Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Menebus Rindu


__ADS_3

"Nikah sama Jasmine, nanti nenek masakin sehari tiga kali setiap hari."


Aku dan Gibran langsung terbatuk-batuk mendengar gurauan spontan nenek ku hingga kami berebut air minum yang memang milik ku karena gelas milik Gibran sudah lebih dulu kosong akibat ia terlalu lahap makan.


"Itu kan gelas gue!" protes ku yang masih terbatuk-batuk saat Gibran berhasil merebut gelas ku padahal aku belum selesai minum.


"Minta dikit jangan pelit!" sahutnya setelah meneguk habis air minum di gelas ku.


Aku hanya bisa meliriknya sinis lalu mengambil teko air dan mengisi kembali gelas ku dan minum dengan puas setelah itu.


"Gue gak dibagi air?" protes Gibran sambil mengangkat gelasnya yang kosong.


"Ambil sendiri!"


"Calon istri jangan gitu!"


"Hey!"


Aku berteriak, nyaris saja aku kembali tersedak karena ucapan Gibran yang provokatif itu dan lihatlah bagaimana nenek ku tertawa sekarang, dia berhasil membuat kecanggungan antara aku dan Gibran hilang.


"Ya udah kalian lanjut makan aja. Nenek mau belanja soalnya ada bahan kue yang belum kebeli. Alhamdulillah ada pesenan dari Bu RT buat pengajian lusa." ucap Nenek ku seraya beranjak dari meja makan.


Nenek ku memang mendapatkan penghasilannya dari berjualan kue dan catering terkadang, tapi ia terlihat lelah hari ini, aku menduga tekanan darahnya naik karena aku mendadak sulit di hubungi tadi.


"Aku aja yang beli habis makan, nek. Tulis aja bahan-bahan yang mau di beli."


"Ini udah malem."


"Baru jam tujuh, nek... Lagian supermarket deket kok."


Nenek ku tidak langsung menjawab, ia terlihat berpikir tapi ia sesekali menyentuh tengkuknya. Aku tidak ingin memaksa karena itu hanya akan membuat tekanan darah nenek ku semakin naik, dia selalu keras kepala meskipun begitu aku tidak bisa berhenti khawatir.


"Nanti aku yang temenin, Jasmine." Gibran tiba-tiba bicara.


"Gak perlu gue bisa sendiri."


"Udah gak apa-apa sekalian menebus rindu."


Ada apa dengan Gibran? Dia sudah dua kali membuatku nyaris tersedak karena ucapannya.


"Ya ampun nenek ini kasih pelet ya ke masakan nenek? Kok Gibran jadi genit gini sih?"


"Loh, buruk sangka sama nenek sendiri. Parah banget loe melati! Udah nek pecat aja jadi cucu, aku siap gantiin!"


"Jangan macem-macem ya!"


Nenek ku kembali tertawa meskipun ia harus memijat pelipis matanya. Sepertinya tingkah kami kembali seperti dulu yang selalu membuat nenek ku sakit kepala karena selalu bertengkar.


"Ya udah kamu yang pergi..."


"Yes!" Aku bersorak girang karena ada sesuatu yang juga ingin sekalian aku beli.


"Tapi di temenin mas Gibran." lanjut nenek ku sebelum melangkah memasuki kamarnya.


Terlihat Gibran tersenyum senang mendengar keputusan nenek ku berbeda denganku yang seketika cemberut.


"Yuk lanjut makan abis itu ganti baju terus belanja."


Aku hanya bisa menghela nafas kesal, bukannya tidak senang jika Gibran ikut menemaniku hanya saja keberadaannya pasti akan membuatku canggung.


***


Aku mengendus-endus ketiak ku karena aku belum mandi setelah seharian beraktivitas tapi untungnya wangi detergent yang nenek ku pake untuk mencuci bajuku mampu menghalau sedikit bau keringatku.

__ADS_1


"Ya ampun diciumin terus, wangi kok wangi!" ucap Gibran sambil mendorong troli belanja, ia terlihat kesal karena aku masih saja mengendus-endus tubuhku.


"Gara-gara loe ikut sih, gue jadi gak sempet mandi dulu kan!"


"Duh, perawan ini ya... Kan elo kalau mandi lama banget."


"Ya namanya juga perawan ya mesti lama lah mandinya biar wangi, seger, cantik..."


"Buat apa coba mandi lama-lama gitu? Yang deket-deket loe kan cuma gue, atau jangan-jangan loe sengaja biar gue tergoda ya?"


"Dih najis loe!"


"Ngaku aja sih, cowok mana sih yang mau deket sama cewek eror kek elo kalau bukan gue."


"Wah bener-bener ya, loe salah makan hah?"


"Hari ini gue cuma makan di rumah loe ya, jangan-jangan nenek emang bener-bener kasih jampi-jampi biar gue terpesona sama loe."


"Wah calon cucu durhaka loe!"


Gibran tertawa mendengar ledekan ku, dia memang selalu mengaku sebagai cucu nenek ku selama ini.


Kami kemudian melanjutkan langkah kami, mencari satu persatu list bahan yang sudah nenek ku tulis sampai kami tiba di tempat tester parfum.


Tanpa perlu menunggu, kami yang masih belum mandi ini segera berlari ke tempat tester yang kebetulan sepi itu.


"Ini white musk kesukaan loe!" Gibran langsung mengenali aroma parfum kegemaranku yang ada di deretan tester itu dan segera menyemprotkannya ke tubuhku lalu mengendusnya.


