
Pagi itu ia melangkah gontai menuju apartemennya, meskipun banyak pesan masuk kedalam ponselnya ia belum berniat untuk membuka dan membacanya, pikirannya sangat kacau, bagaimana bisa wanita yang melahirkannya mengusirnya dan memilih wanita yang hanya menantunya,
...Saat membuka pintu pandanganya mulai menggelap melihat ruang tamu yang berantakan, sandal rumahan sang istri juga sepatu pria, vas bunga yang pecah, ada banyak juga darah berceceran yang sudah kering di lantai,...
Abi pun masuk ke dalam kamarnya dan lebih terkejut lagi, baju berserakan di lantai, tempat tidur tanpa spray, dan beberapa make up milik sang istri berantakan di atas lantai,
" Siapa yang berani melakukan ini padanya, aku tak akan membiarkannya lolos"
Sesaat Abi terbayang akan tubuh sang istri yang biasanya tertidur meringkuk sendirian dan saat ia pulang kerja di tengah malam Aini sudah sangat bahagia hanya dengan pelukan hangat dari dirinya saat tertidur, bahkan Aini selalu tersenyum dengan keadaan mata terpejam, dan kini,ia bahkan lupa kapan terakhir tidur dan memeluk istrinya
Abi menatap nanar pada ranjang yang kini kosong dan berantakan, ia pun berjalan keluar menuju dapur matanya menatap makanan yang belum tersentuh di atas meja, mungkin Aini belum sempat makan saat penjahat itu masuk,
Dan saat membuka kulkas, Abi juga terhenyak seketika karena tak ada satu pun bahan makanan di kulkas itu, kepalanya berdenyut dengan hebat ia juga melupakan kapan terakhir ia memberi uang belanja pada Aini,
" Ya tuhan sejak kapan aku menjadi pria bodoh seperti ini, seharusnya aku tidak menelantarkannya meskipun hati ini belum bisa menerimanya"
Pagi itu setelah membersihkan tubuh Abi berniat ke kantor polisi untuk mencari informasi terkait percobaan pemerkosaan pada sang istri, dan ia juga lebih terkejut mendengar pengakuan pelaku saat Abi menemuinya karena yang membayar dan menyewanya adalah seorang wanita,
Namun sayangnya pelaku tidak dapat mengatakan siapa nama pelaku karena memang mereka tidak mengenalnya, dan juga wanita itu tertutup dengan pakaian jubah dan cadar,
Abi menuntut kasus kejahatan mereka diusut sampai tuntas, dan istrinya segera mendapat keadilan,
Satu bulan kemudian
Aini pun akhirnya tinggal di mansion milik mama mertuanya, dan setiap jatah ia manggung di cafe sopir mengantarkan dan menunggunya hingga jam ia pulang,
Hubungannya dengan Abi sudah semakin tidak jelas, Abi bahkan tidak pernah datang ke mansion mamanya juga tidak pernah mengirim pesan padanya, namun kali ini Abi mentransfer sejumlah uang ke nomor rekeningnya,
*****
𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘮𝘶
𝘉𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘵𝘶
𝘱𝘦𝘭𝘶𝘬𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶
𝘒𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢𝘮𝘶
𝘛𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘴𝘪𝘬𝘶
𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶
𝘚𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘵𝘢𝘯𝘮𝘶
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘭𝘪
__ADS_1
𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘣 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶
𝘉𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪
𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢𝘮𝘶
𝘛𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶,
𝘛𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶
𝘩𝘢𝘱𝘶𝘴 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘬𝘶
𝘒𝘶 𝘴𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶
𝘏𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬
𝘋𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶,
Lagu terakhir yang Aini nyanyikan sungguh memukau dan menghipnotis pengunjung cafe, sepasang mata pria yang duduk di meja paling ujung memandang takjub,
Dan sepasang mata pria yang lain menatap nanar, betapa lagu itu membuatnya meresapi setiap kata yang ada di bait syairnya,
Pandangan Fahmi terus bergerak mengikuti pergerakan tubuh gadis kecilnya, ia bisa begitu bahagia dengan perannya saat ini walau hatinya penuh luka,
Di seberang meja yang lain, Armando bersiap memberikan hadiah mahalnya seperti biasanya, kini kalung emas cantik sudah di tangannya untuk kemudian berjalan mendekati Alena Janetta.
