
Aku tidak akan membalaskan dendam ku...
Jika menyakiti ku adalah kebahagiaan bagi kalian maka aku akan benar-benar menemukan kebahagiaan ku kali ini agar bisa menjadi rasa sakit bagi kalian.
Aku tidak akan mengotori diriku menjadi sama jahatnya dengan kalian dengan balas menyakiti kalian.
Sejujurnya bila bisa aku ingin benar-benar terlepas dari kalian dan menjalani kehidupan ku sendiri seperti yang Juna katakan pada kalian jika aku telah Move on. Aku ingin sekali bisa benar-benar melangkah pergi meninggalkan kalian bersama kenangan buruk itu di masa lalu.
"Jasmine...."
Aku menghentikan langkah ku ketika mendengar Ruby memanggilku. Ia lantas turun dari atas pelaminan dan menghampiriku.
"Kamu masih marah?" tanya Ruby dengan wajah sedih, sayangnya aku tidak bisa lagi terenyuh oleh ekspresi yang telah berkali-kali menipu ku dulu dan pertanyannya langsung membuatku kesal. Dia bertanya dengan begitu mudah seolah yang mereka lakukan padaku itu bukanlah hal besar.
"Aku akan selalu marah..." jawabku dingin.
"Waktu udah lama berlalu, Jasmine. Udah cukup, kita ini keluarga. Sampai kapan kamu mau marah terus?"
Ruby sungguh menguji kesabaran ku, tingkahnya yang bertindak seperti wanita protagonis yang tertindas olehku membuatku muak.
"Keluarga? Kapan ibuku melahirkan mu?"
Air mata Ruby menetes mendengar jawabanku, ia menangis tepat ketika Gibran menghampiri kami. "Tapi kita memiliki ayah yang sama!" tangisnya ambil memeluk Gibran erat.
Hatiku panas, rasa sakitnya masih sama seperti dulu, mungkin lebih sakit sekarang karena mereka sudah resmi menikah dan mereka terang-terangan mempertontonkan kemesraan mereka padaku.
Perlahan aku melangkah mendekat, cukup dekat hingga aku mampu melihat sorot mata Gibran dengan begitu jernih dan mengabaikan Ruby yang masih bersikap tidak berdaya.
Mereka berdua sungguh pasangan yang serasi, Gibran menatapku marah, dia begitu tidak senang karena aku telah membuat istrinya menangis.
"Bilang sama istri kamu, berhenti cari perhatian padaku. Kartu undangan serta foto mesra kalian sama sekali gak ada pengaruhnya bagi ku sekarang. Aku rasa kita udah cukup dewasa untuk saling melupakan."
Kulihat rahang Gibran mengeras, apa dia mau memarahiku seperti dulu saat ia terus memarahiku atas apapun yang aku lakukan. Tidak ada kelembutan sedikitpun dari sorot matanya untuk ku.
__ADS_1
"Aku cuma ingin akrab lagi sama kamu, gimanapun kamu itu kakak aku." Ruby kembali bicara, ia bahkan menyentuh tanganku. Rasanya seperti Dejavu, aku kembali teringat ketika ia menyentuh tanganku dulu dan aku mendorongnya karena begitu marah lalu Gibran membentak ku setelah itu.
Tepat saat aku tahu kalau di mata Gibran, aku dan perasaanku ini tidak ada artinya dibandingkan dengan Ruby. Mereka menyakitiku tanpa rasa bersalah, begitu juga hari ini. Terlihat sangat jelas jika tidak ada sedikitpun penyesalan dari Gibran untukku.
"Menjadi akrab dengan mengirimkan foto mesra kalian adalah hal yang bertolak belakang. Jangan bermain kata dan memperlihatkan kelicikan kalian dengan begitu tegas." Juna tiba-tiba menyambar sambil melepaskan tangan Ruby yang menggenggam tanganku. "Bukan begitu caranya meminta maaf dengan benar." lanjut Juna yang kini telah menautkan tangannya dengan tanganku dan menggenggam ku begitu erat hingga aku mampu merasakan kemarahannya juga.
Juna membantuku mempertegas kekonyolan Gibran dan juga Ruby yang masih mengusik hidupku hingga detik ini dan terus mengorek-ngorek luka lamaku.
"Sudahlah, tidak ada gunanya bicara dengan orang yang keras hati." ucap Gibran yang terlihat marah dan langsung membawa Ruby kembali naik ke atas pelaminan.
"Seolah-olah hatiku mengeras karena orang lain..." Suaraku terdengar pelan. Gibran sudah sepenuhnya berpaling, aku tahu sejak awal tapi aku masih terus saja terluka.
