Janda Pilihan Mama

Janda Pilihan Mama
Jatuhnya talak untuk Yunita


__ADS_3

Di rumah mewah keluarga Hermawan,Yunita sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi tentu saja untuk putra kesayangannya, namun saat sang putra turun ia cukup terkejut melihat penampilannya yang hari itu sepertinya lain dari biasanya,


" Pagi Nando, mau kemana sepagi ini kamu udah rapi bukankah ini hari minggu"


" Mau kemanapun ini privasi aku,jangan kepo ma!!


" Mama ada acara sebenarnya mau ngajak kamu"


" Hah, yang bener saja aku ikut acara ibu ibu, aneh sekali, aku gak sarapan di rumah, nikmati makanan itu sama papa, dan urus dia"


" Nando, mama belum selesai ngomong, main pergi saja"


" Apa lagi aku udah telat, "


" Apa mama boleh ikut kamu, mama tinggal ambil tas saja"!


" Aduh ma, mana bisa ngajak mama, aku ada urusan penting udah layani papaku, hargai dia, kita memang ada hubungan tapi hanya sebatas hubungan fisik, tidak ada hati, mama tetap mamaku, istri papaku"


Armando pun melangkah pergi meninggalkan Yunita yang merasa tertampar dengan kata kata anak tirinya,


" Nyonya maaf, nyonya Yunita dipanggil ke ruang kerja tuan Hermawan"


Art, menghampiri Yunita dan berkata sambil menundukkan wajah,


"Ada apaan sih, aku harus menyelidiki kemana Armando pergi, hah pak tua itu menghancurkan rencanaku saja, "


Yunita duduk bersebelahan dengan sang suami yang berada di kursi roda, ia menatap lurus tanpa melihat ke arahnya,


" Selamat pagi nyonya saya datang atas permintaan tuan Wira Hermawan, perkenalkan saya pengacara tuan Wira,nama saya Eliyah Pratiwi, saya datang untuk menyampaikan dan mempermudah jalannya proses persidangan perihal nyonya Yunita yang akan segera di ceraikan oleh tuan Hermawan, bukankah begitu tuan Wira Hermawan?


DEG


" Apa apaan ini pah, pagi pagi bikin drama, gak lucu, apa papa sedang buat kejutan untukku, tapi mama lagi gak ulang tahun"


" Ini bukan kejutan, maaf nyonya, saya bicara yang sebenarnya" bahwa klien saya tuan Wira Hermawan ingin menceraikan anda, karena sikap anda yang sudah melewati batas"


" Apa maksudnya pa, kenapa denganmu pa, aku ga terima di hina seperti ini, jangan ngaco kamu pengacara gila, suamiku tidak mungkin menceraikan aku, siapa yang akan mengurusnya juga putranya,"

__ADS_1


" Aku sudah memikirkan semuanya Yunita, aku ingin kamu menanda tangani surat surat itu dan pergi dengan kompensasi besar dariku tanpa masalah"


" Tapi apa salahku pah, ini tidak mimpi kan, kamu masih waras kan pah"?


" Tanya pada dirimu apa kesalahanmu padaku, kamu tak lebih dari hanya seorang pelayan di rumah ini, kamu aku angkat menjadi nyonya besar dan bergelimang harta, tapi kamu menyalah gunakannya, kamu bermain di belakangku dengan pria lain, dan ironisnya pria itu putraku sendiri, kamu menghancurkan masa depannya bersama Alana Janeta kekasihnya, jika aku tidak bertindak, kamu akan semakin berbahaya untuk putraku,"


" Pah, itu tidak benar, itu fitnah mana mungkin itu terjadi, aku menyayangi Armando"


" Menyayangi, mencintai tubuhnya yang gagah dan perkasa, ,diawal kau buat tubuh putraku pelampiasan nafsumu karena ketidak berdayaanku,tapi lama lama kau punya rencana jahat, kau ingin membelenggunya, kau juga akan menghancurkan siapapun wanita pilihannya kelak,dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, jadi pergilah, bawa semua barang barang mewah yang telah kau beli dengan uangku, aku tidak akan melarang,"


" Dan hari ini aku talak kamu Yunita bin Marwan mulai sekarang dan seterusnya kamu bukan istriku lagi"


Yunita hanya mematung ia sangat syok mendengar suaminya mengucapkan talak, bahkan ia tidak di beri kesempatan untuk bicara karena setelah itu Wira Hermawan segera meninggalkan ruang kerja dan hanya tinggal sang pengacaranya saja yang harus melanjutkan proses perceraiannya secara hukum negara,


******


Adrian menggerakkan bola matanya perlahan lahan dan mulai menelisik ruangan itu, sesaat ia tertegun melihat dua wanita yang ada di dalam ruangan tersebut,


