Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Hentikan aku jika bisa


__ADS_3

"Aku bukanlah orang yang sabar, Melati...."


Itu terlihat jelas, tergambar dari garis wajahnya yang mengeras dan kedua matanya yang terus menatap lurus ke arah bibirku.


Nafasku tertahan ketika dia mendesak lagi, ibu jarinya sudah menyusup masuk kedalam mulutku sementara sorot matanya bergerak menatap kedua mata ku menantikan sebuah jawaban.


Tapi bagaimana aku menjawabnya bila bibirku tertahan oleh sentuhan nakal ibu jarinya yang bergerak semakin dalam, menekan barisan gigiku hingga rahang ku terbuka.


Aku dapat merasakan deru nafas Gibran menerpa wajahku saat dia mulai mensejajarkan wajah kami.


"Ini kesempatan terakhirmu, Jasmine...." bisik Gibran, nada suaranya yang rendah terdengar begitu sensual hingga tanpa sadar aku menelan saliva ku. Gibran menyeringai, dia terlihat senang melihat reaksiku yang tidak bisa aku sembunyikan.


"Aku akan menghitung sampai tiga... Satu-"


Kedua mataku seketika membulat, Gibran berbohong, dia baru menghitung satu angka tapi bibirnya sudah mendarat di permukaan bibirku, mengecupnya dengan lembut tanpa menyesapnya lalu dia menarik wajahnya menjauh, menghentikan ciuman yang lebih terasa seperti sebuah kecupan singkat dan sialnya perasaan yang aneh menyusup ke dalam hatiku dan membuatku merasa kecewa.


"Kenapa? Kamu mau lebih?" Gibran mempermainkan ku, dia mendominasi ku dengan begitu mudah, memulai permainan yang jelas-jelas menguntungkannya tapi aku yang harus berusaha keras.


Mengaku jika aku menginginkan ciuman dalam darinya bukankah hal yang mudah bagiku.


Kedua mata kami terus bertemu, bergerak gelisah mengikuti satu sama lain dan hanya berpaling ketika Gibran menundukkan wajahnya dan menyentuh tanganku, menautkan jari-jemari kami dan mengecup punggung tanganku.


Dia membuatku gugup sekaligus tegang, dia membakar tubuhku melalui sentuhannya, dia menyulut api gairah dalam diriku melalui sorot matanya, dia membuatku tidak berkutik melalui permainan katanya.


Dia yang berbahaya, dia yang dengan mudah menarik ku, membelai punggungku yang tidak terbalut oleh apapun dan membuka pengait bra-ku hanya dengan satu tangannya.


"Kamu sungguh profesional...."


Gibran tersenyum mendengar pujian sarkas yang aku lontarkan, tapi aku tidak bisa melihat senyumannya lebih lama lagi karena setelah itu dia kembali menciumku hanya saja kali ini lebih dalam, mungkin terlalu dalam hingga lidahnya dengan mudah menyapa lidahku.

__ADS_1


"Hemm...." Gibran mengerang, dia menyapu bibirku dengan tidak sabaran, menarik bibir bawahku dan sedikit menggigit gemas, tapi tindakannya justru membuat tubuhku lemas.


Aku nyaris terjatuh jika saja Gibran tidak merengkuh pinggangku dan akhirnya dia mengangkat tubuhku ke atas wastafel dan setelah itu tanpa melepaskan bibirku, dia membuka kemejanya yang nyaris kering di badannya.


"Balas aku, Jasmine... Jangan buat aku semakin frustasi." Gumam Gibran yang sejenak melepaskan bibirku hanya untuk meminta lebih.


Aku menatapnya yang kini sudah bertelanjang dada di hadapanku. Tubuhnya yang atletis menghipnotis ku, aku dapat merasakan suhu tubuhnya yang terbakar melalui telapak tanganku yang kini berada di kedua bahunya.


"Gibran kita udah-"


"Shssttt!"


