
Sementara menunggu Abi menyelesaikan ritual mandinya Aini juga bersiap ingin pergi ke apartemen Monica, ia berpikir butuh teman untuk curhat dan sekedar mengobrol, tak lupa ia menyiapkan pakaian untuk sang suami ia pun bergegas pergi ke ruang makan dan menyiapkan makan untuk Abi,
Tak lama kemudian Abi pun sudah berada di ruang makan, menyantap makanannya dengan lahap, setiap remah tak tersisa karena ia selalu menikmati masakan sang istri yang menurutnya sangat lezat,
" Kak, aku mau minta ijin, bolehkah aku malam ini main ke apartemen Monica aku butuh teman"
" Apa tidak bisa besok siang saja"
" Kalau siang Monica sekolah, pulang sekolah ia ikut kegiatan taekwondo"
" Lalu malam begini apa yang akan kamu lakukan, apa janjian mau pergi ke suatu tempat"
" Mungkin menonton film, "
" Hem, baiklah aku antar kamu kesana, jika urusanku selesai aku jemput, jangan pulang sendiri"
" Terimakasih kak"
" Ini uang buat keperluan kamu"
" Yang kemarin masih kok, tidak usah, "
" Yang kemarin itu uang belanja, yang ini untuk keperluan kamu, maaf aku belum sempat memberikanmu aap apa,"
" Aku tidak butuh barang barang mewah kak, ini semua sudah cukup, aku hanya minta satu hal dari suamiku, jaga pernikahan kita, itu sudah lebih membahagiakan di banding harta yang berlimpah"
Abi menghela nafasnya dalam dalam dan menghembuskan perlahan.
" Bersabarlah dengan aku saat ini, aku akan berusaha aku juga ingin pernikahan satu kali seumur hidup namun kita tak pernah tau permainan takdir, kita jalani dulu seperti air mengalir"
Aini hanya diam dan segera membereskan meja makan, membawa piring kotor ke wastafel,
" Bereskan besok saja, kita segera berangkat jangan terlalu malam perginya"
Aini hanya mengangguk dan mereka segera berangkat,
20 menit kemudian mereka tiba di apartemen Monica, namun setelah Aini melepas sabuk pengaman dari tubuhnya Abi mendekati dan melepas ikatan rambut sang istri,
" Aku tidak ingin pria di bioskop nanti melihat lehermu,"
CUP
Aini mematung sesaat karena Abi mengecup bibirnya ia juga mengecup dahinya dengan lembut, hatinya terasa menghangat seketika,
" Aku turun ya kak, hati hati, "Aini meraih punggung tangan sang suami dan menciumnya, ia pun segera turun dari mobil,
Monica yang mendengar deru suara mesin mobil ia pun keluar karena meyakini itu Aini,
Aini berjalan menuju Monica yang sudah berdiri di depan pintu, berpelukan sebentar dan Monica menggandeng tangan Aini masuk kedalam apartemen,
__ADS_1
" Mau minum apa kak, film favoritku mulai jam 20,20, ini masih sore,apa kita ke mall dulu shoping,"
" Aku ga suka shoping, gimana kalau kita ke cafe kak Bima, banyak camilan ringan dan minuman enak di sana"
" Siapa itu kak Bima,"
" Pemilik cafe dia teman suamiku"
" Boleh, ayo kita berangkat, sesekali kakak perlu udara luar, biar ga bosan tiap hari cuma berada di kasur dan di dapur"
Monica terkekeh meledek Aini yang memang kesehariannya selalu berada di rumah tanpa kegiatan,
Tak lama kemudian mobil yang di kemudikan Monica sudah memasuki halaman parkir cafe milik Bima yang lumayan rame di jam itu,
Aini membawa Monica masuk, dan kebetulan Bima melihat kedatangan Aini dan segera menyambutnya,
" Aini, senang bertemu denganmu lagi ayo duduk di sana, ,
" Iya kak apa kabar, wah cafe kak Bima tambah rame ya, "dan ini kenalkan Monica teman aku"
" O ya, senang berkenalan dengan anda nona Monica, silahkan memilih menu, jangan khawatir untuk nona nona cantik khusus malam ini kalian tidak usah membayar, nikmati sepuasnya"
" Hah, kita jadi ngerepotin nanti kak Bima rugi dong"
"Sesekali kan ga papa cuma buat istri sohib doang"
" Terima Kasih kak, semoga rejeki kak Bima tambah banyak dan berkah, amin"
Bagi Bima entah mengapa ia terus menatap sosok Monica, gadis itu terlihat tomboy dengan rambut cepak,memakai celana panjang sobek kanan kiri, ting top juga jaket namun itu tidak menutupi aura kecantikannya.