"Sudahlah, jangan habiskan lebih banyak energi mu untuk mereka. Setidaknya mereka tau kalau kamu sudah sepenuhnya berubah." ucap Juna menasehati ku, ia bahkan merangkulku agar aku bisa lebih percaya diri.
"Ya, aku gak akan berhubungan lagi dengan mereka."
"Itu bagus!"
Juna tersenyum, ia kemudian membawaku melangkah keluar dari tempat yang membuat dadaku pengap sejak awal memasukinya.
"Apa itu tandanya hubungan kita akan bergerak maju bukan cuma sekedar hubungan tanpa status seperti ini?"
"Hey Mr. Juna Xander, kita ini bos dan pegawai. Bagaimana bisa kamu gak mengakui aku padahal aku selalu bekerja keras untuk perusahaan mu selama ini?"
"Jangan memutar ucapan ku Mrs. Jasmine Xander, aku sungguh jatuh cinta padamu sejak lama setidaknya jadilah kekasihku dulu, aku tidak akan memaksamu untuk menikah lagi sebelum kamu memintanya sendiri padaku!"
"Bagaimana aku bisa percaya jika kamu sendiri sudah melabeli ku dengan nama belakangmu."
"Agar kamu terbiasa..."
Oh jika saja semudah itu berpaling dan lari ke pelukannya. Aku bukannya tidak pernah mencoba tapi setiap hal yang kami lakukan tidak pernah ada satu momen pun yang mampu menggetarkan hatiku, jangankan bergetar, berdebar pun tidak pernah. Sejujurnya aku merasa kasihan pada Juna, aku tidak pernah lagi meragukan ketulusannya karena dia menemaniku selama ini hanya saja hatiku seperti kering.
Aku terlalu takut untuk jatuh cinta lagi...
__ADS_1
"Jangan bertahan, aku beneran gak tau kapan hatiku akan sembuh." ucapku sambil menghentikan langkahku tepat ketika kami keluar dari dalam ballroom itu.
"Kenapa? Aku masih belum setua itu untuk menyerah mendapatkan hatimu?" tanya Juna sambil menatapku dengan lembut.
Aku kembali tersenyum, sekali lagi Juna berhasil meringankan sedikit beban di hatiku dan setelah itu kami menjalani kehidupan kami masing-masing.
Maksudku kehidupan ku dengan Juna dan kehidupan Gibran bersama Ruby. Itu adalah pertemuan terakhir kami.
***
Aku kembali ke London, aplikasi buatan Juna berkembang dengan begitu pesat, aku tahu dia adalah pria yang luas biasa dan akhirnya seperti impian kami, kami berhasil membawa platform aplikasi membaca novel itu memasuki pasar Indonesia satu tahun kemudian.
Begitu cepat, siapa sangka jika kami menemukan banyak penulis jenius yang tidak terduga walaupun sekarang aku hampir tidak pernah lagi menjadi penulis karena memfokuskan diri menjadi kepala editor.
Dan hari ini adalah hari peresmian kantor kami, rasanya begitu senang karena semua yang kami rencanakan hampir tercapai.
Sekarang aku dan Juna sedang berbelanja, kami akan membuat pesta kecil di kantor nanti bersama tim yang kami bawa khusus untuk mengembangkan platfrom ini disini karena kantor pusat kami sudah cukup stabil jadi aku dan Juna bisa mengontrolnya dari jauh.
Itu benar, aku dan Juna, aku tidak hanya menjabat sebagai kepala editor karena Juna juga akan mengangkat ku sebagai direktur disini.
Karir ku sungguh cemerlang, kecuali urusan asmara ku dan hubungan buruk ku dengan ayahku, kehidupan ku sudah sepenuhnya berubah.
"Daging ayam apa sapi?" tanya Juna menimbang-nimbang.
"Sapi dong..." jawabku dan Juna dengan menurut memasukan beberapa kotak potongan daging sapi. Kami memang berniat membuat pesta sabu-sabu malam ini.
Kami kemudian bergerak maju mendorong troli belanjaan kami yang hampir penuh sambil sesekali bercanda.
"Jasmine..."
Aku dan Juna seketika menoleh dengan kompak ketika ada seseorang yang memanggilku.
Dunia sepertinya memang begitu sempit atau tali jodoh kami belum sepenuhnya terputus karena aku bertemu lagi dengan mereka.
__ADS_1
Gibran dan Ruby, mereka juga sedang berbelanja sama sepertiku, bedanya Ruby sedang hamil besar sekarang tapi bukan itu yang membuatku diam mematung karena Gibran mengunci pandanganku.
***