Aku tertegun ketika Gibran memotong ucapanku dengan cara meletakkan jarinya di permukaan bibirku yang masih basah karena saliva-nya. Dia lantas menggelengkan kepalanya sebagai tanda agar aku tidak membahasnya.


"Kenapa? Kamu mau kita berhenti disini?"


"Saat aku bilang berhenti makan kamu harus menyudahinya...."


"Senyuman mu terlihat mencurigakan, Gibran."


"Cobalah hentikan aku kalau bisa!"


Nafasku kembali tertahan ketika Gibran kembali meraup wajahku dengan kedua tangannya dan mencium bibirku, dia menekan tengkuk ku dan memperdalam ciuman kami.


Kepalaku pusing, ciuman ini membuatku melayang-layang dan akhirnya pertahanan ku runtuh.


Gibran merobohkannya ketika perlahan aku membalas ciumannya dan tangan Gibran sudah tidak lagi merengkuh wajahku.


Dia membawa kedua tanganku agar melingkar di lehernya sementara tubuhnya bergerak semakin merapat diantara kedua kakiku yang terbuka.

__ADS_1


Tangan Gibran setelah itu mulai bergerak nakal menyusup ke dalam gaunku, membelai pahaku dan terus bergerak lebih dalam hingga aku harus menahan tangannya atau aku akan luluh lantak dibuatnya.


Gibran tidak memaksa, dia tidak bergerak lebih jauh lagi setelah itu meskipun tangannya masih berada di sana dan memberikan sensasi geli yang menjalar ke seluruh tubuhku.


Seperti haus akan satu sama lain, ciuman ini semakin dalam tanpa batasan, menjelajahi setiap celah, menandai setiap inci dengan ujung lidah yang terus bergerak nakal, bertaut dan saling menukar saliva hingga suaranya terdengar berdecak memenuhi ruang kamar mandi yang tidak terlaku besar ini.


Tangan Gibran kembali merengkuh tubuhku, dia memeluk ku erat-erat setelah aku mendorongnya ketika nyaris kehabisan nafas.


"Udah cukup, Gibran," bisik ku pelan.


Nafas kami tengah-tengah, dada kami memompa saling beradu memberikan sensasi menyengat sisa gairah yang nyaris meledak-ledak sebelumnya karena ciuman panas tadi.


Perlahan Gibran melepaskan pelukannya, dia kemudian menurunkan aku dari atas wastafel dengan hati-hati lalu memungut kemejanya yang terjatuh di lantai.


"Jangan lama-lama, sepertinya aku butuh mendinginkan tubuhku lagi kecuali kalau kamu mau kita mendinginkannya sama-sama...."


Aku menelan saliva ku sekali lagi. Gibran memiliki sejuta cara untuk memanfaatkan situasi diantara kami menjadi keuntungan baginya dan sampai detik ini aku masih kesulitan untuk menanganinya.


"Ya udah kamu mandi aja duluan, aku takut di mangsa sama kamu!" tukas ku sebelum melangkah pergi keluar dari dalam kamar mandi atau aku tidak akan pernah bisa keluar dengan damai karena bahkan setelah aku keluar dari dalam kamar mandi, tubuhku masih merasakan sensasi aneh itu.


Oh, sial! Aku ingin lebih....


Aku mengigit bibir bawahku yang masih terasa manis sisa ciuman kami dan ketika aku berbalik, secara bersamaan Gibran keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah yang masih menetes dan bagian terberat dalam pemandangan ini karena Gibran hanya menggunakan jubah mandi.


Dia membuatku terpaku, terpana karena penampilannya yang gagah memancarkan aura sensualitas yang tinggi terlebih ketika pria itu melangkah mendekat.


Gibran bahkan belum terlalu dekat ketika tubuhku sudah bergerak mundur dan akhirnya aku terjatuh di atas tempat tidur.


Dia tidak mengatakan apapun, tapi tangannya bergerak menyentuh dagu ku hingga wajahku terangkat menatapnya.

__ADS_1


Oh Tuhan, imanku tidak sekuat itu untuk mendapatkan cobaan sebanyak ini....


***


__ADS_2