Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Ada kamu diantara aku dan dia


__ADS_3

“Jasmine!!!” Teriakan itu terdengar lantang hingga membuat ku terkejut. Aku kemudian mengangkat kepalaku dan melihat ke arah suara itu. Gibran datang dengan nafas yang terengah-engah dan wajah yang khawatir.


“Gue kira loe di culik Alien!” Itu adalah kalimat pertama yang ia ucapkan setelah berada di hadapan ku. Sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan, Gibran duduk di kursi depan meja ku. Dia menghadap ke arah ku dan menatapku walaupun ia terlihat ingin mengatakan banyak hal tapi ia masih terus mengatur nafasnya.


“Kenapa loe pergi tanpa bilang? Loe tau gak, nenek sama gue tuh panik nyariin loe!” Gibran langsung memarahiku setelah itu.


“Gue udah bilang kok sama nenek kalo hari ini gue mau jalan lebih pagi.”


“Terus kenapa loe gak bilang sama gue?”


“Kenapa gue harus bilang?”


Gibran seketika tertegun mendengar jawaban ku yang balik bertanya padanya dengan nada dingin.


Suasana menjadi semakin hening sekarang, bahkan suara angin yang berhembus di luar jendela dapat terdengar memenuhi kekosongan kelas dimana hanya dan aku dan Gibran.


“Loe kenapa sih?” sekali lagi Gibran bertanya tapi kali ini tidak ada kemarahan di intonasi suaranya.


“Gak kenapa-napa kok.” jawab ku yang merasa enggan menatap wajahnya.


“Jasmine …” Gibran menyentuh tangan ku dan menggenggamnya erat, dia mungkin tidak sadar jika sentuhan kecilnya membuat hatiku bergetar pilu. Semakin pilu bila aku ingat perlakuannya padaku belakangan ini.


Asing, aku merasa kami perlahan-lahan menjadi orang asing, kedekatan yang terjalin sepanjang hidup kami seolah tidak pernah terjadi.


Aku malu untuk mengakuinya, harga diri ku rasanya hancur jika aku harus mengatakan kalau, "aku merasa kamu mengabaikan ku semenjak ada Ruby".


Aku tidak bisa mengatakannya dan itu menyiksaku sekarang, andai saja kamu tidak membuang ku setelah mengenalnya maka jarak diantara kita tidak akan sebesar ini.


“Loh Gibran!”


Gibran segera menarik tangannya, dia melepaskan tangan ku begitu saja ketika Ruby datang. Sekali lagi aku merasakan itu, rasa sesak yang tidak bisa aku deskripsikan saat aku berada diantara mereka.

__ADS_1


“Kok kak Gibran bisa ada di kelas sih? Aku kira gak datang jemput karena ada kuliah pagi banget.” ucap Ruby yang langsung duduk di tempatnya, tepat di sebelahku dan langsung mengalihkan perhatian Gibran padanya.


Ada satu hal lagi yang mengganggu ku karena panggilan ruby pada Gibran kini telah berubah menjadi “Kak Gibran” Panggilan itu terdengar manis tapi membuat hatiku perih.


“Kenapa sih?” tanya Ruby lagi yang menyadari jika ada sesuatu yang berbeda dengan sikap ku dan Gibran sekarang.


“Gak kenapa-napa kok.” jawabku tersenyum tipis pada Ruby.


“Aku kira aku ganggu kalian, beneran gak ganggu kan?” ucap Ruby memastikan dan aku menjawab dengan singkat, “gak kok!”


“Terus kenapa kak Gibran yang tampan ini diem aja? Kakak marah karena kemarin aku tiba-tiba batalin janji?”


Janji? Mereka memiliki janji tanpa ku?


Rasanya aku tertarik kebelakang, ke sisi yang sangat gelap meninggalkan mereka berdua dalam cahaya yang sulit untuk aku masuki.


“Bukan kok, aku ngerti.” jawab Gibran tersenyum lembut, nada suaranya juga terdengar lembut berbeda ketika ia sedang bicara padaku, selalu terdengar seperti sedang marah.


Ada sedikit rasa iri ketika Ruby menyinggung soal kedekatannya dengan ayahnya, dia memiliki hidup yang hampir sempurna, wajah cantik, kehidupan yang sejahtera bahkan terbilang kaya dengan keluarga yang hangat dan utuh, otak yang cerdas dan pria tampan yang menaruh perhatian padanya.


