Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Ikatan batin


__ADS_3

Seolah dunia ku hanya berputar-putar pada mereka. Semesta selalu menarik ku kembali ke masa lalu yang sudah susah payah aku tinggalkan.


Juna merangkulku begitu ia menyadari aku dan Gibran berbagi pandangan dalam diam. Ia lantas mengajakku melangkah melewati mereka tanpa mengatakan apapun.


"Maaf Jasmine..." Suara Ruby menghentikan langkahku.


"Maafin aku, Jasmine..." Suara itu terdengar lirih. Begitu mudahnya hatiku terenyuh hanya karena satu kata maaf.


Mereka menyakitiku begitu banyak tapi satu kata maaf langsung membuat ku goyah, apa ini yang sebenarnya aku tunggu selama ini? Untuk bisa benar-benar melepaskan luka ini, apa aku harus belajar memaafkan?


Seperti kata nenek ku, mengikhlaskan segalanya maka hatiku tidak akan sakit lagi.


Tapi apa itu adil?


Bahkan meskipun aku menolak, aku tetap berada disini. Duduk berhadapan dengan Ruby di cafe yang terletak tidak jauh dari supermarket tempat kami bertemu.


Duduk berdua hanya aku dan dia...


Ruby, adik ku...


Aku masih belum bisa menerimanya, hingga hatiku terus menerus terasa sesak walaupun aku tidak menangis, hanya saja ia yang sekarang ini sedang menangis dihadapan ku sambil mengungkapkan penyesalannya membuat ku juga ingin menangis.


Juna menatapku dari kejauhan, dia duduk bersama dengan Gibran di meja berbeda dengan ku dan Ruby.


Jika Ruby telah menyesali segalanya lalu kenapa tidak dengan Gibran? Pria itu masih terlihat begitu keras di ujung sana bahkan ketika mata kami tidak sengaja bertemu, aku masih merasakan kemarahan dari sorot matanya.


Rasanya lucu, dia yang mempermainkan ku tapi dia juga yang marah padaku seolah aku telah mencampakkannya dan menghilang dari hidupnya tanpa permisi padahal dia yang telah membuang ku lebih dulu.


Aku menghela nafas berat, sudah cukup rasanya aku menatapnya. Tidak ada gunanya bagiku terus terjebak oleh kemarahannya yang tidak berdasar.

__ADS_1


"Waktuku gak banyak, kalau kamu cuma mau nangis di depanku. Maaf, aku punya kehidupan yang lebih berguna daripada duduk disini." ucapku tanpa basa-basi lagi.


Ruby yang menangis terisak-isak lantas berusaha menyeka air matanya. "Maaf, karena hamil aku jadi lebih sensitif." ucapnya yang masih kesulitan menghentikan air matanya.


 Sejenak aku berpikir apa dia sedang pamer padaku karena ia hamil anaknya Gibran? Dia sedang pamer karena kehidupannya begitu sempurna, begitu kah?


Aku menghela nafas dan segera beranjak bangun, kesabaran ku tidak pernah bisa sebanyak itu untuk menghadapinya.


"Jasmine kamu beneran gak mau maafin aku? Seenggaknya bukan sebagai adik, tapi sebagai sahabat lama kamu?" tanya Ruby sambil mencekal pergelangan tanganku dan mencegahku pergi menghampiri Juna.


"..." Aku tidak menjawab, aku tidak tahu perasaan ini sungguh sulit aku artikan. Aku tidak ingin berada sedekat ini dengannya tapi aku juga tidak bisa mengungkapkan penolakan ku dengan mudah.


"Jasmine, aku mohon... Kamu bilang, kita udah cukup dewasa, karena itu aku mau kemarahan ini berakhir."


Ruby beranjak bangun, aku yang terus berdiri tanpa bisa benar-benar meninggalkan hanya karena ia memegangi tanganku. Kini Ruby bahkan memegangi kedua tanganku dan menatapku. "Tolong jangan marah lagi, aku tahu aku egois sebelumnya, aku terlalu egois. Maaf, Jasmine... Aku sayang sama kamu, tolong jangan marah lagi..."


Sambil terus menangis, Ruby memeluk ku. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku dan menangis pilu. Hatiku yang semula mengeras perlahan-lahan luluh seiring dengan air mataku yang sudah tidak mampu aku bendung lagi.


