Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Caranya memandangku


__ADS_3

"Jadi ini Ruby, temen yang suka kamu ceritain?"


"Iya mah..."


Suasana seketika menjadi canggung karena aku dan Gibran menjawab pertanyaan itu secara bersamaan tapi Ruby sama sekali tidak terlihat terbebani justru dia malah tersenyum seolah bangga.


"Ya udah kalian ngobrol aja kalau begitu, biar mama yang masak sendiri." Aku tahu mama Gibran merasakan kecanggungan yang sama seperti yang aku dan Gibran rasakan hingga ia memilih untuk tidak lagi berada diantara kami.


Tapi aku tidak bisa, aku selalu merasa sesak jika berada di antara Gibran dan Ruby. Aku takut mereka akan mengabaikan ku dan asik dengan dunia mereka sendiri seperti hari-hari sebelumnya.


"Gue bantu mama aja." Tukas ku melangkah pergi tapi Gibran mencekal pergelangan tanganku dan menahan ku.


"Ada Ruby masa loe asik sama mama di dapur sih? Kasian Ruby sendirian."


"Kan ada loe! Lagian kalian juga berangkat bareng kesini, kenapa gue harus nemenin kalian? Gue disini karena undangan mama bukan ikut main sama kalian."


"Jasmine jangan salah paham, aku gak sengaja ketemu kak Gibran di kampus pas aku minta formulir buat daftar masuk di sana. Kebetulan kak Gibran mau pulang jadi sekalian aja bareng." jelas Ruby, ekspresinya membuatku merasa seperti gadis jahat yang menyakitinya tanpa sebab.


Sulit bagiku untuk menyembunyikan kekesalanku, faktanya Gibran membawa Ruby pulang kerumahnya membuatku sulit menerimanya apalagi sekarang ia tahu jika Gibran sering membicarakan tentang Ruby. Semua itu membuat nafasku tercekat.


...


Pada akhirnya aku tetap berada di dapur menemani mamanya Gibran. Aku sudah mencoba untuk tinggal bersama dengan Gibran dan Ruby tapi akhirnya selalu sama, mereka selalu asik dengan dunia mereka sendiri dan melupakan jika aku berada diantara mereka.


"Daripada disini cape kenapa kamu gak ikut belajar bareng Gibran sama Ruby?" tanya mama Gibran sambil memotong-motong sayuran yang akan kami olah menjadi masakan.


"Aku kan dateng karena mau masak sama mama. Aku kangennya sama mama bukan sama Gibran ataupun Ruby." jawabku yang berhasil membuat mama Gibran yang bernama Hesti, wanita berusia di awal empat puluh tahunan itu tertawa. Ia kemudian memberikan sayuran yang sudah ia olah padaku dan aku langsung mencucinya.


"Gibran pasti ngoceh kalau dia denger kamu cuma kangen sama mama dan dia gak diitung."


"Biarin ngapain juga kangen sama dia!"


"Yakin nih?"


"Iya lah..."


Mama Gibran terlihat gemas dengan jawabanku yang terus mengelak dengan ekspresi kesal.

__ADS_1


"Seru banget, lagi ngomongin aku ya?"


Aku dan mama Gibran langsung pura-pura diam ketika Gibran tiba-tiba saja memasuki dapur dengan membawa gelas kosong di tangannya. Sepertinya itu adalah gelas Ruby karena ada torehan jejak lipstik tipis disana. Padahal suasana hatiku baru saja membaik tapi Gibran membuat perasaanku kesal dengan mudah.


"Ayo ngaku, jangan mentang-mentang punya topik sendiri, aku gak di ajak-ajak." Sambil membelah jarak antara aku dan mamanya, Gibran berdiri di tengah-tengah kami tanpa ragu.


"Apa sih jangan kepo urusan cewek ya!" ucap ku protes sambil berusaha menggeser tubuh Gibran agar ia menyingkir dari tempat yang semestinya tempat ibunya itu.


"Oh begitu, jadi kamu sama mama mau mengucilkan aku?"


Padahal kamu yang sudah mengucilkan aku lebih dulu, tapi sekarang kamu disini merengek karena aku kucilkan.


