
Juna mengantarku pulang tapi tidak ke rumah ku melainkan ke rumah Gibran. Kedatangan ku dengan Juna berhasil membuat mama Gibran yang menungguku di depan gerbang rumahnya terkejut.
"Dimana Gibran?" tanya mama Gibran yang masih terlihat kebingungan setelah aku menyerahkan semua barang pesanannya.
"Katanya ada urusan mah..." jawabku yang masih berusaha melindungi Gibran padahal bisa saja aku mengatakan padanya jika Gibran lebih memilih pergi kencan dengan Ruby daripada menemaniku berbelanja.
"Aku pamit pulang ya mah..." tukas ku yang langsung memberi salam dan mengajak Juna pergi bersamaku.
"Loh gak mau disini aja, masak bareng mama, lagian udah sore kan, nanggung kalau pulang." cegah mama Gibran, ia meninggalkan barang belanjaan yang aku beli di depan gerbang rumahnya dan melangkah menghampiriku yang baru akan menaiki motor Juna.
"Gak mah, kayaknya malam ini aku gak bisa ikut acara makan malam." aku masih berusaha tersenyum walaupun hatiku menjerit pedih.
Mama Gibran terlihat kecewa sekaligus sedih tapi aku mungkin tidak akan sanggup menghadapi Gibran malam ini.
Akhirnya aku tetap pergi bersama dengan Juna, kepergian ku bertepatan dengan kedatangan Gibran tapi aku tidak ingin menoleh ke arahnya, aku takut menemukan Ruby ada di dalam mobilnya dan hanya akan membuatku semakin terluka.
***
Aku tiba di rumah ku tidak lama setelah itu, turun dari atas motor Juna lalu berusaha membuka helmnya. Masih dengan memakai helm di kepalanya, Juna membantuku membuka pengait helm ku.
"Kamu bawa dua helm sekarang?" ucapku untuk mengurangi rasa gugup ku karena aksi Juna.
"Ya, aku selalu menantikan hari ketika kita bertemu lagi jadi aku selalu membawa dua helm setelah hari itu jadi meskipun kamu memintaku membawamu pergi jauh, aku gak akan takut kena tilang." jawab Juna setelah berhasil melepaskan helm di kepalaku. "Nih buat kamu..." ucap lagi sambil memberikan ku helm berwarna putih sementara ia memakai helm berwarna hitam.
"Buat aku?"
"Kita udah resmi jadi teman kan?"
Oh, aku hampir lupa pada janji itu tapi Juna malah menganggapnya seperti janji yang istimewa. Dia adalah pria yang baik, aku dapat melihat dari senyumannya yang tulus, "Ya..." jawabku tersenyum tipis.
"Jadi udah boleh minta nomor hp kamu?"
Juna sungguh gigih, aku kemudian memberikan ponselku padanya agar ia bisa memasukan nomornya di sana tapi ia melirik ku sejenak karena melihat layar kunci sekaligus wallpaper ponselku adalah fotoku berdua dengan Gibran.
__ADS_1
"Kalian sedekat ini ternyata..." komentarnya terlihat kecewa.
"Kami kenal sejak kecil." jawabku tersenyum, jika ingat seumur hidupku selalu di habiskan berdua dengan Gibran rasanya seperti ada kehangatan yang masuk, menyusup ke dalam hatiku yang dingin.
"Tapi kalian gak tegur sapa tadi di mall."
Sedikit terkejut karena Juna menyadari jika kami berpapasan dengan Gibran di eskalator tadi.
"Ada saatnya kami muak, tapi kami akan selalu berakhir bersama..." jawabku yang masih berusaha tersenyum walaupun sakit.
"Jadi gak ada kesempatan untuk ku?"
"Ya?"
"Menjadi tetanggamu..." jawab Juna setelah memasukkan nomor teleponnya di ponselku dan mengembalikannya padaku.
"Aku akan menghubungi mu jika ada rumah yang mau di jual di sekitar sini..."
"Aku akan menunggu jadi jangan lupa hubungi aku."
Sambil memeluk helm pemberian Juna, aku melangkah memasuki halaman rumah ku, sejujurnya aku sedikit heran dengan kondisi pintu rumah ku yang terbuka karena biasanya selalu tertutup rapat.
