Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Tersiksa batin


__ADS_3

...Gibran POV...


.............


Aku menghitung satu-persatu kesalahan yang sudah aku perbuat padanya, tapi kesalahan itu sudah tidak bisa lagi terhitung karena sudah terlalu banyak.


Karena sepanjang hidupku, aku hanya menyakitinya...


Jasmine...


Aku memeluk foto wisudaku yang berfoto bersama dengannya, dengan Jasmine-ku.


Dia tersenyum ceria, senyuman yang sudah tidak pernah lagi terlihat sekarang sejak aku mematahkan hatinya.


Aku menangis, aku tidak bisa berhenti menangis hingga aku harus meringkuk di lantai yang dingin, di kamarku yang gelap, menahan rasa sakit di dadaku yang seolah akan segera merenggut nyawaku hingga aku harus memeluk erat-erat fotomu, memastikan bila aku mati sekalipun, aku masih tetap sama, perasaan ini masih sama.


Sekalipun tidak pernah berubah, Jasmine...


Aku membuat kesalahan di masa lalu, tapi aku hanya mencintaimu, aku selalu mencintaimu....


"Jasmine maaf... Maaf-"


Aku tidak tahu bagaimana caranya hidup tanpamu lagi?


Bagaimana caranya aku hidup tanpa kamu, Jasmine?


Jika kamu adalah kehidupan ku...


Jika kamu adalah segalanya bagiku...


Kenapa baru sekarang aku sadar jika aku hanya terus menyakitimu selama ini?


Jika aku memang pantas menerima semua rasa sakit ini bahkan jika kamu membenciku sepanjang hidupmu...


Asalkan kamu bisa kembali bahagia,


Asalkan kamu bisa kembali tersenyum seperti dulu,


Aku bersedia meski harus tertelan rasa sakit dan kepedihan ini, aku bersedia.


Jadi Jasmine, sayang ku...


Kamu harus kembali bahagia.


...----------------...


...Jasmine POV...


......................


Musim hujan tidak pernah terasa menyenangkan bagiku karena hatiku patah lagi di saat musim ini datang.


Aku masih ingat dengan sangat jelas layaknya baru seperti kemarin ketika Gibran mengatakan jika dia mungkin mencintai Ruby, dan sekarang aku duduk disini lagi, sendirian saat Gibran akhirnya menyerah.


Jika sejak awal aku lah pemilik hatimu kenapa kamu memilihnya, Gibran?


Jika sejak awal kedekatan kalian hanyalah sandiwara lalu kenapa kamu berdiri di sisi Ruby ketika aku marah padanya?

__ADS_1


Kenapa?


Kenapa bukan aku yang kamu peluk saat itu padahal akulah yang paling hancur?


Aku hancur melihatmu hanya menatapku menggenggam luka itu sendirian.


Kamu bilang padaku jika dia juga korban seperti ku, tidak Gibran... Akulah yang paling menderita sejak awal.


Ruby mungkin berhasil mencuri hatimu sebelum kita berdua berhasil mengungkapkan perasaan satu sama lain dan itu membuatku merasa semakin terluka sekarang.


Waktu yang sudah terbuang tidak bisa diulang kembali, sekarang aku hanya bisa mencoba memunguti satu persatu harapan yang luruh selama ini, berharap aku masih bisa bertahan melawan rasa sakit karena kehilangan mu sekali lagi.


Jika bisa aku ingin membuang hatiku,


Jika bisa aku ingin melupakan mu,


Jika bisa...


Jika saja aku bisa...


Kenapa begitu sulit melepaskan mu?


Gibran, kenapa kamu mengambil sepenuhnya hatiku?


Bahkan dengan semua rasa sakit yang sudah kamu berikan padaku, aku masih mencintaimu...


Aku harus bagaimana untuk melanjutkan hidup ini?


Tanpamu sekali lagi...


...----------------...


Awan mendung menghembuskan angin yang kencang menerpa tubuhku yang masih setia duduk sendirian di bangku taman belakang rumah nenek ku.


Aurora sedang tidur setelah dia lelah bermain, meskipun terkadang ia tiba-tiba menangis seperti mencari seseorang.


Sepertinya bukan hanya aku yang merindukan Gibran tapi juga Aurora.


Aku menghela nafas karena walaupun berat tapi inilah yang terbaik bagi kami berdua walaupun hatiku hancur sedemikian rupa.


"Jasmine..."


Aku menoleh ketika nenek ku datang menghampiriku dan dengan cepat aku menyeka air mataku dan tersenyum padanya, bersikap seolah aku baik-baik saja.


