisa mati karena rasa kangen ini..."


"Tolong aku... Aku gak suka perasaan ini, aku gak suka!" Aku menjerit, menangis histeris. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku yang meluap-luap. Kemarahan yang bercampur dengan rasa sakit ini begitu menyiksaku.


***

__ADS_1


__ADS_2