
Meskipun Aini merasa jika perutnya belum kenyang ia mendadak menghentikan sarapannya karena moodnya berubah buruk, suaminya tega meninggalkannya berkali kali demi wanita lain.
Namun Aini sudah bertekad tidak ingin menjadi gadis yang lemah, dalam kekesalan hatinya ponselnya berdering, Monica menghubunginya dan mengajaknya pergi ke TPU untuk mencari makam kedua orang tuanya,
Fahmi sudah menceritakan pada Monica kalau ia membangun makam kedua orang tua Aini hingga Aini tidak bisa mengenalinya saat ia ingin berziarah,
Aini pun bersiap, ia memakai pakaian yang sederhana namun tetap terlihat cantik, rok payung warna hitam dan blouse berwarna peach, ia juga memoles wajah ayunya dengan tipis, ia sadar kalau ia wanita bersuami tidak boleh memamerkan kecantikannya di mata umum sedangkan ia tidak berjalan bersamanya,
Aini mengirim pesan singkat pada suaminya dan berpamitan ingin pergi ke pemakaman lagi. Tanpa menunggu pesan di baca Aini pun keluar dari kamar masuk lift dan turun menuju lobby karena taxi sudah menunggunya.
25 menit kemudian Aini tiba di TPU, desa xxx untuk kembali mencari makam ayah ibunya, Monic pun tiba di depan gapura pemakaman dan turun dari mobil menghampiri Aini.
" Siapa pria itu dek? apa supir pribadimu"
" Itu kakak sepupuku, ia mengantarkan aku, dan kita habis ini bisa shoping sebelum kembali ke Jakarta"
" Setelah ini aku langsung pulang saja dek, aku tidak mungkin jalan jalan sendiri, aku takut kak Abi marah"
" Kak Aini polos banget sih, suami aja pergi ma orang kenapa kakak tidak mencoba menghibur diri saja"
" Kamu tidak bisa memaksa begitu Monic ayo kita cari makam ayah ibunya"
Suara seorang pria membuat Aini menengok ke samping kanan dan sosok pria dewasa, dengan topi dan kaca mata hitam, celana hitam dan kemeja yang hampir berwarna sama dengan blouse yang di pakai Aini, mereka saling menatap dalam diam, namun Aini segera menundukkan wajahnya
" Apa kalian janjian mau pakai baju yang sama, couple gitu"cieee romantis banget sih" coba kalau kalian adalah pasangan" serasi banget"
" Hah,,
Aini dan Fahmi saling menatap dan mereka memperhatikan baju yang mereka pakai memang seperti Couple,
Monica terkekeh, dan segera menggandeng tangan Aini untuk masuk kedalam pemakaman umum tersebut, setelah berputar putar Monica menanyakan nama orang tua Aini, dan Aini menjawabnya, sedangkan Fahmi tersenyum sendiri mengikuti langkah keduanya, ia teringat dulu Aini masih berseragam smp saat pertama kali bertemu dan kini ia sudah menjelma menjadi gadis yang cantik bahkan tubuhnya terlihat sangat indah dalam pandangan Fahmi.
" Ini bukannya nama ibu kakak, lihatlah NY, Arimbi, dan sebelahnya Prasetya Alif,"
Aini membulatkan matanya menatap nisan kedua orang tuanya yang terbuat dari marmer yang sangat bagus, bahkan makam ayah ibunya juga berada di bawah sebuah atap dan juga ada pagar keliling berikut pintu kecil, bunga bunga cantik juga ada diatas pemakaman ayah ibunya, dan baunya sangat harum.
" Dek, ini benar makam ayah ibu, tapi siapa yang melakukan ini"
Fahmi mengulum senyumnya melihat tingkah polos Aini, untung saja Aini tidak mengenalinya, ia melupakan wajah orang yang membuat ibunya celaka, empat tahun lalu memang wajah Fahmi masih terlihat muda, dan kini dia pun sudah berbeda, ia juga menyembunyikan wajahnya karena belum sanggup mengatakan yang sebenarnya,
" Ayo kak, jangan bengong kakak baca doa kalau sudah puas kita makan siang, aku lapar kak"Monic terus saja nyerocos melihat tingkah Aini yang masih kebingungan itu.
__ADS_1
"Aku yakin ayah ibumu orang baik, hingga ada orang yang diam diam merenovasi tempat pemakamannya,dan orang itu tau ayah ibumu layak mendapatkannya,berdoalah, kami tunggu di depan"
Aini pun berjongkok dan memeluk nisan ayahnya dan kemudian bergantian nisan ibunya, ia pun tak kuasa menahan air matanya, menumpahkan kesedihan kisah hidupnya.