"Rora masih tidur, kenapa kamu gak ikut istirahat, Jasmine?" tanya nenek ku dengan lembut.


"Aku gak ngantuk nek," jawabku berbohong karena semua orang pasti tahu jika kantung mataku sudah menghitam karena aku kurang tidur.


Aku selalu menangis hampir sepanjang malam dan akhirnya ketiduran ketika pagi sudah mulai menjelang dan setelah itu Rora selalu sudah bangun hingga aku juga ikut terbangun.


Nenek ku tidak mengatakan apapun lagi setelah itu tapi dia menggenggam tangan ku begitu erat dan sesekali membelaiku hangat.


Dia membiarkan ku bersandar di bahunya yang sudah renta.


"Nek,"


"Ya nak?"

__ADS_1


"Keputusanku gak salah kan?"


"Hati kamu bilang apa?"


"Aku kangen Gibran, tapi rasa sakitnya terus bertambah..."


"Semoga waktu menyembuhkan segalanya..."


"Gimana kalau waktu gak bisa buat aku berhenti mencintainya, apa aku masih bisa sembuh?"


"..."


...----------------...


Persidangan pertama perceraian aku dan Gibran akhirnya di mulai, untuk pertama kalinya, aku kembali bertemu dengannya.


Kedua mata kami saling menatap tapi kami tidak bisa saling menyapa.


Dan itu membuatku merasa tercekik.


Ayah Gibran duduk bersamaku, dia menjadi pengacara ku sementara Gibran tidak di dampingi oleh siapapun.


Kami menikah dengan terburu-buru, mengejar sisa hidup Ruby dan sekarang waktu terasa begitu cepat berlalu.


Persidangan sudah di mulai dan hakim memutuskan untuk mengadakan mediasi hingga perceraian ini harus tertunda karena baik aku dan Gibran, kami berdua hanya menangis tanpa bisa mengatakan apapun dalam persidangan sehingga hakim mengatakan masih adanya kemungkinan untuk tetap bersama.


Harapan yang mereka sebut-sebut tidak bisa aku temukan, aku tidak menemukan apapun selain rasa sakit ketika kami duduk bersama di dalam sebuah ruangan yang sama selama proses mediasi.


Gibran sendirian dan ayah Gibran yang menjadi kuasa hukum ku memilih untuk meninggalkan kami berdua.


Aku melihat Gibran semakin kurus, dia kehilangan cahaya dalam dirinya.


Apa sesakit itu berpisah dengan ku?


Gibran menyeka air matanya cepat-cepat saat dia terus menundukkan kepalanya tanpa mau menatapku lalu setelah itu barulah dia tersenyum padaku.


"Gimana kabar kamu?" tanya Gibran dengan suara yang terdengar bergetar.


"Gimana kabar kamu?" mengabaikan pertanyaannya, aku balik bertanya padanya.


"Aku..." Suaranya tersendat, dia menggigit bibir bawahnya dan membuangnya pandangannya jauh dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.


"Aku merindukan mu, Jasmine..." ucapnya setelah itu ia tidak sanggup lagi menahan air matanya. Ia menangis sambil menundukkan kepalanya.


"Aku juga..." ucapku pelan yang seketika membuatnya mengangkat pandangannya dan kembali menatapku.


"Aku merindukan mu, Gibran..." sambung ku dan Gibran langsung beranjak bangun lalu menarik ku ke dalam pelukannya.


"Jasmine, aku gak bisa hidup tanpa kamu... Aku gak bisa hidup tanpa kamu dan Rora, maaf ... Maaf Jasmine-"


Betapa pedih hatinya, betapa tersiksanya batinnya. Aku membalas pelukannya erat-erat dan menangis terisak-isak bersamanya.


"Gibran maaf, aku gak bisa... Aku gak bisa, Gibran!"


Tangisan Gibran semakin pilu saat aku menolaknya, lalu perlahan dia melepaskan pelukannya, tarikan nafasnya terlihat berat. Dia sungguh menyiksa ku dengan menjadi seperti ini hingga aku memilih untuk pergi meninggalkannya sendirian.


"Pah..." Aku memanggil ayah Gibran yang sejak tadi menunggu di luar dan dia langsung menghampiriku lalu kemudian dia memeluk ku ketika aku mulai menangis lagi.

__ADS_1


"Pah, tolong bilang sama Gibran untuk lanjutin hidup dia, bilang sama dia jangan begitu. Bukan begini maksud aku, bukan begini... Aku gak bisa ngeliat dia jadi begini, aku gak bisa pah..."


***


__ADS_2