Kenapa semesta ini begitu senang mempermainkan ku? Seolah-olah rasa sakit yang selama ini aku genggam sama sekali tidak ada artinya, seolah-olah kemarahan yang selama ini mencekik ku tidak pernah hampir membunuh ku...


Seolah akulah yang jahat disini karena menggenggam semua luka ini sendiri. Begitu egois karena tersiksa sendiri...


Kenapa? Bahkan rasa sakit ini seperti bukan milik ku sepenuhnya karena Ruby menangis seolah ia menggenggam luka yang sama besarnya.


Ruby akhirnya melepaskan pelukannya, ia lalu mengarahkan tangan ku ke perutnya yang sudah membesar. "Sebentar lagi dia lahir, keponakan kamu..."


Hatiku bergetar, aku merasakan perut Ruby bergerak di telapak tanganku yang gemetaran.


"Dia mengenali mamanya... Seorang keponakan sama seperti anak sendiri kan, Jasmine?"

__ADS_1


Aku masih tidak bisa menjawab pertanyaannya tapi sejujurnya aku merasakan kehangatan di dalam hatiku setelah mendengar ucapan Ruby apalagi ia mengatakannya sambil tersenyum dan menatapku penuh harap.


Dia bahkan masih belum lahir dan kemarahan ku pada orangtuanya masih belum reda tapi aku mulai merasakan kasih sayang untuknya...


Bukankah ini konyol?


"Ikatan batin antara keponakan dan tantenya hampir mirip seperti ikatan batin seorang ibu kepada anaknya. Bila kelak dia lahir tolong jangan benci dia, meskipun kamu tidak bisa memaafkan ku, tolong sayangi dia seperti milik mu sendiri."


Air mataku kembali menetes, Ruby mengatakan semua itu seolah ia sedang menyerahkan anaknya padaku.


Dengan cepat aku menarik tanganku, ada perasan takut yang menyusup setelah itu hingga aku tidak bisa terus tetap berada disini dan mendengarkan keinginan Ruby. Keinginan seolah ia akan pergi setelah ini.


Seolah ia akan segera meninggalkan dunia ini...


Aku lebih tahu dari siapapun tentang betapa pedihnya menjadi seorang anak yang tidak memiliki ibu meskipun nenek ku menyayangiku begitu banyak tapi selalu ada sisi kosong yang tidak pernah bisa terisi oleh siapapun karena sisi itu selalu di tempati oleh ibuku yang meninggalkanku setelah melahirkan ku yang terkadang membuatku merasa bersalah karena sudah menjadi penyebab kematiannya.


"Kak, ayo pulang ..." Aku memanggil Juna karena tubuhku membeku, aku ingin pergi dari sini tapi tatapan nanar Ruby menahan ku. Aku membutuhkan seseorang untuk menarik ku pergi dari situasi ini meskipun ketika aku memanggil, bukan hanya Juna yang menoleh tapi juga Gibran.


"Udah selesai bicaranya?" tanya Juna dengan lembut, ia melangkah beriringan dengan Gibran yang mengikuti di belakangnya.


Juna menghela nafas ketika ia berada di hadapanku dan aku tidak perlu mengatakan apapun karena Juna akan selalu mengerti, ia lantas menyeka air mataku dan mengusap puncak kepalaku. "Ayo pulang..." ajaknya dengan lembut sambil menggandeng tanganku.


Kulihat Gibran merangkul Ruby, ia menatapku sesaat sebelum memalingkan wajahnya dan berkata pada Ruby, "Mau pulang sekarang?" suara Gibran terdengar lembut dan Ruby menjawabnya dengan sebuah anggukkan pelan.


Tanpa mengatakan apapun, Gibran membawa Ruby pergi, melangkah melewati aku dan Juna padahal aku yang berniat pergi lebih dulu.


"Kamu pasti menjadi ibu yang baik..." ucapku yang seketika membuat langkah Ruby terhenti.


Perlahan aku menghampirinya. "Aku akan memaafkan mu, tapi berjanjilah untuk menjadi ibu yang baik untuk anak mu dengan begitu aku tidak perlu memiliki apa yang bukan menjadi milik ku." tukas ku sebelum melangkah kembali menuju Juna dan pergi bersamanya, meninggalkan Ruby yang kembali menangis setelah mendengar jawabanku.

__ADS_1


***


__ADS_2