" Nona, terimalah ini, sebagai hadiah persembahan lagu lagumu yang bagus dan suaramu yang merdu"
" Maaf tuan tapi ini tidak layak untukku, bukan maksud ingin menolak, "
"Aku mohon nona, apa karena ini kurang bagus"!!
Armando berlutut di depan Alena dan mengulurkan kalung itu dengan memohon,
" Tuan, berdirilah,, ini tidak baik untuk dilihat pengunjung, saya akan menerimanya, terima kasih dan selamat malam saya harus pulang"
Aini berbalik badan setelah membungkuk hormat pada semua pengunjung, namun Armando menarik tangannya sejenak,
" Tunggu nona, bisakah aku mengantarmu pulang"?
" Maaf saya pulang pergi dengan sopir, selamat malam"
Armando menyeringai tajam, dan senyuman yang sulit di artikan, seperti tersirat sebuah rencana,
__ADS_1
Aini masuk ke kamar ganti, dimana ia harus berganti pakaian dan segera pulang, rekan kerjanya Safira segera menyambutnya dengan sumringah,
" Wah, banjir hadiah malam ini, bagus semua, bolehkah aku mengambil satu "?
" Ambilah, tapi kau perlihatkan dulu semua pada manager Ricco, aku tak ingin ada yang aku tutup tutupi"tentang penghasilanku saat manggung, "
" Iya, kau memang baik sekali Alena," minumlah dulu kamu pasti haus"
Alena menerima air mineral botol kecil dan meminumnya hingga tandas karena ia memang sangat haus setelah menyanyikan delapan buah lagu dalam dua jam kerjanya,
Alena merapikan pakaiannya dan membawa tas ransel nya untuk segera pulang namun tiba tiba kepalanya sedikit pusing, tubuhnya panas ada yang dirasakannya aneh saat ini.
" Ada apa Alena, apa kamu baik baik saja"
" Ah aku cuma sedikit pusing, aku akan pulang sampai jumpa"
Aini berjalan dengan sedikit Linglung, tubuhnya panas, seakan terbakar, ia menyusuri lorong menuju pintu samping cafe, dan saat di tempat yang agak gelap, sebuah tangan menangkap tubuhnya dan berusaha membawanya masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan gerbang samping,
" Siapa,, kau,, lepaskan aku,, apa maumu, dan mau dibawa kemana aku"?
Sekuat tenaga Aini berusaha melepaskan diri namun ia tetap tidak bisa lepas, pria itu begitu kuat, sedangkan ia juga sedang menahan sesuatu yang tidak wajar dalam dirinya,
Fahmi yang keluar melihat sopir keluarga Kayla masih gelisah menunggu nona mudanya,
" Di man nona Aini, apa dia belum keluar"
" Belum tuan, ponselnya tidak aktif, apa boleh saya masuk untuk mencarinya"
" Pak Tomo tunggu di sini, biar kau yang mencarinya"
Fahmi berjalan masuk menanyakan pada manager cafe tentang keberadaan Alena namun sang manager tidak tau apa apa , akhirnya ia meminta security mengecek cctv, dan terlihatlah Alena sudah keluar dari ruang ganti melewati lorong sambil memegangi kepalanya,
DEG
Fahmi berlari keluar dengan pikiran buruk ia pun masuk kedalam mobil, menghubungi Monica sebentar dan melajukan mobilnya untuk mencari keberadaan Aini,
*****
assalamu'alaikum
salam sehat readers, lope you
vote dikit dong yang,, hem salam hangat, terima kasih dukungannya,,
TBC
__ADS_1