
>>>Jasmine POV<<<
Please percaya...
Dia bicara seolah semua itu adalah kebenaran, nyatanya yang selama ini terjadi tidak seperti itu.
Aku memilih mengabaikannya, melangkah keluar seraya menyeret koperku tanpa memperdulikannya dan untunglah taksi online yang aku pesan tiba di waktu yang tepat.
Supir taksi itu langsung membantuku membawakan koper-koper ku masuk ke dalam bagasi lalu dengan cepat aku masuk ke dalam mobil agar segera pergi dari rumah ini.
"Ayo pak, jalan," pintaku pada supir karena takut Gibran akan datang menyusul.
Mesin mobil telah di nyalakan, aku sudah mulai lega tapi tiba-tiba saja Gibran masuk ke dalam mobil, duduk di sebelahku sambil memangku tas besarnya.
"Yuk pak jalan," sepertinya urat malu Gibran sudah putus, dia bicara seolah dia yang memesan dan membayar taksi ini.
"Tunggu pak, ada penyusup!" aku langsung mencegah supir taksi ini melajukan mobilnya, dengan sinis aku menatap Gibran kesal. "Mau apa kamu?" tanya ku ketus.
"Ikut kamu."
"Gak boleh! Pergi aja cari taksi sendiri!"
"Dompet aku ketinggalan sayang."
"Ya kan bisa bayar pakai aplikasi!"
"Hpnya juga ketinggalan."
"Ya udah bayar di tempat!"
"Kan hpnya gak ada, aku mau pesen pakai apa? Telepati?"
__ADS_1
Gahh!!! Gibran sungguh menyebalkan, ingin sekali rasanya aku menendangnya keluar dari sini tapi pak supir sudah terlihat tidak sabar jadi dengan terpaksa membiarkan Gibran ikut bersamaku.
Aku menggeser posisi duduk ku, sedikit menjauh darinya dan agar ia tidak lagi mendekat, dengan sengaja aku meraih tasnya lalu menempatkannya diantara kami.
Gibran menoleh, ia terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi aku telah lebih dulu memberikannya tatapan sinis jadi dia hanya diam.
Kami diam hampir di sepanjang jalan sampai akhirnya suara dering ponselku memecah keheningan.
Nenek ku menelepon, dengan cepat aku langsung mengangkatnya. "Halo nek," sapa ku pelan.
"Jasmine, dokter bilang Aurora sudah boleh pulang jadi sekarang nenek sama orangtuanya Gibran lagi siap-siap mau bawa Aurora pulang, kamu gak usah ke rumah sakit langsung aja pulang ke rumah nenek ya."
"Iya nek."
Aku lantas mematikan sambungan telepon ku, senyumku perlahan terukir karena Aurora di perbolehkan pulang lebih cepat, tandanya dia sudah sangat sehat sekarang.
"Ada apa?" tanya Gibran yang akhirnya membuat senyuman yang baru muncul di wajahku kembali hilang.
"Syukurlah..."
Gibran tersenyum lega, mungkin sama leganya dengan ku, tapi bagaimana bisa? Aku tidak mengerti padahal sejak awal Gibran tidak pernah perduli pada putrinya itu.
Mungkin selama ini Gibran menyembunyikan rasa sayangnya tapi kemudian aku teringat, mungkin Gibran hanya pura-pura perduli demi mendapatkan simpatik dariku.
...
Kami akhirnya tiba di rumah nenek ku, mereka belum sampai saat kami datang jadi aku menunggu di dalam kamar ku seraya membereskan koper-koper ku dan meletakkan pakaian ku dan Aurora di lemari pakaian ku, sementara Gibran sejak datang langsung memasuki dapur.
Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan disana dan aku tidak mau tahu, pelan-pelan aku akan belajar untuk tidak memperdulikannya lagi.
Selesai menata pakaianku, aku lantas membuka tas yang berisi buku-buku serta peralatan kosmetik ku ke atas meja belajarku.