Kebersamaan yang membahagiakan suasana mendadak menjadi canggung saat ketiganya melihat dua sosok pria dan wanita berjalan memasuki cafe,si wanita bahkan melingkarkan tangannya di lengan, si pria dengan manja tanpa mereka sadari sepasang mata menatap tajam namun sendu ke arah mereka, setelah keduanya duduk bersebelahan Bima pun mencoba menenangkan Aini,
" Kamu tenang dulu nona Aini, aku akan mencoba bicara baik baik pada suamimu"
Kedua sosok itu adalah Abi dan Ausky
"Wanita ulat bulu itu lagi, huh dasar pelakor tak tau malu, murahan sekali" aku akan buat perhitungan kak, tenang saja"
" Sudahlah Monic kita pura pura saja tidak melihatnya"duduklah,"
Namun Monica yang tersulut emosi tidak menghiraukan peringatan Aini, ia tetap berjalan mendekati meja dimana Abi dan Ausky duduk dan sedang memilih menu.
" Selamat malam tuan Abi, wahh cantik sekali wanita anda malam ini, pantas saja yang diseberang sana tak terlihat"
" Apa maksudmu Monica, "
" Ya, tuan Abi rupanya sangat miskin karena tidak mampu membeli wanita yang harganya mahal, hanya wanita murahan ini rupanya yang mampu tuan beli'"
" Monica, siapa kamu berani menghina saya dan teman saya"
__ADS_1
Abi berdiri dan wajahnya penuh dengan amarah pada Monica,
" Hah teman wanita yang bergelayut manja di tubuh pria beristri seperti anda, benarkah ia hanya teman anda"
" Itu bukan urusanmu bocah nakal, kami sepasang kekasih yang saling mencintai kami bersama sejak dua tahun yang lalu, apa salah kami, kenapa anda begitu repot"
Disaat yang sama pandangan Abi menangkap sosok sang istri tengah duduk di meja yang terdapat di sudut ruangan itu. Abi berharap Aini tidak mendengar ucapan Ausky namun ia sudah mulai gelisah kepergok istri saat berdua dengan Ausky,.
" Monica ayo kita pergi, jangan buat kak Bima malu dengan membuat keributan disini"
" Aini,, maafkan aku, ayo kita pulang saja"
" Maaf kak, aku pulang dengan Monica saja, selesaikan urusan kakak, selamat malam"
Namun baru saja Aini hendak berjalan meninggalkan Abi dan Ausky yang masih melingkarkan tangannya di lengan suaminya, tiba tiba suara tembakan membuat kaget dan tegang semua pengunjung cafe malam itu,
DOR
Suara tembakan terdengar lagi dan tiga orang pria berpakaian hitam dengan penutup muka berjalan memasuki cafe dan salah satu dari mereka berkata dengan lantang,
" Serahkan semua uang, perhiasan dan handphone kalian, jangan ada yang melawan atau lapor polisi, jika itu dilakukan aku akan bunuh gadis ini"
Mendadak satu orang pria meraih tubuh Aini dan menjadikanya sandra, sementara dua orang lagi mulai beraksi menodong semua pengunjung untuk menyerahkan benda benda berharga mereka,
" Lepaskan istriku tuan, berapa yang anda inginkan, saya akan berikan jangan sakiti istriku"
Semua tercengang mendengar Abi berani bicara kepada perampok yang menyandra Aini,
" Hem tawaran yang bagus tuan, tapi isi dompet anda belum cukup untuk menebusnya tuan, aku berubah pikiran, aku akan membawanya juga ha ha ha"
" Bedebah kau, ayo ikut aku ke atm terdekat dan bawa uangku semuanya aku tak peduli, , tapi jangan sakiti istriku"
Monica yang mulai gatal berjongkok menunduk pun tidak tahan ia berdiri dan dengan keberaniannya ia bicara pada perampok itu,
" Bawa aku saja tuan perampok yang terhormat,aku masih gadis umurku belum genap 18, aku baru lulus sekolah, aku masih perawan, dia sudah bersuami tentu sudah tidak virgin lagi"
" Tidak Monica, jangan menyerahkan diri pada mereka dasar gadis bodoh"
Abi yang justru tercengang mendengar Monica Mengatakan kalau Aini tentu sudah tidak virgin lagi, sedangkan dia belum menyentuhnya sama sekali,
Perampok itu sudah berhasil mengambil semua harta benda pengunjung cafe dan juga merampok semua harta milik Bima yang ada di brankas,
Bahkan istri Bima yang kebetulan ada di dalam sedang mengurus pasukan keuangan hari itu pun sempat di buat pingsan oleh seorang dari mereka,
*****
Assalammualaikum
👋👋👋hai sobat readers tersayang aku,
__ADS_1
Semangat baca, salam sehat, jangan lupa dukungannya, dan thank you so much, I Love You, ❤💞
TBC