Aku belum melangkah memasuki rumah ku ketika aku melihat nenek ku sedang bersama dengan ayah ku. Mereka terlihat mengobrol serius jadi aku memilih berdiri di depan satu pintu yang tertutup dan mendengarkan diam-diam.
"Jangan Gila!" Suara nenek ku terdengar tinggi, aku tidak tahu jika nenek ku bisa marah sampai seperti itu, reaksinya membuatku khawatir akan kesehatannya karena ia memiliki riwayat hipertensi.
"Saya tahu kalau saya sudah melakukan banyak kesalahan..."
"Kamu tahu itu dan kesalahan mu itu sulit untuk dimaafkan dan sekarang kamu memintaku membujuk Jasmine agar mau memaafkan mu? Kemana semua akal sehatmu pergi, Dito? Kamu tidak hanya menghancurkan hidup putriku tapi sekaligus cucu ku." Nenek ku terus berteriak meluapkan emosinya.
"Belum puas kamu menyakiti putriku? Dia mati karena kamu selingkuh saat dia lagi hamil besar!" Aku menutup mulutku rapat-rapat, terlalu terkejut mendengar semua ini.
Air mataku kembali menetes, menyesali kemarahan ku kepada nenek ku karena ia menyembunyikan fakta jika ayahku tidak melepaskan sepenuhnya.
__ADS_1
Nyatanya ayahku adalah pria yang sangat jahat, tidak hanya padaku tapi juga pada ibuku...
Ibuku yang malang...
"Kamu membuatnya depresi saat mengetahui selingkuhan mu hamil padahal dia sendiri sedang hamil Jasmine! Setiap hari putriku yang malang itu bermimpi buruk, menangis histeris setiap malam karena pengkhianatan yang kamu lakukan dan sekarang kamu membuat cucu ku mengalami hal yang sama."
"..."
"Jika kamu memang tidak sayang dengan mereka ya sudah... Berhenti muncul, berhenti terus-terusan menyakiti Jasmine! Berhenti melukai keluargaku... Tinggal lah dengan tenang bersama keluarga yang kamu pilih, keluarga yang kamu bangun setelah menghancurkan hidup putri dan cucuku... Tolong berhenti datang dan pergilah seperti saat kamu pergi tanpa pernah menoleh, meninggalkan anak dan cucuku... Pergilah, aku mohon... Aku mohon padamu, Dito ... Untuk seorang wanita tua yang pernah menganggap mu seperti putra ku sendiri, aku mohon padamu... Aku mohon..."
Aku sudah tidak tahan lagi, aku keluar dari tempatku bersembunyi. Mendengar nenek ku yang menangis lirih sungguh menyayat hatiku.
"Tolong tinggalkan kami, Anda sungguh tidak berhak berada disini..." ucapku yang sontak membuat nenek serta ayahku terkejut karena kehadiranku.
"Jasmine..." dengan wajah yang basah dengan air mata, ayahku melangkah mendekatiku tapi aku menolak untuk ia dekati sampai akhir aku berlutut.
"Jasmine!" Nenek ku menjerit melihatku.
Helm yang aku pegang jatuh menggelinding di lantai sementara lutut ku berdarah, tapi rasa nyeri di lutut ku sama sekali tidak sebanding dengan luka dalam hatiku.
"Aku mohon padamu... Tolong jangan datang lagi... Tolong... Aku mohon..."
"Jasmine, ayah sungguh salah ... Ayah minta maaf, Jasmine." ucap Ayahku yang juga ikut berlutut. Ia menangis begitu menderita karena tidak berani memelukku.
"Aku akan memaafkan mu jika saja kamu bisa membuat ibuku hidup lagi..."
Ayahku tertegun, ia terlihat tidak berdaya menghadapi permintaan ku.
"Jasmine, tolong beri ayah satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua ini..."
"Kalau begitu kembalikan ibuku ... Kembalikan hidup ibu ku pada kami, pada ku... pada nenek ku..."
"Itu mustahil nak..."
__ADS_1
"KARENA ITU BERHENTI!!! STOP... JANGAN DATENG LAGI KESINI! AKU UDAH MENDERITA SEUMUR HIDUP KU, aku mohon... Aku mohon..."
***