
Waktu berlalu, terlalu lambat hingga membuatku merasa tersiksa setiap detiknya, setiap kali aku melihat kebersamaan mereka.
Aku memasang headset di telinga ku, menutup pendengaran ku dari gunjingan yang tidak ingin aku dengar jika Gibran telah membuang ku, jika posisi ku sudah di gantikan oleh sahabatku sendiri.
Padahal sudah satu tahun sejak Gibran lulus sekolah tapi ia masih menjadi pria terpopuler di sekolah ini karena setiap sudut sekolah membicarakannya, membuatku semakin merindukannya.
Berharap dia juga merindukan ku...
Apa mungkin?
Aku menyeka air mataku yang menetes saat teringat dengannya, rasa sesak di dalam hatiku membuat nafasku juga ikut sesak.
Sedikitpun dia tidak terlihat merindukanku...
Aku melihatnya lagi, entah sudah berapa lama sejak terakhir kali ia menjemput ku. Dia datang hari ini, menunggu di depan mobilnya sambil memandangi ponselnya.
Di sudut hatiku yang terluka, aku berdoa semoga dia tidak melupakan ku ketika Ruby berlari ke arahnya dan tersenyum dengan begitu ceria seolah ia adalah gadis paling bahagia di dunia ini.
Dan aku disini, bersembunyi di perpustakaan yang sepi dan melihat mereka pergi tanpa mencari ku, tanpa menunggu ku.
Mungkin aku sudah di lupakan.
Aku menunggu, aku masih menunggu...
Aku menunggu hari gelap, aku menunggu penjaga sekolah mengusirku dari perpustakaan ini seperti hari-hari sebelumnya. Aku masih menunggu, di tengah keheningan dan lampu yang redup di tengah rasa sepi ku.
"Sekolah sudah mau di tutup, sampai kapan loe mau disini?"
Aku mengangkat pandangan ku, dan menemukan Gibran berdiri di hadapanku.
Aku tersenyum pedih dan memalingkan wajahku, begitu frustasi karena merindukannya sampai-sampai aku dapat melihatnya sejelas ini.
Sekali lagi aku menyeka air mataku, aku merindukannya....
Aku terlalu merindukannya...
"Hey, kenapa nangis?"
Aku menundukkan wajahku, tubuhku rasanya gemetaran. Aku tidak bisa mengatakan apapun selain menangis dan menangis. Kenapa kamu begitu jelas sampai aku mampu merasakan sentuhan tanganmu yang mengusir rasa sepi ini.
Mimpi ini begitu menakutkan, aku takut untuk bangun dari mimpi ini karena aku ingin tetap seperti ini. Aku ingin mendapat perhatianmu...
"Melati..."
Bukan Jasmine tapi melati.
Dia sedang marah, dia marah padaku bahkan di dalam mimpi ini dia masih marah padaku.
"Maaf... Maaf Gibran..." dengan tubuh yang gemetaran aku meminta maaf padanya dan dia memeluk ku dengan begitu erat.
__ADS_1
"Maaf...." Aku tidak dapat menghentikan air mataku, tubuhku tidak mau berhenti gemetaran bahkan saat aku membalas pelukannya.
Pelukan yang sangat aku rindukan, pelukan yang sangat aku butuhkan...
"Gue kangen, Jasmine... Gue kangen banget sama loe..."
"Kalau kangen kenapa loe gak pernah dateng? Kalau kangen kenapa loe gak pernah hubungin gue lagi? Gibran, loe jahat... Gue kangen banget, gue nungguin tapi loe lupa sama gue... Loe lupain gue. Maaf... Gue minta maaf, jangan pergi lagi, jangan jauhin gue lagi..."
Pelukan yang Gibran berikan terasa sangat hangat, dia semakin erat memeluk ku dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak membalas pelukannya sama eratnya.
"Maaf Jasmine... Maaf..."
Seperti dua orang bodoh, kami terus berpelukan seolah kerinduan itu masih belum terbalaskan. Menikmati waktu yang bergerak lambat setiap detiknya, menebus waktu yang sudah terbuang saat berjauhan.
Hubungan kami, meskipun ini mungkin hanyalah mimpiku, tapi aku ingin hubungan kami membaik seperti ini.
***
Aku membuka kedua mataku, mimpi itu terasa nyata hingga aku harus menyeka air mataku agar aku dapat melihat dengan jelas dan wajah pertama yang aku lihat saat pandangan ku mulai jelas adalah wajah Gibran.
