Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Tertelan perasaan


__ADS_3

"Sayang..."


Aku langsung menutup buku diary milik Ruby dan memasukkannya ke dalam laci ketika Gibran memanggil.


Dengan cepat aku menyeka air mataku agar Gibran yang saat ini sudah berada di ambang pintu kamarku tidak menyadari tangisanku.


"Apa?" tanya ku dengan ketus seraya melangkah menghampirinya sebelum pria itu menyusup masuk dan mungkin akan membuatku dalam kesulitan lebih besar.


"Aku udah masak, yuk makan," ajak Gibran sambil menyentuh pergelangan tanganku dan berniat menuntun ku tapi aku dengan tegas menarik tanganku dan melangkah mendahuluinya begitu saja.


Ku dengar Gibran menghela nafas berat, mungkin dia kecewa dan sebenarnya berat juga bagiku untuk bersikap dingin padanya tapi aku harus melakukanya, jika tidak maka aku akan terus jatuh pada jurang rasa sakit yang tidak berujung ini.


Aku sudah berada di meja makan ketika Gibran kembali ke dapur. Ia kemudian meletakkan dua potong ikan kembung goreng, aku lantas mengangkat pandanganku seolah tidak percaya, bukan karena ikan ini sedikit gosong tapi karena aku tahu Gibran tidak suka makan ikan.


"Ada ikan yang udh dibumbuin sama nenek jadi aku goreng aja," ucapnya menjelaskan tapi aku masih tetap menatapnya dan membuatnya semakin gugup. "Gak ada menu lain, kayaknya nenek belum belanja," sambungnya, setelah itu Gibran duduk tepat di hadapanku.


Gibran lantas mengambil piring ku lalu membantuku menyendok nasi, "segini cukup?" tanya Gibran dengan lembut.


"Aku bisa ambil sendiri," ucapku yang langsung mengambil piring ku di tangannya dan meletakan kembali nasi dari atas piringku karena Gibran menuangkannya terlalu banyak sementara nasi yang tersisa tidaklah banyak, itu jelas bukan porsi yang akan membuat Gibran kenyang.


"Kenapa kamu makannya dikit banget?" tanya Gibran dan aku menjawab dengan dingin, "aku gak pernah makan banyak."


Gibran menghela nafas, aku yakin dia serba salah menghadap sikapi ku, jika dia sedang tidak membujuk ku sekarang maka sudah pasti dia akan memarahiku.


Kami mulai makan setelah Gibran menuang semua sisa nasi di tempat nasi ke atas piringnya, tapi pria itu terlihat kesulitan memisahkan tulang ikan di piringannya, itulah kenapa Gibran tidak suka makan ikan karena dia tidak bisa memisahkan tulang ikan dengan benar.


Gibran menengguk banyak air setelah memakan sesuap nasi dengan potongan ikan yang sebelumnya ia pisahkan durinya dengan susah payah tapi aku yakin masih ada duri yang tertinggal hingga ia terlihat kesakitan sekarang.


Aku menghela nafas berat saat melihat wajahnya yang memerah karena ia minum dengan terburu-buru dan nyaris tersedak, dia sangat kacau sekarang hingga aku dengan terpaksa menarik piringnya mendekat ke sisiku lalu memisahkan ikan di piringnya dari durinya hingga bersih.

__ADS_1


"Padahal ini cuma ikan kembung bukan ikan bandeng, bisa-bisanya kamu keselek tulang," aku mencibirnya setelah mengembalikan piringnya.


Gibran lantas berdehem, ia tersenyum malu setelah itu dan bergumam pelan, "makasih sayang."


"Makan yang bener, udah gede masih aja gak bisa makan ikan sendiri!" sekali saja tidak puas untuk ku mencibirnya tapi Gibran sama sekali tidak terlihat mempermasalahkan cibiran sinis yang aku lontarkan padanya.


Kami makan dengan tenang setelah itu, mungkin karena sejak kemarin kami belum makan jadi menu nasi hangat dengan ikan goreng saja terasa begitu nikmat.


Atau mungkin karena ini pertama kalinya kami makan bersama?


Hatiku mulai mengkhianati akal ku lagi, berdenyut-denyut hanya karena kedua mata kami tidak sengaja bertemu.