Ingin sekali aku mengatakannya pada Gibran tapi aku akan menahan diriku kali ini, terang-terangan menunjukkan kecemburuan ku di depan mamanya Gibran hanya akan membuat mamanya Gibran juga berhenti menyukaiku, seperti kamu yang berhenti menyukaiku dan lebih senang di dekatnya.


"Udah deh jangan ngeribetin! Pergi sana!" ucapku sambil memercikkan air ke wajah Gibran agar ia menyingkir.


"Basah Melati!"


"Siapa suruh ngeribetin!"


Aku masih memercikkan air ke arah Gibran, berharap dia pergi meninggalkan dapur tapi Gibran malah membalas ku.


"Siapa suruh gue gak di ajakan! Ayo ngaku, loe sama mama ngomongin gue kan?"


"Kepedean!"


"Gue pede karena gue ganteng!" Sahut Gibran membuatku sontak berpura-pura jijik karena tingkat narsisnya semakin tidak tertolong, "Huek!"


"Hamil loe! Oh my God, gue belum siap jadi bapak!"


"Mama liat tuh Gibran ngelantur!" aku merengek sambil menunjuk ke arah Gibran sementara mamanya hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan kami apalagi Gibran terus saja memercikkan air ke arah ku dengan brutal.


"Stop Gibran! Baju gue basah!"


"Tinggal salin!"


"Gak bawa baju ganti!

__ADS_1


"Pakai baju mama kan bisa!"


"Mama bantuin aku dong..."


"Udah Gibran, kasian Jasmine..." akhirnya mamanya Gibran turun tangan untuk menghentikan sisi kekanak-kanakan putranya itu. Gibran memang selalu sulit berhenti jika sudah bercanda seperti bocah.


"Mah, anak mama tuh aku bukan dia!" Protes Gibran tidak terima.


Dan aku dengan sengaja memasang ekspresi manja pada mamanya Gibran, "Baju aku basah mah..."


"Ya udah kalian salin sekarang, kamu ganti baju duluan. Jasmine ayo ikut mama ambil baju buat kamu salin." ucap mamanya Gibran yang langsung membuat Gibran memasang ekspresi jengkel apalagi aku dengan sengaja menjulurkan lidahku padanya ketika mengikuti langkah mamanya.


"Awas aja nanti!" bisik Gibran ketika ia melewati ku dan melangkah menuju kamarnya, aku tahu dia kesal sekarang tapi aku lebih kesal lebih dulu. Bukankah ini adil?


...


Mama Gibran memberikan salah satu gaunnya padaku dan aku menerimanya. Ini kali pertamanya aku memakai pakaiannya tapi bukan karena merasa risih, yang aku khawatirkan adalah ukurannya mengingat tubuh mamanya Gibran tinggi dan sedikit gemuk sementara aku lebih pendek darinya dan tubuhku mungil, sepertinya gaun yang diberikannya akan membuatku tenggelam.


"Gibran udah selesai tuh, ganti dulu baju kamu yang basah."


Aku menganggukkan kepalaku dan melangkah ke arah Gibran yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dan sudah mengganti pakaiannya yang basah karena ulah ku.


"Cepet ganti, jangan lama-lama di kamar gue!"


"Kenapa? Loe takut tempat rahasia penyimpanan komik loe gue bongkar!"


"Bukan komik..."


"Terus apa?"


Gibran mendekat dan berbisik, ia membisikan sesuatu yang langsung membuatku memukul bahunya tanpa sungkan. "Jangan gila loe!"


"Shhht..."


"Pantesan modusin gue semalem!" Aku hanya mencubit perut Gibran sebelum melangkah memasuki kamarnya dan membiarkannya meringis.


Kulihat tidak ada yang berubah dari kamar Gibran, dulu saat kecil aku sering menginap dan tidur di kamar ini dengannya dan beranjak remaja aku sudah tidak lagi memasuki kamar ini. Tentunya aku memiliki rasa sungkan dan malu berbeda dengan Gibran yang selalu seenaknya saja masuk kedalam kamarku, dia bahkan masih berani menginap di kamarku semalam.

__ADS_1


Atau mungkin cara Gibran memandangku berbeda dengan caraku memandangnya?


***


__ADS_2