Serasa tak puas dan ingin terus berada di tempat itu, semilir angin siang itu berhembus perlahan menerpa wajah ayunya yang sendu. bahkan tempat itu sangat sejuk meskipun udara di luar panas karena terik matahari yang serasa akan membakar kulit,
Namun suara azan dhuhur sudah terdengar dari masjid terdekat, dan ia baru sadar harus segera menghubungi suaminya,
Dan benar saja, Abi ternyata mengirim beberapa pesan untuknya,
(𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙙𝙞 𝙢𝙖𝙣𝙖, 𝙗𝙞𝙨𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙪𝙖?)
( 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙖𝙧, 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙩𝙖𝙠 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨,)
( 𝙢𝙖𝙖𝙛𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙘𝙚𝙬𝙖𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪, 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙠𝙚 𝙅𝙖𝙠𝙖𝙧𝙩𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙥𝙪𝙡𝙞𝙝)
( aku akan segera kembali kak, tunggu di kamar)
Setelah membalas pesan dari suaminya Aini bergegas keluar setelah berpamitan pada ayah ibunya yang tak kasad mata itu.
Monic dan Fahmi sudah menunggu dan mereka pun masuk kedalam mobil.
" Maaf dek dan om, aku akan langsung pulang, suamiku sudah menunggu"
" Insyaallah dan terimakasih undangannya, kalau aku bisa datang nanti aku kabari"
Mobil yang di kemudikan Fahmi pun melaju menuju hotel tempat Aini menginap, setelah sampai di lobby hotel Aini mengucapkan terimakasih dan mengangguk pada Fahmi juga Monic,sejurus kemudian meninggalkan mereka berdua berjalan memasuki lift,
Di kamar Abi gelisah menunggu Aini yang belum juga datang sedangkan mamanya sudah menghubunginya berkali kali menanyakan keadaanya,
Ceklek
Suara pintu kamar terbuka dan sorot mata Abi sudah sangat tajam melihat istrinya yang baru saja kembali,
" Assalamu'alaikum, Maafkan aku kak"Aini langsung mencium punggung tangan suaminya juga reflek melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami,
" Kakak, tidak marah kan, aku senang kak, akhirnya menemukan nisan orang tuaku,"
" Aku tidak marah, tapi jangan dekat dekat dengan gadis liar itu"
Abi membalas memeluk tubuh sang istri hingga jarak mereka semakin dekat, Abi pun mencoba berdamai dengan keadaan ia berusaha menempelkan bibirnya ke bibir mungil nan ranum istrinya, menyesapnya sebentar dan perlahan lahan mulai mencoba menikmatinya.
__ADS_1
Begitu juga Aini, baginya ini ciuman pertamanya setelah menikah dengan Abi,Abi membawa sang istri kedalam pangkuannya,dan ciuman itu lama lama semakin dalam, hingga keduanya pun terlena dalam kenikmatan sesaat karena tiba tiba saja ponsel Abi berdering dan membuyarkan semuanya.
Tring,, Tring,, Tring,,
Abi melepas pagutan bibirnya, dan mengecup dahi Aini kemudian Aini pun bangkit dari pangkuan suaminya dan duduk menunggu di pinggiran ranjang,
" Halo,, ada apa lagi,apa kamu sudah makan siang"?.
"(𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝘽𝙞") 𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙣𝙜𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙖𝙠 𝙢𝙖𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞")
" Ya, aku dan istriku akan mengantarkan kita akan kembali ke Jakarta bersama sama"
Abi memutuskan sambungan telepon dari Ausky dan menatap Aini yang diam menatap lurus.
" Nini, maafkan aku, aku tau kamu menyembunyikan rasa kecewamu, dan tolong beri aku waktu lebih lama, untuk meyakinkan diriku"
" Kak Abi Menikah denganku hanya karena kasihan dan permintaan mama, aku tau itu, sudahlah jika kak Abi ingin aku pergi dari kehidupan kak Abi, akan kulakukan, dari pada kak Abi tidak nyaman dengan keberadaan diriku"
DEG DEG
Jantung Abi berdegup lebih kencang, ia bisa merasakan kata kata itu bagai sebilah pisau tajam yang membelah hatinya. ia melihat Aini sangat sempurna di matanya, jika wanita lain mungkin ia sudah mengamuk, atau bicara kasar, atau menangis, namun Aini bagai sosok yang tangguh di hadapannya.
" kak, aku lapar, jika kak Abi ada urusan aku akan makan siang sendiri"
" Kita akan makan siang berdua dan pergi ke rumah sakit berdua"
" Maaf, aku lelah, setelah makan siang aku akan istirahat, pergilah jangan sungkan, dan ini ada titipan dari Monica untuk biaya perawatan teman kak Abi"
Aini menyodorkan amplop coklat yang lumayan tebal pada Abi, dan mengambil tas kecil miliknya, bersiap untuk pergi mencari makan siang,
Abi sempat mematung sebentar sebelum keluar mengikuti langkah sang istri,
*****
Assalamu'alaikum.
👋👋👋hai readers, salam kangen dan salam sehat, semangat baca ya, kasih saya kesempatan untuk terus menulis,
jangan lupa mohon dukungannya terus,
lanjut and many thank you, wasalam
__ADS_1
TBC