
Aku duduk diam menatap ayahku yang kini duduk di meja makan bersama dengan nenek ku serta Gibran.
Kecanggungan ini tidak bisa di hindarkan terutama bagi nenek ku, dia mungkin sudah memaafkan tapi dia juga jadi lebih banyak diam karena kehadiran ayahku sementara Gibran mengambil kesempatan ini dengan terus berada di sisiku.
Dia menggenggam tanganku tanpa melepaskannya sedikitpun. Menunjukkan kepada ayahku kalau hubungan kami berdua baik-baik saja sambil memangku Aurora yang terlihat mengantuk dalam pangkuannya.
"Ayah mau apa?" bukan begitu, aku tidak bermaksud bersikap dingin tapi aku tidak bisa bersikap hangat padanya juga, situasi ini membuat dadaku sesak.
Ayah ku tersenyum canggung, dia terlihat gugup hingga ia perlu meredam kegugupannya dengan meneguk segelas air putih.
"Ayah cuma kebetulan lewat terus mampir kesini, kangen sama ibu," jawabnya pelan.
"Ayah kan bukan menantunya nenek lagi."
Pupil matanya membesar, sepertinya kata-kata ku menyakiti hatinya tapi aku tidak bisa melihat nenek ku yang menjadi murung karena kehadirannya.
"Ayah tahu, tapi nenek kamu sudah seperti ibu bagi ayah."
Aku menarik nafas dalam dan melirik ke arah nenek ku yang terlihat cepat-cepat menyeka air matanya yang terjatuh.
"Ayo makan jangan bicara terus," ujar nenek ku sambil menyendok nasi goreng ke atas piring ayahku, nenek ku juga melakukan yang sama untuk ku dan Gibran tapi tidak untuk dirinya sendiri.
"Kalian makan saja, nenek gak lapar," ucap nenek ku yang langsung berlalu pergi memasuki kamarnya, ia juga membawa Aurora bersamanya.
Kini suasana meja makan menjadi hening, tidak ada satupun dari kami yang menyentuh hidangan di hadapan kami.
"Kalian berdua lagi nginep?" Ayahku memulai pembicaraan tapi aku tidak menjawabnya.
"Iya." Sahut Gibran singkat.
"Pantesan beberapa hari ini ayah dateng ke rumah kalian tapi sepi gak ada yang bukain pintu."
__ADS_1
"Sebenernya apa tujuan ayah kesini? Nyariin aku? Mau bawa Rora dari aku?"
Seperti sebelumnya, Ayahku tidak lantas menjawab, dia diam sejenak.
"Jasmine..."
"Aku bahagia, sama Gibran aku bahagia..." aku memotong ucapannya sambil menggenggam erat-erat tangan Gibran demi menahan rasa sakit ku karena kebohongan ini terasa seperti racun yang menyebar ke seluruh tubuhku dengan cepat.
Kenyataannya aku tidak bahagia, aku tidak pernah bahagia...
"Jasmine meskipun waktu diantara kita terbuang banyak tapi kamu tetaplah putri kandung ayah, hanya dengan melihat matamu, ayah sudah tahu kalau kamu gak bahagia. Ayah dapat merasakannya, nak." ucap Ayahku sambil menyentuh tanganku tapi aku langsung menariknya.
"Aku udah gak bahagia sejak ayah pergi dari kehidupan aku, aku semakin gak bahagia sejak ayah tiba-tiba datang di saat udah terlalu terlambat untuk memaafkan. Luka yang ayah liat bukan karena hubungan aku dan Gibran tapi karena ayah."
"Jasmine... Maka itu ijinkan ayah menebusnya."
"Dengan cara mengambil Aurora? Dia satu-satunya kebahagiaan yang aku miliki. Gimana lagi aku harus bilang kalau Rora itu kehidupan aku sekarang?!" Nada suaraku mulai tinggi, dia menjadikan nenek ku sebagai alasannya padahal tujuannya masih saja sama.
Biarpun Ruby bilang jika ayah selalu menyebut ku dalam tidurnya, tapi dia tidak pernah ada untuk ku, dia tidak pernah memberikan kasih sayang yang nyata padaku bahkan hingga detik ini, cinta dan kepedulian yang dia tunjukkan padaku hanya terus menjeratku pada rasa sakit dan ketakutan yang besar.
Ruby, sejak ayah melepaskan ku, sejak dia meninggalkan ku, walaupun rindu, aku tidak pernah ingin dia kembali ke sisiku.