Ausky istrinya tertidur di sofa bed, sedangkan satu wanita tertidur di kasur lantai dengan posisi telungkup,


" ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข ๐˜™๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฃ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช"


Adrian bicara sendiri di dalam hati, ia sangat sedih mengingat sang adik juga sangat sedih mengingat perkataan Ausky waktu itu,


" ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข, ๐˜บ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฃ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฌ, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ"


Sekilas Adrian bisa melihat pergerakan tubuh Ausky, ia nampak tertidur namun tidak nyenyak,mungkin karena perutnya yang makin membesar dan sofa bed tentu tidak sebaik ranjang king size seperti di kamarnya, ia sedikit merasa bersalah karena istrinya harus berjaga dan tidur di rumah sakit,


Adrian mencoba duduk dan bersandar, kepalanya masih pusing luka tusukan senjata tajam masih terasa nyeri, namun hatinya lebih nyeri lagi mengingat istrinya selalu menuduhnya yang bukan bukan,


Adrian tengah memejamkan mata saat Ausky terbangun dan mendekatinya,


" Adrian, kamu sudah tersadar, ah syukurlah, apa yang kamu rasakan, apa luka di dada kamu masih sangat sakit"? kenapa kamu nekat dan diam diam pergi ke perusahaan padahal kamu baru saja pingsan, kamu senang jika aku dan daddy khawatir"


"๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข"


" Sudah tidak apa apa, untuk apa nona repot repot tidur di rumah sakit, dan siapa gadis yang tidur di lantai itu"

__ADS_1


" Adrian, saat aku sakit kamu menjaga dan merawat aku, jadi apa salahnya jika aku menjagamu, dan gadis itu adalah kejutan untuk kamu, sekarang istirahatlah biar kamu cepat pulih kamu akan tau siapa dia esok pagi"


" Nona sedang hamil, kasihan dedek bayi jika nona kelelahan, pulanglah dan istirahat di rumah"


" ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข, "


" Apa nona mendengar aku bicara apa"


" Aku mendengarnya, aku juga sebenarnya ingin pulang, tapi bayiku sepertinya merindukanmu, ia terus bergerak hingga aku tidak bisa tidur nyenyak, dia terus berolahraga di dalam perutku, ayolah lakukan sesuatu untuknya"


" ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ท๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ" ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ,"


" Adrian, kamu membuatku khawatir, bagaimana nasib bayiku jika kamu tidak selamat, dia tidak akan melihat dan merasakan kasih sayang seorang ayah saat lahir nanti""


" ๐˜ ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฃ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข, ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ"


" Naiklah keatas ranjang, aku akan mengajaknya bicara agar nona bisa tertidur nyenyak jika ia merasa nyaman dengan aku"


" Ranjang ini tentu sempit untuk kita berdua, aku takut mengganggu lukamu itu"


Adrian berusaha menggeser tubuhnya kesamping dan menepuk tempat kosong di sampingnya, hingga Ausky pun naik dan duduk di sisihnya,


" Sayang ini papa Adrian, emang tidak capek bermain di dalam perut mama hem, bobo dong, kasihan mama baby, ,, ia lelah membawa kamu kemanapun ia pergi, biarkan mama beristirahat hem" bobok dan ditemani papa Adrian oke"


Adrian meraba perut buncit istrinya dengan gerakan perlahan dan lembut,dan seperti terhipnotis, Ausky pun diserang rasa kantuk hingga tertidur pulas di samping Adrian, bahkan Adrian pun merasa kantuknya makin menyerang mungkin efek obat hingga ia pun tertidur dengan posisi berhadapan dengan tangan masih di atas perut sang istri,


Waktu berjalan malam hampir berganti pagi suara adzan subuh berkumandang sayup terdengar di kejauhan,


Adriana menggerakkan tubuhnya dan mencoba membuka mata, ia menoleh kesamping kanan, namun sofa bed ternyata kosong, ia pun segera menoleh kesamping kiri ia hampir tak percaya melihat pemandangan indah di depan matanya,


" Kak Adrian,,, hiks,, hiks, kakak su-- sudah tersadar, ini pemandangan yang indah, namun kakak jahat sekali tidak pernah bercerita, tentang istri kakak, hiks,, hiks,, syukurlah kakak selamat" bahkan kakak sudah membuatkan keponakan untukku, aku bahagia sekali kak"


Adriana menangis terisak namun dengan tangan menutup mulutnya, ia terharu melihat kakaknya akhirnya tersadar, bahkan ia juga terharu melihatnya tidur dengan memeluk perut kakak iparnya yang sudah membesar,


*****


Happy reading๐Ÿ˜„๐Ÿ˜ƒ

__ADS_1


Salam sehat, semangat buat pembaca jangan lupa tinggalkan jejak oke๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜lope youuuuu,


TBC


__ADS_2