"Wanginya loe banget." ucap Gibran yang masih mengendus-endus baju ku hingga aku harus menahan nafasku karena Gibran berhasil membuatku tegang.


"Enak banget..." komentarnya lagi setelah puas mencium aroma tubuhku, ia kembali berdiri tegak dan mencari parfum untuknya, "cariin dong gantian."


"Ini kan yang biasa loe pake!" aku langsung menyemprotkan parfum beraroma Citrus bercampur dengan musk dan di bagian akhir tercium aroma Jasmine dan Lily yang lembut di pergelangan tanganku agar Gibran bisa memastikannya. Gibran memang lebih suka wangi lembut alih-alih maskulin.


"Nah ini, soft man kayak gue cocok pake ini."


"Muka boleh dingin, hati sesejuk musim semi..."


"Hueeekkk!"


"Ish hamil ya loe? Kita kan belum nikah!"


"Gibran!!!" Aku langsung menutup mulutnya sebelum orang-orang yang berada di sekitar kami salah paham, terlebih kebanyakan dari mereka tinggal di kompleks perumahan yang sama dengan kami, akan ada rumor yang tersebar cepat jika kami tidak hati-hati.


"Loe gila ya? Nanti orang-orang ngira kita udah aneh-aneh tau!"


"Aneh-aneh apa?" tanya Gibran setelah aku melepaskan mulutnya.


"Tau lah!"


Gibran tersenyum, dia tahu jelas apa yang aku maksud tapi dia malah berkata, "untung otak gue ini sejernih embun pagi."


"Otak loe itu lebih tercemar dari kali Ciliwung tau gak!"


"Shuttt!" Gibran menutup mulutku dengan jarinya, aku tahu karena semua rahasianya ada padaku termasuk koleksi komik dewasa yang diam-diam ia sembunyikan di kolong tempat tidurnya.


"Udah cepet semprotin yang banyak." pinta Gibran mengalihkan pembicaraan sambil membentangkan kedua tangannya. Dengan malas aku menyemprotkan parfum itu banyak-banyak sebelum petugas tester datang menegur kami.


"Udah wangi kan sekarang?" tanya Gibran dengan percaya diri.


Aku lantas mengendus-endus tubuhnya dan dia memang sudah wangi meskipun belum mandi tapi aku tidak sebaik itu untuk menyanjungnya sesuai keinginannya.


"Masih bau..." jawabku berbohong sambil menutup hidung ku dengan tangan ku.

__ADS_1


"Masa?" Gibran seolah tidak percaya dengan jawaban ku, ia terus mengendus-endus jaketnya hingga ke dalam kaosnya.


"Wangi kok..."


"Bau keringet, Gibran... Jangan deket-deket!" sungguh, tidak ada yang lebih menggemaskan daripada ekspresi Gibran sekarang apalagi dia masih sibuk mengendus-endus tubuhnya dan menyemprotkan beberapa kali parfum ke tubuhnya hingga ke atas kepalanya.


"Wangi kok gue! Kalau bau kenapa loe mau gue peluk-peluk tadi?"


"Tadi gue nangis kan jadi indung gue pasti mampet makanya gak kecium." jawab ku sambil melangkah mendorong troli belanja kami dan dengan sengaja meninggalkan Gibran di belakang ku.


"Jasmine!" aku tersentak saat Gibran menarik tubuhku hingga tubuhku berbalik dan seketika refleks memeluknya.


"Cium baik-baik, wangi kan?" ucap Gibran yang memegangi pinggang ku erat-erat tanpa melepaskannya.


"Ya ampun, Gibran nanti di liat orang... Lepasin!"


"Gak sampai loe bilang kalau gue wangi!"


"Bau! Loe bau!"


"Cium bener-bener dong!"


Oh astaga, bagaimana caranya menghindar jika aroma tubuh Gibran membuat ku pusing bukan kepalang, bukan karena bau tapi karena aku tegang setengah mati.


"Ih bau, pokoknya bau! Loe kan belum mandi!" lain di mulut, lain di hati. Aku tetap tidak mau mengakuinya!


"Loe juga belom mandi tapi kenapa loe wangi?!"


"Ya karena gue udah ganti baju terus pake parfum juga."


"Gak pokoknya kalau loe wangi, gue juga wangi. Kita kan sepaket!"


"Gak, gak bisa gitu!"


"Bisa!"


"Enggak!!!"


"Cium lagi nih!"


Aku sungguh terkejut, sisi kekanak-kanakan Gibran membuatku tidak habis pikir karena ia bahkan mengangkat satu ketiaknya tinggi-tinggi dan mendorong wajahku untuk mendekati ketiaknya.


"Jangan gila loe! Masa gue di suruh nyium ketek loe sih?!" aku protes dengan tegas sambil mencoba melepaskan diri dari Gibran dan kelakuan gilanya.


"Tadi gue cium ketek loe kan, kenapa loe gak mau cium ketek gue? Wangi ketek gue gak ada dua!"


"Sedeng loe! Ogah!"


"Cium!"


"Gak"


"Cium..."


"Gak! Gak! Gibran please!"


"Jasmine please cium..."


"Kamu kok minta cium sama Jasmine sih kak?"


Aku dan Gibran seketika menoleh ke arah suara itu dan dengan cepat kami saling menjauh.


"Ruby..." Gibran melangkah mendekatinya, ekspresinya terlihat tegang saat menghampiri Ruby.

__ADS_1


"Kalian pacaran sekarang?"


***


__ADS_2