Seharusnya kamu tidak perlu sejauh ini menyakiti ku, Ruby...
Sekalipun, aku tidak pernah ingin ayahku kembali padaku. Jika saja kamu tahu, aku menyayangimu lebih dari aku menyayangi ayah kita, apa kamu masih juga membenciku, apa kamu masih juga ingin menyakiti ku sebanyak ini?
"Itu salah, kami mungkin sedang dalam fase sulit tapi kami gak akan bercerai! Jadi ayah, selagi aku masih menghormati mu, tolong jangan campuri urusan rumah tangga kami apalagi berpikir untuk mengambil Aurora dari kami karena ayah tidak memiliki hak untuk itu." ucap Gibran dengan tegas.
"Ayah, pulanglah... Istrimu, jangan abaikan dia seperti kamu mengabaikan ibu ku. Rora gak akan menjadi seperti Ruby ataupun seperti ku, Gibran bukan ayah yang buruk seperti mu."
Satu hal yang aku tahu dengan pasti sekarang, jika tidak semua orang itu baik, beberapa dari mereka terlalu egois.
__ADS_1
Jawaban ku mungkin menyakitinya, menggores luka yang dalam di hatinya tapi itu tidak seberapa dengan luka yang selama ini membebani hidupku, membebani hidup Ruby.
Luka yang kamu berikan kepada kami yang selalu dengan tulus menyayangi mu tapi kamu membaginya dengan egois.
Aku meninggalkannya, aku membiarkan ayahku menangis sendirian di meja makan sementara aku pergi ke halaman belakang rumah diikuti dengan Gibran.
Duduk diam untuk beberapa saat, tidak ada satupun dari kami yang bicara seolah Gibran mengerti aku akan langsung luluh lantak jika bicara karena sekarang aku sedang menahan rasa sakit itu di ujung tenggorakan ku yang rasanya tercekik.
Gibran kemudian beranjak bangun karena gerimis mulai turun tapi ia datang lagi dengan membawa payung di tangannya lalu memayungi ku.
"Ayah kamu udah pulang." ucapnya yang kini berdiri di sebelahku barulah setelah itu aku mulai menangis.
Aku menundukkan kepalaku, menangis dengan tubuh yang gemetaran, daripada cinta, aku lebih merasa jika ayahku membenciku hingga ia terus-menerus mengusik kehidupan ku.
Gibran tidak berusaha menenangkan ku dengan kata-katanya, ia hanya mengusap kepalaku lalu memeluk ku agar aku bersandar di pinggangnya dan menangis hingga aku lelah.
"Saat aku tahu kalian memiliki ayah yang sama, aku berpikir untuk membantu Ruby agar kamu kembali bertemu dengan ayahmu, dengan begitu mungkin kamu akan bahagia tapi jika aku tahu dia senang menyakitimu seperti ini maka seharusnya sejak awal aku gak perlu menerima tawaran Ruby."
Aku diam dan mendengarkan, ucapan Gibran yang tidak sepenuhnya aku mengerti apa maksud dari ucapannya sementara aku masih sulit menghentikan tangisanku.
"Maaf Jasmine, aku membuatmu terluka lebih banyak... Maaf karena aku tidak bertanya lebih dulu tentang perasaanmu. Aku hanya melihat tanpa tahu bagaimana rasanya menjadi dirimu yang menahan kerinduan sepanjang hidupmu padanya hingga aku lupa dia juga menorehkan luka yang banyak saat pergi dari hidupmu."
"Penyesalan yang terlambat apa masih berarti, Gibran? Apapun alasannya, kamu dan ayahku. Cinta yang selalu kalian bicarakan padaku nyatanya adalah rasa sakit yang perlahan membunuhku. Bagaimana caranya aku harus bicara pada kalian agar kalian berhenti?" Aku bertanya sambil mendongak di akhir kalimat ku dan menatapnya dengan putus asa hingga air mata Gibran perlahan menetes jatuh di atas celak mataku, mengalir membasahi pipiku seakan itu adalah air mataku.
Aku tidak mengerti kenapa baru sekarang kalian seperti ini? Disaat aku sudah menyerah kalian mulai mencekoki aku dengan cinta yang kalian janjikan seolah itu adalah obat dari semua rasa sakit ku, tapi aku mulai overdosis hingga dan terluka semakin parah...
Andai saja kalian tahu, aku sudah sekarat sekarang, sudah terlalu terlambat untuk menyelamatkan ku...
"Apa kalau aku pergi... Kamu akan pasti bahagia, Jasmine?"
***
__ADS_1