Wajah pria yang sangat aku rindukan hingga aku memimpikannya dengan sangat jelas atau mungkin itu bukanlah mimpi?
Tangan hangat Gibran perlahan terulur menyentuh wajahku, dia tersenyum lembut padaku dan kedua matanya terlihat sembab.
"Loe nangis sampai pingsan... Maaf..."
"Gue di rumah sakit?" Tanya ku saat melihat selang infus menempel di pergelangan tanganku.
"Gue panik jadi gue bawa loe ke rumah sakit."
"Nenek dimana?"
"Gue gak kasih kabar nenek soalnya takut nenek kaget. Dokter bilang loe cuma kelelahan jadi gak perlu sampai nginep."
Rasanya masih begitu canggung walaupun sebelumnya kami menangis sambil berpelukan dengan sangat erat mengungkapkan rasa rindu yang selama ini tertahan, tapi jarak itu masih sangat terasa hingga aku tidak bisa banyak bicara seperti aku yang biasanya.
Aku sadar, saat terluka aku jadi tidak banyak bicara dan sepertinya aku masih belum sepenuhnya sembuh.
"Loe mau makan?" tanya Gibran.
"Nanti aja makan di rumah. Gue mau pulang."
"Gue panggil dokter dulu buat periksa elo sebelum pulang."
Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawabannya. Gibran kemudian melangkah keluar dari dalam ruangan dan tidak lama kemudian ia kembali bersama dengan seorang dokter.
Sedetikpun Gibran tidak melepaskan tangan ku ketika dokter memeriksa ku.
Haruskah aku melepaskan luka ini sekarang dan menerima kehangatannya lagi?
__ADS_1
"Semuanya sudah stabil, tapi saya sarankan untuk pasien lebih banyak istirahat saat nanti di rumah."
"Terima kasih, Dok..."
Dokter itu kemudian keluar dari dalam ruangan tempat ku di rawat dah perawat membantuku melepaskan jarum infus yang menusuk pergelangan tanganku.
"Sakit ya?" Tanya Gibran sambil menyentuh tanganku dimana perban bekas infusan terpasang.
"Gak apa-apa, segini aja gak akan buat gue mati."
"Loe masih marah sama gue?"
"Ya?"
Gibran perlahan berlutut, ia mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wajahku lebih jelas lagi yang saat ini duduk di sofa ketika bersiap memakai tas ku.
"Jangan marah lagi, please..." ucap Gibran lagi memohon.
Rasanya ingin sekali aku mengatakan padanya untuk tidak mengabaikan ku ketika ada Ruby. Aku ingin mengatakan kepadanya kalau aku merasa tersingkirkan tapi lidahku begitu kelu.
Sepertinya aku terlalu takut untuk menyakitinya hingga aku terus menerus menyakiti diriku sendiri.
"Yuk pulang..." ajak ku yang mencoba mengabaikannya tapi Gibran tidak mengijinkan ku beranjak. Ia memegangi kedua tangan ku dan menahan ku.
"Gak sampai kita baikan..."
Kamu tidak tahu rasanya, Gibran... Saat kamu seperti ini, kamu seperti membuka harapan yang begitu besar untuk ku, yang membuatku ingin bergantung padamu seperti sebelumnya.
Tolong jangan sakiti aku lagi...
"Ok!"
Senyuman di bibir Gibran akhirnya terukir, ia kemudian memeluk ku sekali lagi.
"Gue kangen banget sama loe, Jasmine... Please bilang kalau loe juga kangen sama gue."
Sambil menarik nafas dalam, aku membalas pelukannya dan berkata, "gue juga kangen sama loe..." jadi tolong jangan menjauh lagi.
Gibran kemudian melepaskan pelukannya, ia tersenyum dan menyeka air mataku sebelum akhirnya beranjak bangun.
Sambil menggandeng tanganku, Gibran mengajak ku keluar dari rumah sakit. Ia membukakan pintu mobilnya untuk ku saat aku baru akan membuka pintu belakang mobilnya tapi ia telah lebih dulu membukakan pintu di kursi depan.
"Gue bukan supir, duduk di depan..."
Rasanya aneh, seperti menemukan tempat ku, perasan hangat itu kembali mengisi relung hatiku saat duduk di kursi depan tepat disebelah Gibran.
Di tempat yang seharusnya sejak awal adalah milik ku...
***
__ADS_1