
Suasana dingin masih menyelimuti kamar milik Aini, kamar yang tidak terlalu luas namun fasilitasnya lengkap itu sudah sangat membuat Aini nyaman, namun pagi yang dingin itu setelah ritual shalat subuh tubuhnya enggan untuk bangun beraktifitas seperti biasanya, entah mengapa mendadak ada rasa malas yang menderanya, sesekali ia mengelus perutnya yang mulai membuncit, bahkan sesekali sudah terasa pergerakan dari sang buah hati di dalamnya,
("𝘬𝘢𝘬 𝘈𝘣𝘪, 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳𝘮𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬 𝘈𝘣𝘪, 𝘢𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘬 𝘈𝘣𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘬 𝘈𝘣𝘪, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘬𝘴𝘢𝘬𝘶, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘶𝘱𝘢, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪𝘶𝘴𝘪𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 21 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘱𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘺𝘢𝘬𝘶, 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘔𝘜, 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘪, 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘫𝘪𝘬𝘶, 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯𝘔𝘜, 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘤𝘦𝘮𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘸𝘢𝘩𝘢𝘪 𝘙𝘢𝘣𝘣𝘬𝘶, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘶𝘮𝘱𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘔𝘜 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘶𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘪𝘫𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘔𝘜, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘳𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘩𝘢𝘪 𝘙𝘢𝘣𝘣𝘬𝘶")
Aini masih melamun dan bicara sendiri didalam hatinya, selimut tebal masih bergulung di tubuhnya,ia merasakan kesepian hati yang tak terkendali saat itu, ia merindukan kasih sayang, sebagai wanita yang sedang mengandung ia seharusnya dimanja manja oleh sang suami, namun apa dikata itu hnaya dalam mimpinya saja, Abi suaminya tak mungkin menemuinya,ia sudah merasa tak bersuami, ia hanya merasa memiliki suami satu bulanpertama pernikahannya waktu itu, itupun Abi masih saja membagi waktu dengan mantan kekasihnya,
Setelah Abi bisa dibantu mantan kekasihnya mendirikan perusahaan sendiri Abi sudah hilang bagai di telan bumi, kadang satu minggu hanya pulang sekali itupun larut malam, kadang pagi buta sebelum Aini bangun ia pun sudah menghilang lagi, kadang ia pulang sebulan sekali,dan akhirnya benar benar hilang hingga tragedi malam itu, dimana Aini mendapatkan hak nya denganpenyatuan kasar dan menyakitkan, dan saat bertemu lagi Abi sudah dalam keadaan koma karena kecelakaan,
Aini tetap menjaganya dengan sabar menunggunya tersadar, namun begitu Abi tersadar ia pun menyakitinya lagi,
" 𝘈𝘥𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘪? 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩, 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯"
(" 𝘿𝙪𝙡𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙠𝙪 𝙨𝙞𝙖𝙥 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠𝙢𝙪
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙗 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥
𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙠𝙪𝙥𝙚𝙧𝙩𝙖𝙧𝙪𝙝𝙠𝙖𝙣
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙧𝙘𝙖𝙮𝙖 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙟𝙖𝙩𝙞𝙠𝙪
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙤𝙝𝙤𝙣𝙜 𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙩𝙖𝙥 𝙥𝙚𝙧𝙘𝙖𝙮𝙖,
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙡𝙪𝙠𝙖𝙞 𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙙𝙪𝙡𝙞
𝙙𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞
𝙠𝙖𝙪 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙩𝙖𝙥 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙣𝙞
𝙠𝙖𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙩𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖
𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙪 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖
𝙖𝙠𝙪 𝙘𝙪𝙢𝙖 𝙝𝙖𝙩𝙞
𝙖𝙠𝙪 𝙘𝙪𝙢𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙝𝙖𝙩𝙞
𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙩𝙖𝙠 𝙥𝙖𝙠𝙖𝙞 𝙝𝙖𝙩𝙞)
" 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘬, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘺𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘩𝘪𝘬𝘴,, 𝘩𝘪𝘬𝘴,,
Lolos sudah air mata membasahi pipinya yang makin cubby karena kehamilannya kini berat badannya makin bertambah dan otomatis bentuk pipinya pun ikut sedikit berubah,
Dengan gontai ia pun bangkit dari ranjang menuju kamar mandi, bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 7.00 pagi,
__ADS_1
" Kak,, kak, Aini apa masih di kamar mandi,? apa kak Aini baik baik saja"?
Adriana yang belum melihat sosok Aini di mana mana pun masuk begitu saja ke kamarnya, namun suara air dari kamar mandi membutanya lega, ia pun kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan mereka,
" Asalamualaikum
" waalaikumsalam,,
" Om Fahmi, silahkan masuk, tapi kak Aini belum keluar dari kamar, akan kupanggil"
" Apa dia sakit,?
