
" Bi aku masih menunggumu untuk sarapan datanglah"
Abi membuka pesan yang ternyata dari Ausky, wajahnya pun segera berubah, sungguh ia ingin sekali berdua dengan sang istri, ia tidak tega berbohong dan meninggalkannya lagi, namun apa dayanya, Ausky gadis yang dicintainya sejak dua tahun lalu nyatanya kini masih bertahta di hatinya.
" Nini,,
" Iya kak,,
" Maaf,, pergi ke makamnya mungkin tertunda"aku,,
" Aku akan pergi sendiri, tidak masalah"aku tidak apa apa"
" Maaf,, cuma sebentar saja, dan tunggu di kamar" Maaf meninggalkanmu"
" Selesaikan urusan kakak"
Aini bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan meninggalkan sang suami dan menuju kamarnya menginap,
Abi menatap nanar pada sang istri hingga punggungnya tak terlihat lagi, ia juga melihat makanan yang masih utuh milik istrinya, nafasnya semakin sesak, ia meraup wajahnya dengan kasar, dan menelungkupkan sebentar di atas meja, sebelum akhirnya ia berlalu pergi,
Aini yang berusaha kuat merasakan kenyataan pahit pagi itu itu pun akhirnya tak kuasa membendung air matanya lagi,
" Ayah,, ibu,, mas Agas,, bawalah aku bersama kalian, disini aku sendiri"
Karena merasa letih terus menangis, namun hati tak juga merasa membaik ia berniat pergi ke makam ayah ibunya sendiri, bahkan sudah satu jam lebih Abi belum kembali, ia pun membenahi penampilannya, tak lupa ia memakai kaca mata gelap untuk menutupi mata sembabnya,
Ia memesan taxi online juga menulis pesan untuk Abi pada secarik kertas, ia sengaja meninggalkan handphone, agar terhindar dari rasa ingin menghubunginya, menanyakannya, dimana, sedang apa, dan bersama siapa,kapan kembali,
Taxi membawanya ke pemakaman umum di desa kelahirannya,
Sang ayah meninggal karena gagal ginjal pada saat umur Aini baru saja genap dua belas, ibunya pun meninggal karena kecelakaan seseorang tidak sengaja menyerempet sepeda milik Arumbi ibu Aini yang sedang keliling berjualan kue,
Aini menjadi yatim piatu di umurnya yang ke lima belas,ia pun dirawat pamannya dan ikut ke jakarta,
Hanya butuh waktu tiga puluh menit taxi pun sampai di pemakaman umum tempat ayah ibunya di makamkan,
Aini berjalan perlahan mencari cari dimana makam tersebut karena lima tahun yang lalu saat ia pergi ke Jakarta batu nisan belumlah sebanyak sekarang saat ia kembali. ia kesulitan mencarinya,
Kakinya sudah terasa pegal mencari dan berusaha menemukan makam kedua orang tuanya nyatanya tidak kunjung ketemu,
__ADS_1
Gerimis kecil pun mulai turun dan Aini hanya bisa terduduk lemas di bawah pohon kamboja yang besar dan teduh, pikirannya mulai terbayang wajah kedua orang tuanya,
" Ayah, ibu,, anakmu datang tapi dimana nisan ayah dan ibu, semua sudah berubah, apakah orang miskin bahkan tidak akan dapat mempunyai batu nisan saat meninggal, karena tidak dapat membangun tempat pemakamannya"?
