
Malam yang dingin membuat pasangan suami istri yang telah sekian lama berpisah itu pun susah terlelap, satu sama lain saling melepas kerinduan yang menggunung,setelah sekian lama berpisah,
Bagai air hujan membasahi bumi, hingga bunga bunga bermekaran menghiasi taman,begitulah kebahagian yang di rasakan Hans dan Irawati,
" Sayang kita sudah bertemu, dan jika kamu sudah memaafkan aku, sekarang ceritakan kejadiannya seperti apa, hingga kamu berpisah dengan buah hati kita"
" Tapi janji dulu mas tidak akan marah dan meninggalkan aku hiks,, hiks,, putri kita, yah dia seorang putri yang sangat cantik mas"
" Ya, ceritakan, dan apapun itu mas tidak akan marah apalagi meninggalkan kamu, kita baru saja bertemu dan mas tak akan biarkan seseorang menyakiti kamu lagi kita akan selalu bersama sama hingga maut memisahkan,
Ira pun menceritakan kejadian 20 tahun silam tanpa ada yang di tutupi sedikitpun,tentang putrinya yang terpaksa di berikan pada Dewiya karena ia tak mampu membayar biaya operasi Cesar yang ia jalani,
Hans, menatap wajah istrinya yang penuh air mata, ia perlahan mengusapnya lembut dan membawa tubuhnya kedalam pelukannya,
" Maafkan mas, tidak bisa menjaga kalian berdua dengan baik, mas janji akan menemukan putri kita"
" Mas, aku ibu yang buruk, harusnya aku sudah berjaga segala kemungkinan saat hamil tua aku menabungkan uang dari mas di bank, bukan di rumah hingga nyonya Irene tidak merampas semuanya,
" Apa kamu tau keluarga yang membawa putri kita itu"
" Aku tidak tau,tapi jika perasaanku benar, aku sudah menemukan putri kita mas"
" Benarkah, apa dia cantik seperti kamu, dimana dia sekarang, dan siapa namanya"?
"Mas nanyanya satu satu dulu kaya rel kereta saja panjangnya"
Ira beranjak dari ranjang dan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya dua buah kartu nama ia menyerahkan pada sang suami,
"Ausky Putri Sungkar
" Adrian Syahputra"
" Siapa mereka, dan apa maksudnya kartu nama ini"
" Ausky mungkin putri kita, dan Adrian menantu kita"
" Apa,, ya tuhan apa ini mimpi, kita sudah memiliki menantu"
" Iya mas bahkan dua bulan lagi kita akan dapat cucu,Ausky sudah hamil besar, tapi bagaimana kita memastikan dia putri kita mas, hiks, hiks,, apa dia akan menerima aku sebagai ibunya"
" Aku yang akan berpikir dan bekerja tenanglah, jadi jika benar dia putri kita, sebentar lagi pangkat kita opa dan oma, padahal aku ingin membuat adik untuk putri kita itu"
__ADS_1
Bugh
Ira memukul dada suaminya dengan mulut yang mencebik sebal,
" Aw,, sakit yang, baru ketemu kok udah kdrt"
" Pikirkan putriku dulu"
" Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan buah hati kita,bagaimanapun aku ingat dulu susah payah membuatnya ,aku harus sembunyi sembunyi masuk kamarmu dan menanam benihku,jadi besok aku akan menemuinya,aku akan menghubunginya dulu"
" Kita harus pelan pelan, jangan gegabah, ia nampak berwajah dingin, datar tak terlihat sekalipun senyumnya di depanku tapi suaminya sangat baik ia juga sangat tampan, ia terlihat menyayangi putri kita itu"
" Baiklah, semua akan baik baik saja, kita punya pekerjaan penting malam ini,
" Pekerjaan apa, ini sudah larut mas"
Namun tanpa menjawab pertanyaan sang istri Hans langsung mengungkung tubuhnya, ia melepaskan seluruh kerinduan, dan rasa cintanya, melepas hasrat yang tertahan bertahun tahun,
Ira hanya pasrah mendapat perlakuan suaminya, ia juga tidak mampu menahan perasaanya, ia masih sangat mencintainya, hingga setiap sentuhan yang dilakukan sang suami membuat tubuhnya terbakar gairah ia melayani suaminya dengan segenap kemampuannya,
*****
Di panti asuhan Adriana mulai sibuk dengan aktifitas paginya, sejak Aini kembali rukun dengan suaminya ia jarang mengerjakan tugas tugas yang selama itu di kerjaannya,
" Kak sini biar aku bantu"
" Aku akan berusaha mandiri dan harus berusaha untuk bisa memanjakan kakak kamu"
" Sweet banget sih kakak aku, pasti kak Abi udah membuat kak Aini kelelahan ya????
" Hah, kamu masih kecil jangan sok tau,
" Aku bukan anak kecil kak,,
" Ah iya aku dengar kamu udah jalan sama pengacara hebat itu, pantes aja udah berani ledek kakak masalah begituan"
" Eh, siapa yang bilang, ngadi ngadi banget"
Saat Abi selesai membuat susu untuk Aini, seseorang justru sudah duduk manis di kursi meja makan,
Abi tersenyum pada pria itu sementara Adriana tidak menyadari kedatangan pria itu, ia masih sibuk memasak bahkan ia menyanyi dan sesekali menari dengan riang,bahkan Adriana sama sekali tidak sadar jika gerakannya sedang di diabadikan di dalam ponsel pria itu,
__ADS_1
Pria itu tersenyum lebar dan sesekali menutup mulutnya untuk menahan suara tawa yang hampir meledak,
Hingga masakan pun matang Adriana memasukkannya dalam mangkok dan segera berbalik badan untuk menata di meja makan,
Deg
" Om,, se- sejak kapan om di situ"
Ramon tersenyum lebar dan masih menutup mulutnya,
" Sejak dimulainya pertunjukan menyanyi dan menari"
Bluss
Pipi Adriana memerah bag rebusan kepiting menahan rasa malu,
" Kenapa tidak mengetuk pintu dapur dulu"
" Kamu terlalu asik menari bagiamana kamu mendengar ketukan pintu"
"Dasar menyebalkan" gumam Adriana sambil mencebik dan melanjutkan pekerjaannya di dapur,
" Kamu tambah cantik dan menggemaskan kalau bibirnya manyun begitu"
" Jangan menggodaku, aku sedang marah, lagian pagi pagi sudah di sini, ngapain coba"
" Aku mau minta sarapan, aku lapar"
" Disini bukan warung makan, enak saja maunya gratisan"
Ramon makin tergelak mendengar omelan gadis cantik di depannya itu,
" Baiklah nona, aku pesan kopi satu, nasi rames satu, jumlahnya berapa"? jangan lupa senyumnya yang banyak nanti dapat tips hem""
" Ish,, ga ada senyuman, itu harganya makin mahal"
" Oke oke, berapapun itu, jangan berhenti tersenyum, I Love You baby,,
Adriana makin salah tingkah ia menunduk malu dan berpikir bisa bisanya ia di tembak di dapur saat memasak, namun itu membuat hatinya menghangat, dan ia memastikan pada dirinya sendiri mungkinkah ia juga jatuh cinta pada pria dewasa itu,
*****
__ADS_1
Happy Readingπππ
Tbc