
"Jasmine, jangan coba-coba untuk bahagia, kamu gak di ijinkan untuk itu..."
Kamu hanya tidak tahu kalau kebahagiaan ku telah hilang sepenuhnya di hari ketika kamu mengatakan kamu mencintainya, di hari ketika kamu mempermainkan ku tanpa memperdulikan perasaanku yang terlalu hancur akibatnya...
"Tapi Gibran, sampai detik ini aku masih kesulitan menemukan jawaban kenapa bisa kamu membenciku sebanyak ini, seolah-olah aku pernah mematahkan hatimu."
Jika saja memang takdir yang mengikat kita hanyalah membawa kita pada luka yang pedih tanpa akhir maka aku akan mengambil bagian yang paling banyak jika itu bisa membuatmu merasa lebih hidup.
Aku tidak pernah bisa sembuh dari luka lama ku yang dulu kamu torehkan. Menambahkan luka lain tidak akan membuatku mati.
Sebenarnya Gibran, aku ingin menjadi egois.
Aku ingin melukaimu sebanyak kamu melukai ku tapi aku tertahan cinta ini.
Perasan bodoh yang mengikatku sampai-sampai aku tercekik setiap detiknya.
Kenapa aku tidak pernah bisa benar-benar melepaskan perasaan yang melelahkan ini?
...
Aku melangkah sambil menyeret koperku, Juna ternyata masih berdiri di depan pintu apartemennya seolah menunggu kepergian ku, kedua mata kami bertemu sesaat tapi kami sama-sama saling memalingkan wajah setelah itu sementara Gibran sudah kembali ke mobilnya.
Dia terlihat lebih keras dari sebelumnya, turun dengan tidak sabaran dari mobilnya lalu mengambil koper di tanganku tanpa mengatakan apapun dan memasukkan koperku ke dalam bagasi mobilnya, setelah itu ia kembali memasuki mobilnya.
"Cepetan!" ucapnya singkat nyaris terdengar seperti sebuah perintah. Aku kemudian melangkah memasuki mobilnya, duduk di sebelahnya dan setelah itu mobilnya melaju pergi.
Dalam perjalanan gerimis mulai turun, aku ingin segera tiba dan bertemu Aurora dengan begitu perasaanku mungkin akan menjadi lebih ringan tapi jalanan yang macet menjebak kami.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya semesta sedang rencanakan untuk hidup kami, jalanan ini adalah jalan yang sama tempat aku dan Gibran bertengkar hebat untuk pertama kalinya dulu.
Jalan yang sama ketika Gibran meneriaki ku dan mengatakan padaku untuk tidak mati di hadapannya. Tempat yang membuat retakan besar dalam hubungan kami.
Suara dering ponsel ku berhasil memecah keheningan yang menyiksa ini, menyelamatkan ku sebelum aku benar-benar tenggelam oleh kepedihan yang dibawa oleh kenangan buruk itu.
Dengan segera aku mengangkat panggilan telepon itu yang ternyata dari mamanya Gibran.
"Halo mah..."
"Jasmine, kamu sama Gibran udah sampai mana?"
"Masih di jalan mah, agak macet ini."
"Mama boleh minta tolong gak?"
"Kemarin mama lupa belanja, tolong kamu sama Gibran mampir ke supermarket beliin bahan buat menu makan malam nanti ya..."
Aku melirik ke arah Gibran karena tidak bisa menyetujui permintaan mamanya begitu saja mengingat aku dan Gibran tidak dalam kondisi yang bagus untuk bicara.
"Kenapa?" tanya Gibran menoleh singkat karena akhirnya kemacetan ini mulai senggang.
"Mama minta tolong belanja buat nanti makan malam." jawab ku sambil memberikan ponselku pada Gibran.
Mereka kemudian bicara, aku tidak ingin mendengarkannya dan memilih untuk memejamkan kedua mataku sejenak karena mengantuk, aku terjaga sepanjang malam dan aku masih juga menangis tadi jadi mataku sungguh berat hingga akhirnya aku benar-benar ketiduran.
Aku terbangun ketika merasakan mobil yang aku tumpangi berhenti tapi yang aku lihat Gibran menyandarkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya sementara mesin mobil masih menyala sepertinya ia sama mengantuknya dengan ku jadi aku biarkan Gibran tidur sementara aku turun dan berbelanja sendirian.
__ADS_1
Aku memasuki supermarket sambil terus menguap, rasa kantuk ini membuat kepalaku pusing tapi aku tetap memaksakan diri untuk terus berbelanja, mengambil satu persatu bahan sesuai list yang di kirimkan oleh mama Gibran.
"Pengen tidur..." gumam ku sambil berhenti sejenak karena pandanganku mulai kabur lalu memejamkan kedua mataku dengan posisi tubuh berpegangan pada troli belanja ku tanpa aku sadar aku mulai terlelap dan nyaris terjatuh jika saja seseorang tidak dengan sigap menangkap tubuhku.
"Kamu gila ya? Masa tidur sambil berdiri?!" Suara Gibran yang mengomel mengembalikan kesadaran ku sepenuhnya.
"Maaf..." ucapku sambil berdiri tegak dan menjauh hingga tangan Gibran terlepas dari perutku.
Gibran tidak menanggapi ucapan ku setelah itu, tapi ia segera mengambil alih troli belanja ku sekaligus ponselku untuk melihat list apa saja yang belum aku masukan ke dalam troli belanja ku.
"Jangan tidur sambil jalan!" ucap Gibran memperingatkan dengan ketus.
"Iya!" jawab ku tidak kalah ketus tapi tidak benar-benar mendengarkan karena mataku terus terpejam walaupun tubuhku tetap melangkah sampai akhirnya aku tanpa sengaja menabrak Gibran ketika pria itu berhenti untuk mengambil beberapa sayuran.
"Makanya aku suruh tidur di kamar itu nurut!" Gibran kembali mengomel, tapi aku tidak menanggapinya. Gibran lantas menghela nafas kesal, dengan sedikit kasar Gibran menarik tanganku dan menggandengku meskipun ia belum selesai membeli semua belanjaannya.
Kami lantas menuju kasir, kepalaku terasa berayun, berkali-kali tubuhku nyaris terjatuh karena ketiduran jika saja Gibran tidak dengan sigap selalu memegangi ku.
"Jangan tidur!" bisiknya kesal, aku yang berdiri di belakang tubuhnya lantas menganggukkan kepalaku tapi kemudian menyandarkannya di punggungnya. Jika di hitung-hitung setelah kematian Ruby, waktu tidurku hanya beberapa jam saja dan ini sudah seminggu setelah kematiannya, pantas saja bila aku tidak sanggup menahan kantuk ini.
Aku tidak sepenuhnya terlelap, meskipun aku sulit membuka kedua mataku apalagi karena bersandar pada bahu Gibran terasa sangat nyaman tapi kedua mataku perlahan terbuka ketika aku merasakan tangan Gibran meraih kedua tanganku dan meletakkannya di pinggangnya lalu menggenggamnya dengan satu tangannya agar tanganku tetap berada di pinggangnya.
Dia memegangi ku seolah ia takut aku terjatuh, ia bahkan menarik ku agar jarak kami tidak terlalu jauh.
Perhatian kecil yang Gibran berikan padaku membuat hatiku luluh dengan mudah, bahkan meskipun kata-katanya menyakitiku, sikapnya masih membuatku terbuai.
Ruby, aku harus bagaimana bila cinta yang tidak pernah mati itu kembali tumbuh subur di hatiku meskipun tumbuh beserta durinya?
__ADS_1
***