__ADS_1
Kamar ini memang masih sama, tidak ada yang berubah sedikitpun kecuali aku telah menyingkirkan foto-foto Gibran yang sebelumnya tertempel pada dinding kamar ini.
Hampir selesai tapi aku kemudian menemukan diary milik Ruby, berpikir sejenak sambil memandangi foto Ruby yang cantik di sampulnya barulah aku memberanikan diri membukanya.
Aku duduk di atas meja belajarku, membuka halaman pertama di dalam buku diary yang telah usang itu.
"Jasmine..."
Aku cukup terkejut karena nama pertama yang tertulis pada buku diary itu adalah namaku, sedikit heran karena tanggalnya jelas bukan tertulis dimana kami sudah saling mengenal.
Meskipun ragu, aku tetap membaca setiap bait yang tertoreh pada kertas yang sudah terlihat menguning itu.
"Jasmine, nama itu tidak pernah hilang. Ayahku selalu memanggilnya dalam tidurnya sejak aku kecil. Aku tidak tahu dia siapa tapi aku merasa iri padanya karena sekalipun ayahku tidak pernah memanggil namaku dalam mimpinya dan setiap aku bertanya siapa Jasmine pada ibuku maka dia akan mendengus lalu suasana hatinya akan jadi buruk sepanjang hari, saat itulah aku sadar kalau Jasmine adalah penyusup dalam keluarga bahagia kami, menjadi retakan yang memisahkan aku, ibuku serta ayahku.
Jasmine, aku tidak tahu siapa kamu tapi aku rasa sepertinya aku mulai membencimu."
Aku terkejut membacanya, air mataku jatuh tanpa aku sadari, membasahi buku diary itu.
Sepanjang hidupku yang aku tahu, ayahku mencampakkan ku, dia meninggalkan ku dan melupakanku, aku tidak tahu jika ayahku mengingatkanku bahkan dalam tidurnya.
Dengan perasaan yang kacau, tanganku gemetaran saat melihat tanggal yang tertera pada halaman itu, itu sudah delapan tahun yang lalu.
Aku kemudian membuka halaman selanjutnya, dengan nafas yang tertahan, merasa ragu untuk membacanya tapi aku tetap melanjutkannya.
"Aku tidak berpikir akan kembali menulis di buku ini, buku yang sengaja aku beli agar aku bisa menulis betapa bencinya pada seseorang yang bernama Jasmine itu, agar aku tidak lupa bagaimana ayahku selalu ada bersamaku tapi tidak dengan hatinya.
Hari ini adalah hari pertama aku masuk SMA, sangat sulit bagiku meminta ayahku mengantarkan ku tapi kali ini dia dengan penuh semangat mengantarku kali ini bahkan tanpa aku pinta, berpikir akhirnya aku akhirnya menjadi prioritas baginya.
Aku sangat senang, kebahagiaan ku meluap-luap tapi kebahagiaan itu tumpah tidak tersisa saat aku mendengar nama itu di panggil, 'Jasmine' gadis cantik yang sedang berlari menghampiri pria yang terlihat seperti kakak kelas kami, dia seangkatan denganku, karena hari saat ospek dia ada di barisan berbeda dengan ku tapi penampilannya yang menonjol dan dia yang jarang bicara menjadikannya begitu mudah menjadi pusat perhatian berbeda dengan ku yang harus mencoba bersikap se-ramah mungkin agar bisa di perhatikan.
Awalnya kupikir hanya nama mereka yang sama tapi saat aku melihat ayahku yang hampir menangis saat melihatnya, di saat itulah aku sadar jika mereka adalah orang yang sama. Jika Jasmine itu adalah Jasmine ayahku, dan aku semakin tidak bisa menghentikan kebencian ku tumbuh padanya. Pada gadis yang mungkin tidak pernah tahu jika sepanjang hidupnya, dia hidup menjadi bayang-bayang keluargaku."
__ADS_1
***