" Entahlah saat saya masuk dia lagi mandi, tidak biasanya kak Aini begini, biasnya jam 5.00 kakak sudah di dapur membantu orang orang memasak untuk anak anak panti"
" Ya katakan aku menunggunya untuk sarapan"
Aini bergegas masuk lagi kedalam kamar Aini, ia tersenyum melihat Aini di depan meja rias sedang menyisir rambutnya yang panjang hingga terlihat kesulitan,
" Sini aku bantu kak, ini sudah sangat panjang kenapa tidak ke salon dan memotongnya sedikit saja"
" Dek, aku bisa mengurusnya sendiri sudah jangan repot" dulu saat bibi hamil paman melarang bibi memotong rambutnya, harus menunggu anaknya lahir"
" Memang ada alasan konkritnya kak"?
" Tidak tau juga, tapi karena aku sudah mendengar ada larangan ya aku akan mematuhinya"
" Siapa,?
" Ada deh, buruan, sini aku pakaiin blus on biar merona"
" Eh, eh, aku janda mana boleh bersolek, di India janda hanya boleh berpakaian putih polos"
" Aduh kakak, ini Indonesia, ini jaman modern,kakak jangan polos polos amat, aku tunggu di bawah"
" Huh ada ada saja tu bocah, ga tau apa kakaknya lagi malas"
Aini masih enggan bangkit dari duduknya, ia melihat pantulan dirinya di cermin, ia merasa hidupnya bagai tak bergairah hidup hari itu,
" Kakaaaaak,,
Terdengar suara teriakan Adriana dari ruang makan memanggilnya, ia pun tersadar dan mau tak mau ia pun keluar kamar,
Di ruang makan, Aini sudah melihat Fahmi dengan tampilannya yang santai, ia hanya memakai celana pendek dan kaos oblong, pria itu tampak terlihat lebih muda dari biasanya yang selalu berbalut pakaian formal,
__ADS_1
" Pagi om"
" Pagi Aini, bagaimana keadaan kamu, apa masih sering mual"
" Tidak kok, aku baik baik saja"
" Dan kamu dek kakak ingatkan ini bukan hutan, jangan teriak teriak seperti tarsan yang tinggal di hutan"ada tamu juga gak baik, jangan diulang"
Fahmi terkekeh dan Adriana terlihat malu hingga pipinya kemerahan.
" Maaf, kak,, maaf om, Adriana lagi gatal lidahnya"
" Apa kamu bilang, mana ada lidah gatal terus teriak"
" Eh,, ada kak, di kampung aku sering dihina tetangga, mereka bilang aku anak haram karena tidak tau bapak dimana yah, lidahku sering gatal dan teriak teriak kak, malahan lebih kenceng dari tadi"
" Hah,,,
Fahmi kembali terkekeh hingga tubuhnya bergetar, sementara Aini menepuk jidatnya melihat tingkah Adriana yang polos los,
" Ayo sudah opera van java nya, kita sarapan dulu, ini om bawa makanan bergizi, ini bagus untuk ibu hamil"
" Apaan itu om, berarti ga bagus buat aku yang gak hamil ya om"
" Ana ini makanan aku bawa khusus buat Aini, tapi kamu juga boleh makan, sana ambil mangkokuntuk menuangnya"
pagi itu mereka bertiga makan dengan tenang dan hati yang bahagia bahkan Aini terlihat sangat lahap,sup ikan yang di bawa Fahmi sangat lezat hingga ia menghabiskan separo dari tiga porsi yang dibeli Fahmi,
" Aini, wekend ini kamu ada acara gak, aku mau ngajak kamu berlibur, aku rasa kamu butuh udara segar, kita bisa menikmati suasana pegunungan dan pemandangan perkebunan teh"
" Ga ada acara dan gak pernh punya acara, aku malas pergi jauh om, perutku kadang gak nyaman di perjalanan, maaf bawaanya hanya ingin ke kamar kecil"
" Hem baiklah, mungkin aku akan cari tempat terdekat saja"
Aini hanya mengiyakan saja apa yang di katakan Fahmi, ia tampak lesu dan tidak bersemangat dan teringat tempo hari saat belanja di mini market, ada wanita hamil yang diperlakukan istimewa oleh suaminya, (belanjaan wanita itu langsung diraih oleh suaminya karena takut istrinya lelah,takut bayinya kenapa napa saat membawa beban di tangannya,ia juga memapah sang istri saat berjalan menuju mobilnya seolah takut istrinya terjatuh)
(" 𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘴𝘵𝘢𝘨𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯")
Saat melamun Fahmi menepuk punggungnya dan berkata jika di luar ada tamu, Aini pun tergagap dan berjalan keluar untuk melihatnya, dan alangkah terkejutnya ia melihat sesorang yang ada di depan pintu rumahnya itu, matanya menatap tak percaya, dan seperti sedang berada di alam mimpi,
*****
𝙃𝙖𝙥𝙥𝙮 𝙧𝙚𝙖𝙙𝙞𝙣𝙜😀😃😄
__ADS_1
𝙎𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙟𝙖𝙪𝙝, 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩 𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙗,, 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙝𝙖𝙙𝙞𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖, 𝙢𝙖𝙣𝙮 𝙩𝙖𝙣𝙠 𝙮𝙤𝙪,𝙖𝙣𝙙 𝙃𝙖𝙥𝙮𝙣𝙚𝙨 𝙖𝙡𝙬𝙖𝙮𝙨,
𝙏𝙗𝙘