" Hikss,, ayah,, ibu,, maafkan aku yang tidak bisa merawat nisan ayah dan ibu""
Aini terus terisak sedih karena ia kehilangan batu nisan ayah ibunya,
Awan perlahan mulai menghitam namun Aini masih duduk di bawah pohon rindang itu, angin pun mulai dingin membelai wajah dan tubuhnya yang mulai menggigil karena hujan turun begitu deras,
*****
"Ayah,, ibu akhirnya aku bertemu kalian,,"
" Aku merindukanmu ayah, ibu aku ingin bersama ayah dan ibu, jangan tinggalkan aku"
" Anakku,, dengarlah nak,, mimpimu baru di mulai bukan,, bersabarlah, suatu hari nanti kita tidak akan berpisah sayang"
" Ibumu benar nak, jadilah bidadari surga kelak, sekarang raih mimpimu, tunjukan pada dunia kalau kamu putri ayah dan ibu yang hebat dan kuat"
" Tentu,, Aini akan belajar dan ingin menjadi orang sukses, tapi ayah,, ibu,, suamiku dia,, hiks,, hiks,,
" Aini, putriku sayang, jodoh tak pernah salah, kita harus ikhlas apapun takdir kita, jalani dengan hati yang lapang"
Karena merasa damai di dalam pelukan hangat ayah ibunya Aini pun tertidur dengan nyenyak,
******
Pukul 16,00
Abi baru saja kembali menuju kamar tempatnya menginap setelah lelah harus menemani Ausky berjalan jalan juga berduaan di kamar hotel tempatnya menginap,
Ia membuka pintu perlahan,
" Nini,, apa kamu di dalam kamar mandi"
" Nini,, maafkan aku, di mana kamu"
Abi berdiam diri di depan pintu kamar mandi dan mengetuknya, namun tak ada jawaban, ia pun membuka perlahan dan sosok yang di carinya ternyata tidak ada.
__ADS_1
Ia kembali ke dalam, dan duduk di atas sofa mencoba menghubungi sang istri dengan melakukan panggilan telepon,
( 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙨𝙖𝙟𝙖)
Nada dering lagu dari Judika ponsel Aini justru terdengar di telinga Abi, dan ponsel itu tergeletak di atas bantal dan juga secarik kertas kecil.
(" 𝙈𝙖𝙖𝙛𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙖𝙠, 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙠𝙚 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙢 𝙖𝙮𝙖𝙝 𝙞𝙗𝙪𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙚𝙣𝙪𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙞𝙖𝙢 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙖𝙧, 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙪𝙧𝙪𝙨𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙘𝙚𝙥𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞")
" Maafkan aku Nini, baru tiga hari aku menikahimu dan kini aku sudah melukis luka di hatimu"
Abi pun memesan taxi online menuju pemakaman umum di desa kelahiran Aini untuk menyusulnya,
Hujan sangat deras dan Abi mulai cemas,bagaimana menanyakan dimana Aini berada, sedangkan ponsel pun tidak di bawa,
Karena jalanan macet di tambah hujan yang sangat deras, taxi yang dikendarai Abi baru sampai di TPU, desa kelahiran Aini jam 17,00,ia berpesan pada sopir taxi untuk menunggunya sebentar.
Abi berlari menembus hujan namun setelah mencari dan mencari ia tidak menemukan sosok Aini di TPU tersebut,
Abi pun bersandar sebentar pada pohon kamboja yang rindang,tanpa sengaja netranya melihat sebuah ikat rambut berwarna cream ada didekat sepatunya ia mengambilnya meskipun kotor dan basah, ia tau itu milik Aini,
Abi kembali ke dalam taxi dan menyuruhnya membawa pulang ke hotel,ia berpikir mungkin Aini sudah kembali ke hotel, karena di desa itu Aini sudah tidak ada lagi sanak saudara lagi untuk dikunjungi,
****
" Maafkan aku sayang, aku tidak becus menjagamu, hal ini harusnya tidak terjadi padamu, jika aku berterus terang" namun aku takut jika kamu tau yang sebenarnya kamu pasti akan membenciku, dan aku belum siap untuk hal itu"
Seorang pria dewasa duduk di samping ranjang menggenggam telapak tangan Aini dan menciumnya lembut,
Aini, gadis yang ditemukan pingsan oleh seorang pengawal Fahmi Abraham di sebuah TPU itu pun di bawa ke apartemen sepupu Fahmi seperti perintah Fahmi sang tuan,
Fahmi Abraham terus memberikan penjagaan ketat pada Aini meskipun dari jarak jauh pun segera menyuruh anak buahnya menyiapkan helikopter dan terbang ke Jogja saat mendengar anak buahnya melapor, kalau Aini ditinggalkan Abi lagi,
******
Assalamu'alaikum,
👋👋👋 readers, apa kabar salam sehat 😏😄👍
mohon dukungannya dan lanjut baca sampai ahir ya,
__ADS_1
TBC