Aku menatap Gibran ketika memikirkan pria tampan yang memperhatikan Ruby karena gambaran itu terlihat jelas dari cara Gibran menatap Ruby sekarang.


Tanpa sengaja kedua mata ku dan Gibran bertemu, dia terlihat merasa bersalah tapi pandangannya dengan cepat segera teralihkan pada Ruby ketika Ruby tanpa ragu menyentuh punggung tangannya. “Lain kali aja ya?”


Gibran tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sepertinya mereka berdua tidak berniat untuk mengajak ku bergabung tapi aku juga tidak bisa menghindari situasi yang menyesakkan ini karena tidak ingin terlihat menyedihkan jadi dengan hati yang berat, aku tetap berada di tengah-tengah mereka.


Setelah itu, Gibran berpamitan pergi karena dia tidak bisa terus menerus berada di sekolah meskipun ini adalah sekolah almamaternya.


“Nanti gue jemput, jangan pulang duluan sebelum gue jemput.” pesan Gibran padaku sebelum pergi dan Ruby dengan senang hati mengantar kepergiannya. Ruby terlihat seperti sedang mengantar suaminya yang akan pergi bekerja, dia tersenyum sangat manis hingga banyak siswa di kelas melirik Gibran dengan tatapan iri begitu juga sebaiknya.


Harus aku akui jika mereka berdua sangatlah serasi.

__ADS_1


***


Waktu pulang akhirnya tiba, aku merasa malas keluar dari dalam kelas tapi Ruby dengan sabar menunggu ku bahkan membantuku merapihkan alat tulis ku dan memasukkannya ke dalam tas ku.


“Terima kasih.” ucap ku tersenyum tipis meskipun aku tidak menyukai kedekatannya dengan Gibran tapi aku juga tidak bisa membenci Ruby, ini membuatku merasa semakin sulit.


“Kamu kenapa sih? Dari kemarin aku liat kamu gak semangat banget?” tanya Ruby saat kami mulai melangkah keluar kelas secara bersamaan.


“Gak kenapa-napa kok, cuma lagi males aja.”


“Bukan karena aku deket sama Gibran kan?”


Langkah kaki ku seketika terhenti ketika Ruby mengatakan hal yang rasanya langsung menusuk jantungku.


“Ngomong apa sih?” ucap ku yang berusaha untuk tetap terlihat tenang dan melanjutkan langkah ku.


“Syukurlah, soalnya aku takut banget kalau gara-gara aku persahabatan kalian jadi rusak.”


“Kenapa bisa rusak? Kecuali loe manipulasi dia, hubungan gue sama Gibran akan tetep baik-baik aja.”


“Kamu kok ngomongnya gitu sih, aku janjian sama Gibran tanpa ngajak kamu soalnya kamu pernah bilang mau masuk universitas lain pas kuliah nanti terus aku emang udah ada rencana masuk universitas yang sama dengan Gibran jadi dia bilang bisa ajak aku liat-liat kampus sekalian cari-cari informasi.” Jelas Ruby yang terlihat sedih ketika menjelaskan semuanya, ia terlihat tidak ingin aku salah paham dan itu justru membuatku merasa bersalah karena sudah bersikap dingin padanya.


“Ya makanya jangan tanya terus, gue kan udah bilang kalau gue gak kenapa-napa.”


Ruby seketika terdiam, aku tidak bisa mengekspresikan rasa bersalah ku dengan benar sehingga aku malah bicara padanya dengan nada tinggi hingga semua siswa lain yang juga berada di lorong yang sama bersama kami langsung menatap ke arah kami dan memberikan tatapan sinis padaku yang sudah membentak Ruby. Gadis idola sekolah ini.


“Maaf, belakangan ini gue lagi cape karena harus persiapan ujian beasiswa.” ucapku menunduk menyesal dan menjadikan ujian beasiswa yang masih akan di mulai beberapa bulan lagi menjadi alasan karena aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya yang hanya akan menyakiti Ruby jika aku berkata dengan jujur kalau aku tidak menyukai kehadirannya di persahabatan ku dan Gibran.


Ruby kemudian melangkah mendekat, dia memeluk ku setelah itu membuatku merasa sangat terkejut. “Maaf ya, aku gak pengertian.”


Maaf, Ruby. Kamu terlalu baik untuk menerima kebencian tidak berdasar dariku.

__ADS_1


***


__ADS_2