Aku langsung memalingkan wajahku setelah itu sambil meneguk air ku hingga habis dan setelah itu cepat-cepat aku melangkah memasuki dapur sambil membawa piring dan gelas kotorku lalu meletakkannya diatas wastafel dan mulai mencucinya tapi Gibran meletakkan piring kotor berserta gelasnya di atas wastafel setelah aku hampir selesai walaupun sebenarnya bukan itu yang membuatku kesal melainkan karena posisi ini.


Gibran berada di belakang tubuhku, mencuci piringnya hingga tubuhku seketika membeku apalagi Gibran dengan sengaja mendesak sampai ruang gerak ku sepenuhnya menghilang.


"Bisa tolong kamu minggir?" tanya ku sambil mengeratkan gigiku, jika terus seperti ini aku bisa saja khilaf!


"Udah kelar kan? Minggir!" ucapku dengan ketus sambil melirik sinis. Gibran lantas menoleh dan tersenyum hangat padaku lalu berbisik genit, "kita romantis ya?"


"Ish apaan sih, Gibran?! Udah awas, aku gak mau deket-deket sama orang yang belum mandi dari kemarin kayak kamu!"


Aku berusaha melepaskan diriku tapi tangan Gibran yang berpegangan pada tepi wastafel membuatku sulit bergerak banyak karena semakin aku memberontak semakin tubuh kami bergesekan.


"Mau mandi bareng gak?" tanya Gibran pelan, ia menatapku, tatapan yang membuatku nyaris terhipnotis saat di rumah sakit pagi tadi dan sekarang dia melakukannya lagi.


Kewarasan ku, perasaan ini menelan kewarasan ku, menghabisi ku dengan pesonanya. Bagaimana caranya? Aku ingin kabur dari situasi ini tapi bagaimana caranya?


Sorot mata Gibran mulai bergerak turun, dia menatap bibirku dengan intens lalu kembali menatap kedua mataku setelah itu, setelah memberikan getaran menyengat ke seluruh tubuhku.

__ADS_1


"Makasih..." ucapnya pelan sementara aku masih terdiam, terhipnotis oleh tatapannya yang dalam.


"Makasih karena kamu masih perduli padaku meskipun aku terus menyakitimu selama ini."


Dia meremas hatiku, dia mencoba menarik kembali perasaan yang sedang aku sembunyikan, dia menggapai ku dengan kelembutannya dan membuai ku dengan kehangatannya.


Gibran terlalu berbahaya, baik tubuh dan hatiku, mereka terus menyerahkan diri pada pria yang sepenuhnya sadar telah menyakitiku selama ini, pada pria yang menghancurkan ku berkali-kali, pada pria yang saat ini mendaratkan bibirnya dengan lembut di atas bibir ku.


Itu mungkin bukan ciuman tapi itu adalah kecupan yang berhasil meruntuhkan pertahanan ku yang bahkan belum sepenuhnya selesai ku bangun.


Terlalu mudah, aku mungkin juga terlalu bodoh di matanya sekarang.


"Apa menyenangkan? Menyentuhku sembarang apa membuatmu bangga?" sambil mengepalkan tanganku, aku bertanya dengan suara yang tertahan sisa harga diriku.


"Sayang..."


"Berhenti memanggilku seperti itu, Gibran... Aku sungguh muak!"


Air mata tertahan di pelupuk mataku ketika Gibran perlahan menjauh, dia terlihat terluka hingga ia terus bergerak mundur, memberikan ku celah untuk menjauh darinya dan melangkah pergi memasuki kamarku, mengurung diriku di sana lalu menangis.


Aku menyentuh bibirku dengan tangan yang gemetaran, sialnya aku masih bisa merasakannya seolah kecupan itu menyisakan jejak yang menempel seperti tato yang tidak pernah bisa aku hilangkan.


Ku dengar suara ketukan di pintu kamar ku, aku yang masih bersandar di pintu dapat merasakan Gibran berdiri di balik sana.


"Maaf Jasmine, aku gak akan menyentuh kamu tanpa seijin kamu lagi lain kali..."


Lain kali...


Seolah dia begitu yakin akan mendapatkan kesempatan itu membuat rasa percaya diri ku yang ingin terlepas darinya terus saja terkikis.

__ADS_1


Aku takut tidak pernah bisa melepaskannya, aku takut tertelan perasaan ini...


***


__ADS_2