
Mungkin sudah waktunya aku mengikhlaskan segalanya, melepaskan semua luka dan rasa sakit ku dan hidup menjadi Jasmine yang baru.
Rasa kehilangan itu masih ada, perpisahan ku dan Gibran akan selalu menyakitkan meskipun ini bukanlah yang pertama kali terjadi tapi mungkin kali ini aku tidak akan lagi kembali padanya.
Melanjutkan hidup...
Caranya hanya bertahan menunggu sisa umurku terpakai habis bersama dengan Aurora.
Aku tidak berpikir akan jatuh cinta lagi pada orang lain karena aku masih tidak bisa melepaskan perasaan ku pada Gibran.
Tapi mungkin waktu akan berhasil menyembuhkan luka ini jadi aku hanya bisa berpegangan pada itu agar tetap tegar.
...
Kamar ini terasa kosong padahal hanya sekali Gibran tidur di kamar ini sebelum kami resmi bercerai tapi dia seolah meninggalkan jejak yang begitu banyak disini.
Aku bahkan masih bisa merasakan pelukan hangatnya ketika akhirnya dia menyetujui untuk bercerai denganku, terasa pilu merobek hati tapi aku tidak yakin kami akan menemukan bahagia jika kami tetap memaksakan untuk bersama.
Sambil menarik nafasku, aku membuka kembali buku harian Ruby yang sebelumnya baru beberapa halaman ku baca.
Malam masih begitu panjang, Rora tidur dengan nenek ku malam ini karena nenek ku bilang mungkin aku butuh waktu untuk sendirian.
Aku memang membutuhkannya, aku ingin mengetahui apa yang tidak pernah aku ketahui selama ini, semua hal yang terjadi antara aku, Gibran dan juga Ruby.
"Pada akhirnya aku berhasil, Gibran setuju dengan rencanaku. Dia mulai bersikap manis padaku ku di hadapan Jasmine, dan Jasmine terlihat tidak menyukai itu, untung saja Jasmine tidak pernah mengatakannya secara langsung hingga aku menjadikan kesempatan itu untuk lebih dekat dengan Gibran. Cukup dekat hingga aku menjadi bagian dari persahabatan mereka.
Hari itu pertama kalinya aku datang ke rumah Jasmine, dan di hari itu juga aku tahu jika bukan Jasmine yang sebenarnya anak haram tapi aku...
Hatiku berdenyut-denyut nyeri melihat foto ayahku bersanding dengan seorang wanita cantik, di foto itu terlihat jelas jika itu adalah foto pernikahan.
Jadi selama ini aku salah..."
Aku menarik nafas dalam, pasti berat bagi Ruby mengetahui semua itu dan hari itu dia masih terlihat ceria seolah fakta itu tidak menyakitinya.
__ADS_1
Sedikit berharap, semoga di halaman selanjutnya dia berhenti membenciku...
"Memanipulasi Gibran cukup mudah, cintanya pada Jasmine itu berlebihan hingga ia selalu menuruti apa kataku dengan iming-iming Jasmine menjadi miliknya.
Kami menjadi semakin dekat tapi kemudian Gibran menemukan fakta jika aku dan Jasmine memiliki ayah yang sama."
......................
...Flashback on...
.......
...>>> Ruby POV<<<...
Wajah Gibran terlihat lain, sama seperti ayahnya yang menatapku dengan dingin, aku melihat amarah terpancar kepadaku, tapi apa salahku?
Tanpa sengaja kami bertemu di bandara, saat itu aku sedang menjemput ayahku yang baru pulang dari dinas luar kota, sementara Gibran juga sedang menjemput ayahnya yang baru kembali dari kota yang sama.
Kedua ayah kami kebetulan berada di pesawat yang sama. Awalnya aku senang karena mereka keluar berbarengan sambil berbincang karena dengan begitu aku bisa meminta Gibran memperkenalkan ku pada ayahnya begitu juga sebaliknya tapi reaksi mereka sama sekali tidak seperti yang ku bayangkan dan aku baru menyadari jika ayahku terus memasang ekspresi yang terlihat seperti seseorang yang sedang menahan malu.
Ia tidak mengatakan apapun tapi dia melangkah lebih dulu hingga aku langsung mengikutinya.
"Kakak kenapa sih?" tanya ku yang masih berusaha bersikap semanis mungkin meskipun aku mulai jengkel dengan sikapnya.
"Sejak kapan?"
"Ya?"
Aku mengehentikan langkahku ketika Gibran tiba-tiba berbalik dan bertanya dengan sorot mata tajam.
"Maksud kakak apa?"
"Sejak kapan loe tau kalau loe sama Jasmine punya ayah yang sama?"
__ADS_1
Tubuhku seketika membeku, rasanya seperti aku baru saja ketahuan melakukan kesalahan besar.
"Kak, aku..."
"Apa tujuan loe?" Gibran mulai mendesak, ia membuatku harus melangkah mundur karena takut.
"Kalau tujuan loe deketin Jasmine cuma buat dia makin menderita, gue pastiin loe gak akan pernah ketemu bahagia!"
Sebanyak itukah?
Perasaan mu untuknya?
Cintamu padanya?
Air mataku menetes, aku merasa dadaku di penuhi kabut hingga terasa sesak. Sakit sekali...
Aku berpikir kami sudah cukup dekat selama ini,
aku berpikir Gibran mungkin akan melepaskan perasaannya pada Jasmine, tapi yang sebenarnya terjadi, Gibran tidak pernah benar-benar menganggap ku penting.
"Loe sengaja kan? Loe sengaja selalu bicarain papa loe di depan Jasmine? Sengaja kan loe! Jawab gue, jangan diem aja kayak orang bisu!"
Setajam itu ucapannya, kemarahannya padaku bukankah berlebihan?
Jika itu bukanlah Jasmine, jika yang menjadi saudara tiri ku bukanlah Jasmine, apa kamu akan semarah itu juga?
"Aku juga baru tau kak..." ucapku berbohong sambil berusaha menyeka air mataku yang tidak mau berhenti karena sepertinya hatiku mulai patah.
"Aku niatnya mau kasih tau Jasmine, aku baru mau cerita ke kakak supaya kakak bisa bantu aku atur pertemuan Jasmine sama papa, tapi kayaknya aku udah disalahpahami... Anak haram kayak aku emang selalu salah, tapi sekalipun aku gak pernah berniat bikin Jasmine makin menderita karena gimanapun dia tetep kakak aku!"
Gibran akhirnya diam setelah mendengar semua penjelasan ku. Dengan air mata yang masih terus menetes, aku menyentuh tangan Gibran dan menatapnya agar dia semakin merasa bersalah padaku.
"Kakak mau kan bantuin aku supaya Jasmine sama papa ketemu lagi?"
__ADS_1
......................